
Sabtu sore masih di pulau dewata, Rama belum kembali lagi ke jakarta. Saat ini ia melangkahkan kakinya menyusuri pasir di pantai kuta. Salah satu nama pantai di pulau dewata yang sangat eksotis nan cantik. Pantai ini juga di juluki sebagai pantai matahari terbenam sebagai lawan dari pantai Sanur. Sengaja Rama mengunjungi pantai ini hanya untuk melihat mata hari terbenam.
Suasana yang sangat menenangkan, bahkan sudah banyak orang yang berdatangan. Kebanyakan adalah turis asing dari negara-negara tetangga. Banyak juga guide di Bali berbahasa Inggris, yang siap menjadi pemandu wisata untuk group dalam mobil ELF, Bus ataupun kendaraan kecil seperti Avanza / APV.
Rama mendudukan tubuhnya di pinggiran pantai. Tatapanya memandang orang-orang yang berlalulalang melewatinya. Kebanykan mereka membawa pasangan masing-masing. Ada juga yang membawa anak-anaknya. Pandanganya menerawang matahari yang akan tenggelam. Seperti hatinya yang lama tenggelam entah kapan akan terbit kembali sinar di hatinya.
"Bruggg."
Tiba-tiba ada anak laki-laki yang umurnya sekitar empat tahunan berlari dan tak sengaja menubruk tubuh Rama. Untung saja Rama menangkap tubuh anak itu. Jika tidak, mungkin anak itu akan tersungkur ke pasir pantai.
"Deg, aroma bunga lily, aroma tubuh Kezia," gumam Rama dalam hati.
"Oop's, I'm sorry, sir"
(ma'afkan saya, tuan)
"No problem, I'm okay"
(Tidak masalah, saya baik-baik saja)
"Are you hurt, son?
(Apakah kamu terluka, nak?"
__ADS_1
Itulah percakapan Rama dengan anak kecil berjenis kelamin laki-laki, yang menabraknya. Belum sempat Rama melihat wajah anak itu. Seseorang memanggilnya dan menyuruhnya pulang. Di tambah hari yang mulai gelap, Ramapun tak jelas memperhatikan wajah anak itu.
Namun, ada rasa aneh saat tubuh anak kecil tadi terjatuh di dalam dekapan Rama. Rasa nyaman, rasa yang familiar dan membuat Rama menjadi penasaran. Di tambah lagi aroma bunga lily yang melekat pada tubuh anak kecil itu. Rama sekilas tersenyum, mungkin karena dia menyukai anak kecil saja, dan fikiranya di penuhi tentang Kezia, begitulah gumamnya.
Setelah hari sudah gelap, Rama kembali lagi ke hotel tempat ia menginap. Ia sudah tidak peduli di sepanjang jalan para turis wanita menatap kagum padanya. Siapa yang tidak terpesona dengan duda tampan bertubuh sixpack seperti Rama. Ia juga tidak iri ketika melihat sepasang kekasih sedang memadu kasih. Ia sudah berteman lama dengan kesendirian.
Sedangkan di tempat lain, anak kecil yang menabrak rama tadi. Ia berusia empat tahun, bernama Ethan. Anak kecil yang tidak tahu siapa ayah kandungnya. Dia juga belum pernah ketemu ibu kandungnya secara langsung. Meskipun foto ibunya terpajang di dinding kamarnya. Selama ini dia di besarkan oleh pengasuhnya kepercayaan Adrian. Anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengan wajah Rama Asher. Bisa di bilang, Ethan adalah Rama Asher versi kecil. Anak itu sangat pintar dan mahir berbahasa asing. Karena orang yang merawatnya selama ini juga sangat mahir berbahasa asing.
"Ethan, cepat tidur! Besok kakak akan mendaftarkanmu sekolah," ucap seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun yang bernama Dewi.
Dewi adalah wanita asal jawa timur, tetapi ia sudah lama menetap di Bali. Selama ini dia hidup sendiri, sesekali ada temanya yang menemaninya. Semenjak bekerja menjadi asisten rumah tangga yang menemani Kezia, dia tidak sendiri lagi. Bahkan di usianya yang dulu, dua puluh empat tahun, dia mampu merawat Ethan seorang diri.
Melihat anak majikanya telah tidur, Dewi memandang anak kecil malang itu yang ada di hadapanya. Ia teringat beberapa tahun lalu, saat Kezia koma paska melahirkan Ethan dan di larikan ke luar negeri. Hingga sekarang, Kezia belum kembali lagi ke indonesia. Hanya Adrianlah yang sebulan sekali datang untuk menemui keponakanya.
"Aku titip dia, jaga dia dan rawat dia sampai mamanya kembali."
Pagi harinya Ethan benar-benar kesiangan, karena susah di bangunkan. Mau tak mau, Dewi akhirnya menggendong tubuh mungil itu menuju sekolahnya. Ia berlari mengejar waktu, namun di tengah jalan, ia menabrak tubuh seorang pria.
"Bukkkk."
"Maaf tuan, saya tidak sengaj,
__ADS_1
Dewi tidak melanjutkan kata-katanya ketika memandang wajah pria yang ia tabrak. Pria yang di tabrak Dewi adalah Rama, si pria yang saat ini membeku karena lagi-lagi mencium aroma tubuh Kezia. Mendengar suara berisik, Etanpun terbangun. Sedangkan mata dewi memandang wajah Rama dan Etan secara bergantian. Ramapun melakukan hal yang sama.
"Hi, do you remember me?sir"
(Hai, apakah kau mengingatku? tuan)
"Apakah kau anak kecil yang menabraku kemarin sore?" tanya Rama lembut sembari menutupi keterkejutanya.
Etan meminta turun dari gendongan Dewi. Bocah kecil itu mendongakan kepalanya menatap Rama. Ramapun berjongkok untuk mensejajarkan tingginya. Matanya terus memperhatikan setiap garis wajah bocah di depanya yang 99,9% mirip denganya. Kecuali bulu matanya yang lentik yang menuruni dari Kezia.
"Paman, kau bisa bahasa indonesia? aku kira, kau turis asing yang biasanya pergi ke sini."
Rama masih fokus memandang wajah Ethan dan tenggelam dalam fikiranya. Sampai-sampai dia tidak mendengar pertanyaan dari Ethan.
"Paman, aku sedang bertanya padamu."
Rama gelagapan setelah mendengar protes nyaring dari Ethan.
"Apa nak? Apa yang kau tanyakan tadi?"
"Sudahlah, tidak ada siaran ulang," kesal Ethan.
Rama yang melihat kekesalan Ethan, segera membujuknya. Ia ingin mengajak Ethan makan ice cream. Namun Dewi menolaknya, dengan alasan ini waktunya Ethan sekolah. Rama memandang Dewi, lalu matanya berpindah ke wajah Ethan. Sama sekali tidak ada kemiripan. Rama penasaran, anak kecil yang membuatnya penasaran ini, sebenarnya anak siapa.
__ADS_1
"Namamu siapa, nak?" tanya Rama lembut, Ethanpun memberitahu namanya. Karena Dewi dan Ethan terburu-buru, mau tidak mau obrolan merakapun berhenti. Ethan melambaikan tanganya, pergi meninggalkan Rama. Seperti ada rasa aneh yang tertinggal di hati Rama. Rasa yang tidak ingin kehilangan, padahal mereka baru bertemu kemarin dan hari ini.
Karena saking penasaran, Ramapun menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki tentang Ethan. Bagaimanapun Rama harus tahu latar belakang keluarga Ethan. Karena wajahnya yang sangat mirip, membuat Rama penasaran dengan wajah kedua orang tua bocah itu.