Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Jebakan pertama


__ADS_3

Kezia dan Vania tiba di rumah pada pukul sepuluh malam. Mereka berdua langsung di hadang papanya yang sedari tadi menunggu di teras depan. Melihat tatapan mata papanya yang tidak sedang bersahabat, membuat Kezia merasa ngeri.


Vania menyuruh Kezia langsung masuk ke dalam kamarnya. Soal papanya biarlah Vania yang akan menghadapinya. Kezia menuruti perintah kakaknya, karena selain itu dia juga sangat lelah seharian ini.


Untung saja hanya papanya yang menghadangnya, orang tua Erik sepertinya sudah istirahat semuanya. Tapi ternyata dugaan Kezia salah, mamanya Erik ternyata baru keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Kezia.


"Zia, kamu dari mana saja? jam segini baru pulang, nak? kamu sedang hamil, sayang."


"Maaf, mom! tadi Zia menjenguk teman Zia yang sedang sakit. Karena tempatnya cukup jauh di tambah kami terlalu lama di sana, hingga kami lupa waktu hingga selarut ini."


"Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja, tadi Erik mencemaskanmu, coba kamu hubungi dia," pinta ibunya Erik.


Meskipun tidak berminat untuk menurutinya, Kezia tetap mengangguk. Setelah itu Kezia langsung masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Karena Kezia butuh privasi dan tidak sembarangan orang bisa masuk lagi ke kamarnya.


Setelah mengunci pintu, ada sesuatu yang basah sedang menempel di bibirnya. Kezia memberontak karena suasana di kamarnya sangat gelap. Sehingga Kezia tidak bisa melihat jelas, seseorang yang sedang ******* bibirnya. Sebuah tangan mengelus lembut rambut panjangnya yang lurus indah.


Mata Kezia membelalak ketika menyadari rasa sebuah ciuman yang tidak terasa asing baginya. Segera tanganya meraba sakelar lampu dan sosok yang masih saja menciumnya terlihat jelas dari sudut mata Kezia.


"Rama! bukankah kamu sedang ke luar kota? kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?"


"Kenapa memangnya? aku kan sedang kangen sama ibu dari anak-anaku ini, apa tidak boleh? hem."


"Tentu saja boleh! aku juga sedang merindukanmu juga, sayang."


Rama langsung mencium kembali bibir Kezia, menumpahkan semua kerinduanya yang sempat beberapa hari ini tidak bisa ketemu.


"Auh! kenapa kamu menggigitku?"


"Biar saja, kalau tidak maka maku tidak akan pernah berhenti menciumku."


Rama terkekeh mendengar protes dari Kezia, saking rindu dan gemasnya, ia tidak sadar sudah terlalu lama mencium bibir Kezia. Hingga sang empunya pun hampir kehabisa nafas.


Melihat Rama terus terkekeh membuat Kezia mencubit tipis perutnya. Rama mengaduh dan ingin membalasnya, namun setelah mendengar ketukan pintu dari luar, aksi keduanya pun berhenti.


Rama langsung melompat dan bersembunyi di balik jendela kamar Kezia. Perbuatan mereka berdua sama persis seperti pasangan mesum yang takut kepergok.


Memastikan Rama telah aman, Kezia melangkah membuka pintu kamarnya. Ternyata ibunya Erik yang mengetok pintu kamar Kezia. Kezia memaksakan senyumnya meskipun jantungnya saat ini masih berdebar karena effek kekagetanya barusan.


Di lihatnya ibunya Erik membawa nampan yang berisi segelas susu putih yang di yakininya adalah susu ibu hamil. Ya, Kezia sampai melupakan rutinitas barunya untuk meminum susu ibu hamil sebelum tidur.


"Sayang, kamu lupa minum susu, nak? ini mummy bikinkan untukmu. Kamu harus selalu ingat untuk meminumnya. Karena di sini ada calon cucu mummy yang membutuhkan nutrisi tambahan."


Kezia tersenyum getir setelah mendengarkan nasehat dari ibunya Erik. Membayangkan bagaimana kecewanya orang paruh baya di depanya ini. Jika mendengar kenyata'an bahwa cucunya bukanlah bayi yang sedang Kezia kandung melainkan dari wanita lain yang belum pernah beliau kenal sebelumnya.


"Terimakasih, mom! maaf saking ngantuknya Kezi sampai melupakan rutinitas baru, Kezi."


"Ya sudah, ayo di minum biar mummy bawa kembali ke dapur gelasnya."


Kezia langsung meneguk sampai kandas susu ibu hamil buatan calon mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi calon mertua Dewi. Setelahnya tak lupa Kezia mengucapkan terimakasih sebelum ibunya Erik pergi menuju arah dapur untuk mengembalikan gelas kosong bekas Kezia.

__ADS_1


Rasa lega yang luar biasa kini di rasakan oleh Kezia. Untung saja ibunya Erik tidak mendengar suaranya dan suara Rama barusan. Sambil mengelus dada, Kezia menutup kembali pintu kamarnya.


Rama langsung kembali melompat ke dalam kamar Kezia, setelah memastikan situasi sudah aman kembali. Tanganya langsung melingkari pinggang Kezia. Bibirnya mendarat di leher Kezia, memberikan kecupan tipis yang membuat bulu kuduk Kezia meremang.


"Sayang, geli ih," protes Kezia.


"Sebentar saja, sayang! aku kangen banget sama kamu. Apa lagi aroma lily di tubuhmu yang paling membuatku tidak bisa menahan rasa kangen ini."


"Nanti kamu kebablasan dan berakhir gituan deh."


"Tenang, sayang! gak akan kelewat batas, kamu tenang saja. Kamu tidur saja dan biarkan aku tetap memelukmu seperti ini. Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak begadang. Harus istirahat yang cukup dan selalu bahagia agar bayi kita terlahir sehat dan selalu ceria."


"Tapi kalau aku tidur, pasti aku bangun kesiangan dan tidak mendapati lagi kamu di sampingku?"


"Sabar, ini hanya untuk sementara, karena besok siang aku akan ke sini lagi untuk membawa surat perceraian palsu kita dan rencana kita akan di mulai."


"Kamu yakin akan berhasil?" tanya Kezia sedikit ragu.


"Aku yakin! dan kamu harus sedikit ber acting seolah kamu sedang sedih. Sesuaikan saja dengan apa yang aku perankan besok, kamu pasti bisa. Ini demi kita dan anak-anak kita dan pastinya demi Dewi dan masa depan bayinya juga."


Kezia mengangguk setuju, mulai besok Kezia akan berusaha ber acting dengan baik. Agar semua orang di rumahnya percaya termasuk Erik, papa dan kakaknya Adrian.


Tak ingin tidur terlalu larut, Kezia langsung memejamkan matanya di dalam pelukan hangat Rama. Rasa nyaman yang membuat tidurnya sangat pulas hingga pagi pun tiba dan mendapati Rama tidak lagi ada di sisinya. Selalu begitu yang Kezia dapati setiap paginya.


Hingga siang pun datang, seperti kata Rama semalam. Laki-laki itu benar-benar menjalankan ucapanya semalam. Rama datang tiba-tiba ke kediaman Afsen, di saat semua orang sedang berkumpul termasuk Vania dan Digo sahabatnya juga berada di sana.


Awalnya mereka menatap heran karena kedatangan Rama secara tiba-tiba. Yang membuat mereka bertambah heran adalah ketika Rama dengan sukarela menyerahkan berkas perceraianya bersama Kezia dulu.


Kezia juga memerankan peranya dengan sangat baik. Seolah dia terlihat syok bahkan butiran bening mengalir dari sudut matanya. Kepalanya menggeleng seolah tidak bisa menerima tatkala Rama berhenti memperjuangkanya.


Sedangkan Erik beserta kedua orang tuanya dan juga tuan Afsen beserta Adrian tersenyum penuh kemenangan. Mereka boleh saja saat ini tersenyum, karena mereka tidak sadar telah terjatuh ke dalam perangkap Kezia, Rama, Vania dan juga digo.


"Sebenarnya apa yang terjadi? katakanlah," tanya Digo menimpali, seolah dia juga sedang di kagetkan dengan tindakan Rama di depan matanya.


Terlihat jelas luka yang tersembunyi pada diri Rama. Mati-matian dia berusaha berakting seolah dirinya sedang menyembunyikan lukanya dari sahabatnya. Begitupun dengan Digo yang berakting seolah dia bukan laki-laki bodoh yang bisa di bohongi begitu saja, karena dia bisa melihat jelas dari sorot mata sahabatnya.


"Aku menyadari bahwa aku bukanlah laki-laki yang baik untuk Kezia. Mengingat di masa lalu, aku memperlakukan Kezia dengan sangat buruk. Wajar saja mereka melarang Kezia untuk rujuk dengankum. Keluarga mana yang akan rela memberikan kembali putri serta adik yang mereka sayangi kepada laki-laki brengsek sepertiku. Pasti mereka akan memikirkan ulang masadepan Kezia jika bersamaku kembali."


"Rama, kenapa kamu jadi menyerah seperti ini? mana bukti darimu yang katanya mencintai adiku?" timpal Vania yang sedang pura-pura kecewa.


"Maaf, aku terpaksa harus menyerah dengan keada'an. Aku tidak yakin sanggup membahagiakan Kezia lagi. Aku titipkan dia padamu, Erik. Jaga dia, lindungi dia sepenuh hati dan pastinya tidak menyakitinya seperti yang ku lakukan di masalalu."


"Tentu saja, karena aku bukan laki-laki pengecut sepertimu," ucap Erik.


Seketika Vania memandang ke arahnya dengan senyum mengejek. Bisa-bisanya Erik berkata se enteng itu pada orang lain. Apa kabar dengan dirinya sendiri yang juga seolang lelaki pengecut.


Sudut mata Rama melirik satu persatu orang-orang yang terlihat senang dengan kekalahanya. Sedangkan orang-orang itu tidak tahu jika sudut bibir Rama juga menyeringai penuh kemenangan. Jebakanya sukses membuat mangsa percaya begitu saja dengan actingnya.


Erik langsung mengambil map yang berisi surat perceraian palsu dari Rama. Laki-laki itu terlihat tersenyum senang sekaligus mengejek Rama.

__ADS_1


"Akhirnya kamu mengalah juga! kenapa tidak dari kemarin-kemarin? apa karena Kezia kini lebih berpihak ke padaku?" ucap Erik sembari tanganya melingkari pinggang Kezia.


Seketika Rama menggepalkan genggaman tanganya. Hanya laki-laki bodoh yang tidak emosi jika wanitanya di sentuh laki-laki lain. Namun Rama mencoba untuk tetap bersabar. Atau kalau tidak maka rencana yang telah di susunya akan hancur begitu saja.


Rama berpamitan setelahnya, tidak ada satupun yang menanggapinya. Sedangkan Vania menggenggam erat jemari tangan Digo, karena menahan kekesalanya pada Erik. Saking eratnya membuat jemari tangan kekasihnya terasa sakit.


Kezia merasa risih karena tangan Erik masih melingkar di pinggangnya. Secepat mungkin Kezia mencari cara agar bisa menjauh dari Erik.


"Aku ingin ke kamar," ucapnya membuat tangan Erik yang berada di pinggangnya terlepas.


Vania berjalan mengambil alih adiknya, dia akan masuk ke dalam kamar bersama Kezia. Vania tidak akan membiarkan Erik mengantar adiknya.


"Biar aku saja yang menemaninya! bukankah ada hal yang lebih penting yang harus kau urus? bukankah kau sudah mendapatkan yang kau inginkan? maka silahkan pergi dan proses saja data-data pernikahanmu dengan adiku," ucap ketus Vania pada Erik.


"Vania benar! lebih baik kita urus data-data pernikahan kalian. Lebih cepat lebih baik, karena perut Kezia sudah terlihat jelas semakin membuncit," timpat tuan Afsen.


Erik membenarkan, setelahnya dia langsung berangkat menuju Kantor Urusan Agama setempat di temani tuan Afsen dan Adrian. Sepertinya Adrian menangkap hal-hal yang mengganjal. Karena sedari tadi dia sedikit bicara. Tetapi dia mencoba membuang fikiran buruknya dan tetap fokus pada tujuanya menemani Erik ke Kantor Urusan Agama setempat.


Dengan penuh semangat dan harapan besar, Erik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang berharap segera sampai di Kantor Urusan Agama setempat. Dia sudah tidak sabar lagi untuk memiliki Kezia seutuhnya.


Adrian dan tuan Afsen yang melihat semangat Erik, ikut merasa senang. Bagi mereka Kezia akan terjamin hidupnya di tangan laki-laki ini. Tunggu saja kejutan yang lainya yang sedang di siapkan oleh Rama. Mungkin bisa jadi tuan Afsen akan terkena serangan jantung kembali dan bisa jadi masuk rumah sakit lagi.


Kejutan itu akan pelan-pelan Rama tunjukan kepada mereka. Tentunya tidak untuk saat ini juga, namun beberapa hari lagi. Rama sengaja ingin bermain-main dulu dengan mereka. Menikmati kebahagiaan mereka di atas dukanya. Sebelum roda ia putar berbalik menjadi dirinya yang berbahagia di atas duka Erik.


Bukankah permainan Rama sangat membingungkan? tapi sangat menyenangkan baginya. Sedari tadi Rama tidak benar-benar pergi dari kediaman Afsen. Rama sengaja bersembunyi untuk mengintip secara langsung kondisi mereka pasca kepergianya tadi.


Setelah memastika Erik, tuan Afsen dan Adrian pergi, Rama langsung melompat menuju kamar Kezia. Seperti kebiasa'anya akhir-akhir ini demi menemui wanitanya.


Sesampainya di jendela kamar Kezia, Rama langsung melompat masuk. Membuat Vania tersentak karena kaget dengan ulah Rama. Bisa-bisanya mantan kekasihnya itu bertindak seperti pencuri yang masuk lewat jendela.


"Apa usahamu sudah bangkrut dan berpindah profesi sebagai pemanjat tebing? bisa-bisanya kau masuk lewat jendela," ucap Vania.


Rama hanya tersenyum tidak menanggapi, dia langsung memeluk posesive tubuh Kezia. Dia ingin menghilangkan bekas Erik yang berani-beraninya menyentuk wanitanya tadi.


"Apa yang kau lakukan, sayang! kau tidak malu ada kak Vania di sini?" bisik Kezia.


"Aku hanya ingin menghilangkan bekas dari Erik yang telah menyentuhmu tadi. Kau tahu aku sangat cemburu? aku tidak suka miliku di sentuh orang lain. Kau tau jika kau adalah miliku dan hanya miliku? ingin ku patahkan jemari tanganya tadi, jika tidak ingat rencana kita," grutu Erik di dengar Kezia.


"Kenapa tidak kau patahkan langsung jemari tanganya tadi? kenapa hanya keluhan saja yang kau ucapkan?" timpal Vania.


"Kalau tidak mengingat rencana kita, pasti sudah ku patahkan jemari tanganya dari tadi atau bahkan ku bunuh saja dia," jawab Rama.


"Jangan! kau bisa di tuntut dan mendekam di balik jeruji. Jika itu sampai terjadi, maka sama saja kamu membiarkan aku di nikahi Erik sedangkan kamu mendekam di penjara," timpal Kezia.


Rama menggeleng, seolah ucapan Kezia adalah suatu peringatan. Mana mungkin Rama berfikir sedangkal itu. Tentu saja Rama masih bisa mengendalikan emosinya dan melihat-lihat situasinya terlebih dahulu.


Melihat adiknya masih saja berpelukan bahkan bermesra'an dengan Rama. Vania pun keluar dari kamar Kezia, karena dia juga ingin memeluk tubuh Digo kekasihnya. Dari pada menjadi nyamuk di antara Kezia dan Rama.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Dunia berasa milik Rama dan Kezia 🤭


__ADS_2