Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Dewi Pingsan


__ADS_3

Jika tadi malam Erik beserta kedua orang tuanya sangat antusias akan rencana pernikahanya dengan Kezia. Berbeda ceritanya saat Erik mendapat kabar jika lagi-lagi berkas pernikahanya dengan Kezia di tolak oleh pihak KUA setempat. Bahkan di mana pun mereka akan menikah tetap akan menerima penolakan. Hal itu terjadi lantaran Rama si mantan suami masih tidak mau memberikan surat perceraianya dengan Kezia, sebagai bukti bahwa Kezia benar-benar bersetatus janda.


Dari situlah Erik nampak begitu emosi kepada Rama. Namun sebisa mungkin Erik tidak ingin memperlihatkan sifat buruknya ketika ia sedang marah kepada Kezia dan juga keluarganya.


Erik akan memberi pelajaran kepada Rama, karena Rama lah dia dan Kezia tidak bisa menikah. Sedangkan orang yang akan di temuinya masih berada di luar kota.


Erik langsung menuju ke kantor Rama, tanpa sepengetahuan semua orang yang ada di kediaman Afsen. Sesampainya di lobby kantor milik Rama, Erik harus menghadapi satpam yang berada di lobby yang sedang menghadangnya.


"Maaf, tuan! ada urusan apa anda kemari?"


"Saya ingin bertemu dengan pak Rama, pemilik gedung ini."


''Maaf, apa anda sudah memiliki janji sebelumnya? karena pak Rama sedang berada di luar kota."


Erik tidak percaya dengan apa yang di katakan satpam itu. Karena terlalu emosi, Erik tetap mencoba masuk menemui Rama. Satpam itu tetap menahan Erik, bahkan dia merasa kewalahan menangani Erik. Digo yang melihatnya pun langsung melangkahkan kakinya untuk menemui Erik.


"Ada apa ini?" tanya Digo.


"Maaf pak! orang ini tetap ngotot ingin bertemu pak Rama, padahal saya sudah mengatakan bahwa pak Rama sedang berada di luar kota," ucap si satpam menjelaskan.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Digo pada Erik.


"Di mana Rama? aku ingin menemuinya sekarang."


"Dia sedang di luar kota saat ini! jika kamu tidak percaya, silahkan cek di ruanganya apakah dia ada atau tidak," ucap Digo menjelaskan.


"Katakan padanya untuk menemuiku jika dia sudah kembali," timpal Erik kemudian pergi meninggalkan gedung kantor Rama.


Digo langsung mengabari sahabatnya, bahwa Erik sedang mencarinya ke kantor dengan wajah yang di penuhi amarah. Mendengar kabar dari Digo, laki-laki yang baru selesai meeting di kota lain itu pun tersenyum penuh kemenangan.


Rama sudah tahu, pasti kemarahan Erik hingga membuatnya nekat mencarinya ke kantor, karena data-data pernikahanya dengan Kezia yang masih saja mendapat penolakan dari KUA setempat.


Belum puas dengan semua ini, Rama akan memberikan surat perceraian palsu kepada Erik. Tentunya setelah menunggu hasil tes DNA dari bayi yang di kandung Dewi keluar.


Rama akan menjadikan Erik seperti sebuah boneka yang bisa ia kendalikan. Selama laki-laki itu tidak menyadari kesalahanya, maka Rama akan selalu mempermainkan hidupnya.


Tidak bisa bertemu Rama, Erik kembali ke kediaman Afsen dengan wajah yang terlihat sangat lesu. Erik termenung di teras, memandang rerumputan hijau yang berada di depanya.


Kepalanya sangat pusing, fikiranya saat ini sedang buntu untuk memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menikahi Kezia.


Selama ini Erik tidak pernah mencintai seorang wanita yang mampu membuatnya gila seperti Kezia. Bahkan provesinya sebagai seorang dokter bedah terkenal di singapura pun mampu membuat wanita mengejar-ngejarnya dan mengemis cinta padanya. Namun semua itu tidak berlaku pada wanita yang saat ini sangat ia cintai.


Kenapa begitu sulit mendapatkan Kezia, padahal saat ini Kazia bukanlah milik siapapun. Meskipun Erik tahu Kezia tidak sepenuhnya menyukainya. Oleh karena itu Erik mengambil jalur menikahinya agar segera memiliki Kezia seutuhnya.


"Erik, kenapa kamu melamun, nak?" tanya ibunya Erik yang baru saja keluar hendak menuju taman depan.


Erik langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya. Laki-laki itu mengatakan semua yang ia rasakan pada ibunya. Tentu saja ibunya Erik mendadak kaget dengan ucapan putranya. Ibunya juga bertanya kenapa bisa sesulit itu pernikahan di Indonesia.


Tak lama ayahnya dan tuan Afsen ikut keluar karena melihat Erik memeluk ibunya dengan wajah penuh keputus asa'an.


"Kenapa kamu, Erik," tegur tuan Afsen penasaran.


"Pa, lagi-lagi data pernikahanku dan Kezia di tolak KUA setempat. Karena masalah surat perceraian Kezia dan Rama yang masih berada di tangan Rama. Kami sangat membutuhkan surat itu saat ini."


"Apa? jadi kendalanya ada pada surat perceraian mereka? lalu Rama tidak mau menyerahkan surat perceraian itu pada kalian?"


Erik menggeleng masih dengan wajah penuh keputus asa'anya. Sedangkan tuan Afsen sudah terlihat memendam kemarahanya namun malu untuk mengeluarkanya di depan calon besanya.


"Kalau begitu biar papa yang meminta sendiri kepada Rama."


"Jangan untuk saat ini, pa! karena aku baru saja ke kantornya dan dia sedang berada di luar kota."

__ADS_1


"Kalau begitu bersabarlah! kita tunggu sampai Rama kembali. Kemudian papa sendiri yang akan menemuinya dan meminta surat perceraian mereka padanya."


Mendengar ucapan dari tuan Afsen, membuat Erik bernafas lega. Dia berharap kali ini calon mertuanya akan berhasil meminta surat perceraian Kezia kepada Rama.


Mereka tidak tahu jika Kezia dan Vania sedang menguping pembicara'an mereka sedari tadi di balik tembok samping rumah. Kebetulan saat itu Kezia dan Vania baru selesai memetik bunga di taman samping rumah.


"Kau dengar, kak? apakah Rama akan memberikan surat perceraian kami kepada papa?"


Kezia terlihat sangat kawatir, pasalnya papanya pasti akan memaksa Rama bahkan menyakiti Rama.


"Kamu tenang saja, Rama tidak sebodoh itu untuk memberikan surat perceraian kalian secara cuma-cuma," jawab Vania.


"Maksud kakak?"


"Ayo kita masuk ke kamarmu lewat pintu samping, aku akan memberitahukan rencan kami padamu," ajak Vania.


Dua wanita kakak beradik itu pun masuk ke kamar Kezia lewat pintu samping rumah. Sesampainya di dalam kamar milik Kezia, Vania mulai memberitahukan rencananya pada Kezia.


"Katakan, kak," pinta Kezia.


"Kamu harus tenang Kezia, ingat kamu sedang mengandung. Tidak perlu berfikir terlalu berat mengenai Erik dan Rama. Biarkan kami yang membantumu lepas dari Erik."


"Ya, terus apa rencana kalian? ayo katakanlah padaku," pinta Kezia karena terlalu penasaran.


"Rama akan memberikan surat perceraian kalian kepada mereka ta_


"Apa? apa kalian sudah gila? kenapa kalian malah akan memberikan surat perceraianku dengan Rama pada mereka? sama saja kalian membiarkan saja aku dan Erik menikah," protes Kezia.


"Diam, Kezia! kakak belum selesai bicara, kamu sudah memotong ucapanku. Maksud kakak, Rama akan memberikan surat perceraian palsu kepada mereka. Ketika data-data pernikahan kalian telah di proses di KUA, maka kami akan menggantikan berkasmu dengan berkas-berkas milik Dewi. Karena yang seharusnya Erik nikahi adalah Dewi, bukan kamu."


Kezia sampai di buat menganga dengan ucapan Vania. Sebegitu rapinya kakaknya dan Rama mengatur semua rencana mereka. Bahkan semua yang mereka rencanakan tidak pernah terfikirkan oleh Kezia.


"Ya, dan saat ini kami sedang mempermainkan laki-laki pengecut itu. Ternyata sangat menyenangkan membuat dia marah dan kebingungan sendiri," ucap Vania tertawa.


Entahlah Kezia sampai tidak menyangka, meskipun Vania sudah berubah, tetapi ternyata kakaknya masih memiliki sisi kejamnya.


Kezia tersenyum saat Vania memintanya berbaring di ranjang dan meletakan kepalanya di paha Vania. Vania akan berperan menjadi seorang kakak perempuan yang baik. Yang selama ini tidak pernah ia lakukan pada adiknya.


Kezia hanya menurut saja dan menikmati saat tangan kakaknya mengelus rambut panjangnya. Berasa sedang di sayang seorang ibu beserta kakak perempuanya sekaligus. Itulah yang saat ini sedang Kezia rasakan.


"Andai dulu kakak tidak egois, pasti kita akan seperti ini dari dulu, Zia. Pastinya tidak dalam kondisi hidupmu yang seberantakan ini. Maafkan kakak, karena kakak kamu jadi semenderita ini," ucap Vania sembari tanganya terus mengelus pada rambut Kezia.


"Sudah, kak! jangan meminta maaf lagi, sudah berapa kali kakak mengatakan perminta'an maaf padaku? Telingaku capek mendengarnya."


Vania tertawa mendengar penuturan adiknya padanya. Memang sudah puluhan kali Vania mengucapkan maaf pada Kezia.


"Bagaimana kalau kita keluar? kamu pasti sangat bosan di kurung di rumah terus," ajak Vania.


"Tapi, kak! apa papa tidak akan melarangku?"


"Kenapa kau takut dengan si tua itu?"


"Kak, bagaimana pun dia papa kita."


"Ya, aku tahu! apa gunanya punya papa jika tidak bisa peka dengan perasa'an anak-anaknya. Sudah tenanglah, ada aku dan kamu tidak perlu takut. Aku akan menghadapi si tua itu, jika dia melarangmu."


Berbeda jauh dengan Kezia yang sangat penurut. Vania sedari dulu selalu memberontak perintah papanya. Jadi Vania tidak pernah takut menghadapi papanya bahkan kakak bodohnya si Adrian.


Karena merasa mendapat perlindungan dari Vania, Kezia akhirnya mau mengikuti ajakan Vania. Dua wanita itu kini keluar dengan penampilan yang sama-sama cantik, seperti saudara kembar yang sulit di bedakan.


Ketika berhadapan dengan tuan Afsen beserta Erik dan kedua orang tuanya. Dengan sangat percaya diri Vania menggenggam erat jemari tangan Kezia.

__ADS_1


"Mau kau bawa kemana adikmu, Vania?" tegur tuan Afsen.


"Priksa kehamilan sekaligus jalan-jalan," jawab Vania enteng.


"Tidak perlu, karena calon suaminya adalah dokter," ucap tuan Afsen.


"Wow! sejak kapan seorang dokter bedah bisa menjadi dokter kandungan juga? memangnya kau bisa memeriksa kondisi janin yang sedang Kezia kandung, Erik?"


Erik hanya diam saja karena soal kandungan bukan dia ahlinya. Vania tertawa setelah melihat Erik hanya diam saja.


"Kalian fikir Kezia tidak tertekan di kurung di rumah saja? dia butuh udara bebas di luar sana. Apa yang kalian takutkan? bukankah kalian takut Kezia akan tertekan dan mengalami kejadian buruk seperti di masalalu, bukan? dan tanpa kalian semua sadari telah membuatnya tertekan."


"Ayo, Zia! jangan hiraukan mereka," ajak Vania.


Akhirnya karena keberanian Vania berhasil membawa Kezia keluar dari rumah. Meskipun papanya dan Erik terus meneriaki mereka. Vania tetap membawa adiknya pergi dan kini mereka berdua telah berada di dalam mobil Vania.


"Huff! terimakasih, kak," ucap Kezia menghembuskan nafas kelega'anya.


Vania tersenyum serta mengelus pipi adiknya menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kananya di gunakanya untuk menyetir kemudi.


"Kakak mau bawa aku kemana?"


"Menemui Dewi! apa kamu mau?"


"Mau kak! aku sangat mau," jawab Kezia antusias.


"Baiklah! seharusnya kita mengajak Ethan juga. Karena dia sedang ikut papanya ke luar kota, jadi kita berdua saja."


Kezia menggangguk, dia juga tahu bahwa putranya saat ini sedang bersama Rama. Kezia sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Dewi. Dia ingin melihat keada'an Dewi saat ini. Membayangkanya saja, Kezia sudah sangat simpati. Pengasuh putranya itu pasti saat ini sangat sedih dan juga menderita.


Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu, membuat Kezia tanpa sadar tertidur. Hingga mobil Vania berhenti pun, Kezia masih tidur dan enggan bangun. Vania mentoel hidung Kezia, berharap adiknya mau bangun. Hingga Kezia menggeliat lalu mengerjapkan matanya pelan.


"Rama! aku masih ngantuk," rengek Kezia tanpa sadar.


"Woy! bangun gak ada Rama di sini, kita sudah sampai." ucap Vania.


Kezia langsung tersentak dan segera membunga matanya lebar. Di tegakkanya posisi duduknya lalu menoleh kekanan kiri. Kezia melihat gedung yang sangat tinggi melalui spion kaca mobil Vania.


"Ayo kita turun! Dewi ada di dalam sana sedang menunggu kita," ucap Vania.


Mereka berdua turun dari mobil, Vania menggenggam erat jemari tangan Kezia. Seolah sangat posesive menjaga adiknya. Dengan langkah pelan Vani dan Kezia berjalan menuju lobby apartment dan masuk ke dalam lift menuju ke tempat Dewi berada.


Hingga tibalah mereka di depan pintu apartemen Dewi. Vania langsung menekan bel, sedangkan Kezia sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Dewi. Mereka menunggu cukup lama, baru setelanya pintu apartemen di buka.


Kezia dan Vania kaget ketik mendapati Dewi dengan wajah pucatnya. Dewi sempat melihat Kezia sebelum dirinya limbung dan pingsan. Kezia langsung panik, Vania meminta adiknya untuk lebih tenang. Sementara Vania saat ini sedang meminta bantuan satpam di lobby untuk membantu menggendong Dewi memasuki mobilnya.


Kezia sangat panik, takut hal buruk terjadi pada Dewi. Wajah Dewi sangat pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Kezia menangis tersedu-sedu karena harapanya tidak seperti yang ia bayangkan. Tadinya Kezia sudah menyiapkan diri untuk langsung memeluk Dewi, di saat pintu apartement telah terbuka. Nyatanya Kezia malah mendapati wajah pucat pengasuh putranya dan kemudian pingsan di depan matanya.


Kezia menjaga Dewi di kursi penumpang sambil menangisinya. Sedangkan Vania mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan dia melewati jalan yang jauh dari keramaian agar cepat tiba di rumah sakit.


Berharap Dewi dan bayinya akan baik-baik saja, setidaknya untuk kali ini saja. Karena Dewi sudah cukup menderita menanggung aib dan beban di hatinya sendirian.


Karena kecepatan laju mobil yang cukup tinggi, sehingga dalam waktu sepuluh menit mereka telah tiba di rumah sakit. Kezia sudah hendak turun, tapi Vania melarangnya. Dalam kondisi panik akan membahayakan Kezia dan kandunganya. Mengurusi satu ibu hamil saja sudah membuat Vania kewalahan. Tidak ingin di tambah Kezia lagi yang akan menambah tugasnya jika adiknya masih saja belum tenang.


"Kamu jaga dia, biar kakak yang mencari bantuan," pinta Vania.


Vania turun dari mobilnya lalu meneriaki petugas rumah sakit untuk mengangkat dan menangani Dewi secepatnya. Setelah Dewi di tangani para petugas medis, Vania berusaha meredakan tangisan adiknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Semoga Dewi baik-baik saja, ya😲

__ADS_1


__ADS_2