Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kedatangan Vania


__ADS_3

Kezia afshen


Kepalaku pusing memikirkan tentang kakak perempuanku, yang tiada hentinya menyakitiku. Hatiku makin hancur, setelah aku tahu, dia mencoba untuk membunuhku. Meskipun bukan dari kedua tanganya langsung, melainkan lewat orang-orang suruhanya. Untung saja, aku masih menguasai bela diri. Sehingga aku bisa terselamatkan dari ke lima orang pria bertubuh besar.


Kakiku sangat sakit, sehingga tidak sanggup lagi untuk melangkah. Namun tetap ku kuatkan, hingga aku tiba di apartemen. Sesampainya di apartemen, ternyata Rama sedang menungguku. Ku lihat kecemasan di wajahnya, apakah dia mencemaskanku. Rasanya lukaku tidak lagi terasa sakit, saat ku tatap dirinya yang mencemaskanku. Aku terpaksa berbohong mengenai luka-lukaku. Tidak mungkin ku katakan, ini semua perbuatan kak Vania.Sudah bisa ku tebak, bukanya percaya, Rama malah akan membenciku.


Apa lagi dia membawaku masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhku di ranjangnya. Aku sempat gugup, bahkan dia tadi dengan telaten mengompres luka memarku. Aku sangat menyukai perhatianya. Andaikan aku bisa bersamanya untuk selamanya.


Bahkan, dengan telaten dia merawatku saat aku sakit. Aku merasa di manjakan olehnya,apa aku harus sakit agar di manja olehnya. Perhatianya berlangsung sampai ke esokan harinya. Bahkan Rama rela tidak ke kantor hanya untuk merawatku. Bahkan dia membuatkan bubur spesial untuku. Ini adalah pertama kalinya, dan rasanya tidak terlalu buruk.


Setelah ku makan habis bubur buatan Rama.Lalu ku minum obatku, setelah itu aku langsung tertidur lagi. Entah berapa lama aku tidur, hingga Rama membangunkanku.


Saat itu aku mengalami mimpi buruk,untung saja Rama segera membangunkanku. Dia menariku kedalam pelukanya. Bahkan dia berusaha membersihkan keringat di sekujur tubuhku. Awalnya aku gugup, kemudian aku hanya pasrah. Aku hanya diam saat Rama menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhku. Kemudian dengan telaten, dia mengelap tubuhku.Aku bisa melihat, dia sedang menahan hasratnya. Dari sorot matanya bisa ku lihat kabut gairahnya yang ia tahan.


Andai tubuhku tidak sedang terluka, pasti dengan senang hati aku akan menggodanya. Bahkan setelah itu, Rama masuk ke kamar mandi. Aku bisa menebak, dia pasti sedang menuntaskan sesuatu yang sudah bangun dari tadi.


Tak lama, suamiku keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar. Dia mendekatiku, menyentuh keningku yang sudah turun demamnya. Aku hanya diam menikmati setiap sentuhanya. Dia naik ke ranjang, duduk di sampingku. Membawa kepalaku untuk bersandar di pundaknya. Rasanya sungguh nyaman, tak ingin moment ini cepat berlalu. Tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi. Rama menyuruhku untuk tetap di dalam kamar. Sedangka dia melangkah keluar untuk melihat siapa yang datang. Dari suaranya sudah bisa ku tebak,kak Vanialah yang datang.


"Sayang, aku merindukanmu, kenapa hari ini kau tidak ke kantor?"

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu,sayang."Ucap Rama, membuat dadaku tiba-tiba bergemuruh. Aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Meskipun posisiku masih duduk di dalam kamar.


"Benarkah? Aku kira kau sudah tidak menginginkanku. Karena kau sudah memiliki istri secantik Kezia.


"Kata siapa? Aku selalu merindukanmu,wanita tercantik di hatiku."


Dadaku semakin sesak, kala mendengar ucapan Rama barusan. Ternyata posisiku di hatinya sama sekali tidak ada. Aku mulai turun dari ranjang, meskipun rasanya badanku sakit semua. Suara mereka terdengar jelas dari kamar Rama. Lebih baik, aku pindah ke kamarku sendiri. Aku melewati mereka begitu saja tanpa menyapa kakaku. Ku buka pintu kamarku, lalu ku tutup kembali.


"Lihatlah sayang, sepertinya istrimu tidak suka jika aku kemari."


"Dia hanya sedang tidak enak badan, lagian dia tidak keberatan dengan hubungan kita. Asal tidak di depan publik, karena sangat berbahaya.


"Biar ku temani, sayang," Ucap Rama.


"Tidak usah, sayang," Ucap Vania.


Cih, kakaku memang pandai bersandiwara,seolah kaget mendengar aku sakit. Padahal, dia dalang di balik sakitku ini. Ku lihat pintu kamarku terbuka, kemudian di tutup rapat oleh kak Vania. Aku hanya diam tidak ingin merespon apapun kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Adiku sayang, ternyata kau memiliki banyak stok nyawa. Aku kira kau akan mati kemarin, ternyata kau masih beruntung untuk hidup."

__ADS_1


Aku hanya diam, tidak menanggapi dan tidak menatapnya. Aku muak melihat kakaku, muak dengan seribu sandiwaranya.


Aku terlonjak kaget, saat tanganya mencekik leherku. Segera ku hempaskan tanganya, membuat dia akan terjatuh. Namun heranya,dia malah menjatuhkan dirinya sambil berteriak kesakitan. Rama segera masuk ke kamarku,melihat kondisi kak Vania.


"Sayang, dia mendorongku! Padahal aku hanya ingin memeluknya," Rengek kak Vania membuat mataku seketika melebar.


"Kezia, apa yang kau lakukan pada kakakmu sendiri. Di posisi sedang sakit begini, ternyata kau masih sanggup menyakiti Vania."


Tanganku menggepal seketika saat suamiku membela kakaku. Sebuta itukah dia, sehingga tidak bisa membedakan logika. Posisiku bahkan masih duduk di ranjang. Bagaimana bisa aku mendorong kak Vania sampai di depan pintu. Aku hanya bisa diam saja,membela diripun percuma. Cintanya kepada kakaku,membuat mata Rama buta.


"Sudah sayang, aku tidak apa-apa kok. Lagian aku masih menyayangi adiku, meskipun dia selalu membalasku dengan kebencian," Ucap kak Vania membuat kesabaranku habis.


Aku berteriak menyuruh mereka berdua keluar dari kamarku. Merekapun keluar meninggalkanku sendirian. Tangisku seketika pecah, menangisi kakaku dan juga nasip rumah tanggaku.


Baru semalam Rama bersikap manis kepadaku. Kini, dia sudah membenci aku lagi, karena ulah kak Vania barusan. Kenapa nasip rumah tanggaku serumit ini. Bisakah aku bahagia dengan suamiku tanpa adanya kak Vania. Karena setiap kali bertemu kakaku, sikap Rama selalu berubah kepadaku.


Aku melangkah menuju jendela kamarku. Menghirup udara sebanyak-banyaknya,lalu menghembuskanya kasar. Ku pandang dua merpati yang tampak bahagia. Saling berbagi dengan pasanganya tanpa pihak ke tiga. Entah siapa di sini yang menjadi pihak ke tiga. Yang jelas, Rama adalah suamiku, dan suamiku sedang memadu kasih dengan kakaku sendiri. Miris sekali, bahkan mereka bermesra'an ketika ada aku di rumah. Seolah dunia milik mereka berdua, sedangkan aku hanyalah patung.


Awas saja kamu Rama, kali ini tidak akan aku biarkan kamu menyentuhku. Kamu hanya menyukai tubuhku, tapi tidak hatiku. Kamu hanya membutuhkan kepuasan dan kehangatan dariku. Nyatanya, aku hanyalah cadangan saat kakaku tidak berada di sisimu. Aku hanya pelampiasan, sungguh sangat miris. Yang di butuhkan hanya untuk pemuas ranjang suamiku.

__ADS_1


Aku tidak akan mau lagi kamu sentuh,jika di hati dan fikiranmu hanya untuk kak Vania. Semua ini hanya akan melukaiku lagi. Membuat hatiku hancur, karena sifat labilnya. Terkadang seperti mencintaiku, nyatanya aku tidak pernah sama sekali ada di hatinya.


__ADS_2