
Rama:
Tolong banget, aku ingin bicara dengan Kezia, aku tidak bisa terus begini, membiarkan saja kesalah fahaman ini semakin membuatnya menjauhiku.
Vania:
Aku tidak yakin dia mau bicara denganmu atau tidak. Hari ini saja, dia mau makan karena papa memarahinya.
Rama:
Apa? apa selama ini dia susah makan? apa dia lupa saat ini dia sedang mengandung? ini tidak bisa di biarkan, aku ingin bicara denganya, berikan ponselmu padanya, Vania.
Vania mendengus kesal, mendengar perintah dadakan dari Rama. Dia sendiri kurang yakin Kezia akan mau berbicara denganya atau tidak. Tetapi apa salahnya mencoba dulu, siapa tahu nasip baik berpihak pada Rama untuk kali ini.
Vania melangkah masuk ke dalam kamar Kezia yang tidak di kunci. Di lihatnya adiknya sedang duduk termenung di depan meja riasnya. Tatapanya seolah sedang bercermin melihat pantulan dirinya. Nyatanya tidak untuk fikiranya yang menerawang memikirkan seseorang.
Vania mendekat, dan memberikan polsenya pada Kezia. Kezia kaget setelah menerima polsel milik kakaknya yang tiba-tiba ada panggilan vidio call dari Rama. Kezia hendak memberikan kembali ponsel kakaknya, namun Vania menggeleng.
"Kalian sudah dewasa, selesaikan masalah secara dewasa, bukan malah menghindar tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu dari Rama," ucap Vania.
Akhirnya setelah di fikir-fikir sikapnya yang menghindar beberapa waktu lalu sangat kekanak-kanakan. Kezia mengangkat vidio call dari Rama.
Terlihat jelas dua insan itu saling merindu, daru cara mereka saling menatap tidak bisa di bohongi. Ada kerinduan yang tersimpan pada mereka berdua.
Rama tersenyum, setidaknya Kezia mau mengangkat panggilan vidio call darinya, walau lewat ponsel Vania. Akhir-akhir ini Kezia memang sengaja mematikan ponselnya. Selain untuk menghindari Rama, nyatanya takdir berkata lain.
__ADS_1
Rama mulai membuka obrolan ringan, dia sangat berhati-hati karena takutnya salah di mata Kezia yang akhir-akhir ini selalu sensitive.
"Haiii," sapa Rama.
"Hai," jawab Kezia.
"Zia, bagaimana kabarmu dan bayi kita?" tanya Rama.
"Baik," jawab Kezia singkat.
"Aku dengar beberapa hari ini kamu tidak ingin makan," tanya Rama.
Kezia langsung menoleh pada Vania, dia tahu pasti kakaknyalah yang memberitahu Rama tentangnya.
"Zia," panggil Rama.
Entah kenapa sikap Kezia ke Rama menjadi nerubah setelah melihat photo-photo Rama dengan wanita lain yang beredar di sosial media. Rama mencoba memaklumi, hati wanita mana yang tidak akan terluka jika melihat orang yang di cintainya tidur dengan wanita lain.
Juga mungkin pengaruh hormon kehamilanya juga, yang tidak menyukai hal-hal yang sensitive. Rama hanya bisa mengelus dada, mau menjelaskan seribu kali pun, percuma. Kezia tidak akan percaya padanya, sebelum Rama mengumpulkan berbagai bukti yang akurat.
Diam bukan berarti Rama takut atau kalah, diamnya Rama juga sembari berfikir. Sesuatu yang di tangani dengan gegabah hasilnya tidak akan semaksimal yang di rencanakan.
Rama menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkanya dengan pelan. Dia mencoba bersikap sabar untuk menghadapi ibu dari anak-anaknya yang masih bertatap muka meski hanya lewat panggilan vidio call.
"Aku senang bisa melihatmu apa lagi bisa bicara denganmu. Maafkan aku jika terus menerus membuatmu kecewa, Zia. Tapi aku tidak akan menyerah, entah kamu lebih percaya kepadaku atau berita yang beredar. Tetapi aku tidak mrmaksamu untuk percaya denganku, tunggu aku akan membuktikan semuanya untukmu," ucap Rama.
__ADS_1
Kezia merasakan rasa perih pada matanya karena mati-matian menahan tangisnya. Entah kenapa mendengar penuturan dari Rama, membuat sudut hatinya serasa di cubit benda yang tak kasat pata. Akan tetapi Kezia masih bisa menahan pertahananya untuk tidak menangis, apa lagi sampai di lihat oleh Rama.
Kezia tetap diam dan hanya mengangguk, karena sudah pasti air matanya akan menetes jika dia bersuara. Meskipun hanya anggukan yang Rama dapatkan, itu sudah lebih dari cukup. Dari pada Rama tidak bisa melihat lagi wajah wanita yang teramat ia cintai.
Semenjak beredarnya photo-photo itu, seakan Kezia hidup tanpa jiwanya. Tanpa Kezia tahu, Rama pun begitu. Di terjang masalah, di tambah di jauhi oleh wanita yang dia cintai. Pasti sangat berat di posisi Rama. Dia membutuhkan support system dari orang-orang yang dia sayangi, bukan malah menjauhinya seolah Rama adalah manusia kotor yang di penuhi dosa.
Berharap Kezia mempercayainya, maka setidaknya beban yang dirasakan Rama akan sedikit ringan. Di sini yang paling berat bukanlah masalahnya. Di sini yang paling berat adalah kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang Rama sayangi.
Keluarganya juga sempat marah dan kecewa kepadanya. Namun setelah mendengar penjelasan dari Rama, ayah dan ibunya berpihak kepada putranya.
Di rasa tiada obrolan lanjutan baik Rama maupun Kezia, Rama menutup sambungan vidio callnya. Sepertinya Kezia juga risih jika terlalu lama ngobrol dengan Rama. Buktinya Kezia hanya diam saja sedari tadi.
Sebelum Rama menutup sambungan vidio callnya, Rama menyempatkan tersenyum. Dia juga berpesan untuk menjaga diri, kesehatan dan anak-anaknya kepada Kezia. Dan tidak lama setelah itu, sambungan vidio call pun berakhir.
Setelah sambungan Vidio callnya mati, Kezia langsung menumpahkan air matanya yang sedari tadi di tahanya. Vania menghampiri adiknya dan membawa Kezia dalam pelukanya. Tangis Kezia begitu memilukan, apakah seperti itu di saat Kecewa dan cinta menjadi satu.
"Kak, apakah aku begitu jahat karena tidak mempercayainya? haruskah aku percaya kepadanya? tapi hatiku masih sangat sakit setiap kali terbayang-bayang wajahnya dan wajah wanita itu."
"Zia, kamu tenang dulu, ya? nih minum air dulu, lalu tarik nafas dalam-dalam kemudia keluarkan, lakukan beberapa kali hingga emosimu bisa terkendali," ucap Vania
Kezia melakukan apa yang kakaknya perintahkan kepadanya. Hingga berkali-kali seperti intruksi yang Vania ucapkan. Tak lama setelah melakukanya berkali-kali, kini perasaan Kezia sedikit lebih tenang.
Setelah memastikan adiknya telah tenang, baru Vania akan memberikan sedikit wejangan ataupun nasehat. Meskipun Vania sendiri belum pernah mengalaminya, setidaknya dia tahu dari buku-buku bimbingan berumah tangga yang selama ini Vania baca. Sengaja Vania membaca buku bimbingan berumah tangga, karena dia ingin mempelajarinya sebelum resmi menikah dengan Digo sanjaya kekasihnya.
"Zia, kakak berkata seperti ini bukan berarti kakak sok pintar. Bahkan kakak belum pernah mempraktekanya langsung. Namun menurut buku yang kakak baca, kepercayaan dalam sebuah hubungan itu sangat penting. Walaupun cobaan selalu ada dan bervariasi. Namun setidaknya beri kesempatan pada Rama untuk memberikan bukti-bukti bahwa dia tidak bersalah. Bisa saja dia memang benar-benar di jebak. Kakak sangat mengenal Rama, dia bukan tipikal orang yang mudah mendua di saat hatinya ada orang yang menduduki tahta tertinggi. Berbeda saat Rama bersama kakak dulu, kakak sudah tahu bahwa Rama sebenarnya menyukaimu sejak lama. Namun kakak yang membuatnya yakin bahwa yang Rama suka adalah kakak. Tapi kamu tenang, Rama yang dulu dengan Rama yang sekarang sangat berbeda. Dia teramat sangat mencintaimu, Zia. Jadi beri kesempatan padanya untuk mrmbuktikan akar dari masalah ini," bujuk Vania berharap adiknya mau mengerti.
__ADS_1
"Akan aku usahakan, kak!" ucap Kezia merespon permintaan Vania.