Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Menginginkanya


__ADS_3

Rama Asher


Aku merasa lega saat melihat dia pulang kembali ke apartemen. Meskipun sikapnya agak ketus terhadapku. Mungkin dia masih marah kepadaku, tentang kejadian malam itu. Entah kenapa, aku mendadak menjadi dilema.


Aku masih mencintai Vania, namun aku merasa lebih nyaman dengan Kezia. Apakah aku mulai menyukai Kezia, atau ini hanya rasa nyaman biasa. Aku selalu kasar terhadap Kezia. Namun wanita itu selalu membalasku dengan kelembutan. Kadang tatapan matanya terlihat berani kepadaku. Kadang sorot matanya seolah menyimpan kesedihan yang mendalam. Apa selama ini aku keterlaluan, apa selama ini di selalu terluka karenaku.


Semenjak perjanjian kontak yang kami sepakati bersama. Aku menjadi sering kefikiran tentang Kezia. Apakah dia sudah tidak lagi mencintaiku. Kenapa dia sampai membuat surat perjanjian perceraian, jika dia mencintaiku. Seharusnya aku senang, bisa terbebas denganya. Seharusnya aku senang, bisa segera menikahi Vania. Namun kenapa mendadak aku menjadi ragu. Ada bagian di hatiku yang merasa tak rela berpisah denganya.


Siang itu, aku benar-benar merindukan masakan Kezia. Aku ingin bertemu denganya dan makan siang bersamanya. Tidak ku duga, ternyata Vania juga datang ke kantorku. Sehingga tak lama setelahnya, Keziapun tiba di ruanganku. Aku bisa melihat jelas raut kaget dan kekecewaan di wajah Kezia. Kezia mengira, aku sengaja memintanya datang untuk melihat kemesraanku deng Vania.


"Suamiku, ternyata ini tujuanmu memintaku ke sini. Untuk melihat kalian berdua bermesra'an, apakah benar begitu?" ucap Kezia.


"Bukan begitu Kezia, tap_


Tiba-tiba saja ucapanku terputus saat Vania menyuruh Kezia pergi. Aku sempat heran,kenapa Kezia tidak menolak perintah Vania. Jika biasanya dia selalu berani, kenapa sekarang berbeda.


Saat Kezia pergi meninggalkan ruanganku,aku ingin sekali mengejarnya. Namun tangan Vania memintaku jangan mengejarnya. Aku menurut saja permintaan kekasihku. Aku tidak ingin dia pergi dan menghilang lagi dari sisiku.


Beberapa jam kemudian, ketika Vania sudah pergi dari kantorku. Aku bergegas ingin segera ulang menemui Kezia. Aku harus menjelaskan kesalahfahaman yang di lihatnya tadi.


Namun, saat aku akan tiba di apartemen. Aku melihat mobil kezia di taman tak jauh dari lokasi. Mataku membola ketika istriku berduaan dengan sahabatku di dalam mobilnya. Yang awalnya aku ingin meminta maaf dan menjelaskan kesalahfahaman tadi. Kini ku urungkan niatku, karena merasa kesal dengan pemandangan di depanku.

__ADS_1


Aku segera melajukan mobilku meninggalkan lokasi. Setelahnya aku segera naik dan masuk ke dalam apartemenku. Selang waktu kemudian, Keezia pun pulang. Aku sengaja menunggunya di sofa ruang tamu.


"Darimana saja kamu zia? kenapa baru pulang?


Rahangku semakin mengeras, padahal aku melihatnya sendiri tadi. Namun mendengar jawaban Kezia yang terang-terangan. Tiba-tiba ada rasa tidak rela saat istriku berduaan dengan pria lain. Memang terlihat tidak adil, karena aku juga berduaan denga Vania di ruang kerjaku.


"Aku lapar, aku ingin makan sesuatu," ucapku kemudian, bukanya merasa kesal, Kezia malah tersenyum menuruti ke inginanku.


Melihat senyuman Kezia yang teramat manis. Tiba-tiba aku merasa tidak rela, jika senyumanya juga di lihat oleh pria lain. Aku benar-benar terlihat egois, tetapi dia istriku. Semua pada dirinya adalah miliku, sebelum kami bercerai.


Aku melangkah menghamiri Kezia, saat dia mulai memakai apron. Aku segera menarik pinggangnya, entah kena aku menginginkanya saat ini. Mungkin terdengar gila, semenjak mala itu, tubuh Kezia membuatku candu.


Kezia membalikan tubuhnya, kemudian kakinya mulai mundur. Aku tahu, dia pasti masih takut dengan kejadian tempo hari.


"Aku menginginkanmu."


"Maaf aku gak bisa, aku gak bisa jika di fikiran dan hatimu hanya ada kak Vani."


Sial, apakah Kezia masih takut jika aku meneriaki nama Vania saat kita bercinta. Haruskah aku memaksanya, aku sangat tersiksa jika harus menahanya. Apa lagi dia juga yang pertama bagiku, aku menginginkanya.


"Bukankah kau sendiri yang bilang, kau akan melakukan tugas istri dengan baik?"

__ADS_1


Kezia membalik badanya, hingga kami saling bertatap muka. Entah kenapa, sorot mata hazelnya begitu indah dan teduh. Aku terbuai, hingga hidung kami saat ini saling menempel. Dia tidak melarang ataupun melawan. Kezia hanya diam saja,apakah tandanya dia mengizinkan. Ku kecup bibirnya singkat, rasanya masih manis semanis pertama kali kami berciuman. Ku lirik reaksinya, dia hanya diam saja. Apa dia tidak berpengalaman? bodohnya aku, dia memang belum berpengalaman.


Ciumanku semakin menuntut, aku tidak rela jika hanya sekedar ciuman. Aku juga tidak rela dia lepas dariku. Meskipun aku belum mencintainya, aku tidak menginginkan perceraian itu terjadi. Aku mulai nyaman, dia berada di sisiku. Apa aku egois?maafkan aku Vania.


Lama kelama'an ciuman kami semakin menuntut. Bahkan Kezia kali ini, bisa menyeimbangkan ciumanku. Aku tersenyum, ternyata dia sangat cepat belajar. Aku melirik tangan kanan Kezia masih memegang pisau. Ku ambil pisau di tangannya, tanpa melepas ciuman kami.


Aku menuntunya masuk ke dalam kamarku, tanpa melepaskan pagutan di bibir kami. Ku baringkan Kezia di atas ranjangku. Pandanganku mulai berkabut, entah kenapa dia mampu membuatku seperti ini. Ciumanku berpindah menciumi leher jenjangnya. Ku dengar ******* yang bersuara lembut dari bibirnya. Desahanya terdengar sangat merdu di telingaku.


Aku semakin tidak bisa menahan untuk tidak menyentuhnya. Bahkan tanganku mulai nakal, menelusup kedalam dress yang ia pakai. Sehingga dressnya sudah naik ke atas, memperlihatkan seluruh pakaian dalamnya yang berwaran merah.


Tangan nakalku sudah meremas sesuatu yang ku suka pada dirinya. Sungguh aku sangat mendambanya. Tubuhnya sangat indah, sayang jika sesuatu yang indah ini ku anggurkan.


"Kamu sudah sangat b@s@h, sayang."


Aku memasukinya, ini yang ke dua kalinya bagiku dan dirinya. Kali ini aku hanya berfokus pada Kezia, bukan Vania. Aku tidak ingin menyakitinya kembali, dengan meneriaki nama Vania.


"Sebentar lagi, tahanlah, kita akan merasakan puncaknya bersama, sayang."


Sial, kenapa dia begitu nikmat, kenapa dia bisa membuatku gila. Bahkan aku selalu ingin lagi dan lagi. Kenapa aku seerti maniak s3x, bahkan sudah berapa kali malam ini kami melakukanya. Hingga tanpa terasa, jam sudah menunjukan pukul emat dini hari. Sepertinya aku besok akan kesiangan ke kantor.


Setelah pelep@san entah keberapa kalinya. Kami sama-sama lelah, ku tarik tubuh Kezia ke dalam pelukanku. Ternyata, tidur sambil memeluknya sangatlah hangat dan nyaman. Apa lagi, kami tidak mengenakan pakaian satu helaipun. Hanya selimut yang menutupi tubuh kami berdua. Kezia telah terlelap lebih dulu. Aku pandang wajah cantiknya, dia sangat cantik jika di pandang lebih dekat. Kenapa jantungku berdetak, apakah ada yang salah pada diriku.

__ADS_1


__ADS_2