
Hari sudah berganti malam, selama itu pula Kezia belum mengisi perutnya. Erik mencoba membujuk Kezia untuk makan, tetap saja Kezia menolak. Rama mengambil alih bingkisan makanan dari tangan Erik.
Pandangan tidak mengenakan dari Erik, Rama abaikan. Ia yakin bisa membujuk Kezia agar mau makan. Kalau perlu, Rama akan menyuapinya dengan senang hati.
"Makanlah! apa kau ingin sakit dan tidak bisa melihat putra kita siuman?"
"Aku tidak lapar, Ram," jawabnya.
"Isilah tenagamu! Sebentar lagi, putra kita pasti siuman," Rama tak henti-hentinya membujuk.
"Tapi, kamu juga belum makan sedari tadi, Ram," ucapan Kezia, sedikit membuat Rama tersenyum, merasa di perhatikan kembali.
"Aku laki-laki! Aku lebih kuat darimu, Kezia."
"Tapi_
Rama menutup mulut Kezia menggunakan jari telunjuknya. Rama meminta Kezia diam dan memakan, makanananya.
"Makanlah walaupun sedikit, dan sisanya akan aku makan,"pinta Rama, membuat Kezia teringat akan masalalu mereka.
Karena dulu, ketika mereka menjadi suami istri. Meskipun belum ada cinta di hati Rama untuk Kezia. Atau mungkin sudah ada, namun Rama belum menyadarinya. Rama sering memakan, makanan bekas Kezia.
Kezia tersenyum membayangkan moment mereka berdua di masa lalu. Rama menatap heran pada mantan istrinya yang tersenyum sendiri. Lain halnya dengan Erik yang wajahnya sudah merah padam, melihat interaksi mantan suami istri di sampingnya.
Adrian terus-terusan meminta Erik untuk mengendalikan emosinya. Karena saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk saling berebut Kezia.
Sedangkan Tuan Afsen sedari tadi hanya melihat interaksi putri dan mantan menantunya. Beliau hanya diam, tanpa ingin ikut campur urusan anak muda.
__ADS_1
Keziapun akhirnya mau makan karena bujukan dari Rama. Itupun juga karena Rama yang dengan telaten menyuapinya. Erik semakin tersulut emosi, ketika melihat Rama, menghapus noda makanan di sudut bibir Kezia, menggunakan ibu jarinya. Tidak kuat melihat keintiman dua mantan suami istri di sampingnya, Erikpun pergi meninggalkan mereka.
Rama tersenyum penuh kemenangan, melihat kepergian Erik. Tak lama, seorang suster keluar dari ruang ICU, memanggil Rama dan Kezia.
"Orang tua pasien bernama, Ethan?" tanya suster.
"Kami, sus! Ada apa dengan putra kami? Tanya Rama.
"Pasien sudah siuman, dan dia mencari Papa dan Mamanya," jawab sang suster, membuat Rama, Kezia, Adrian dan Tuan Afsen, berucap syukur.
Rama dan Kezia, merasa senang dan bernafas lega. Rama segera mengajak mantan istrinya, menemui putranya.
Ketika mereka berdua sudah masuk ke ruang ICU. Rama dan Kezia, melihat putranya tersenyum ke arah mereka. Kezia langsung mempercepat langkahnya, mendekati putranya.
"Mama, Papa," panggil Ethan, dengan suara lemahnya.
"Iya, sayang! Kami di sini, nak," jawab Kezia, tak kuasa membendung air matanya.
"Apa Mama akan ninggalin Ethan dan Papa, lagi? Apa Om itu, akan membawa Mama pergi, lagi?" tanya Ethan, membuat Kezia bungkam.
"Hei Jagoan, Papa! Tidak akan ada yang menggambil Mama, dari Ethan dan Papa. Maka kamu harus semangat sembuh, supaya bisa jagain Mama, biar tidak pergi lagi," ucap Rama asal, membuat Kezia menatapnya penuh tanya.
"Janji! Mama tidak akan meninggalkan Ethan dan Papa?"
Lagi-lagi, Kezia bingung harus menjawab apa, sedangkan hubunganya dengan Erik, masih berjalan. Tidak mungkin Kezia memberikan harapan palsu kepada putranya.
"Sayang, Kamu baru saja siuman! Jangan bicara dan bergerak terlalu banyak. Istirahalah, Mama dan Papa akan selalu menjagamu," perintah Rama, mengalihkan ucapan putranya kepada Kezia.
__ADS_1
Kezia bernafas lega, setidaknya untuk saat ini saja, tidak tahu jika putranya akan menanyakan hal yang sama lagi. Setidaknya kali ini Kezia terselamatkan, untung saja ada Rama yang mampu mengalihkan dari berbagai macam pertanya'an putranya.
"Papa benar, Sayang! Istirahatlah, Mama dan Papa akan menjagamu," ucap Kezia, meyakinkan putranya, bahwa dia tidak akan pergi meninggalkanya.
Ethanpun tersenyum, memandang ke arah kanan dan kiri, ada kedua orang tuanya yang duduk di kursi samping ranjang tidurnya. Apa lagi, Kezia dan Rama, sama-sama mengelus tangan Ethan. Membuat bocah kecil berusia empat tahun lebih, itu merasa nyaman. Tak lama, Ethanpun terlelap dalam tidurnya. Hingga dia di pindahkan ke ruangan rawat inapun, tak tahu.
Setelah Ethan di pindahkan ke ruang rawat inap VIP. Adrian dan Tuan Afsen baru bisa menjenguknya. Terlihat kesedihan di wajah Tuan Afsen, melihat cucu satu-satunya terbaring lemas, dalam keadaan mata terpejam. Ini juga salahnya, terlalu memaksakan kehendak, agar Kezia menikah dengan Erik. Tanpa ia tahu, ada seorang putra kecil, di antara Kezia dan Rama.
Begitupun dengan Adrian, sebenarnya Adrian merasa kasihan kepada adik bungsunya. Namun, mengingat betapa depresinya Kezia, usai bercerai dengan Rama, membuat Adrian takut, jika adiknya kembali rujuk dengan Rama. Ketakutanya itulah, yang membuat Adrian, menginginkan adiknya, menikah dengan Erik. Kini Adrian di liputi rasa bersalah, setelah melihat keponakan tersayangnya, terbaring lemah, karena merasakan terpisah dengan kedua orang tuanya.
Maklum saja, Ethan masih berusia empat tahun dan belum genap lima tahun. Selama bertahun-tahun, bocah kecil itu, terpisah dari kedua orang tuanya. Baru juga bertemu dengan Mama dan Papanya, Ethan harus di paksa berpisah kembali dengan Mamanya.
Jika melihat teman-temanya, lengkap bersama kedua orang tua mereka. Maka, Ethan pun merasa iri, dan menginginkan hal yang sama terjadi pada dirinya. Mempunyai kedua orang tua lengkap, yang setiap saat akan selalu menemaninya. Memperhatikanya, bermain bersamanya dan bercanda ria.
Permintaan yang sangat simpel, bagi seorang anak seusianya. Namun, keada'an membuat permintaan itu begitu sulit. Kezia yang masih terjebak ikatan pertunangan dan janjinya kepada Erik, membuat permintaan Ethan, menjadi tidak bisa terpenuhi. Kecuali Papanya, yang selalu ingin memenuhi perminta'an Ethan.
Rama dan Kezia, berpindah duduk di sofa yang tersedia di rung rawat VIP, putranya. Memberikan waktu, pada Adrian dan Tuan Afsen, untuk menjenguk Ethan. Mereka berdua, duduk dengan jarak agak berjauhan. Rasa canggung antara Kezia dan Rama, kini tiba-tiba muncul. Apa lagi soal tempo hari, mereka yang khilaf melakukan hubungan badan di rumah orang tua Rama. Tentu saja, mengingat itu, membuat keduanya merasa canggung.
Terutama Kezia, sebenarnya wanita itu merasa khawatir. Khawatir jika ada benih baru yang tumbuh di rahimnya. Mengingat waktu melakukanya bersama Rama, Rama tidak menggunakan pengaman sama sekali. Berbeda dengan Rama, pria itu malah berharap Kezia akan kembali mengandung anaknya. Sehingga, pernikahanya dengan Erik, tidak akan pernah terjadi. Ternyata, hal itu memang sengaja di rencanakan oleh Rama, untuk menggagalkan pernikahan Kezia dan Erik.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Kira-kira, Kezia hamidun, gak?🤭...
...Kau, ternyata licik, Rama 🤣...
Jangan lupa mampir juga di novel temanku, ya
__ADS_1
Readersku😘