Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Di sidang Rani


__ADS_3

Kezia masih menunggu Rama, pria yang ia tunggu belum juga bangun dari tidurnya. Padahal jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Kezia sebenarnya merasa tidak enak dengan orang tua Rama. Namun, akan semakin tidak enak, jika Kezia keluar dalam kondisi seperti ini.


Bosan menunggu Rama, Kezia mulai mendekati ranjang. Dia mencoba membangunkan Rama, siapa tahu, Rama akan bangun.


"Rama," panggil Kezia, pelan.


Rama masih belum mau bangun, Kezia mengulangi panggilanya. Hingga panggilan ke enam kali, Kezia mulai kesal. Karena Rama tak kunjung bangun dari tidurnya.


Kezia mencoba berbisik tepat di telinga Rama, siapa tahu, Rama akan bangun. Kezia mulai mendekati telinga Rama. Ketika ia mulai berbisik, Rama langsung melingkarkan tanganya di pinggang Kezia. Sehingga wanita itu, kini terpenjara dalam kungkungan tangan Rama.


Dalam posisi, Kezia berada di atas tubuh Rama. Mereka saling pandang, Rama tersenyum melihat wajah Kaget Kezia.


"Ada apa, sayang? kenapa kau mengganggu tidurku? apa semalam masih kurang?" goda Rama.


Kezia, mencoba lepas dari kungkungan tangan Rama, namun tidak bisa. Karena tangan Rama terlalu kuat, melingkari pinggangnya.


"Jangan ngaco, deh! lihatlah, gara-gara kamu, sekujur tubuhku, merah merah semuanya," kesal Kezia.


" Masak, sih? coba, aku pingin lihat, seperti apa?" goda Rama, lagi.


"Gak! kamu pasti modus," sahut Kezia.


Rama tertawa, dengan tingkah Kezia yang sangat menggemaskan di matanya. Kezia semakin kesal, melihat Rama menertawainya. Di tambah lagi, perutnya yang berbunyi, tanda kelaparan. Membuat Rama menghentikan tawanya.


"Jangan bilang, kamu belum sarapan dan menungguku bangun?" tanya Rama, Kezia mengangguk.


"Bagaimana bisa aku keluar dalam kondisi seperti ini, Rama," protes Kezia, sembari memperlihatkan bekas merah di sekujur lehernya.


"Oh, tenang sayang," ucap Rama, mulai beranjak dari ranjangnya.

__ADS_1


Rama menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, yang hanya memakai boxer pendek. Bahkan tubuh sixpacknya terlihat jelas, membuat Kezia menelan ludahnya dengan susah payah.


Rama berjalan menuju lemari pakaian, dan pria itu mengambil sebuah turtleneck berwarna lilac. salah satu warna yang selama ini sangat di sukai Kezia. Rama juga mengambil concealer, kemudian menyerahkanya pada Kezia. Kezia tidak habis fikir, mantan suaminya menyimpan peralatan wanita.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak! selama ini, belum ada wanita yang ku sentuh selain kamu. Baju dan conceler ini, memang ku siapkan untukmu," ucap Rama.


"Jadi, kau sudah merencanakan semua ini, Rama?" tanya Kezia, tidak habis fikir dengan mantan suaminya.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Bahkan aku berencana membuatmu hamil. Bahkan, semalam, aku sudah menanam benihku begitu ban_


Kata-kata Rama terhenti, karena Kezia membekap mulut Rama, menggunakan tanganya. Kezia terlalu malu, jika membahas atau membayangkan, perbuatan gilanya semalam.


Rama membuka bekapan tangan Kezia, pria itu tersenyum, melihat pipi Kezia, mendadak merona.


"Gayamu seperti gadis perawan, saja! padahal, kita sudah melakukanya berulang kali," goda Rama.


"Rama_


"Morning kiss! Tutupila bekasnya, dan pakailah turtleneck ini. Aku akan mandi sebentar, lalu kita turun," perintah Rama, sebelum masuk ke kamar mandi.


Kezia mulai membuka bungkus concealer pemberian Rama. Lalu mengoleskanya di bagian lehernya, yang di penuhi tanda merah bikinan Rama. Setelahnya, Kezia mengenakan turtleneck warna lilac, yang sangat cocok di tubuhnya yang berkulit cerah.


Rambut panjangnya, ia gerai indah, untuk menutupi, jika masih ada tanda merah yang terlewatkan.


Rama keluar dari kamar mandi, yang hanya melilitkan handuknya sebatas pinggang. Dengan rambut basah, yang airnya masih sedikit menetes. Rama melihat penampilan Kezia yang sangat manis dan cantik. Lelaki itu tidak bisa menutupi rasa terpesonanya pada sang mantan istri. Rama mendekat, namun di hentikan Kezia.


"Pakai bajumu, Rama! jangan mendekat, perutku sudah lapar. Jika kau mendekatiku, bukanya kita segera makan, tapi kau yang kembali memakanku," protes Kezia.


Rama tertawa, ucapan Kezia memang ada benarnya. Bahkan Rama hampir on kembali, hanya karena melihat kecantikan Kezia.

__ADS_1


Pria itu, segera memakai kaos putih polos, di padukan dengan celana jeans pendek. Membuat Rama, terlihat jauh lebih tampan dan lebih muda. Kezia sempat terpesona, namun segera sadar dan mengalihkan pandanganya.


Rama mengajak Kezia turun, Kezia mengikuti di belakang Rama. Dia masih merasa kurang enak hati, jika bertemu kedua orang tua Rama. Apa lagi, mereka tidur sekamar, dalam setatus tanpa ikatan pernikahan.


Ketika mereka berdua sudah sampai di lantai bawah, Ethan yang melihat kedua orang tuanya, langsung berlari. Anak itu, tidak lagi melihat bekas merah di leher mamanya. Hal itu, membuat Ethan bertanya-tanya, dan menanyakan langsung pada mamanya.


"Ma, gigitan serangganya sudah hilang?" tanya Ethan, membuat Kezia gelagapan.


Berbeda dengan Rama, menaikan alisnya karena bingung. Kezia meminta bantuan Rama, agar membalas pertanya'an putra mereka. Sedangkan Rama saja masih bingung, bagaimana harus menjawabnya.


"Apa maksudmu, nak?" tanya Rama, pada putranya.


"Tadi pagi, di leher mama banyak bekas gigitan serangga, pa. Leher mama, banyak merah-merahnya, pa," jawab Ethan, khas anak kecil.


Rama langsung faham, lalu segera melirik Kezia. Yang di maksud serangga adalah dirinya sendiri. Rama mulai berfikir keras, untuk menjawab pertanya'an Ethan.


"Oh, ya! tadi sudah papa olesin obat, jadi bekasnya sudah hilang, deh," jawab Rama.


Untung saja putranya langsung percaya, mereka berdua bernafas lega. Jika mereka berdua terbebas dari pertanyaan putra mereka. Lain halnya setelahnya, mereka mendapati tatapan dingin dari Rani. Kezia semakin merasa tidak enak hati, setelah melihat tatapan dingin dari mantan ibu mertuanya. Namun Rama, memintanya untuk tidak terlalu memikirkan.


Kezia tetap menyapa mantan mertuanya, meskipun hatinya sedang gundah. Rani dan Edi, membalas sapa'an Kezia. Bahkan mereka berdua, menyuruh Rama dan Kezia, duduk bergabung di ruang tamu bersama mereka. Rama dan Kezia, langsung di sidang oleh Rani, soal tidur sekamar.


"Kalian harus segera menikah," perintah Rani.


Kezia langsung menundukan wajahnya, merasa malu sekaligus cemas. Berbeda dengan Rama yang bersikap santai. Sadar Kezia merasa cemas, Rama segera menggenggam jemari tangan Kezia. Kezia menoleh, Rama memberi kode lewat anggukan kepalanya, bahwa semua akan baik-baik saja.


"Kami berdua, memang akan rujuk, bu! namun, setelah kami menyelesaikan masalah," ucap Rama.


"Maka, segera selesaikan masalah kalian! dan kalian, tidak boleh tidur sekamar, sebelum menikah," pinta Rani, membuat Rama melayangkan protesnya.

__ADS_1


Kezia melarang Rama, karena Kezia sadar, ucapan Rani memang benar. Tidak seharusnya mereka tidur sekamar, apa lagi melakukan hubungan badan di luar nikah. Mendengar itu, Rama menjadi frustasi. Kemudian memerintah Bagas, untuk segera menemukan keberada'an Dewi. Karena, Dewilah yang akan membantu Rama, menggagalkan pernikahan Erik dan Kezia.


__ADS_2