
Kehidupan sepasang suami istri tanpa cinta,atau lebih tepatnya cinta sepihak dalam satu atap. Beberapa hari ini, baik Kezia maupun Rama tetap pada rutinitas mereka. Setiap hari berputar pada cerita yang sama. Hanya bekerja dan bekerja, sehingga hanya pagi dan malam hari mereka bisa bertatap muka. Itupun kadang bisa seharian sama sekali tidak bertemu. Pagi yang kesiangan atau malam yang kemalaman. Namun, sesibuk apapun, Kezia tetap menjalankan peranya sebagai seorang istri.
Bangun pagi untuk menyiapkan sarapan dan keperluan suami dan dirinya sendiri. Kadang, jika jadwalnya padat, ia hanya meninggalkan pesan tanpa membangunkan suaminya. Kecuali hari ini, hari minggu yang artinya mereka tidak akan bekerja.
Kezia ingin menikmati hari liburnya di apartemen saja.Entah dengan Rama, mungkin dia akan menemui Vania. Pagi-pagi sekali, Kezia sudah terlihat segar, wangi dan cantik, meskipun tanpa make up. Kezia membuka pintu balkon, berdiri menghirup udara segar sambil meminum teh hangatnya. Rama yang baru keluar kamar langsung menghampiri Kezia.
"Kamu kok melamun?" tiba-tiba Rama sudah berdiri di samping Kezia. Bahkan Rama langsung melingkarkan tanganya di pinggang ramping Kezia. Membuat Kezia langsung tersentak karena kaget.
"Loh, kamu sudah bangun?"
Rama hanya diam saja, ia fokus mencium wangi tubuh Kezia yang membuatnya nyaman. Entah kenapa, semakin berada di dekat Kezia, membuat Rama semakin merasa nyaman. Apa lagi Kezia adalah wanita pertama yang ia sentuh. Bahkan bersama Vaniapun, Rama tidak pernah melakukanya. Jangankan berhubungan badan, Vania tidak mengizinkan Rama menciumnya. Kadang Rama berfikir, jenis pacaran seperti apa, antara Vania dan dirinya. Tanpa Rama tahu, Vania punya maksut tersendiri. Tanpa Rama tahu, orang yang ia cintai, sebenarnya mencintai sahabatnya sendiri.
"Mas, aku geli."
"Sebentar saja, zia! Kenapa kau sangat wangi sekali."
"Karena aku baru mandi, kamu mandi, sana."
Bukanya pergi, Rama makin mengeratkan pelukanya. Kezia memutar tubuhnya menghadap pada Rama. Di pandangnya wajah suaminya yang tetap tampan meskipun baru bangun tidur.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan keperluanmu dan setelahnya, makanlah sarapanmu."
"Begini rasanya punya istri ternyata,bangun tidur semua sudah di siapkan," Ucap Rama tersenyum menatap Kezia.
__ADS_1
"Maka nikmatilah selagi kita masih menjadi suami istri. Setelah kita bercerai, maka aku tidak akan lagi menyiapkan keperluanmu, suamiku."
Mendengar ucapan Kezia barusan, membuat hati Rama seakan di hantam bebatuan besar. Bahkan selama ini Rama tidak berfikir sampai ke situ. Bagaiamana kehidupanya setelah berpisah dengan Kezia. Bahkan sekarang, Rama sudah mulai terbiasa dan nyaman dengan Kezia. Apakah setelah menikah dengan Vania, Vania akan memperlakukanya seperti Kezia. Tidak akan ada lagi makanan enak buatan istri. Karena Vania tidak bisa memasak. Apa lagi Kezia sudah berhasil membuat Rama gila di atas ranjang. Bahkan bibir Kezia yang manis, membuat Rama merasa candu. Lagi-lagi bayangan percintaanya bersama Kezia terlintas di fikiranya. Suara eranganya yang sangat merdu terngiang-ngiang di kepalanya. Membayangkanya saja, sudah membuat Rama dilema.
"Hai, kok malah ngelamun,sih."
"Cup," Rama mencium bibir Kezia, setelahnya beranjak masuk ke kamarnya untuk mandi. Sedangkan Kezia tersenyum mendapatkan serangan dadakan dari suaminya.
Sudah hampir satu jam,Rama belum juga keluar dari dalam kamarnya. Untuk memastikan, Kezia akhirnya masuk tanpa mengetuk dulu pintu kamar Rama. Di lihatnya Rama yang duduk di atas sofa sambil memegangi kepalanya. Kezia segera menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Kezia dengan eksresi kawatir.
"Kepalaku mendadak pusing, zi," Ucap Rama sambil memijat kepalanya sendiri.
Tanpa menunggu jawaban Rama, Kezia duduk di sebelah Rama. Meletakan kepala suaminya di atas pahanya. Kezia mulai memijit kepala suaminya dengan pelan. Sepertinya Rama merasa enakan, di lihat dari ekspresinya yang diam dan menikmati.
"Pijitanmu enak banget, zia," Ucap Rama membuka matanya memandang wajah kezia. Bahkan pandangan mata mereka saling bertemu. Mendadak Kezia merasa gugup, di perhatikan sangat inten oleh suaminya. Namun Kezia tetepa melanjutkan memijit kepala suaminya.
Rama masih setia menatap wajah ayu Kezia. Wajah natural tanpa make up, dengan sorot mata hazelnya yang bersinar. Membuat Rama terbuai, tanpa sadar dan entah siapa yang memulainya duluan. Kini bibir mereka berdua saling menempel. Meresapi rasa manis pada keduanya. Mensesap bahkan ciumanya semakin dalam dan menuntut. Seketika Kezia tersadar dan langsung menjauhkan wajahnya. Kini mereka berdua sama-sama diam, merasa canggung. Kezia beranjak, beralasan akan membuatkan Rama air jahe hangat. Hatinya saat ini sudah ingin terlepas dari tubuhnya, saking gugupnya.
Rama tersenyum menatap punggung Kezia yang sudah menjauh. Ia meraba bibirnya, membayangkan ciuman mereka barusan. Seketika Rama teringat Vania, dia merasa bersalah telah menghianati kekasihnya. Meskipun Rama tahu, Kezia lebih berhak atas dirinya. Mungkin karena mereka berdua adalah suami istri yang sah.
"Ting-tong," Terdengar bell apartemen berbunyi, Kezia segera melihat siapa yang bertamu sepagi ini.
__ADS_1
"Rama, ada?"
Ternyata Vania yang datang, membuat Kezia mau tak mau membukakan pintu untuknya. Meskipun rasanya, ia ingin mencakar wajah kakaknya saat ini juga.
"Di mana Rama?"
"Di kamarnya," Jawab Kezia singkat.
Melihat kakaknya ingin masuk ke dalam kamar suaminya. Kezia segera menghadang, karena dialah nyoya rumah di apartemen ini. Vania hanyalah tamu yang tak di undang baginya.
"Duduklah, akan ku panggilkan dia."
"Kau berani memerintahku? apa kau lupa, aku adalah kekasihnya," ucap Vania.
"Aku tidak lupa, justru kau yang lupa,aku adalah istrinya," Timpal Kezia tak kalah dari kakaknya.
Rama keluar dari kamarnya,karena mendengar keributan di luar. Vania langsung menghampiri Rama dan memeluknya. Membuat Kezia mendengus kesal melihat keduanya. Rama melirik ekspresi kesal di wajah Kezia. Kezia meninggalkan mereka berdua begitu saja, menuju dapur. Bahkan sangking kesalnya, jahe hangat yang dia buatkan untuk Rama, ia minum sendiri.
Kezia sengaja duduk di ruang makan,karena tidak ingin melihat kemesra'an suami dan kakaknya. Merasa jenuh, akhirnya Kezia memutuskan untuk keluar apartemen. Kezia berjalan begitu saja, melewati suami dan kakaknya. Rama menaikan alisnya, melihat penampilan istrinya yang sudah rapi.
"Mau ke mana?" tegur Rama.
"Mau keluar, daripada di sini jadi obat nyamuk," ucap Kezia berjalan keluar dari apartemen, meninggalkan suami dan kakaknya. Dia sudah tidak bisa berfikir lagi harus kemana. Kezia hanya menuruti kakinya melangkah, yang entah mau membawanya kemana.
__ADS_1
Sedangkan Vania segera menyuruh orang-orangnya, untuk menjalankan perintahnya kemarin. Vania menyuruh orang-orangnya untuk menjebak adiknya dan juga Alex. Atau kalau perlu, menghabisi adiknya sekalian. Sepertinya Vania lupa, jika tidak semudah itu mencelakai Kezia. Mengingat dulu, Kezia sangat jago bela diri di waktu SMA.