Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Niatan Perjodohan


__ADS_3

Semenjak acara conferensi pers tempo hari hingga saat ini, Rama belum ada tanda-tanda menemui Kezia. Tempo hari Kezia juga menyaksikan conferensi pers rama di televisi. Sejak itu pula rasa bersalah itu muncul pada diri Kezia. Dia sangat malu sekaligus di hantui rasa penyesalan karena sempat tidak mempercayai Rama dan menyudutkanya.


Kezia kini sadar, dia terlalu egois dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan Rama sudah berkali-kali meyakinkanya agar mempercayai Rama. Tapi nyatanya Kezia terlalu di penuhi rasa cemburu sehingga membuatnya tidak bisa berfikir positive.


Berharap Rama akan mendatanginya lagi, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangan Rama. Apakah Rama benar-benar marah kepadanya? atas sikapnya akhir-akhir ini.


Ingin rasanya Kezia menghubunginya lebih dahulu, namun lagi-lagi ia urungkan. Gengsi bercampur malu menjadi satu, sehingga yang bisa Kezia lakukan hanya memandangi layar ponselnya menunggu chat atau panggilan masuk dari Rama.


"Apa kamu benar-benar marah sama aku, Ram? apa kamu sudah lelah memperjuangkanku dan anak kita?"


Penyesalan pasti datangnya di akhir, tidak mungkin penyesalan berada di depan. Jikapun di depan itu bukan penyesalan melainkan peringatan. Pasti tidak akan terjadi masalah seperti ini jika Rama dan Kezia mengetahui peringatanya lebih dulu.


Kezia masih terus memandangi layar ponselnya, hingga terdengar panggilan masuk. Tanda melihat nomor dan nama si penelpon, Kezia langsung mengangkat telpon begitu saja.


Kezia mendengus kesal, ternyata yang menelpon bukanlah Rama, melainkan Vania. Mendengar suara adiknya yang terdengar kesal, Vania pun bisa menebak bahwa adiknya tidak sedang baik-baik saja.


"Kenapa? galao karena memikirkan Rama?" tanya Vania.


"Sudahlah, kak! aku mau istirahat saja, biar waktu segera berganti pagi," ucap Kezia mematikan sambungan telponya dengan Vania.


Tak lama pintu kamarnya di buka dan menampakan papanya yang terlihat serius. Mungkin tuan Afsen ingin membicarakan hal serius pada Kezia.


Tuan Afsen duduk di pinggiran ranjang, menatap Kezia. Kezia semakin penasaran karena papanya tidak langsung berbicara pada intinya. Hingga akhirnya, setelah menunggu beberapa menit, papanya membuka obrolanya.


"Zia, kamu tahu perutmu ini sudah nampak jelas? pasti orang-orang akan mempertanyakan perihal kehamilanmu. Pasalnya kamu tidak memiliki suami dan bersetatus janda."


Kezia menyimak baik-baik ucapan papanya, semakin kesini ucapa papanya semakin serius. Hingga ucapan tentang perjodohan itu keluar dari mulut papanya.

__ADS_1


"Papa akan menjodohkanmu dengan seorang pria yang akan menutupi kehamilanmu dan kamu harus mau."


"Deg," rasanya jantung Kezia berhenti saat itu juga.


"Pa, maksud papa, apa? papa ingin menjodohkan Zia dengan siapa?" tanya Kezia syok.


"Tentunya dengan pria yang bertanggung jawab dan mampu membahagiakanmu."


"Enggak, pa! Zia enggak mau nikah dengan pria manapun selain Rama. Bayi ini miliku dan juga Rama, seharusnya Ramalah yang menikahiku, pa."


"Papa tidak menerima penolakan, lagian apa bagusnya pria pengecut itu? bahkan pria yang akan papa jodohkan dengau jauh lebih segalanya di banding Rama.


Kezia menjerit, menolak niatan papanya yang akan menjodohkanya dengan pria asing yang tidak dia kenal. Kenapa papanya begitu tega dan egois, memutuskan sesuatu tanpa memberi waktu pada Kezia untuk berfikir.


Di tambah lagi, lusa adalah acara pernikahan itu dan di selenggarakan di kediaman Afsen. Tuan Afsen tetap saja tidak ingin di bantah, perjodohan itu akan tetap terjadi, ada atau tidak ada restu dari darinya.


Papanya tidak menghiraukan teriakan Kezia, bahkan ia berlalu begitu saja. Kezia sudah lelah, rasanya ia ingin mengakhiri hidunya saja. Namun dia tersadar, jika dia mati pasti bayinya juga akan mati. Itu sama halnya Kezia merampas hak anaknya untuk melihat dunia fana ini.


Yang kini Kezia lakukan hanya menangis meratapi nasipnya yang begini berat. Entah Kezia tidak bisa membayangkan nasipnya bersama pria pilihan papanya.


Kezia nekat menghubungi Rama lebih dulu, karena dia tidak ingin di pisahkan dengan mantan suaminya. Cukup lama Kezia menunggu panggilanya akan di jawab Rama.Hingga panggilan ke tiga, Rama baru bisa mengangkat telpon dari Kezia.


"Hallo, Ram! kamu apa kabar?" tanya Kezia.


"Baik, kamu sendiri juga apa kabar?" tanya Rama dengan nada dinginya.


Meskipun suara Rama terdengar dingin, tetapi setidaknya Kezia merasa senang. Karena masih bisa mendengarkan suara lelaki yang ia cintai. Mungkin juga ini terakhir kalinya Kezia bisa mendengar suara Rama. Karena lusa, Kezia akan menikah dengan pria pilihan papanya.

__ADS_1


Kezia menahan isakanya yang akan keluar karena terbayang pernikahan dengan orang asing yang belum ia kenal. Mau menjadi rumah tangga yang seperti apa jika keduanya tidak saling cinta.


"Kenapa kamu menangis, Kezia?" tanya Rama.


Terdengar helaan nafas berat dari Rama, setelah mendengar isak tangis Kezia. Namun bukanya menenangkan Rama malah bersikap dingin bahkan menutup telponya terlebih dahulu.


Kezia semakin menjadi-jadi tangisanya, rasanya hatinya bagai tergores pisau. Perih serta sesak, itulah yang sedang ia rasakan.


Dia pikir Rama akan kaget dan memperjuangkanya, nyatanya Rama terlihat sudah tidak mencintainya lagi. Cuek, dingin, begitulah yang Kezia nilai dari Rama saat ini.


Bahkan Rama seperti merasa risih ketidak Kezia menelponya. Sesak sangat rasa di dadanya, hingga membuat kepala Kezia terasa sakit.


Kezia terus saja mempertahankan tangisanya, karena semua ini sangat membuat mudnya berubah.


"Tuhan, kenapa akhir cintaku seperti ini? ternyata Rama sama sekali tidak mempertahankanku. Setidaknya kalau memang cinta, pasti akan mencari jalan keluar.


"Atau mungkin aku pergi jauh dari sini ke tempat yang jauh dari mereka semua yang melukaiku. Sama seperti ketika aku meninggalkan Rama, dulu. Toh, kali ini pasti Rama tidak akan mencariku, dia sudah tidak lagi mencintaiku.


Menangis dan terus menangis, tanpa sadar Kezia tertidur di atas ranjangnya. Dia terlalu lelah karena tidak bisa melampiaskan kepedihan hatinya.


Tuan Afsen kembali masuk ke kamar Kezia, hanya untuk memastikan putrinya akan baik-baik saja. Sebenarnya tuan Afsen merasa kasihan melihat putrinya bersedih. Namun bagaimana lagi, semua ini juga demi nama baik Kezia.


"Maafkan, papa, nak!"


Tuan Afsen menyelimuti tubuh putri bungsunya yang telah tidur. Lalu mendaratkan kecupan sayang di kening Kezia. Setelahnya beliau melangkahkan kakinya kembali keluar dari ruangan wilo.


Sangking pulasnya, Kezia tidak sadar bnyak orang yang peduli denganya. Kezia hanya terjebak dalam pikihan yang sulit. Akankah masih ada kesempatan untuk mereka berdua bersatu. Meskipun Rama tidak lagi menunjukan tanda-tandanya.

__ADS_1


Kezia tertidur hingga pagi, saat terik matahari menyilaukan masuk ke dalam sela-sela jendela kamarnya, membuat ia melupakan sejenak kesedihanya. Dan memulai hari-hari seperti hari-hari sebelumnya.


__ADS_2