Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kesepakatan


__ADS_3

"Melihat kamu tersenyum, aku ikut bahagia, Zia," gumam Rama melirik Kezia dari kaca spion mobilnya.


Setidaknya melihat Kezia aman, Rama suf


Dah merasa sangat lega. Ada Adrian dan Vania yang selalu ada untuk Kezia. Meskipun dengan cara ini, meskipun tangan tidak bisa menyentuhnya. Meskipun tidak bisa memandang wajah ayunya dari jarak dekat. Mau bagaimana lagi jika situasinya seperti ini.


Melihat Kezia masuk ke dalam rumah, Rama melajukan mobilnya kembali menemui wanita yang menghancurkan hidupnya. Berharap Angela mau berfikir sekali lagi untuk menyetujui kemauanya.


Tentang ucapanya yang akan menaruh ribuan tikus untuk menemani Anggela, itu hanya omong kosong. Rama hanya ingin menakut-nakuti wanita itu, agar mau menyetujui permintaanya.


Sesampainya di sebuah rumah tempat menyekap Angela, Rama langsung kembali menemui Angela di dalam ruangan tempat ia di sekap.


"Brak," suara pintu lagi-lagi di buka cukup keras oleh Rama, membuat Angela terjingkat saking kagetnya. Rama tertawa melihat wajah Angela yang kaget karena kehadiranya.


"Bagaimana nona Angela, apakah kamu sudah berubah fikiran dan mau menerima tawaran dariku? atau kamu lebih memilih bermalam di sini di temani ribuan tikus?"


Tentu saja Angela takut, jadi antara takut dan gengsi untuk menerima tawaran Rama. Karena tawaran Rama sudah pasti akan merugikanya. Rama memintanya mengakui perbuatanya di depan public di sebuah konferensi pers, yang pastinya wajahnya akan di sorot di berbagai media. Sudah pasti para masyarakat akan mengecapnya sebagai wanita murahan yang licik.


Antara takut dan dilema menjadi satu, tapi Angela tidak ingin bermalam bersama ribuan tikus seperti yang Rama katakan barusan.


"Jadi kamu masih menolak tawaranku? baiklah akan ku kirimkan ribuan tikus malam ini untuk membelai tubuhmu," ucap Rama berbalik arah hendak keluar.


"Tunggu," ucap Angela membuat langkah Rama terhenti dan berbalik melihat Angela.


"Baiklah, akan aku turuti kemauanmu asal lepaskan aku dan kembalikan anaku padaku," tawar Angela.


"Bukan masalah asal kau menuruti semua perintahku," timpal Rama.


"Baiklah kita sepakat," ucap Angela.


"Awas saja kau bermain-main lagi denganku maupun orang-orang yang berharga di hidupku. Maka di saat itulah saat terakhir kamu menikmati dunia ini," ancam Rama.


Anggela hanya bisa pasrah dan menyetujui ucapan Rama. Dia sudah tidak mempunyai senjata lagi untuk melawan. Mungkin dengan menuruti kemauan Rama, hidupnya akan normal kembali seperti sebelumnya. Meski tidak bisa di pungkiri bahwa Angela sebenarnya memang naksir Rama.

__ADS_1


Rencana tak sesuai kenyata'an, dia fikir dengan menjebak Rama, maka lelaki itu akan menikahinya. Nuatanya Angela keliru, cinta Rama pada Kezia lebih besar dari yang dia fikirkan.


"Baiklah, meskipun kau bebas, kau tetap berada di bawah pengawasanku," ucap Rama melangkah mendekat membantu Angela membuka ikatan di tanganya.


"Berdiri dan ikuti aku," perintah Rama.


Meskipun badanya terasa bau dan keram semua, Angela tetap mengikuti perintah Rama. Setibanya di luar ruangan, Rama meminta kedua penjaga untuk membawa Angela pulang ke apartemennya. Soal anaknya, Rama akan mempertemukan Angela bersama anaknya nanti.


Sementara Angela di kawal kedua orang-orang suruhanya Rama. Rama sendiri akan menyiapkan pengumumam konferensi pers yang akan di adakanya besok siang. Lebih cepat lebih baik, karena Erik tidak berada di indonesia, Rama akan membiarkanya saja. Tapi jika Erik berani kembali ke indonesia, maka Rama akan menjebloskanya ke dalam penjara atas tudingan pencemaran nama baik.


Rama sedikit merasa lega, karena dia berhasil memecahkan sebagian masalah di hidupnya. Satu masalah akan terselesaikan sebentar lagi. Rama tersenyum sembari mensesap rokoknya.


Lewat orang-orang kepercaya'anya, Rama telah menyiapkan gedung untuk conferensi pers yang di adakanya besok siang. Bahkan acara itu akan di liput banyak media seperti halnya televisi, koran, youtube dan lainya.


"Sayang, sebentar lagi kita akan bersatu kembali," gumamnya membayangkan wajah Kezia.


Rama mematikan rokoknya, dia akan menemui orang tua dan juga putranya. Entah berapa lama Rama tidak menemui orang tuanya dan juga putranya.


"Anda siapa dan mau mencari siapa?''tanya satpam itu.


"Aku Rama, bukakan pintu dan tyy


Terlihat satpam penjaga rumah orang tuanya mulai membukakan gerbang untuk Rama. Di luar dari kasus yang menimpa dirinya Rama mencoba bersikap tenang dan apa adanya. Rama sudah tidak sabar menanti hari esok. Hari di mana hari itu dia akan terbebas dari isu-isu yang beredar. Nama baiknya akan kembali bersinar lagi.


"Papa," panggil Ethan berlari.


Rama tersenyum menyambut putranya yang nampak baik baik saja berada di rumah kedua orangtuanya.


"Anak papa, apa kabar, nak?" tanya Rama pada Ethan.


"Baik, pa! Ethan rindu papa," ucap Ethan mengeratkan pelukanya di tubuh Rama.


"Rama, bagaimana kabarmu, nak?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Baik, Bu! kalian semua juga baik, kan? di mana anak itu, bu?"


"Oh, si Nara, ya? ada di dalam sedang tidur! bagaimana, apa masalahmu sudah menemukan jalan keluarnya?"


"Besok Rama akan mengadakan konferensi pers, bu. Dan wanita itu sudah menyetujui akan berkata jujur tentang perbuatanya yang telah menjebaku."


"Syukurla, ibu merasa lega, nak! lalu apakah kamu berniat menuntut dia dan juga Erik?"


"Tergantung! malahan si pengecut itu telah kembali lagi ke negaranya, setelah menghancurkan hidupku. Entah aku juga heran, kok ada dokter semacam dia, yang hatinya kotor."


"Sudah-sudah! ayo masuk ke dalam, takutnya ada awak media yang mengetahi keberada'anmu di sini."


Benar juga yang di katakan ibunya Rama, untung saja Rama masih dalam mode penyamaran. Saking kesalnya kepada Erik, sehingga bercerita kepada ibunya menjadi hal yang sangat nyaman, hingga Rama lupa bahwa mereka masih berada di teras rumah.


Rama melangkahkan kakinya memasuki rumah orang tuanya sembari menggendong Ethan yang telah mulai tumbuh besar. Langkah Rama terhenti ketika mendengar suara tangisan gadis kecil seusia putranya sedang menangis. Sepertinya gadis kecil itu baru saja bangun dari tidurnya.


"Apakah anak itu anak dari wanita itu?" gumamnya, matanya masih melihat ke arah gadis kecil yang sedang di gendong ibunya Rama.


"Bu, jadi dia anak wanita itu?" tanya Rama untuk lebih menyakinkan asumsinya. Karean yang membawa gadis kecil itu ke rumah orang tua Rama adalah Bagas. Pantas saja Rama belum pernah melihat gadis kecil anak dari Angela.


"Ya, dia adalah Nara! Nara, ayo ucap salam sama om Rama."


Bu, kok Om, sih? mukaku belum setua itu jika di panggil dengan panggilan Om," protes Rama.


"Apa? kamu kira kamu masih muda? anak sudah hampir dua, masih merasa muda?"


"Jangan, Om! kapan Rama menikahi tantenya dia, panggil uncle saja."


"Sama saja artinya, Rama! uncle adalah om."


"Setidaknya lebih enak di dengar jika di panggil uncle, bu," protes Rama lagi dan lagi, hingga ibunya terpaksa mengiyakan ucapan putranya.


Ternyata Rama juga bisa bercanda, beberapa bulan ini fikiranya hampir meledak saking setresnya. Langkahnya kali ini benar, berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Setidaknya tujuanya tidak hanya menjemput Nara, tetapi karena rasa rindunya kepada putranya Ethan dan juga ayah dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2