
Rama Asher
Otaku masih memikirkan seorang pramugari yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang ke arahku. Dia adalah pramugari yang sama seperti waktu keberangkatanku ke Kalimantan beberapa hari yang lalu. Aneh, itulah yang aku rasakan saat ini setiap kali melihat wajahnya.
Dari kebanyakan wanita yang tertarik kepadaku, hanya dia satu-satunya wanita yang paling aneh. Entah kenapa filingku terasa tidak enak ketika melihatnya. Siapakah wanita itu sebenarnya? kenapa rasanya ada hal yang mengganjal yang tidak ku ketahui. Apakah ada sesuatu yang terlewatkan pada diriku.
Dari pesawat lepas landas hingga kini pesawat telah mendarat di kota tujuan, wanita itu masih saja memandangku.
Ku percepat langkahku agar wanita itu kehilangan jejaku. Bukanya aku percaya diri, tetapi aku merasakan wanita itu menyukaiku. Aku hanya milik Kezia, tidak akan ku biarkan wanita lain walau hanya sekedar menyukaiku sebagai seorang pria.
"Pak Rama."
Ku buka kaca mata hitamku melirik ke penjuru arah karena mendengar ada seseorang yang memanggilku. Ku langkahkan kakiku menuju seseorang yang ternyata berada di sebrang sana. Orang itu melambaikan tangan kepadaku dan orang itu adalah Bagas.
"Udah lama, Gas?" tanyaku sekedar basa basi.
"Sekitar 20 menitan yang lalu, pak,' jawab Bagas.
Aku sengaja meminta Bagas menjemput serta mengantarku ke rumah Kezia. Karena tidak mungkin aku membawa mobil sendiri, karena sampai saat ini hubunganku dengan Kezia masih sembunyi-sembunyi.
Persetan orang-orang mengataiku penakut, aku bukan lelaki yang takut dengan mantan mertua. Aku sadar di masalalu sikapku kepada anaknya cukup buruk. Tidak salah jika papanya Kezia sangat sulit menaruh kepercayaanya kembali kepadaku.
Aku dan Bagas memasuki mobil, dari pantulan kaca spion lagi-lagi aku melihat pramugari itu . Sebenarnya siapa wanita itu? wanita yang sangat aneh.
Aku menoleh ke belakang, benar saja wanita itu memang memandang kepergianku. Hingga Bagas menegurku saking penasaran dengan ekspresiku.
"Ada apa, pak?" tanya Bagas.
"Entahlah, semenjak keberangkatanku ke Kalimantan hingga aku kembali, ada seorang pramugari aneh selalu memandangku."
"Mungkin anda terlalu tampan, pak! jadi wajar saja wanita di luaran sana sangat mengagumi ketampanan anda," ucap Bagas bergurau.
"Ini beda, ada hal yang aneh yang ku tangkap dari mata wanita itu," timpalku.
Bagas hanya tertawa setelah mendengar penjelasanku. Dia fikir kata-kataku lucu? atau mungkin benar yang di katakan Bagas, bahwa wanita itu sekedar tertarik saja kepadaku.
"Jangan terlalu di fikirkan, pak! lagian anda tidak mengenalnya, lebih baik anda persiapkan diri untuk menemui non Kezia."
Benar juga apa yang Bagas katakan, untuk apa aku terlalu memikirkan wanita itu. Mata mata dia, jadi hak dia mengagumi parasku yang tergolong tampan. Lain halnya dengan mataku, di mataku hanya ada satu yang terindah yaitu ibu dari anak-anaku.
Mobil yang kami kendarai telah berhenti di sebuah gang yang tak jauh dari rumah Kezia. Bagas menurunkanku di sana dan selebihnya aku akan berjalan kaki. Kami sengaja melalui jalur belakang agar tidak ketahuan mantan mertuaku. Bukankah kami sudah mirip seperti maling kelas unggulan? mencari celah agar bisa masuk ke kamar Kezia lewat jendela.
Setelah aku memasuki kamar Kezia, aroma lily yang sangat ku rindukan tercium di indra penciumku. Kamar yang terlihat sangat gelap dan sunyi. Apa ini? apa dia sedang membuat kejutan atau moment romantis kepadaku.
Ku edarkan mataku melihat-lihat di setiap sudut kamar. Di mana wanita hebatku, wanita kuat yang akhir-akhir ini berubah sangat manja. Tetapi aku tetap mencintainya, entah dia ingin menjadi Kezia yang dulu atau Kezia yang sekarang. Yang terpenting dia tetaplah Keziaku bukan orang lain.
Kelembutan kedua tanganya tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang. Apakah aku terkejut? jawabanya tidak sama sekali. Dia lupa, aromanya sangat ku kenali dari dulu hingga sekarang.
"Sayang, aku merindukanmu," rengeknya dengan suara manjanya.
Suaranya benar-benar membuat sesuatu di dalam tubuhku terpancing. Apakah aku bisa menahan sesuatu yang menginginkan ratunya untuk memanjakanya.
Ku balikan tubuhku, langsung ku kecup bibir manisnya yang beraromakan vanila. Aku sudah tidak tahan lagi, Kezia terlalu menggemaskan di mataku.
"Sayang, kenapa kamu semakin nakal? apa kamu mau bertanggung jawab jika sesuatu di dalam tubuhku meminta lebih dari ini?" tanyaku.
Kezia hanya tersenyum, wanitaku ini benar-benar nakal dan minta di hukum. Hukuman apa yang terasa nikmat dan membuatnya ketagihan?
"Biarin aku nakal, yang penting kamu gak nakal sama wanita lain di luar sana selain aku," ucap Kezia.
"Kok ngomongnya begitu, sih? tidak ada wanita lain selain kamu, sayang," jawabku.
"Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk, aku bermimpi ada wanita lain yang merebutmu dariku, sayang."
__ADS_1
"Hei, wanita yang mana? tidak ada, hanya kamu wanita di dalam hidupku, itu hanya mimpi dan percayalah ke padaku."
"Baiklah, karena kamu memintaku untuk mempercayaimu, maka aku akan percaya sampai kapanpun hati dan ragamu hanya untuku, sampai kita di persatukan kembali menjadi suami istri," ucap Kezia memeluk tubuhku.
Aku hanya diam mencerna ucapan Kezia, ku eratkan pelukan tubuh kami. Aku sangat mencintainya dan sangat merindukanya. Aku tidak akan sanggup bila berpisah jauh darinya.
Meskipun ada hal yang masih mengganjal dalam hatiku yang sampai saat ini belum terpecahkan. Semoga tidak ada hal buruk lagi yang terjadi pada hubungan kami. Aku terlalu lelah untuk menghadapi banyaknya masalah. Yang aku inginkan hanya bersatu kembali dengan Kezia dan membesarkan anak-anak kami bersama.
Ku lepaskan pelukanku dari tubuhnya, lalu ku belai pipinya yang semakin cubby. Ku kecup pipi kananya yang sangat halus, dia tersenyum dan aku pun juga.
"Aku ke kamar mandi dulu, ya? tadi aku habis dari bandara langsung ke sini. Aku mau mandi sebentar, sebelum menemanimu bobok," ucapku masih sempat-sempatnya menoel pipinya yang menggemaskan.
Kezia mengangguk, dia juga mengambilkan handuk untuku mandi dan menyiapkan air hangat untuku. Hal itu mengingatkanku saat dulu kami masih menjadi suami istri. Dia selalu melayaniku dengan baik, dia adalah wanita terbaik dan terindah dalam hidupku.
"Airnya sudah siap, sayang," ucapnya.
Aku tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kezia. Membuat Kezia juga ikut tersenyum dan merasa teramat di sayangi.
"Terimakasih, sayang," jawabku lalu berlalu memasuki kamar mandi milik Kezia.
Ku tatap bayangan wajahku di depan cermin setelah ku basuh wajahku. Tidak bisa ku pungkiri, aku masih mempermasalahkan sesuatu yang terasa mengganjal di hatiku. Hingga ku nyalakan shower dan guyuran air dingin mampu sedikit mengurangi bebanku.
Aku keluar dari kamar mandi dan sesekali mengeringkan rambutku yang masih basah dengan handuk pemberian Kezia.
Suara ponselku yang ku letakan di atas nakas samping tempat tidur berbunyi. Aku meminta Kezia untuk melihatnya, barangkali Bagas atau sekretarisku. Karena aku tidak mempunyai rahasia yang harus ku tutupi dari Kezia.
From +62822xxxxxxxx
Send picture xxxxxxxx
Ketika Kezia membuka pesan masuk di ponselku, mendadak suasana menjadi hening. Ku lirik wajahnya yang terlihat fokus memandang lurus ke arah layar ponselku. Sebenarnya pesan masuk seperti apa yang membuat Kezia begitu fokus.
Ku jemur handuk basahku ke dalam kamar mandi lalu ku langkahkan kakiku mendekati Kezia. Hei, kenapa Kezia menangis? apa yang membuatnya menangis.
"Pergi," ucapnya.
"Hei, ada apa? kenapa kamu menyuruhku pergi, sayang?" tanyaku meminta penjelasan.
"Pergi kamu! pergi penghianat," teriaknya.
Deg, mendadak jantungku serasa berhenti berdetak setelah Kezia mengataiku penghianat. Mataku terfokuskan pada layar polselku yang masih menyala. Ku ambil ponselku dan ku lihat pesan apa yang membuat Kezia berubah sikapnya kepadaku.
Mataku membelalak, serasa ingin ku banting ponselku saat itu juga. Kezia menangis dengan sangat pilu, ada rasa sakit di sudut hatiku mendengar dan melihat tangisanya.
"Jadi ini alasan kamu memintaku untuk selalu mempercayaimu, Rama? di belakangku kamu berhianat dan tidur dengan wanita lain," ucapnya.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin semua ini. Aku juga tidak tahu kapan ini terjadi, aku tidak sadar, sayang. Aku juga tidak kenal wanita ini siapa."
"Cukup Rama, cukup kamu menjelaskan semua ini ke padaku. Tidak mungkin kamu tidak tahu ketika seorang wanita tidur di sampingmu. Sudah cukup kamu bohongi aku, Rama. Sakit, aku tidak sanggup terus menerus kamu sakitin. Kamu berjanji tidak ada wanita lain lagi selain aku di hatimu. Mana janjimu itu Rama? kamu bohong, kamu berhianat, keluar kamu dari sini, keluar Rama.
Suara teriakan Kezia sampai terdengar ke telinga mantan mertuaku dan Vania. Sehingga pintu kamarnya langsung di ketuk dari arah luar. Aku panik, bukan berarti aku takut menghadapi mantan mertuaku. Aku panik dengan ucapan dan kemarahan Kezia. Semua tidak akan terselesaikan jika aku pergi.
"Tok, tok! Zia kamu kenapa, nak?" suara mantan mertuaku di balik pintu.
"Zia, kamu tidak apa-apa, dek?" suara Vania.
"Keluar kamu Rama," pintanya sekali lagi dengan nada pelan.
Aku menggeleng tidak mau pergi sebelum Kezia mempercayaiku. Peduli setan jika mantan mertuaku memergokiku berada di kamar Kezia. Aku juga tidak peduli jika sampai mantan mertuaku memukuliku hingga babak belur sekalipun. Aku lebih memilih babak belur dari pada melihat Kezia marah ke padaku.
"Zia, please! percaya sama aku, aku gak ngelakuin itu. Aku juga tidak tahu dan sepertinya ada orang yang menjebaku, sayang," ucapku terus menjelaskan.
__ADS_1
"Aku ingin sendiri, tolong lebih baik sekarang kamu pergi dari kamarku sebelum papaku melihatmu di sini, Rama."
"Enggak, aku gk mau pergi sebelum kamu percaya sama aku, Zia."
"Pergi atau selamanya kamu tidak akan pernah lagi melihatku, Rama," ancamnya.
Dengan berat hati aku akhirnya pergi dengan begitu banyak beban di dalam fikiranku. Apa lagi ini? siapa orang yang berani menjebaku? tunggu, sepertinya aku pernah melihat wanita yang tidur denganku tadi.
Ku buka kembali pesan yang ada di ponselku, ku amati baik-baik wajah wanita yang tidur di sampingku. Seketika dua bola mataku membelalak lebar setelah mengenali wanita itu.
"Brengsek! jadi wanita itu yang berani menjebaku, pantas saja cara dia memandangku sangat mencurigakan. Tidak akan ku biarkan kamu hidup tenang. Karena kamu telah mengusih hidup seorang Rama Asher."
Aku berjalan menelusuri trotoar jalan menuju club malam. Aku butuh beberapa teguk minuman untuk mengurangi pusing di kepalaku. Hingga tibalah aku di sebuah club malam yang sangat ramai dengan pengunjung.
"Prok, prok, prok."
Aku menoleh pada sumber suara orang yang bertepuk tangan di belakangku. Erik, dialah orang yang saat ini tersenyum dan bertepuk tangan.
"Rama Asher, kita lama tidak bertemu dan sekali bertemu ternyata kau ada di sini," ucap Erik.
Aku hanya diam acuh tidak membalas sapa'anya karena bagiku tidak penting.
"Sepertinya kamu ada masalah! sehingga kamu mendatangi tempat ini," ucapnya lagi.
"Bukan urusanmu," jawabku melangkah mengabaikanya.
"Masih banyak lagi photo-photo yang lain yang belum ku kirimkan ke padamu, Rama," ucap Erik membuat langkahku terhenti dan jemari tanganku menggepal.
Langsung ku berbalik arah dan menghampirinya kembali. Ku tarik kerah bajunya dan ku tatap tajam matanya meminta penjelasan.
"Apa maksumu, brengsek?" tanyaku dan dia hanya tertawa.
"Aku memiliki beberapa photo saat kamu tidur dengan wanita lain, Rama. Aku akan menyebarkanya ke beberapa media, sehingga bukan hubunganmu dan Kezia saja yang hancur. Bahkan nama baikmu sebagai pengusaha tersuxes akan hancur dengan photo-photo itu," ucap Erik.
"Brengsek! jadi kamu pelakunya? apa kamu sudah bosan hidup, hah?" teriaku mendaratkan beberapa pukulan di wajahnya. Sehingga kami saling membalas saling memukul sehingga suasana club malam menjadi bising karena teriakan para wanita yang melihat perkelahian kami.
"Brengsek, mati kau! ku bunuh kau, sialan," teriaku masih saja seperti orang kesetanan hingga seseorang melerai kami berdua.
"Lepaskan, biarkan ku bunuh lelaki itu," teriaku ketika tanganku di cekal sangat erat oleh dua orang asing yang berada di club malam itu.
Erik membersihkan darah yang berada di suduh bibirnya. Dia masih saja menertawaiku sehingga semakin membuat api dalam diriku semakin berkobar. Jika tidak ada orang yang menghalangiku, sudah ku pastikan malam ini Erik akan mati di tanganku.
Tidak peduli jika aku harus di penjara setelah membunuhnya. Apa bedanya denganku tidak bisa lagi menemui Kezia. Sama saja aku terpenjara terjebak dalam permainan yang Erik buat.
Kenapa aku bisa seceroboh ini? kenapa aku bisa kecolongan? kenapa semua ini bisa terjadi.
"Lebih baik anda pergi dari sini sebelum kami berdua membawa kalian ke kantor polisi."
"Jauhi Kezia, maka aku tidak akan menyebarkan photo-photomu," ucap Erik menyeringai dan berlalu.
Ku lihat Erik pergi lebih dulu, namun dia masih sempat menertawaiku. Mungkin nasip baik masih berpihak padanya saat ini tetapi tidak di hari esok dan hari lainya. Aku akan membalas semua perbuatanmu ke padaku, Erik. Tentunya juga wanita itu, tunggu neraka yang nyata akan menghampiri hidupmu, nona.
Ku rogoh ponselku di saku celanaku untuk menghubungi Bagas. Ku minta Bagas untuk menjemputku dan mengantarku pulang. Tenagaku sudah habis untuk semua yang terjadi kepadaku. Lelah dari perjalanan jauh, berharap malam ini aku bisa berduaan dengan Kezia. Namun nyatanya Erik dan wanita itu menghancurkan semuanya.
Ku gepalkan kedua jemariku meminta dua orang yang mencekal kedua tanganku agar melepaskanya. Lalu ku langkahkan kakiku keluar meninggalkan club malam dan menunggu jemputan dari Bagas. Entahlah pikiranku kacau hingga tanpa sajar aku terduduk bersandar di bawah pohon di depan club malam. Hingga suara klakson mobil berbunyi dan itu adalah mobilku yang di kemudikan oleh Bagas.
Bagas melihat penampilanku yang sangat kacau, membuatnya kawatir dan bertanya-tanya. Aku memintanya untuk tidak bertanya saat ini, karena kepalaku masih terasa pusing. Hingga akhirnya Bagas diam dan melanjutkan kemudinya mengantarku pulang ke rumahku.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sabar bang-bang Rama Asher, ya
Cinta itu rumit, perjalananya juga rumit
__ADS_1
Jika tidak mau rumit, jangan di perjuangkan dan lepaskan
Iya gak sih Raders? 🤭