
Jika Rama dan Kezia, tertidur nyeyang saling berpelukan di apartemen Vania. Lain halnya dengan Eduardo Erik, pria itu sedang meneguk beberapa minuman hingga botol-botol bekasnya berserakan di lantai. Karena memikirkan tunanganya yang berhianat hingga menyebabkanya hamil. Membuat Erik yang sebenarnya kecewa, mati-matian menutupi rasa kekecewa'anya kepada Kezia.
Di tambah lagi mendengar pengasuh putra tunanganya sedang mengandung dan di yakininya adalah benihnya dari hubungan semalam yang tidak di sengaja. Membuat kepala Eduardo Erik semakin pecah memikirkanya.
Pria ini benar-benar bimbang, sebenarnya Erik merasa tidak tega dengan Dewi. Namun kehamilan Dewi, akan mengancam hubunganya dengan Kezia, yang selangkah lagi akan menuju ke jenjang pernikahan.
Meskipun kenyata'nya, Kezia menghianatinya di belakang, hingga menghasilkan benih bersama Rama. Rasa kecewa dan takut kehilangan seolah ibarat neraca yang imbang beratnya.
Erik tidak menyangka, selama bertahun-tahun menaruh hati pada Kezia, bahkan dia selalu ada untuk Kezia. Namun balasan yang ia terima tidak sebanding dengan pengorbananya selama ini.
Niat hati memberi kejutan kepada tunanganya, malah dia yang di beri kejutan dengan sangat dahsyatnya.
Bahkan yang membuat Erik tidak percaya, ketika bayang-bayang Rama dan Kezia bercinta di belakangnya. Erik merasa sudah seperti pria bodoh, yang di bodohi selama ini. Bagaimana bisa tunanganya yang sudah ia temani bertahun-tahun, tega berbuat curang di belakangnya.
Bukan hanya soal penghianatan Kezia yang mengganggu fikiranya saat ini. Tetapi janjinya kepada kedua orang tuanya untuk segera mempersunting Kezia dalam waktu dekat.
Erik tidak mungkin membatalkanya, karena ayah dan ibunya terlihat begitu mengharapkan Kezia menjadi menantunya. Melihat wajah kecewa kedua orang tuanya, adalah hal yang tidak di inginkan Erik.
Kini, kondisi pria itu sudah sangat mabuk berat, karena baru saja menghabiskan beberapa botol minuman. Minuman yang bisa membuat jiwanya melayang sejenak. Melupakan semua beban fikiran yang berkecamuk di hati dan fikiranya.
Sesekali bibirnya merancau memanggil-manggil nama Kezia. Seolah Kezia saat ini berada tepat di hadapanya. Setelah merancau tidak jelas, Erik tepar di lantai dan tidak sadarkan diri. Hingga ke esokan harinya, ia baru tersadar pada pukul sepuluh siang. Banyak panggilan masuk dari orang suruhanya di handphonenya yang baru bisa dia cek. Bahkan puluhan pesan whatspp dari orang suruhanya yang belum ia buka dari semalam.
Kepalanya terasa pusing effeck dari alkohol, di tambah lagi pesan dari orang suruhanya yang baru saja di bacanya.
Di dalam pesan, salah satu orang suruhan Erik memberi kabar. Bahwa mereka kehilangan jejak perempuan incaranya. Tanpa Erik tahu, ternyata orang suruhan Rama, bertindak lebih cepat dari orang suruhanya.
"Sial! kemana perempuan itu sekarang," umpat Erik, melempar botol kosong bekas minumnya ke dinding kamar hotel.
Sedangkan Rama yang sedang sarapan dengan Kezia dan putra merekapun, mengulum senyumnya. Tentu saja Rama sangat puas sekaligus merasa senang dengan kerja keras orang-orangnya. Terlebih Bagas, pria itu telah membawa Dewi ke sebuah apartemen yang di siapkan oleh Rama.
Kezia menatap curiga, setelah melihat Rama tersenyum sendiri setelah melihat handphonenya. Wanita itu berdehem, membuat Rama menoleh ke arahnya.
"Ada apa, sayang?" tanya Rama.
__ADS_1
"Kelihatnya asik banget! sedang chatingan dengan siapa?" tanya Kezia dengan tatapan curiga.
Rama meletakan hadphonenya, lalu berjalan menghampiri Kezia. Di kecupnya pipi kanana Kezia, karena melihat wanitanya seolah sedang curiga denganya.
"Chatingan dari Bagas, Sayang! kenapa? kamu mengira aku sedang chatingan dengan wanita lain?
"Siapa tahu, iya," ucap Kezia, membuat Rama kembali menciumnya.
"Papa, aku juga ingin di cium," protes Ethan.
"Och, anak papa minta di cium juga! baiklah, sayang," ucap Rama, mencium pipi kanan dan kiri, Ethan.
Sesekali Rama masih melirik Kezia yang masih cemberut, menatapnya curiga. Tidak biasnya Kezia bersikap seperti itu kepada Rama. Mungkin pengaruh hormon kehamilanya, yang membuat Kezia mencadi curiga'an di tambah semakin cemburuan.
Terdengar suara handphone berbunyi, suara itu bersumber dari handphone Kezia. Ternyata Adrian yang sedang menelphonenya. Kezia ragu-ragu untuk mengangkatnya, berkat bujukan Rama, Kezia mengangkat telpon dari kakaknya.
Ternyata Adrian menyuruh Kezia pulang ke rumah orang tuanya. Tanpa Kezia tahu, Eriklah yang meminta Adrian untuk menghubungi Kezia. Kezia menolak, dengan alasan sudah terlalu nyaman di apartemen Vania. Lagi pula, Vania jarang tinggal di partemenya. Sayang jika apartemen semewah ini harus di anggurkan.
Adrian tetap memaksa Kezia agar pulang ke rumah orang tuanya. Jawaban Kezia tetap sama, membuat Adrian memarahinya. Adrian sangat berubah semenjak mengenal Erik dan semenjak Kezia bercerai dengan Rama. Kakaknya tidak seperti Adrian yang pengertian seperti dulu.
"Kenapa sayang?" tanya Rama.
"Kak Adrian memaksaku pulang," jawab Kezia lesu.
Rama langsung berfikir, mungkin saat ini Adrian sedang bersama Erik. Jika tidak, kenapa Adrian harus menyuruh Kezia pulang. Padahal Kezia tinggal di apartemen Vania, keluarganya juga.
Di lain tempat, Erik sedang mengumpat dalam hatinya. Setelah melihat Adrian, gagal membujuk Kezia, agar pulang kerumah orang tuanya. Peluangnya untuk bertemu dengan Kezia, semakin di persulit. Karena Erik tidak memiliki kartu akses masuk ke apartemen Vania. Apa lagi, Adrian juga tidak memiliki kartu akses masuk ke apartemen Vania.
"Tenanglah, Erik! aku akan mencoba meminta Vania, agar kita bisa menjemput Kezia," ucap Adrian, mencoba menghibur calon adik iparnya.
Erik mengangguk, kemudian dua pria itu, berangkat bersama menuju ke rumah sakit. Selain untuk menemui tuan Afsen yang masih di rawat. Mereka juga akan menemui Vania, yang menjaga papanya.
Erik tersenyum, karena Adrian sangat bisa ia andalkan. Tanpa berfikir, rencana Adrian berhasil atau tidaknya. Erik sudah percaya diri, bahwa Adrian mampu membujuk Vania.
__ADS_1
Erik saja yang belum terlalu mengenal Vania, betapa keras kepalanya wanita itu. Bahkan Erik tidak sadar, bahwa Vania sama sekali tidak berada di pihaknya. Yang Erik tahu, Vania adalah mantan kekasih Rama dan yang menyebabkan Kezia dan Rama bercerai.
Erik sudah bisa menguasai hati Adrian dan tuan Afsen. Erik juga ingin mencoba menguasai hati Vania, agar dia semakin mudah untuk bersatu dengan Kezia. Karena baginya, untuk mendapatkan Kezia, adalah dengan mengambil hati keluarganya. Erik tidak berfikir, bahwa masih ada satu anak yang , yaitu Ethan. Sampai saat ini, pria itu masih belum bisa mengambil hati putra dari tunanganya. Karena Ethan lebih berpihak kepada Rama, ayah kandungnya.
Sesampainya di rumah sakit, bertepatan dengan Vania yang baru saja keluar dari ruang inap papanya. Niatnya ingin pergi ke kantin untuk membeli sarapan, tertunda karena panggilan dari Adrian.
"Pas sekali! aku ingin ke kantin, tolong jaga papa, sebentar," pinta Vania.
Ketika Vania melanjutkan langkahnya, Adrian menghentikanya kembali. Wanita itu berbalik memandang kakaknya penuh tanya. Ternyata Adrian langsung membicarakan tentang rencanaya dengan Erik, tadi.
Vania langsung menaikan sebelah alisnya, sesekali melirik Erik. Dia sudah bisa menebak, bahwa kakaknya pasti di suruh Erik.
"Maaf! biarkan saja Kezia di sana," ucap Vania.
"Vania! Kezia sedang hamil, apa kau lupa," sahut Adrian, yang belum puas dengan jawaban Vania.
"Aku tahu! tenang saja, aku punya asisten rumah tangga yang akan menjaganya," bohong Vania.
Tanpa mendengarkan protes lanjutan dari kakaknya, Vania langsung melangkah pergi meninggalkan dua pria yang memandangnya penuh kekesalan. Terlebih Erik, yang telah menggepalkan tanganya setelah mendengar ucapan Vania.
Erik fikir, akan mudah membujuk Vania, ternyata dia salah. Ternyata Vania sangat keras kepala dan tidak mudah di tahlukan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Duh, Adrian! Kenapa kamu lebih berpihak kepada Erik?
Kalau kamu tahu, Erik telah menghamili Dewi, apa kamu masih berpihak kepadanya? 🤭
Autor belum menjelaskan Adrian dan Dewi🤭
Jadi, tetap pantau saja cerita selanjutnya
Mampir juga di novel karya temanku👇
__ADS_1