Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Menemukan Dewi


__ADS_3

Sosok lelaki tua sedang duduk menyendiri di tepi kolam ikan. lelaki tua itu tak lain adalah tuan Afsen yang masih menimbang-nimbang ucapan dari cucu semata wayangnya. Antara berat hati dan rasa tidak teganya melihat sang cucu tumbuh terpisah dari kedua orang tuanya. Membuat tuan Afsen pusing memikirkan pilihan manalah yang akan beliau pilih.


Sementara beliau juga sedang membayangkan betapa sedihnya sang cucu ketika melihat teman-temanya yang selalu bersama kedua orang tuanya kemanapun mereka berada. Berbeda dengan Ethan yang belum pernah merasakan rasanya di jemput atau di antar ke sekolah oleh kedua orang tuanya.


Dilema, rasa itulah yang kini menyerang fikiran tuan Afsen saat ini. Terpaksa dengan berat hati, beliau mengiyakan permintaan sang cucu. Rasa keterpaksaan yang tidak ikhlas itulah yang menjadi beban di dalam hatinya saat ini.


"Tenang, mama dan papamu pasti akan bersatu," begitulah ucapanya yang masih ter ngiang-ngiang di dalam fikiran tuan Afsen. Secara tidak sengaja beliau sudah memberi harapan besar pada cucunya. Bahwa Rama dan Kezia pasti akan bersatu menjadi keluarga yang utuh kembali.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tuan Afsen masih merasa trauma dengan kisah masalalu putrinya dan juga Rama. Rasa takut itu masih ada, apa lagi ketika melihat putrinya depresi, koma setelah melahirkan Ethan dan nyawanya hampir saja hilang dari dirinya.


Bisakah Rama mengembalikan kembali kepercayaan tuan Afsen. Dapatkan Rama berjanji untuk selalu membahagiakan putrinya tanpa harus menyakitinya kembali.


"Pa," panggil Adrian yang baru tiba dan melihat papanya melamun di tepi kolam.


Tuan Afsen menoleh, dan mendapati putranya dengan wajah lesu dan frustasi. Ada apa dengan Adrian? tidak biasanya putraya terlihat seperti ini.


"Apakah ada yang salah denganmu, Adrian?" tanya tuan Afsen mendapati sosok yang berbeda pada diri putranya.


Adrian tiba-tiba bergabung dengan papanya duduk di tepi kolam. Adrian bimbang antara ingin bercerita atau tidak. Tuan Afsen masih memperhatikan putranya sembari menunggu putranya mau berbagi cerita denganya.


"Ehhhm, papa percaya cinta pertama?" tanya Adrian membuat tuan Afsen menaikan sebelah alis nya. Tidak biasanya sang putra membahas soal cinta. Jangankan membahas soal cinta, membahas soal lawan jenis pun, Adrian tidak pernah.


"Percaya! Almarhumah mamamu adalah cinta pertama dan terakhir bagi papa. Sosok wanita yang penyabar, dan entah kenapa sifatnya dan juga wajahnya semua menurun pada adikmu Kezia. Tetapi tunggu, kenapa kamu tiba-tiba bertanya demikian? apa kamu sudah menemukan perempuan yang sesuai dengan ke inginanmu?"


Adrian nampak gugup, bahagimana caranya bercerita pada papanya. Bahwa cintanya yang baru bersemi telah pupus oleh takdir. Adrian adalah laki-laki bodoh yang menganggap wanita sama seperti cenayang yang bisa mengetahui apa yang dia rasa dan dia fikirkan tanpa dia harus memberitahu.


Selama ini ternyata Adrian menaruh rasa pada Dewi. Gengsinya terlalu tinggi jika harus berkata jujur dengan perasaanya. Membiarkan saja rasa itu hilang dengan sensirinya. Namun nyatanya cinta itu tidak bisa hilang. Hingga kejadian tempo hari mampu menghancurkan perasaanya seketika. Melihat wanita yang diam-diam dia sukai telah berbadan dua. Parahnya lagi, wanita itu hamil dengan mantan tunangan adiknya.


Tuan Afsen masih memandang Adrian yang sedang di landa kegundahan. Beliau tahu bahwa putranya sedang jatuh cinta. Namun bukanya mendapati wajah bahagia pada Adrian. Tuan Afsen malah melihat luka yang tertahan pada putra sulungnya.


"Katakanlah, nak! apa kamu sedang jatuh cinta dengan seorang gadis? jika benar, siapakah gadis itu?"


"Gagal, Adrian gagal, pa! sosok wanita yang Adrian sukai telah di rusak oleh pria lain. Adrian benci ini semua, ingin rasanya Adrian bunuh laki-laki yang telah menghancurkan wanita yang Adrian cintai, pa."


"Siapa wanita yang kamu maksud, Adrian?"


"Dewi sekar, mantan pengasuh Ethan yang telah di rusak oleh si brengsek Erik, pa," jawab Adrian dengan ekspresi frustasinya.


Terlihat kekagetan pada ekspresinya, namun tuan Afsen tidak ingin menunjukanya pada Adrian.


"Tapi dia sedang hamil anak pria lain, Adrian, apakah kamu masih mencintainya?" tanya tuan Afsen.


Ucapan dari papanya memang sedikit menyadarkan Adrian dari pemikiranya. Mustahil rasanya jika Adrian memperjuangkan cintanya. Namun belum tentu Erik mau mempertanggung jawabkan perbuatanya. Bisakah Adrian menggantikan posisi Erik dengan dirinya.


Cinta memang tanpa syarat, meskipun kondisi Dewi sedang mengandung anak dari pria lain sekalipun, cintanya tidak bisa pudar begitu saja. Di tambah lagi, di sinini Dewi lah yang menjadi korban.

__ADS_1


Tapi Adrian tidak yakin jika papanya akan setuju, jika dirinya menikahi Dewi. Kedepanya pasti tidak akan baik, apa lagi Dewi terikat oleh benih Erik yang sedang di kandungnya.


Adrian tidak tahu jika niatanya akan sia-sia saja, karena saat ini Dewi telah berada di tangan Erik. Hal itu hanya di ketahui Rama, Vania, Bagas dan juga Digo. Bahkan Kezia pun juga tidak tahu jika Dewi sudah di bawa kabur Erik.


"Apa kamu berkeinginan menikahi Dewi? padahal kamu tahu dia sedang mengandung benih Erik?" tanya tuan Afsen.


"Tapi si brengsek itu tidak akan pernah mau mempertanggung jawabkan perbuatanya, pa. Apa salah jika aku memperjuangkan cintaku meskipun situasinya sudah terlambat?"


Entah kenapa Adrian terlihat serius dengan ucapanya. Sehingga tuan Afsen tidak sanggup berkomentar lagi. Mengingat sang putra dari dulu tidak pernah terlihat jatuh cinta. Sekali merasakan jatuh cinta, kenapa harus dengan wanita yang seperti Dewi. Namun apa boleh buat, tuan Afsen tidak ingin memutuskan harapan putranya. Takut-takut malah akan membuat sang putra trauma. Sehingga tidak memiliki hasrat mencintai wanita lagi.


"Terserah kamu saja, Adrian! papa tidak bisa berkomentar. Kamu juga sudah berumur, apapun pilihanmu papa serahkan pada kamu sendiri."


Adrian merasa lega, meskipun terlihat keberatan di wajah papanya. Namun Adrian akan tetap memperjuangkan cintanya yang terlambat. Karena lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.


Mulai hari ini Adrian akan mencari tahu di mana keberadaan Dewi saat ini. Dia menaruh curiga bahwa Vania, bahwa adiknya yang satu itu pasti tahu di mana saat ini Dewi berada.


Adrian beranjak dari duduknya, dia akan menemui Vania. Secepatnya tanpa menunda waktu, Adrian harus secepatnya menemui Dewi. Apa lagi kondisi perut Dewi yang sedikit menonjol. Pasti Dewi sangat tertekan menutupi aibnya seorang diri.


Bagai pangeran berkuda putih, Adrian akan menjadi sosok pria yang akan menikahi Dewi. Menutupi kehamilanya dan mengakui anaknya sebagai darah dagingnya. Bukankah mencintai ibunya sama halnya harus mencintai anaknya pula? hal itulah yang akan di lakukan Adrian.


Adrian berpamitan, dia akan berangkat mencari adiknya sekarang juga. Sedangkan orang yang ingin di temuinya saat ini berada di dalam apartemen kekasihnya.


Vania masih menghawatirkan Dewi, sampai detik ini orang-orang suruhan Rama masih belum bisa menemukan jejak Erik dan Dewi. Entak kemana Erik membawa Dewi, hingga jejaknya pun tidak mereka temui.


"Apa'an sih, nelponin aku terus?" dengusnya merasa kesal.


"Angkatlah, sayang! siapa tahu ada hal yang penting," ucap Digo.


Vania yang sedang memangku ponakanya yang tertidur dalam pangkuanya pun mendengus kesal. Karena merasa malas jika mendengar suara kakaknya.


Tetapi setelah di fikir-fikir, bisa jadi Adrian menelponya karena Kezia. Vania langsung menelpon balik, takut-takut terjadi sesuatu pada Kezia. Ternyata dugaan Vania salah, yang di bahas Adrian bukanlah Kezia melainkan Dewi. Entah kenapa kakaknya tiba-tiba bertanya tentang Dewi. Membuat Vania teringat kembali tentang Dewi, wanita itu benar-benar mencemaskan Dewi.


Mau tak mau akhirnya Vania mengatakan yang sejujurnya pada Adrian, bahwa Dewi sudah di bawa kabur oleh Erik. Karena Vania sangat lelah mendengar ocehan kakaknya di saat dirinya sedang pusing memikirkan Vania.


Terdengar nada terkejut di sebrang telpon, nampaknya Adrian sangat terkejut mendengan Dewi di bawa kabur Erik. Seketika panggilan telpon dari Adrian terputus. Entah apa yang terjadi pada kakaknya, Vania merasa ada yang aneh pada Adrian.


Dia kira setelah Adrian mematikan telponya, maka Adrian tidak akan menelponya lagi. Memang benar Adrian tidak menelponya lagi, melainkan langsung menghampirinya di apartemen Digo. Adrian sudah bisa menebak bahwa adiknya pasti berada di apartemen Digo.


Terdengar bell pintu apartemen yang berbunyi berkali-kali, membuat Digo akhirnya membukakan pintu untuk Adrian. Karena sebelumnya Digo sudah mengintip siapa orang yang berada di depan pintu apartemenya.


Terlihat wajah penuh kepanikan dan kekawatiran pada diri Adrian. Vania menatap aneh pada kakaknya, kenapa kakaknya bisa sepanik ini. Mirip seperti orang yang sedang kehilangan barang berharganya yang sedang di cari-carinya saat ini.


Adrian hendak menghampiri Vania dan menanyakan soal Dewi. Namun Digo menahanya, karena lebih baik Digo lah yang menceritakan semuanya pada Adrian. Mengingat kekasihnya masih syok karena kejadian hilangnya Dewi.


Digo menceritakan mulai dari Vania yang di bius hingga pingsan. Lalu Digo juga menceritakan soal rekaman cctv yang di ambil dari apartemen Dewi. Digo menceritakanya tanpa di tambah maupun di kurangi.

__ADS_1


Adrian menggepalkan kedua tanganya dengan Ekspresi menahan amarah. Adrian langsung berdiri, Digo menahanya karena Digo tahu apa yang akan di lakukan Adrian selanjutnya.


"Jangan gegabah, tenangkan dirimu, Adrian! orang-orang Rama sedang mencari jejak Erik dan Dewi," ucap Digo.


"Gak! gua gak bisa tinggal diam dan hanya menunggu kabar dari mereka. Belum tentu mereka akan secepatnya menemukan Erik dan juga Dewi. Aku dan anak buahku akan ikut mencari juga," ucap Adrian melangkah meninggalkan apartemen Digo.


Digo mendengus kesal, percuma saja melarang si keras kepala seperti Adrian. Digo tidak ingin ambil pusing, karena memikirkan kekasihnya yang keras kepala pun sudah membuatnya pusing, apa lagi di tambah memikirkan Adrian yang sama keras kepalanya denga Vania, pasti akan menambah pusing kepala Digo.


Dan benar saja Adrian langsung menelpon orang suruhanya untuk berpencar mencari jejak Dewi dan Erik. Adrian tidak ingin membuang-buang waktu dan tidak ingin hal buruk terjadi pada Dewi. Hingga salah satu anak buahnya yang tidak sengaja berada di kota yang sama dengan Erik berada saat ini, melihat sosok yang di carinya baru saja keluar dari mini market. Tak mau menunda, segera saja anak buah Adrian mengabari Adrian secepatnya.


Sembari menunggu Adrian yang langsung menuju ke lokasi. Anak buahnya yang bernama Andre itu pun diam-diam mengikuti mobil Erik dengan mengendarai sepedah motornya.


Hingga mobil Erik berhenti di sebuah rumah kecil, Andre tetap memata-matainya dari sebrang jalan. Andre juga mengirim lokasinya saat ini pada Adrian. Membuat Adrian langsung mempercepat laju mobilnya agar segera sampai ke tempat tujuan.


Adrian sangat bersyukur dengan keberada'an Andre di kota yang akan dia tuju. Adrian berjanji akan memberi bonus yang besar pada Andre, karena telah menemukan wanita yang ia cari.


Satu jam kemudian Adrian baru sampai ke lokasi yang di kirim Andre. Andre sedari tadi masih di tempat yang sama karena sedang menunggu Adrian. Setelah mendapati kedatangan Adrian, membuat Andre merasa lega.


Adrian langsung mengajak Andre mendekat pada sebuah rumah kecil yang di dalamnya ada Erik dan juga Dewi. Namun langkahnya terhenti ketika mereka berdua melihat Erik keluar sendirian lalu memasuki mobilnya.


Seperti mendapat celah, Adrian tersenyum menunggu kepergian Erik. Kepergian Erik akan mempermudah Adrian membawa pergi Dewi.


Setelah memastikan Erik sudah pergi dan cukup jauh hingga tidak terlihat. Adrian dan Andre langsung mendobrak pintu yang terkunci dari luar. Erik sengaja menguncinya agar Dewi tidak bisa kabur.


Setelah pintu terbuka, Adrian langsung membelalakan mata ketika melihat Dewi terduduk tak jauh dari pintu dengan kondisi merintih kesakitan. Di lihatnya darah yang mengalir begitu banyaknya dari inti tubuh Dewi. Membuat Adrian panik dan segera menggendong Dewi menuju mobilnya.


Saking paniknya, Andre mengambil alih kemudinya dan meminta Adrian untuk menemani Dewi saja. Mereka langsung membawa Dewi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan. Karena Adrian tidak sanggup melihat Dewi dengan wajah pucatnya merintih kesakitan yang sangat menyayat hatinya.


Adrian berfikir, bisa jadi tadi Dewi mengejar Erik sehingga membuatnya terjatuh. Atau mungkin memang Erik yang sengaja menyiksa Dewi, hingga menyebabkan Dewi pendarahan.


Tidak ingin menduga-duga lama kondisi paniknya, Adrian lebih berfokus untuk segera sampai ke rumah sakit terdekat. Keselamatan Dewi dan bayi yang di kandung Dewi lebih penting. Untuk hal lain bisa dia fikirkan nanti saja.


Darah segar terus menerus mengalir di kakinya tanpa henti. Bahkan Dewi menggigit bibirnya demi menahan rasa sakit di perutnya. Bagai di tusuk, di remas, sesakit itulah perut Dewi saat ini. Bahkan air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.


"Yang kuat, Dew! bertahanlah sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Adrian sembari tanganya mengelap air mata dan keringat Dewi yang mengalir membasahi pipinya.


"Pak Adrian, sakit! perutku sakit banget, pak_


"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada anaku, pak. Tolong aku pak, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anaku," rintih Dewi di sela menahan rasa sakitnya.


Entaha apa yang harus Adrian lakukan, yang dia bisa hanya meminta Andre mempercepat kemudinya, agar mereka cepat sampai di rumah sakit dan Dewi bisa segera mendapatkan penanganan.


Setelah sampai di rumah sakit terdekat, Dewi langsung di bawa masuk ke ruang UGD (unit gawat darurat). Tak henti-hentinya Adrian memanjatkan doa untuk keselamatan Dewi dan bayi yang sedang di kandung Dewi.


Adrian juga mengabari Vania, bahwa dirinya sudah menemukan Dewi. Vania tidak menyangka, dalam waktu kurang dari dua jam, kakaknya mampu menemukan Dewi secepat ini. Setelah mendapat kabar dari kakaknya, tak lupa Vania juga mengabari Rama untuk menghentikan pencarianya.

__ADS_1


__ADS_2