
Adrian terus di buat kece oleh kedua adiknya yang enggan jujur, siapa ayah dari bayi yang di kandung Kezia. Meskipun dirinya sudah menebak, Ramalah yang telah menghamili Kezia.
Jika di rumah sakit sedang dalam kondisi bersitegang menungguk dokter yang menangani papa mereka bertiga, keluar. Berbeda dengan Rama yang baru tiba di kediaman afsen, namun tidak mendapati wanita yang sedari tadi ingin ia peluk.
Bukanya mendapat sambutan dari Kezia, Rama malah mendapat sambutan dari asisten rumah tangga di rumah mantan mertuanya. Yang membuat Rama lebih kaget, asisten rumah tangga yang bernama bik Surti itu mengatakan, bahwa mantan mertuanya baru saja di bawa ke rumah sakit karena terkena serangan jantung.
Rama sudah menebak, ini pasti ada hubunganya dengan bayi yang sedang di dalam kandungan Kezia. Rama segera tancap gas, menyusul Kezia dan putranya yang berada di rumah sakit.
Dirinya sudah siap, jika Adrian memukulinya hingga babak belur sekalipun. Yang terpenting, dirinya bisa menemui Kezia dan putra mereka.
Rama sampai lupa, kalau jam segini adalah jamnya orang-orang pulang kerja. Sudah di pastikan jalanan akan mancet. Dia lupa lewat jalur alternativ, saking tidak sabarnya ingin menemui Kezia dan juga putranya.
Benar saja, kondisi jalanan saat ini sedang mancet total. Membuat Rama harus menunggu lama, karena tidak mungkin dia akan meninggalkan mobilnya di tengah jalan. Apa lagi saat ini Rama sedang menyetir mobilnya sendiri. Kecuali jika Rama bersama Bagas ataupun anak buahnya yang lainya. Sudah pasti Rama akan turun dan meninggalkan mobilnya pada anak buahnya.
"Sial! bodoh, kenapa aku lewat jalur utama."
Berulangkali Rama membunyikan klakson mobilnya, berharap deretan mobil yang berjejer di depan mobilnya, segera melaju ke depan. Sudah setengah jam, Rama terjebak dalam kemancetan. Tepatnya setelah menunggu satu jam lebih, dia baru bisa terbebas dari kemacetan.
Tak menyia-nyiakan waktu, dan tak ingin terjebak kemacetan lagi. Rama segera melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup, mendului deretan mobil di depanya.
Rama sudah tidak sabar bertemu Kezia dan juga putranya. Rama yakin, saat ini wanita yang ia cintai pasti dalam kondisi bersedih. Karena papanya masuk rumah sakit, karena terkena serangan jantung dadakan.
Kini mobil Rama memasuki gerbang di sebuah rumah sakit kawasan elite. Segera ia lajukan mobilnya, mencari tempat parkir yang kosong.
Beres dengan mobilnya, Rama segera berlari memasuki sebuah lift menuju ruang UGD di rumah sakit ini. Pintu lift terbuka, Rama keluar dan langsung melihat wanita yang ia cintai dalam pelukan Vania. Rama berlari menghampiri Kezia, sesekali memanggil nama Kezia, membuat Kezia menoleh.
Kezia melepaskan pelukan tangan Vania, hendak menghampiri Rama. Belum sempat ia melangkah, Adrian sudah menghadang mantan suaminya, dengan tatapan ingin membunuh.
__ADS_1
"Buat apa kamu keseni, brengsek," ucap Adrian menarik kerah kemeja Rama.
Rama tetap diam tanpa bergeming, dia sudah yakin, Adrian pasti marah karena dirinya menghamili Kezia.
"Kak, lepaskan dia," pinta Kezia, Vania mencegah Kezia agar tidak mendekat. Karena akan membahayakan dirinya dan juga bayi yang ia kandung.
Vania meminta Kezia untuk duduk, sementara dia akan menengahi Adrian dan juga Rama.
Adrian mulai memukul wajah Rama, hingga bagian sudut bibirnya berdarah karena luka robek. Kezia menjerit, meminta agar kakaknya menyudahi pukulanya terhadap Rama.
"Kak, please! jangan pukul dia," pinta Kezia yang sudah terisak.
"Hentikan, kak! Kau tidak sadar ini rumah sakit bukan area tinju," sentak Vania, mencoba melepaskan tangan Adrian yang masih mencengkeram erat kerah kemeja Rama.
"Minggir! Jangan ikut campur, Vania," bentak Adrian.
Para petugas rumah sakit berdatangan hanya untuk memisahkan Adrian dan Rama. Kini tangan Adrian sudah terlepas dari cengkramanya pada kerah kemeja Rama. Rama mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Serta wajahnya yang di penuhi luka lebam akibat pukulan dari Adrian.
Vania meminta Rama untuk menemani Kezia dan juga mengobati luka-luka di wajahnya. Sementara dirinya akan membawa Adrian pergi menjauh dari Rama dan Kezia.
Vania akan memberikan waktu untuk mereka berdua, untuk saling berbicara. Wajar saja jika Adrian marah, karena Rama membuat adiknya hamil di luar nikah. Apa lagi, setatus Kezia, yang masih tunangan Erik dan akan menikah dengan Erik.
"Rama! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kezia, menghampiri pria yang ia cintai. Tanganya meraba wajah Rama yang di penuhi luka lebab.
Rama tersenyum menggeleng dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Di rengkuhnya tubuh Kezia, di bawanya ke dalam pelukanya. Di kecupnya kening Kezia, karena kerinduanya yang bercampur rasa bahagia.
"Sayang! Benarkah yang kamu katakan padaku lewat whatsapp, tadi?" tanya Rama.
__ADS_1
Kezia mengangguk, meskipun dirinya di lingkupi rasa sedih dan juga bahagia. Sedih karena kehamilanya membuat papanya terkena serangan jantung dan harus di rawat di rumah sakit. Bahagia karena akhirnya dia bisa mengandung kembali putra dari pria yang ia cintai.
"Terimakasih! Aku sangat bahagia mendengarnya. Kita akan menikah sayang, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, lagi," ucap Rama, dengan sudut bibirnya yang tersenyum sangat manis. Menambah berlipat-lipat kadar ketampanan pada dirinya.
"Tapi Rama! Bagaimana dengan keluargaku dan juga Erik?" tanya Kezia, cemas.
"Erik tidak akan menikahimu! Aku sudah mempersulit data-data pernikahan kalian. Lagi pula, tidak akan ku biarkan dia menjadi ayah dari anak-anaku," ucap Rama, menjelaskan pada Kezia.
Sementara Eduardo Erik, atau yang biasa di panggil Erik. Kini pria itu dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tadinya dia sempat ke kediaman keluarga Afsen. Mendengar calon mertuanya masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung. Kini Erik dalam perjalanan dan sebentar lagi akan sampai di rumah sakit, tempat tuan Afsen di rawat.
Sementara Rama masih memeluk tubuh Kezia. Di sandarknya kepala Kezia di bahu Rama, memberikan kenyamanan pada wanita yang telah mengandung calon bayinya.
Hingga tanpa sadar, Kezia memejamkan matanya, terlelap dalam pelukan Rama. Rasa nyaman yang di berikan Rama padanya, membuat matanya mengantuk dan terpejam. Rama tersenyum, memandangi wajah wanita yang ia cintai, terlelap dalam pelukanya.
Sesekali ia daratkan ciumanya di kening putih mulus Kezia. Tanganya menyingkirkan helaian anak rambut, yang menutupi wajah Kezia.
Vania kembali bersama Adrian yang terlihat cukup tenang daripada tadi. Meskipun tatapanya masih di penuhi kemarahan dan kekecewaan pada Rama dan Kezia.
Di liriknya adiknya yang terlelap dalam pelukan Rama. Membuat Adrian mendengus kasar, serta terucap umpatan di dalam hatinya.
Tak lama pintu lift terbuka, menampakan Erik yang baru saja tiba. Erik sudah di suguhi pemandangan yang membuat amarahnya memuncak. Ketika tunanganya berada di pelukan Rama.
"Lepaskan tangan sialanmu dari tubuh Kezia, brengsek," bentak Erik, membuat semuanya kaget. Bahkan Kezia tersentak dan terbangun dari tidurnya, karena bentakan dari Erik.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Ada peperangan berebut Kezia, nih🤭
__ADS_1
mampir juga di novel temanku👇