
Di sebuah rumah sewa'anya, Erik baru saja kembali dan membuka pintu yang sedikit terbuka. Erik merasa sedikit heran, pasalnya sebelum dia pergi, laki-laki itu sempat mengunci pintu dari luar.
Erik semakin membuka lebar pintu utama, bibirnya berteriak memanggil nama Dewi. Hingga beberapa kali panggilan namun tiada sahutan dari Dewi. Seketika kepanikan Erik menguasai dirinya, sampai-sampai Erik menelusuri setiap sudut ruangan untuk mencari keberada'an Dewi. Namun wanita yang dia cari tidak ada tanda-tanda keberada'anya.
Karena tidak mendapati keberada'an Dewi, Erik mengumpat berkali-kali, beranggapan Dewi telah kabur. Erik kembali ke ruangan utama, tanpa sengaja kakinya menginjak lantai yang terdapat darah yang sebagian sudah mengering.
Erik tersentak, fikiranya tiba-tiba bercampur aduk menjadi satu. Darah apa yang baru saja Erik lihat, tidak mungkin jika darah itu adalah darah Dewi.
"Enggak! itu gak mungkin."
"Tidak mungkin Dewi keguguran, dimana dia sekarang."
Erik menggeleng mencoba membuang jauh fikiran buruknya. Sebagai seorang dokter, Erik bisa membedakan darah apa yang sedang ia lihat saat ini.
Entah kenapa ketakutan itu tiba-tiba muncul pada dirinya. Ketika fikiran buruk tertuju pada Dewi yang mengalami keguguran. Sama halnya janin yang sempat tidak di akuinya telah gugur sebelum di lahirkan.
Erik langsung keluar kembali, meninggalkan rumah kontrakanya. Dia akan mencoba mendatangi seluruh rumah sakit di kota itu, berharap salah satunya ada Dewi yang sedang di rawat di sana.
Entah bagaimana kondisi hati Erik saat ini, bahkan hanya sakit yang saat ini Erik rasakan. Bahkan Erik mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dua rumah sakit di kota itu telah ia datangi, namun tiada Dewi yang di rawat di sana. Hingga tibalah dia di salah satu rumah sakit dari ke tiga rumah sakit yang sudah dulu ia datangi. Berharap rumah sakit terakhir ini bisa meempertemukanya dengan Dewi.
Dan benar saja, setelah Erik bertanya pada resepsionis rumah sakit itu, matanya tidak sengaja menangkap keberadaan Adrian di sana. Erik sempat heran kenapa ada Adrian di sana.
Erik mempercepat langkahnya mendekat hendak menyapa sekaligus mengobrol dengan Adrian. Belum sempat Erik memanggilnya, Adrian lebih dulu melihat keberadaanya.
Wajah Adrian yang sebelumnya terlihat sangat lelah langsung berubah setelah melihat sosok laki-laki yang ingin di bunuhnya sejak beberapa hari yang lalu. Bagai kesetanan tetapi dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Adrian langsung melangkahkan kakinya menghampiri Erik dan menarik kerah kemeja Erik.
Adrian menarik Erik dan membawanya ke basement rumah sakit. Di sanalah Adrian langsung membanting tubuh Erik, sehingga Erik yang belum memiliki persiapan penuh langsung tersungkur ke lantai dalam kondisi sudut bibirnya yang berdarah karena terkena benturan spion mobil.
Tak puas hanya membanting Erik, Adrian langsung menghajar Erik hingga babak belur. Bahkan Adrian tidak memberi kesempatan pada Erik untuk membalas pukulanya.
"Brengsek, dasar lelaki keparat! belum cukup kamu memperkosa Dewi hingga dia hamil dan sekarang kamu menyebabkan Dewi kehilangan bayinya, hah," teriak Adrian yang masih kesetanan.
Di sisa kesadaranya Erik yang mendengar ucapan Adrian merasa kaget. Entah kenapa mendengar bayi yang tidak di akuinya telah gugur, sudut hatinya terasa sakit. Hingga Erik menjadi seperti orang linglung di tambah Adrian masih melanjutkan pukulanya dan mengakibatkan Erik hampir mati jika tidak ada scurity dan orang-orang yang melerainya.
"Lepaskan! biarkan aku membunuh pria ini, pria ini
tidak pantas lagi untuk hidup. Dasar bajingan, ku bunuh kau, Erik," teriak Adrian di saat dua orang menghalangi niatanya.
__ADS_1
Tak lama petugas rumah sakit berdatangan memberi pertolongan pada Erik. Erik langsung di bawa ke ruang perawatan untuk mendapatkan perawatan medis. Karena luka dari pukulan Adrian sangatlah parah, sehingga membuat Erik tidak sadarkan diri.
Rama dan Digo yang baru saja tiba dan akan memarkirkan mobilnya pun langsung di buat penasaran dengan keramaian di lokasi basement rumah sakit itu.
"Ada apa di depan sana? sepertinya baru saja ada keributan," ujar Rama, matanya terfokus melihat krumunan orang yang cukup banyak.
"Ya, sepertinya begitu," timpal Digo.
Mereka berdua turun dari mobil hendak melihat karena saking penasaranya. Langkah demi langkah hingga kini mereka berdua berada di antara kerumunan orang-orang di lokasi kejadian.
Digo langsung menganga bahkan membelalakan matanya, ketika melihat calon kakak iparnya di cekal dua orang asing entah mau di bawa kemana.
"Ram, bukankah itu Adrian?" ucap Digo, seketika Rama menoleh dan semakin penasaran akan hal di depan matanya.
"Kenapa dia?" tanya Rama penasaran.
"Mending kita samperin aja untuk mengetahui masalah yang sebenarnya."
Digo dan Rama mengikuti dua orang yang membawa Adrian. Rama berteriak memanggil dua orang yang mencekal tangan Adrian, membuat Adrian dan dua orang itu menoleh padanya.
"Anda siapanya mas ini?" tanya salah satu dari dua orang itu.
"Aku temanya! ada apa sebenarnya?" respon Rama.
"Kebetulan sekali silahkan ikut kami ke ruang keamanan. Karena belum diketahui motif kedua pelaku hingga berkelahi. sebentar lagi petugas akan meminta keterangan pada pelaku," jelas mereka berdua.
Rama meminta kepada Digo untuk menjaga Dewi. Sementara dirinya akan mengikuti dua orang yang membawa Adrian.
Butuh waktu berjam-jam lamanya untuk Rama menemani Adrian sampai selesai di introgasi. Hingga kini mereka berdua berjalan menuju ruang rawat Dewi.
Saat dua pria itu berjalan lalu berpapasan dengan Erik yang baru keluar dari ruang rawat. Dengan kondisi wajah Erik yang terlihat babak belur akibat dari pukulan Adrian tadi.
Adrian menghentikan langkahnya dan Rama juga menghentikan langkahnya. Ingin rasanya Adrian memukul kembali wajah Erik, kalau bisa sampai wajah tampanya hancur tak berbentuk. Tetapi mengingat introgasi di post keamanan yang memakan waktu ber jam-jam, Adrian pun mengurungkan niatnya. Di sisi lain tempatnya yang kurang pas untuk mencari keributan.
Rama menepuk bahu Adrian, mengajaknya untuk melanjutkan langkahnya. Erik yang merasa tidak di anggap pun menghentikan langkah Rama dan Adrian. Tidak peduli jika Adrian memukulinya kembali. Erik akan tetap mencoba untuk menemui Dewi saat itu juga.
P"Berhenti! aku ingin bertemu Dewi, di kamar yang sebelah mana Dewi di rawat? beritahu aku, kalian tidak punya hak melarangku menemuinya," cap Erik membuat Adrian terpancing hendak memukul wajah Erik.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? kami tidak berhak? lalu yang behak siapa? Kamu? ingat Erik, gara-gara kamu Dewi kehilangan bayinya," ucap Adrian menekankan.
Tangan Adrian mendadak terasa gatal ingin sekali lagi memukuli wajah Erik. Untung ada Rama yang dengan sigap mencegah Adrian dengan mencekal tangan Adrian.
"Please, Adrian! kendalikan dirimu karena aku tidak mau tahu jika kamu di tangkap lagi seperti tadi," ucap Rama.
Rama menarik Adrian, mengajaknya masuk ke ruang rawat Dewi. Di ikuti Erik di belakangnya, karena Adrian sudah tidak lagi melarangnya dan tidak juga memberi izin, lebih pada membiarkan saja.
Entah bagaimana reaksi Dewi ketika melihat kedatangan Erik. Itu soal nanti dan semoga Dewi tetap baik-baik saja.
Ketika ke tiga laki-laki itu memasuki ruang rawat Dewi. Di situ pula Digo membantu Dewi duduk di atas kursi roda. Dewi ingin segera pulang dan memakamkan bayinya hari ini juga. Membayangkan bayinya di simpan di kamar mayat, membuat sudut hati Dewi terasa nyeri.
Dewi menoleh ke arah pintu yang terbuka menampakan Rama dan Adrian yang tidak hanya berdua saja melainkan bertiga. Seketika mata Dewi memerah dengan tatapan tajamnya memandang sosok pria yang berdiri di belakang Rama dan Adrian.
"Mau apa anda kemari? pergi dari sini," teriak Dewi masih tersisa sedikit trauma yang masih ada fikiranya.
"Dew! maafin aku," ucap Erik.
Dewi tidak mengindahkan ucapan Erik, wanita itu terlihat acuh. Entak apa karena Erik yang menidurinya tanpa tanggung jawab atau karena Erik yang menyebabkan Dewi kehilangan bayinya.
Tak lama seorang perawat memberikan peti kecil berisikan janin yang telah tiada. Dewi menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di bukanya pelan-pelan peti kecil itu, terlihat jelas janin mungin yang telah memiliki anggota tubuh yang lengkap namun sayangnya harus gugur sebelum terlahir ke dunia.
Dewi langsung meletakan peti kecil itu ke atas ranjang. Dewi membekap mulutnya menggunakan tangan kananya. Sedangkan tanganya yang sebelah kiri memukul-mukul dadanya yang terasa sangat menyesakan.
Erik mendekat, dia juga berhak melihat bayinya untuk pertama dan terakhir kalinya. Dewi menggeleng sebelum meminta Erik menyingkir dari hadapanya.
PEmosi Dewi saat ini tak terkendali dan nampak memburuk jika berhadapan dengan Erik. Ternyata bekapan mulutnya tak berpengaruh sama sekali. Bahkan suara tangisnya begitu menyayat hati orang yang mendengarnya.
Sungguh sangat memilukan melihat Dewi sehancur itu. Adrian mendekat dan langsung memberikan pelukan kepada Dewi. Hal itu di saksikan oleh Erik yang sedang menggepalkan tanganya. Kini Erik tak ada alasan lagi untuk membawa Dewi. Karena mereka berdua telah kehilangan bayi mereka.
"Jangan sedih dewi, ingatlah masih ada aku di sini," ucap Adrian menenangkan.
"Hapus air matamu, Dewi! jangan mengantarkan bayimu dalam kondiai berduka. Kamu harus kuat dan percayalah ada hikmah di balik semua ini," ucap Rama memberi pencerahan kepada Dewi.
Dewi membuka kembali kotak itu,, kali ini dia memang harus fokus dan lebih mengontrol dirinya. Fokus saja fokus kepada tujuanya hari ini yaitu memakamkankan bayinya tanpa terpengaruh dengan tatapan Erik yang terus memandang ke arahnya.
Dengan posisi duduk di atas kursi roda Dewi memangku peti kecil itu. Adrian membantu mendorong kursi roda dan membawa Dewi pergi meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1