
Visual Rama Asher
Visual Kezia Afsen
Visual Vania Afsen
Visual Digo Sanjaya
Visual Adrian Afsen
...Jika Visualnya kurang cocok, bisa pakai visual yang di inginkan masing-masing, kak.☺️...
Terlambat sudah, kini Kezia sudah pergi jauh dari sisinya. Dia pergi tanpa sepatah kata, walau hanya sekedar berpamitan pada Rama. Kacau, begitulah keadaan Rama saat ini. Ia bersandar di depan pintu apartemenya sambil menangisi kepergian Kezia.
Di sisi lain tangis Rama berhenti ketika mendongakan kepalanya, melihat Digo sahabatnya berdiri tepat di depanya. Ia mengulurkan tanganya, meminta Rama untuk berdiri. Rama menolak, bahkan tatapan penuh kekecewaan terlihat dari sorot matanya.
"Jauhkan tangan kotormo dariku, penghianat,"Ucap Rama datar
__ADS_1
Digo tersentak dengan perkata'an sahabatnya. Tidak biasanya Rama bersikap dingin kepadanya. Jikapun ia sedang sedih karena di tinggal pergi Kezia, seharusnya ia tidak menyebutnya penghianat. Bola mata Digo langsung melebar kala mengingat sesuatu. Rama telah mengetahui hubunganya dengan Vania. Digo segera menahan langkah Rama, ketika Rama hendak memasuki apartemenya.
Rama yang merasa terusikpun segera memukul wajah Digo berkali-kali. Meluapkan emosinya yang bercampur aduk menja di satu. Di tinggal Kezia, di tipu Vania, dan di hianati sahabatnya sendiri.
Bertepatan dengan Vania yang baru muncul, keluar dari lift. Vania kaget ketika melihat Digo sudah babak belur di pukuli Rama. Vania segera berlari membantu Digo berdiri. Rama tersenyum mengerikan menatap dua orang di hadapanya.
"Dasar wanita ular! Puas kau, kau telah menghancurkan hidupku, brengsek. Ku bunuh kau, wanita sialan. Menyesal aku pernah mencintai wanita sepertimu," Teriak Rama mencekik leher Vania, sehingga wanita itu sulit bernafas.
Digo segera melepaskan cekikan tangan Rama dari Leher Vania. Bahkan para penghuni apartemen lain yang terusih, keluar melihat kejadian itu. Rama langsung masuk ke dalam apartemenya dan menutup pintu sangat keras. Sedangkan Vania membantu Digo masuk ke dalam apartemenya. Digo meminta Vania pergi, karena ia sangat kecewa denganya. Karena Vania, sahabatnya kehilangan Kezia. Karena Vania, Digo kehilangan sahabatnya.
"Puas kau Vania? Puas kau menghancurkan persahabatanku dengan Rama, hah?"
"Digo, buat apa kamu peduli denganya? Bahkan dia memukulimu hingga seperti ini."
"Aku sudah memintamu menghentikanya dari dulu. Bahkan kau tidak pernah mendengarku, pergi kau dari hidupku. Aku benar-benar muak denganmu, benar kata Rama, kau wanita ular," Teriak Digo emosi.
"Maafkan aku Digo, aku menyesal."
"Cih, kau menyesal setelah semuanya hancur. Bukankah kau puas? Kau bahagia telah berhasil menghancurkan hidup adikmu. Bahkan aku meragukan hatimu sebagai seorang wanita. Kau bilang mencintaiku dan ingin menikah denganku. Bagaimana mungkin aku menikah dengan wanita berhati batu sepertimu," Ucap Digo lalu menyeret Vania keluar dari apartemenya.
Dia sudah muak dengan Vania, kepalanya terasa pusing, mengingat sahabatnya kini membencinya. Bodohnya dia selama ini mencintai Vania yang berhati batu.
Sedangkan Rama saat ini memasuki kamar yang dulu Kezia tempati. Kamar itu terlihat kosong, bahkan Kezia tidak menyisakan barangnya satupun. Ia mulai membuka lemari Kezia, tempat kezia menyimpan koleksi baju-bajunya. Lemari itu juga kosong, tiada barang satupun yang tersisa. Hanya kenanganya bersama Kezialah yang tersisa di kamar itu.
"Kenapa kamu selalu begini Kezia, kenapa pergi menjauh dariku yang selalu menjadi pilihanmu. Dua kali kamu menghilang, sebegitu niatkah kamu ingin melupakanku. Bahkan aku belum berkata jujur kepadamu, aku mencintaimu Kezia Afshen. Kau telah pergi membawa setengah dari hatiku ini. Kemana aku harus mencarimu Kezia, dimana kamu sekarang Kezia?"
Entah bagaimana keadaan hatinya sekarang, bahkan ia menangis tanpa suara. Menyesali kebodohanya yang menyia-nyiakan Kezia. Rama naik ke ranjang yang dulu di tempati Kezia. Bahkan aroma Kezia masih melekat di sana. Ia meringkuk memeluk guling seolah sedang memeluk tubuh Kezia.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Kezia, ku mohon kembalilah kepadaku. Mari kita mulai bersama dari awal, aku berjanji hanya kamulah wanita yang akan ku cintai."
Setelah bergumam tidak jelas, Ramapun tertidur hingga paginya ia terbangun karena bell pintu apartemen yang terus berbunyi tanpa henti. Ramapun beranjak dari ranjang, keluar membuka pintu apartemen. Di lihatnya Adrian menatapnya dari atas sampai kebawah dengan pandangan meremehkan.
"Ada perlu apa kamu datang?"
"Seharusnya kamu mempersilahkan aku masuk sebelum bertanya," Ucap Adrian melangkahkan kakinya masuk lalu duduk di sofa.
Rama mengikuti Adrian dari belakang. Adrian hanya diam saja, lalu mengeluarkan buku harian dari tasnya, menyerahkanya pada Rama.
"Itu buku harian Kezia, bacalah," Ucapnya singkat, lalu pergi begitu saja dari apartemen Rama.
Sedangkan Rama menatap bingung pada buku harian Kezia yang tergeletak di atas meja. Bingung antara membukanya ataupun tidak. Ia takut mengetahui banyak hal menyakitkan, ketika ia membacanya. Rama mengambil buku itu dengan tangan bergetar, lalu meletakanya kembali. Dia belum siap untuk membaca buku harian Kezia.
Bukanya membaca, Rama malah masuk ke kamarnya. Mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower. Ia harus bangkit, Rama yakin, dimanapun Kezia berada, dia tidak akan pernah melupakanya. Di hatinya hanya ia tanamkan nama Kezia. Dia menutup hatinya untuk wanita lain, siapapun itu, hatinya tetap milik Kezia.
Selesai mandi, Rama kembali lagi untuk membaca diary yang di berikan Adrian kepadanya. Diary yang isinya di penuhi tentang dirinya. Diary yang isinya mencerita kemalangan Kezia selama ini. Rama sudah tidak sanggup lagi membacanya. Rasanya sangat menyakitkan, dan begitu perih di dada.
Setelah air matanya lolos membaca buku diary itu, Rama tidak kuasa lagi membendung air matanya.Ia menangis sejadi jadinya, melepaskan rasa sesak di hati. Setelah membaca diary Kezia, bukanya membaik malah semakin parah. Bahkan akhir-akhir ini, Rama sering melamun dan bolos bekerja .
Bahkan secretarisnya, Tantri, menelponya berkali-kali. Rama tidak juga mengangkat telpon dari secretarisnya. Tantri semakin di buat kelabakan oleh Rama. Pasalnya ia harus membatalkan pertemuan penting bersama rekan bisnisnya.
Lagi-lagi Rama melamun, masih saja memikirkan kezia. Penyesalan, kehilangan, rasa cinta yang belum terungkapkan. Semua itu membuatnya menderita.Ia menyesal, seharusnya ia jujur atas perasaanya saat ini.
The pain of parting is nothing to the joy of meeting again. Distance unites missing beats of two hearts in love. Love is not finding someone to live with. It's finding someone you can't live without.
Rasa sakit karena perpisahan tidak sebanding dengan kebahagiaan bertemu lagi. Jarak menyatukan detak dua hati yang hilang dalam cinta. Cinta bukanlah menemukan seseorang untuk hidup bersamanya. Itu menemukan seseorang yang kamu tidak bisa hidup tanpanya.
__ADS_1