Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Keputusan terakhir


__ADS_3

Kupanaskan air dalam panci kecil,ku tuangkan di mug yang sudah terisi coffe instan dan mie instan. Terdengar suara deheman yang ku kenali, akupun menoleh dan melihatnya. Ternyata Rama sudah berdiri tepat di belakangku. Dia masih saja berdehem, aku hanya diam saja. Malahan,aku berjalan menuju meja makan tanpa meliriknya sama sekali.


"Zia, apa kamu masih sakit?" tanya Rama,aku hanya menjawabnya dengan gelengan. Fokusku terarah pada mie instan yang siap untuk ku makan. Aku tidak menghiraukan ucapan Rama. Melihat wajahnya saja sudah membuatku kesal.


"Hey, kenapa kamu hanya diam saja,katakan padaku, apakah kamu baik-baik saja?"


"Stop, Rama! Berhenti berpura-pura peduli kepadaku," Ucapku karena kesal, bagaimana bisa dia berubah begitu cepat.


Bagaimana bisa dia peduli kepadaku di saat kakaku sudah tidak bersamanya. Bahkan kata-katanya tadi siang belum bisa ku lupakan.


"Kenapa kau marah?apa salahhku,zia?"


"Kau tidak salah, akulah yang salah karena mengikatmu pada pernikahan ini. Mari kita akhiri hubungan ini secepatnya. Tidak perlu menunggu sampai genap lima bulan. Aku pastikan, kamu bisa kembali bersatu dengan kakaku."


"Apa maksudmu, zia? perpisahan? aku tidak akan menceraikanmu."


"Bukankah kamu hanya mencintai kak Vania?bukankah kamu ingin menikahinya? jadi,mari kita bercerai."

__ADS_1


"Sudah ku katakan,aku tidak akan pernah menceraikanmu," Ucap Rama, terlihat mulai emosi.


"Lalu, kau ingin aku selamanya menjadi cadangan di saat kakaku tidak berada di dekatmu? kau kira aku tidak punya hati. Ceraikan aku Rama,aku tersiksa dalam pernikahan ini. Aku berjanji tidak akan mengganngumu setelah kita berpisah. Bahkan, kau bebas jika ingin menikahi kakaku, bukankah ini yang dulu kamu inginkan?"


Ku lirik dari sudut ekor mataku, Rama mengacak rambutnya karena frustasi. Aku sebenarnya kaget, saat Rama menolak bercerai denganku. Bahkan aku mendengarnya sendiri berkata, dia hanya mencintai kakaku.


Ku tinggalkan Rama di meja makan yang sedang melamun. Entah apa yang sedang ia fikirkan, aku tidak ingin berharap lebih.


Terkadang perpisahan menjadi cara terakhir, karena bersama hanya akan menyakiti kedua pihak. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Seperti yang kurasakan saat ini.Bahagia karena bisa bertemu Rama kembali. Bersedih karena tidak bisa lagi mempertahankanya. Hanya jalan perpisahanlah yang menjadi jalan akhir rumah tannga kami yang seumur jagung.


Lagi-lagi aku mengguyur tubuhku di bawah air shower yang mengalir. Aku sudah tidak kuat lagi menahan sesak di dadaku. Sehingga air mataku lolos begitu saja dengan guyuran air. Apakah keputusanku ingin berpisah denganya sudah benar. Kenapa Rama menolak bercerai denganku. Bukankah dari awal dia yang bersemangat untuk bercerai denganku.


Ke esokan harinya, saat aku membuka mataku. Rasa yang pertama kali kurasakan adalah perih di mataku. Bahkan kepalaku sangat pusing begitupun badanku sakit semua.


"Bukankah tadi malam aku di kamar mandi?kenapa sekarang aku di atas ranjang."


Ku rasakan pergerakan lain di sisi ranjangku, bahkan ada benda berat yang terasa di perutku. Ku bekap mulutku, ternyata Rama tidur di sampingku sambil tanganya memeluku. Itu artinya, tadi malam, Ramalah yang membawaku ke ranjang ini. Kenapa dia tidak membiarkan aku mati saja. Setidaknya dia akan terbebas dariku ketika aku mati.

__ADS_1


"Cup."


Aku daratkan ciumanku di kening suamiku. Kupandang pahatan wajahnya yang sempurna. Alis yang tebal, bulu mata yang lentik,sangat indah menghiasi matanya. Mata yang saat ini terpejam, mata yang biasanya membuatku terhanyut. Mata yang terkadang menatapku penuh kebencian. Mata yang juga terkadang menatapku penuh cinta. Mungkin aku salah, bukan cinta yang ku tangkap dari sinar matanya. Itu hanyalah sebuah kebutuhan, membutuhkanku saat kak vania tidak berada di sisinya.


Ku telusuri bagian wajahnya sampai ke hidung mancungnya. Ku lihat bibir sexynya yang biasanya menciumku sangat lembut. Bahkan rahang kokohnya yang terlihat sangat sempurna. Lelaki tampan bak dewa yunani, karena memiliki pahatan wajah yang semurna.


Aku berharap,bisa memiliki anak bersamanya. Bahkan sampai detik ini, aku belum juga hamil. Jangankan hamil, tanda-tanda kehamilanpun tidak kurasakan. Padahal kami sudah terlalu sering melakukanya tanpa pengaman. Andai saja di rahimku sudah tumbuh buah hati kami. Setidaknya aku tidak akan sendirian, saat kami sudah bercerai. Setidaknya aku memiliki kenangan terindah hasil dari pernikahan kami.


Tiba-tiba air mataku kembali mengaliri pipiku. Apakah moment ini akan hilang sebentar lagi. Bahkan memandang wajahnya saja aku sudah tidak sanggup. Haruskan perceraian ini di percepat,agar aku bisa pergi jauh seperti dulu lagi.


"Apakah kau sangat menderita ketika berada di sisiku? Apakah kamu ingin terbebas dari pernikahan ini? Aku tahu, bahwa sedikitpun aku tidak ada di dalam hatimu. Di hatimu, hanya terukir nama kakakku. Aku tahu, kakakku lah yang seharusnya berada di pelukanmu saat ini.


Rama, maafkanlah aku, jika sekembalinya aku ke Indonesia hanya membuatmu menderita. Aku sadar, cinta tidak dapat dipaksakan untuk berpindah ke lain hati. Jika aku menjadi dirimu, tentu saja aku akan tetap setia kepada kekasihku. Aku memang hanyalah benalu di dalam hubungan kalian berdua. Sudah sepantasnya, benalu itu menyingkirkan dirinya agar kalian dapat bersatu. Terima kasih telah menjadi suamiku untuk beberapa bulan ini. Aku sudah cukup bahagia pernah menjadi istrimu. Meskipun berat, mari kita percepat proses perceraian kita."


"Cup."


Satu kecupan lagi,kudaratkan di bibir yang selalu berkata hal-hal yang melukai hatiku. Ku usap rahang kokonya,ku tatap sejenak. Aku beranjak dari ranjang, ketika berhasil terlepas dari tangan rama yang melingkari perutku. Aku berjalan menuju kamar mandi. Tak lama aku keluar,ku lihat Rama sudah tidak ada lagi di ranjang kamarku. Aku keluar memastikan keberada'anya.Ternyata dia merokok di dekat kolam. Dahiku langsung mengeryit, ini kali pertama aku melihatnya merokok. Atau memang aku yang tidak pernah tahu sebelumnya.

__ADS_1


Ku langkahkan kakiku menuju dapur untuk membuat sarapan. Secangkir kopi dan sandwich untuknya. Setelah semua sudah siap,aku kembali lagi ke kamarku untuk berganti baju. Hari ini aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaanku. Hatiku sudah memilih untuk kembali menjauh saat kami sudah bercerai nanti.


Ku lihat pantulan tubuhku di cermin, bahkan mata sembabku telah tersamarkan karena make up. Aku mengenakan dress selutut berwarna hitam. Rambut panjangku ku biarkan tergerai begitu saja. Saat aku keluar, Rama sudah tidak terlihat lagi. Mungkin dia sudah masuk ke dalam kamarnya.Ku ambil selembar kertas, ku tempelkan di depan pintu kamarnya.Karena aku kawatir, dia tidak memakan sarapan yang aku buatkan. Setelahnya aku keluar dari apartemen tanpa pamit kepadanya. Hatiku belum kuat untuk bertatap muka lagi denganya.


__ADS_2