Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Ethan Jatuh Sakit


__ADS_3

Rama Asher


Sialan, mereka semua benar-benar memancing emosiku. Jangan panggil diriku sebagai Rama Asher, jika aku tidak bisa menghancurkan mereka. Bahkan aku sudah memaafkan kesalahan salah satu di antara mereka, yaitu Vania. Kini muncul lagi dua di antara mereka, yaitu mantan mertuaku dan putranya, Adrian. Di tambah lagi, aku harus menghadapi si brengsek, Erik juga.


Hal yang lebih membuatku marah adalah, aku tidak bisa menemui Kezia. Mereka mengurungnya, tanpa bisa keluar dari rumah. Putraku, Ethan terus-menerus mencari-cari mamanya. Aku tidak peduli jika tiada Ethan di antara kami. Masalahnya sekarang, ada Ethan di antara kami, yang membutuhkan kedua orang tuanya.


Sehari semenjak Erik membawa paksa Kezia pergi meninggalkanku dan putraku. Putraku jatuh sakit, tubuhnya mengigil dan demam tinggi. Bibirnya terus-menerus mengingau memanggil-manggil mamanya. Sakit, tentu saja ayah mana yang tidak sakit melihat putra yang sangat di cintainya terbaring sakit.


Se bajing-bajingan diriku, aku tetaplah lemah, jika melihat orang-orang yang aku cintai menderita. Rasanya hatiku sama seperti di sayat-sayat ribuan pisau, yang membunuhku secara perlahan.


"Ma, mama! Ethan kangen mama, papa juga kangen mama. Kemarilah ma, kemari kita berkumpul lagi seperti kemarin," ucap Ethan mengigau, memanggil-manggil Kezia."Sayang! Bangun, nak," usahaku membangunkan Putraku yang terbaring di brankar rumah sakit.


"Dokter, suster! tolong putraku," teriaku memanggil.


Tak lama Dokter dan beberapa suster datang ke ruang inap putraku. Mereka memeriksa keada'an putraku yang demamnya semakin tinggi. Aku panik, tentu saja panik melihat putraku semakin parah.


Tuhan, aku memang penuh dosa, tidak sepantasnya aku memohon kepadamu. Tapi sekali ini saja, aku memohon, gantikan sakit putraku denganku. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya kesakitan.


Tak lama, ayah dan ibuku datang, memasuki ruang rawat inap putraku. Mereka panik, dan semakin panik ketika melihatku menangis. Apa lagi keada'anku terlihat sangat kacau.


"Rama! bagaimana keada'an cucu kami, nak?" tanya ibuku.


"Panasnya tidak turun-turun, bu! Apa yang harus aku lakukan, bu? Dia terus saja memanggil-manggil mamanya," jawabku putus asa.


"Jemput Kezia, Rama! Bagaimanapun caranya, ini demi keselamatan putramu. Gunakan kekuasa'anmu untuk membawa Kezia kemari," perintah ayahku.


Benar kata ayahku, kenapa aku tidak menggunakan kekuasaanku untuk membawa Kezia kemari. Persetan dengan semuanya, aku akan membawa Kezia kemari. Kalau mereka menghalangiku, akan ku hancurkan semua yang mereka miliki.


Mereka bisa mengusik kehidupanku, tapi jika menyangkut nyawa putraku, aku tidak bisa.


"Tolong temani putraku, ma, pa! Aku akan menjemput Kezia," ucapku bergegas pergi ke rumah keluarga Afsen.

__ADS_1


Aku tidak ingin membuang-buang waktu, bahkan aku sudah mengerahkan semua anak buahku untuk ikut denganku. Akan ku coba meminta Kezia dengan cara baik-baik. Namun jika mereka menghalangi, akan ku ambil paksa, Kezia dari papa dan kakaknya.


Ku lajukan mobilku menembus jalan yang sedang di padati pengendara lainya. Sial, aku benar-benar ingin mengumpat karena salah mengambil jalur. Ingin memutar balik, namun di belakang mobilku sedang di padati oleh pengendara lainya.


Ku serahkan kunci mobilku kepada salah satu orang suruhanku. Dan ku ajak beberapa dari mereka untuk ikut denganku. Aku dan anak buahku berlari mencari taxi yang bisa kami tumpangi. Tidak mungkin aku harus menunggu kemancetan lalulintas.


Kami berlari di sepanjang trotoar jalan, hingga kami menemukan taxi yang bisa kami tumpangi. Syukurlah, aku sedikit merasa lega, ketika sudah berada di dalam taxi.


"Antar kami ke alamat ini," pintaku pada sang driver.


Sialnya lagi, kami harus menempuh waktu setengah jam untuk sampai ke rumah keluarga Afsen. Sial, benar-benar sial, bagaimana keada'an putraku saat ini.


"Sayang, papa harap kamu baik-baik saja, nak! Papa akan menjemput mama untukmu," gumamku.



Setibanya di depan gerbang rumah keluarga Afsen. Aku masih di hadang oleh satpam penjaga rumah itu. Ku serahkan semuanya pada salah satu orangku, untuk mengurusnya.




"Jangan macam-macam denganku! Jika kau takut dengan majikanmu, maka aku lebih menakutkan daripada majikanmu," ucapku setelah mendapatkan kunci di saku celananya.



Setelah aku dan dua anak buahku memasuki gerbang keluarga Afsen. Serta meninggalkan dua anak buahku yang ku perintahkan mengurus satpam tadi. Ku langkahkan kakiku menuju pintu utama.



Rumah ini masih sama seperti ketika aku masih menjadi suami Kezia. Tidak ada yang berubah, termasuk para penghuninya. Lebih istimewanya lagi, ternyata mereka mengetahui kedatanganku. Bisa ku lihat, saat ini tiga lelaki sedang berdiri di depan pintu utama, untuk menghadangku.

__ADS_1


"Ada urusan apa kau datang kemari, tuan Rama," tanya Erik.


Aku menyeringai, rupa-rupanya pria ini mulai berkuasa di rumah ini. Sekuat mungkin, kutahan emosiku agar tidak keluar. Ku hirup udara lalu ku embuskan pelan.


"Maaf tuan Erik! Saya ingin bertemu Kezia," ucapku to the point.


"Ada urusan apa kau mencari Kezia?" kali ini Adrian yang bertanya kepadaku.


"Aku hanya ingin menjemput ibu dari putraku," jawabku.


"Aku tidak mengizinkanya," sahut Erik.


"Aku tidak butuh izin darimu tuan Erik, karena kau bukan siapa-siapanya Kezia," ucapku tak ingin kalah.


Ku lihat ekspresi Erik yang terlihat menegang menahan amarah karena ucapanku. Memang ucapanku benar, dia bukan siapa-siap Kezia kecuali tunangan yang belum tentu menjadi suaminya. Aku tidak akan membiarkan mereka menikah. Karena yang pantas menjadi suami Kezia hanyalah aku.


"Kau lupa tuan Rama,bahwa aku adalah tunanganya," ucap Erik.


"Aku tidak lupa tuan Erik."


"Langsung katakan saja, kenapa kau mencari Kezia, Rama?" kali ini mantan mertuaku yang bertanya.,Aku tersenyum, ternyata dari sekian lama, aku masih bisa mendengar suara calon mertuaku. Pasalnya, selam lima tahun ini, dia tidak pernah bertegur sapa denganku.


"Kedatangan saya kesini dengan niat baik-baik, tuan Afsen. Karena saat ini putra kami sedang sakit, dan dia membutuhkan kami," ucapku.


"Apa? Cucuku sakit? Bagaimana keada'anya sekarang?" tanyanya panik.


"Lebih baik anda panggil Kezia segera! Karena saya tidak punya waktu untuk sekedar berbasa-basi dengan kalian. Nyawa putraku lebih penting saat ini, ku mohon," pintaku.


Akhirnya, tuan Afsen memanggil Kezia untuk turun menemuiku. Pastinya dengan kondisi wajah Erik yang menahan kekesalan. Persetan dengan pria itu, sebentar lagi kau tidak akan ada di antara kami. Kau hanya rumput liar yang tak sengaja hadir di antara kami.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Kasihan, Ethan! Sabar ya, papa sedang memperjuangkan mama😭


__ADS_2