Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Menginap Di Lain Tempat


__ADS_3

Melihat jemari tangan Kezia dalam genggaman jemari tangan Erik. Ethan yang tadinya dalam gendongan Rama, meminta turun. Bocah itu tidak suka jika orang lain menggenggam tangan mamanya. Karena yang di perbolehkan menggenggam tanganya hanyalah papanya, Rama.


Rama menurunkan putranya yang ingin turun dari gendonganya. Rama juga tidak tahu, kenapa Ethan tiba-tiba meminta turun. Duda tampan itu, hanya memperhatikan saja pergerakan dari putranya.


Kaki mungil Ethan, melangkah menghampiri ke arah mamanya. Rama terus memperhatikan langkah putranya, hingga Rama mengulum senyum, ketika tangan mungil putranya menyuruh Erik, melepaskan tangan Kezia.


Bahkan Rama menahan tawanya, ketika Ethan mengigit tangan Erik, karena Erik tidak mau melepas tangan Kezia. Erik mengaduh, sepontan melepaskan genggaman tanganya karena merasa kesakitan akibat gigitan Ethan.


"Sayang, tidak boleh seperti itu! Ayo minta maaf sama om Erik," perintah Rama, padahal dalam hati mendukung perbuatan putranya.


"Tidak papa! Om ini nakal, dia tidak mau melepas tangan mamaku," protes Ethan.


Erik menatap penuh benci kepada Rama, Rama yang mendapat tatapan penuh kebencian dari Erik, hanya mengedikan bahu.


"Sudah, nak! Om Erik sudah melepaskan tangan mama. Ayo duduk di sana, mama capek berdiri terus," ajak Kezia, memanfaatkan kesempatan untuk menjauh dari Erik.


Tak lama pintu UGD terbuka kembali, beberapa orang perawat memindahkan tuan Afshen ke ruang inap VIP. Kezia yang hendak duduk, mengurungkan niatnya ketika melihat papanya yang di pindahkan.


Adrian mengikuti rombongan perawat yang membawa papanya. Di susul Vania, Digo, Rama, Kezia, Ethan dan juga Erik. Mereka semua melangkah mengikuti para perawat yang memindahkan tuan Afsen.


Salah satu perawat menghentikan langkah mereka. Karena hanya di izinkan dua orang saja, yang boleh masuk secara bergantian. Kezia ingin masuk dan melihat kondisi papanya. Namun Adrian melarangnya, takutnya jantung papanya akan kambuh jika melihat Kezia.


Vania mencoba menghibur adiknya, karena ucapan Adrian ada benarnya. Untuk sementara Kezia tidak boleh menemui papanya, kecuali papanya sendiri yang mencari Kezia.


Kini yang masuk ke dalam ruang rawat tuan Afsen hanyalah Adrian dan Vania. Sedangkan yang lain hanya bisa menunggu di luar.


Kezia menangis merasa sedih karena tidak bisa melihat kondisi papanya saat ini. Rama dan Erik bersama'an melangkah mendekati Kezia. Kezia tambah pusing karena kedua pria di sampingnya saling merebutkanya.


"Lebih baik aku pulang saja," ucap Kezia.

__ADS_1


"Biar ku antar pulang," ucap Erik dan Rama bersama'an.


Kesuanya saling tatap dengan tatapan penuh permusuhan. Seolah masing-masing di antara Erik dan Rama, paling berhak menjaga Kezia.


"Tidak perlu! Aku akan naik taxi bersama Ethan," ucap Kezia.


"Tapi kamu sedang mengandung, Kezia," ucap Rama, mengingatkan.


"Cih, sok perhatian! di mana saja kamu waktu Kezia mengandung, Ethan?" sahut Erik, menyinggung masalalu.


"Cukup, Erik! sudah aku bilang berulang kali, ini semua bukan salah Rama," ucap Kezia merasa kesal dengan sikap tunanganya.


"Tapi, Zia_


"Cukup! aku akan pulang, dan terserah kalian jika ingin berkelahi. Asal jangan di sini, karena di sini banyak orang yang sedang sakit. Mereka akan terganggu dengan sikap kekanakan kalian berdua," ucap Kezia, menggengam tangan Ethan, mengajaknya pulang.


Ethan sempat protes karena mamanya tidak mengajak papanya. Namun Kezia beralasan bahwa Rama masih akan ke kantor dan nanti akan menemui mereka. Mendengar alasan dari Kezia, Ethanpun percaya.


Kezia sengaja tidak pulang ke rumah papanya, melainkan apartemen Vania. Tadi Vania sempat berbisik dan memberikan kunci apartemenya untuk Kezia. Tentu saja Vania tidak akan membiarkan Erik menemani Kezia di rumah papanya.


Ternyata, selain Ethan, Vania ada di barisan pertama orang yang akan menjauhkan Kezia dari Erik. Bagaimanapun caranya, untuk menebus kesalahanya di masalalu, Vania tetap akan mempersatukan cinta Rama dan Kezia.


Dua pria di belakang taxi yang di tumpangi Kezia, merasa heran. Pasalnya taxi itu berjalan lurus pada tikungan yang seharusnya belok ke kediaman Afshen. Rama dan Erik tetap mengikuti arah taxi yang di tumpangi Kezia.


Rama yang sudah hafal jalan, arah taxi itu membawa ibu dari anaknya pun tersenyum. Rama sudah bisa menebak, bahwa Kezia akan menuju ke apartemen milik Vania. Karena Rama dulu sering berkunjung di apartemen Vania. Oleh karena itu, Rama bisa langsung menebak tempat tujuan Kezia.


Sedangkan Erik yang tidak tahu menahu hanya fokus pada taxi yang membawa tunanganya. Hingga taxi itu berbelok ke sebuah gedung tinggi yang di yakini anadalah sebuah gedung apartemen elite.


Bahkan gedung itu tidak sembarangan orang bisa memasukinya, tanpa mempunyai kartu khusus. Erik mengumpat ketika dirinya di usir oleh satpam penjaga apartemen.

__ADS_1


Berbeda dengan Rama, pria itu lagi-lagi tersenyum, karena dirinya masih menyimpan kartu akses masuk ke apartemen Vania. Beruntung Rama belum membuangnya, dia akan kembali ke kantornya untuk mengambil kartu akses masuk ke apartemen Vania. Rencananya, malam nanti, Rama akan menemui Kezia dan juga putranya, setelah ia menyelesaikan pekerja'anya.


Rama memutar arah, meninggalkan gedung apartemen milik Vania. Erik yang melihatnya pun tersenyum, mengira Rama tidak bisa masuk ke apartemen. Tanpa dia tahu duga'anya salah besar, Erikpum memasuki kembali taxi yang tadi ia tumpangi. Pria itu berniat menyewa kamar hotel untuknya menginap selama beberapa hari.


Tanpa Rama dan Erik tahu, Kezia memperhatikan keduanya sedari tadi. Melihat dua pria yang memperebutkanya sudah pergi. Kezia mengajak putranya masuk ke dalam lift dan naik ke lantai teratas tempat tinggal Vania.


"Ma, kenapa kita kesini? kita mau kemana, ma?" tanya Ethan bingung.


"Sementara kita akan tinggal di apartemen tante Vania, sayang," jawab Kezia.


"Apa papa akan menemui kita nanti?" tanya Ethan kembali.


Kezia mengangguk, karena dia yakin, Rama pasti akan menemuinya dan putra mereka. Pintu lift terbuka, Kezia langsung mencari pintu apartemen kakaknya. Setelah ketemu, Kezia langsung membuka pintu apartemen Vania, menggunakan kartu akses masuk, di tanganya.


Ini kali pertama Kezia memasuki apartemen Vania. Mengingat dua kakak beradik dulunya tidak pernah akur. Bahkan Vania sudah lama tinggal terpisah dari orang tua dan saudaranya.


Karena mereka kini sudah akur, Kezia bisa melihat isi apartemen milik kakaknya. Ketika memasuki ruang tamu, Kezia di buat kaget dengan photo-photo yang terpajang di dinding.


Banyak sekali photo-photo Kezia, Vania, Adrian dan juga papanya. Kezia tidak bisa menahan air matanya saking terharu. Ternyata, meskipun selama ini Vania membencinya, kakaknya tetap memajang photo-photo mereka di masa kecil, remaja hingga saat ini.


Bahkan ada juga foto almarhum mama mereka, yang di pajang indah dengan senyuman yang sangat menyejukan. Kezia mendekat, memandang lebih dekat photo almarhum mamanya yang sangat mirip dengan dirinya.


"Photo siapa, ma?" tanya Ethan.


"Ini photo Eyang putri, ibunya mama, istrinya eyang kakung, sayang," jawab Kezia.


Kezia juga menjelaskan kepada putranya, bahwa orang yang berada di photo tersebut sudah tiada. Tak lupa, Kezia juga memperkenalkan putranya kepada photo almarhumah mamanya. Ethan yang polospun, menyapa photo almarhumah eyang putrinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Kau menang banyak, Rama🤭


__ADS_2