
Kezia Afshen
Aku tertidur di sofa ruang tamu karena semalaman menunggu suamiku pulang. Hingga pagi tiba,suasana apartemen masih sama sepinya seperti tadi malam. Ku coba membuka pintu kamar Rama. Berharap suamiku sudah pulang dan berada di kamar. Nihil, suamiku tidak pulang dari semalam. Bahkan tadi malang berkali-kali aku naik turun ke lobbi hanya untuk bertanya kepada petugas keamanan tentang suamiku yang tak kunjung pulang.
Dimana suamiku berada? apa mungkin dia bermalam di tempat kak Vania. Kepalaku mendadak pusing membayangkan jika itu benar terjadi. Kak Vania dan Rama sukses membuatku tersakiti kembali.
Suara pintu apartemen terbuka di saat aku sudah akan berangkat kerja. Terlihat suamiku dengan penampilanya yang kacau khas bangun tidur. Aroma alcohol sangat menyengat hingga ku enggan mendekatinya. Dia hanya melihatku sekilas, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Aku sengaja tidak bertanaya kemana dia tadi malam. Mencium bau alcohol saja aku sudah bisa menebak dia berada di club malam semalam.
Sebelum kerja aku tetap menyiapkan kopi dan sandwich untuk suamiku. Entah di makan atau di abaikan, aku tetap membuatkanya. Ku buka pintu apartemen dan di depan sudah ada kak Digo yang berdiri sambil tersenyum. Lagi-lagi dia menawariku untuk berangkat bareng bersamanya.
Aku menolak, bukan bermaksud apa,tapi aku adalah istri orang. Tidak baik jika seorang istri berduaan dengan pria lain walaupun dia hanya mengajak berangkat bersama. Kak Digopun memahami, alhasil kita hanya turun ke lobbi bersama-sama.
Beberapa saat berada di indonesia, kini aku mulai terkenal. Beberapa potret diriku memegang produk kecantikan tertempel di berbagai wilayah. Meskipun hanya menjadi model brand ambasador. Aku tetap menjalankan pekerjaanku sendiri di kantor keluargaku. Aku memiliki sepertiga saham di kantor keluargaku. Sedangkan saham lainya adalah milik kak Adrian dan kak Vania.
Aku tidak sengaja melihat Alex sesaat sebelum pemotretan. Dia memakai busana berwarna sama dengan miliku. Ternyata dia juga menjadi brand ambasador produk yang sama denganku. Jadi ceritanya hari ini kami melakukan pemotretan berdua.
"Apa kau mengikutiku, Alex?"
Dia hanya tersenyum sambil berbisik, "Ya", aku mengikutimu," ucapnya lirih.
__ADS_1
Akupun tersenyum mendengar bisikanya. Aku tahu dia hanya bergurau, karena sebelum aku datang, dia sudah menjadi model.
Akhirnya kami berpose sedikit mesra untuk sesi pemotretan beberapa produk. Alhasil potret kita berdua terpampang di berbagai tempat dan di layar televisi. Aku tidak peduli jika suamiku melihatnya. Mungkin saja dia tidak akan peduli juga.
Setelah selesai sesi pemotretan, aku mampir ke kantor keluargaku untuk bertemu kak Adrian. Namun sebelum masuk ke ruanganya, diriku sudah dulu di cegah oleh Maya sekretarisnya. Maya berkata jika di dalam ada kak Vania yang sedang bertengkar dengan kak Adrian. Aku berkata kepada Maya, jangan kawatir karena kami akan baik-baik saja. Mayapun mengizinkan aku masuk ke dalam ruangan kakaku.
Ku buka pintu, ku sambut kak Vania dengan tepukan tanganku. Saat aku masuk tangan kak Adriam sudah berada di kerah kemeja kak Vania. Mata kak Adrianpun melotot menatap tajam kak Vania.
"Prok-prok, ternyata ada kakak perempuanku tersayang di sini. Drama apa lagi yang akan kau mainkan denganku kak."
Terlihat kak Vania menatap tajam ke arahku. Seperti itulah tatapanya dari kecil hingga saat ini kepadaku. Kecuali jika ada Rama, pasti dia seolah menjadi gadis malang yang tersakiti. Dan aku menjadi penyihir jahat yang selalu menyakitinya.
"Ku tunggu permainanmu selanjutnya kakaku sayang."
"Persiapkan dirimu untuk hal yang lebih menyakitkan, adiku sayang," ucap Vania.
Aku tersenyum hambar saat dia keluar sambil menutup pintu cukup keras. Setelah dia keluar,sisi lemahkupun kambuh kembali. Ku berhambur ke dalam pelukan kak Adrian. Karena saat ini hanya pelukanyalah yang membuatku nyaman.
"Bagaimana kabarmu dengan pria bodoh itu? apa dia menyakiti fisikmu?"
__ADS_1
Aku menggeleng dan berkata dia hanya mengabaikanku. Aku menceritakan tentang semalam dia tidak pulang. Bukan berarti aku mengumbar aib rumah tanggaku. Aku sudah menjadikan kak Adrian tempat ternyamanku untuk berkeluh kesah sejak kami kecil. Ternyata kak Adrian lebih tau dariku. Sengaja kak Adrian mengirim mata-mata untuk membuntuti Rama dan kak Vania. Lihatlah, kakaku yang satu ini selalu bertindak cepat demi kebaikanku.
"Jadi di mana Rama setelah dari club malam kak? apa dia bermalam di tempat kak Vania?"
Kakaku menggeleng, aku merasa lega ternyata suamiku tidur di apartemen kak Digo. Entah jam berapa mereka kembali ke apartemen kak Digo. Karena terakhir kali aku turun ke lobbi tepan jam dua belas malam. Berarti mereka pulang di waktu hampir dini hari.
"Ini tiket honeymoonmu ke paris, ajak suami bodohmu itu."
Aku menggeleng, sudah jelas Rama pasti menolaknya. Dan pastinya dia lebih memilih menemani kak Vania kekasihnya. Membayangkanya saja hatiku sudah sakit. Tapi tidak salahnya jika ku coba, siapa tahu ada keajaiban dan kami bisa honeymoon bersama. Ku kecup pipi kakaku untuk berterimakasih. Tentu saja dia sangat bahagia di cium adik tercantiknya.
"Kenapa kau selalu berpura-pura menjadi gadis kuat, bodoh."
Aku hanya tersenyum sambil bergelayut manja pada kakaku. Satu kebiasaan dari kecilku yang tak pernah hilang. Sampai-sampai kak Adrian mengataiku anak monyet yang bergelayut manja pada induknya. Sontak aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanya. Dia meneriakiku anak monyet. Tanpa sadar dia juga mengakui dirinya induk monyet.
Aku tahu kak Adrian berkata seperti itu agar aku tertawa. Kak Adrian selalu mempunyai banyak cara untuk membuatku tertawa. Saat kami tertawa cekikikan, tiba-tiba papaku masuk ke ruang kak Adrian. Papaku menegur kak adrian yang membeli saham milik kak Vania. Tentu saja kak Adrian dengan santai menanggapinya.
"Dia sendiri yang menjualnya ke padaku, dia jual aku beli lah, pa. Papa seperti tidak hafal saja tingkah putri papa yang satu itu."
Ku lihat papaku sudah memijik dahinya karena pusing memikirkan kak Vania. Aku berjalan mengajak papa untuk duduk di sofa. Aku elus punggungnya dan berkata untuk lebih sabar. Suatu saat pasti kak Vania akan berubah.
__ADS_1
Papaku mengangguk kemudian memandangku yang terlihat sangat kuat. Meskipun papa tahu akulah korban sasaran dari kak Vania. Papaku juga tahu, aku tidak pernah membalas perbuatan buruk kak Vania kepadaku. Itu karena aku sangat menyayangi kak Vania. Aku tidak peduli seberapa banyak racun yang ia taburkan kepadaku. Aku selalu memiliki penawar sebagai penangkalnya.