
Kezia meminta Rama, untuk mengantarkanya pulang ke rumah orang tuanya. Wanita itu merasa sungkan, jika berlama-lama berada di rumah mantan mertuanya. Di tambah lagi, ucapan Rani yang menyinggung tentang mereka yang sekamar berdua. Membuat Kezia merasa sangat malu, dan ingin segera pulang.
Rama akan mengantar Kezia pulang, namun dengan satu syarat. Pria itu menggenggam pergelangan tangan Kezia, membawanya masuk ke ruang kerjanya. Sementara Ethan sedang keluar dengan kakek neneknya.
"Kenapa kamu mengajaku ke ruang kerjamu, Rama? aku memintamu mengantarkanku pulang," tanya Kezia.
"Sabar sayang! kita lanjutkan yang tadi malam, setelahnya aku akan mengantarmu," pinta Rama.
"Kau gila? apa kau tidak mendengar perintah ibumu, tadi?"
"Dengar! tidak boleh sekamar, bukan? bukankah kita tidak berada di kamar, saat ini?" ucap Rama, yang sudah menempelkan dada Kezia ke dadanya.
Mereka saling menatap, bahkan Kezia tidak jadi melayangkan protesnya kembali. Karena pesona Rama, melumpuhkan hati dan fikiranya.
"Satu kali saja! karena aku tidak tahu, kapan lagi, kita akan bertemu kembali. Aku juga menginginkan kamu cepat hamil, agar pernikahanmu gagal," bisik Rama, kemudian menatap Kezia kembali dan mencium bibir Kezia. Mereka melakukanya lagi, padahal baru saja mendapat wanti-wanti dari Rani.
Di tengah permainan keduanya, tiba-tiba terdengar suara Ethan, yang memanggil mereka berdua.
Keduanya saling tatap, lalu Kezia segera tersadar dan memunguti pakaianya, hendak menemui putra mereka.
"Tolong temui putra kita, aku akan menuntaskan ini," pinta Rama.
Kezia segera mengenakan kembali Turtlenecknya. Lalu tak lupa merapikan rambut dan wajahnya. Kemudian, Kezia keluar dari ruang kerja Rama dan menemui putranya.
"Mama di sini, sayang," ucap Kezia, yg masih mendengar putranya memanggilnya dan juga Rama.
"Mama kemana saja?"
"Mama, baca buku di ruang kerja papa, sayang," jawab Kezia, berbohong.
"Oh, ya? Aku juga ingin! bolehkan aku masuk, ma?" pinta Ethan.
"Tentu, sayang," jawab Kezia.
Ketika Kezia dan Ethan memasuki ruang kerja Rama, Kezia sudah tidak mendapati sosok mantan suaminya. Entah lari kemana, namun tak lama, orang yang di cari-cari, muncul dari pintu masuk ruang kerjanya. Tentunya dalam kondisi segar, sepertinya dia baru saja mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin.
Kezia sempat tersenyum membayangkanya, namun mendadak canggung ketika Rama memandangnya. Kejadian gila, di saat sedang saling menginginkan, tetapi tiba-tiba suara anak mereka, membuyarkanya.
"Papa," panggil Ethan.
__ADS_1
"Ya, jagoan papa," jawab Rama, menghampiri putranya, berjongkok mensejajarkan tingginya.
"Papa baru mandi?" tanya Ethan.
"Ya, sayang! hari ini, mama harus pulang ke rumah eyang. Kamu ingin ikut mama atau di rumah bersama nenek dan kakek? karena papa akan ke bali, untuk mengurus kepindahan sekolahmu," ujar Rama pada Ethan.
"Kenapa kita tidak ke bali ber tiga, pa?" tanyanya.
"Sepertinya mamamu sangat lelah, dan kamu baru saja pulih, sayang. Papa tidak ingin kalian kelelahan, lalu jatuh sakit," jawab Rama.
"Baiklah! Aku ikut mama saja, aku akan menemani mama," jawab Ethan.
Betapa bahagianya Kezia mendengarnya, ini sebuah kemajuan, karena putranya mau ikut bersamanya tanpa ada Rama di antara mereka.
Rama ikut bahagia, melihat senyum Kezia yang nampak sangat bahagia. Sepertinya, Rama akan memberi banyak waktu, untuk ibu dan anak ini, untuk bersama. Sementara dirinya akan ke Bali, untuk mengurus kepindahan putranya, sekaligus mencari tahu keberada'an Dewi.
"Ayo kita berangkat," ajak Rama.
Mereka bertiga keluar dari ruang kerja Rama, menghampiri Rani dan Edi, untuk berpamitan. Kezia melihat senyum Rani, ketika melihatnya. Sepertinya ibunya Rama, sudah kembali seperti sebelumnya.
"Kalian mau kemana?" tanya Rani.
Rani memegang tangan mantan menantunya, sembari tersenyum memandang Kezia. Dari dulu, Rani memang sangat menyayangi Kezia. Sikapnya tadi pagi, hanya kekawatiran seorang ibu kepada anak-anaknya.
"Maafkan sikap ibu tadi pagi, sayang! Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Segera selesaikan masalah kalian. Ibu ingin melihat kalian segera rujuk dan memberikan orang tua yang lengkap untuk putra kalian," tutur Rani, Rama dan Kezia mengangguk.
Setelah berpamitan dengan kedua mantan mertuanya. Kini Kezia dan Rama beserta Ethan, sudah berada di dalam mobil. Rama mengatur kemudi mobilnya, sedangkan Kezia memangku putranya yang sedang bermain robot pemberian nenek kakakeknya. Jika orang lain melihat mereka bertiga, pasti orang itu mengira mereka adalah keluarga kecil yang sangat harmonis.
Jarak yang tidak terlalu jauh, dari kediaman Asher ke kediaman Afsen. Hanya membutuhkan waktu dua puluh lima menit, mereka bertigapun telah sampai di halaman kediaman Afsen.
Rama melihat mobil digo, berada di pekarangan kediaman Afsen. Rama sudah bisa menebak, pasti di dalam sana, ada Digo dan Vania. Entah bagaimana reaksi Kezia dan Vania, jika mereka bertemu. Setelah sekian lamanya, kakak beradik itu, memang tidak pernah bertemu.
Rama turun dari mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Kezia dan juga putranya.
"Mobil siapa ini?" gumam Kezia pelan, namun Rama mampu mendengarnya.
"Digo! Ini mobil Digo," ucap Rama.
Kezia langsung menatap Rama, mencoba bertanya. Apakah fikiran Rama, sama seperti yang ia fikirkan.
__ADS_1
"Itu berarti, di dalam ada kak Vania?" tanya Kezia.
"Ya, aku fikir memang begitu! kenapa? kamu takut?" tanya Rama.
"Ya, aku takut, kakaku masih membenciku," jawab Kezia.
Rama menggenggam jemari tangan Kezia, ia akan menemaninya menemui Vania. Meskipun Rama yakin, Vania sudah berubah, tidak mungkin menyakiti Kezia lagi.
Kezia merasa gugup, sehingga Ethanpun kini berpindah di gendongan Rama. Kezia sangat takut, jika nasip buruk akan menimpanya kembali, setelah bertemu lagi, dengan Vania.
"Kezia, kau sudah pulang, nak!" suara tuan Afsen.
Kezia tidak menjawab, mata Kezia malah memandang ke arah Vania. Vaniapun berdiri dari duduknya, setelah melihat kembali adiknya.
"Zia," sapa Vania.
"Kak Vania," sapa Kezia.
Vania langsung berlari menghampiri Kezia, dia langsung memeluk adik yang selama ini ia sakiti. Vania menangis setelah merengkuh tubuh Kezia, ke dalam pelukanya. Kezia yang mendapat pelukan dadakan dari kakak yang selama ini tidak pernah memeluknyapun, merasa kaget.
Vania melepaskan pelukanya, lalu menatap wajah adiknya. Kezia masih mematung, bahkan tenggorokanya tercekat, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Zia, kamu apa kabar?" tanya Vania, tersenyum tulus.
"Bb, baik kk, kak," jawab Kezia gugup.
"Zia, kenapa kamu terlihat gugup? apa kamu masih marah denganku, di masalalu?" tanya Vania.
Kezia menggeleng tanpa suara, dia masih kaget dengan kehadiran Vania, setelah sekian lamanya tidak bertemu.
"Maafkan aku, Zia! aku benar-benar minta maaf. Selama ini, aku telah menjadi kakak terburuk bagimu. Maafkan aku yang telah menyakitimu di masalalu. Maafkan aku pula, yang memisahkanmu dengan pria yang kamu cintai. Maafkan ak_
"Stop, kak! aku sudah mema'afkan kakak," ucap Kezia.
Saking senangnya, Vania memeluk kembali adik perempuanya. Bahkan ini adalah pelukan pertama, yang Kezia dapatkan dari Vania. Karena semenjak Kezia terlahir di dunia, baru saat inilah, Vania mau memeluknya tanpa ia minta.
Jangan lupa mampir juga di karya temanku, ya😊
Mampir di karya temanku, ya 👇
__ADS_1