
Kezia tidak di izinkan pergi kemanapun, meskipun hanya mengntarkan putranya sekolah. Seluruh keluarganya saat ini sedang kalang kabut. Hal itu di karenakan data-data Kezia dan data-data Erik, tidak bisa masuk ke KUA setempat. Entah hal apa yang membuat data-data mereka di tolak. Semua orang termasuk tuan Afsen dan Adrian mencurigai Ramalah pelakunya.
Lelah seharian hanya bergulang-guling di ranjang, Kezia akhirnya keluar dari kamarnya. Bertepatan dengan datangnya Erik dengan wajah penuh fikiran. Tuan Afsen dan Adrian langsung menghampiri Erik. Mereka berdua penasaran, apa yang Erik dapatkan setelah menemui Rama di kantornya.
"Nihil! dia tidak mau mengaku," ucapnya membuat tuan Afsen dan Adrian mendengus kesal.
Berbeda dengan Kezia yang mendengarnya, Kezia tahu ini semua pasti salah satu dari rencana Rama. Seolah dirinya tidak tahu, Keziapun pura-pura cemas di hadapan Erik, tuan Afsen dan Adrian.
"Ini benar-benar ada yang tidak beres! bagaimana bisa data-data kalian di tolak? perasa'an semua sudah lengkap," kali ini tuan Afsen yang berbicara.
"Kalian tenang saja, biar aku yang menemui Rama," ucap Adrian di tahan Erik, karena percuma menemui Rama. Rama tidak akan pernah mengakui perbuatanya. Maling mana yang akan mengakui perbuatanya, jika jeruji besi akan mengurungnya.
"Bagaimana jika sementara kami nikah siri? sekalian menunggu data-data kami bisa di terima," usul Erik.
Kezia yang menundukan wajahnya karena sedang membaca majalah, tiba-tiba tersentak dan langsung mendongakkan wajahnya memandang ke arah Erik. Ternyata laki-laki yang bersikukuh untuk menikahinya tidak kehabisan akal. Bahkan nikah siripun menjadi pilihan Erik.
"Bagaimana kak? Pa? mengingat kandungan Kezia pasti akan semakin membesar dan menonjol. Apa kalian ingin orang-orang menghujat Kezia? hanya karena hamil tanpa seorang figur suami. Di tambah lagi, nama baik keluarga ini akan tercoreng di mata masyarakat," ucap Erik mempengaruhi tuan Afsen dan Adrian.
"Kau benar, Erik! baiklah jika sementara waktu hanya itu pilihanya. Lebih baik kau dan Kezia nikah siri, lebih cepat lebih baik," timpal tuan Afsen.
Erik tersenyum smirk, dalam hatinya bersorak-sorak penuh kemenangan. Karena masih ada cara baginya menikahi Kezia, meskipun hanya menikah siri. Setidaknya di mata agama dia dan Kezia syah menjadi suami istri. Untuk hal lainya bisa dia fikirkan setelah pernikahanya terjadi.
Jika Erik terlihat sangat bahagia, berbeda dengan Kezia yang mendadak murung. Kezia akan menceritakan hal ini kepada Rama. Bagaimanapun yang akan terjadi, Kezia tidak ingin menikah dengan Erik. Jika pernikahan itu sampai terjadi, sudah pasti Kezia akan menderita. Karena dirinya sama sekali tidak mencintai Erik. Cintanya masih tetap pada satu laki-lagi yang selalu abadi di hatinya.
"Sayang, akhirnya kita bisa menikah! besok orang tuaku akan melakukan penerbangan ke Indonesia. Kita bisa fitting baju pengantin. Kita cari baju pengantin termewah dan termahal dan pastinya akn membuatmu terlihat jauh lebih cantik," ucap Erik bersemangat, Kezia hanya tersenyum hambar menanggapinya.
"Jadi, orang tuamu akan ke Indonesia, besok?" tanya tuan Afsen.
"Ya, pa! aku akan menghubungi mereka dan bisa di pastikan mereka akan langsung terbang ke Indonesia. Karena Kezia adalah calon menantu kesayangan mereka," jawab Erik, membuat tuan Afsen tersenyum.
Bagi tuan Afsen, Erik beserta keluarganya adalah orang-orang baik. Jika nyawa Kezia saja mampu ia selamatkan, sudah pasti Erik beserta keluarganya akan menjaga putri bungsunya.
Merasa kesal dengan semua orang di hadapanya, Kezia meminta izin masuk ke kamarnya kembali. Dengan alasan mengantuk karena effek kehamilanya yang membuatnya mudah lelah.
Erik hendak mengantarnya ke kamar, namun di tolak Kezia. Namun laki-laki itu tetap saja mengantar Kezia, cukup sebatas pintu kamarnya saja. Kezia melarang Erik memasuki kamarnya, dengan alasan bukan muhrim. Erik tertawa hambar, setelah mendengar alasan Kezia. Jika dirinya bukan muhrim, bagaimana wanita di depanya bisa hamil dengan Rama, yang jelas-jelas bukan muhrimnya.
Tak ingin berhadapan terus dengan Erik, Kezia langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Ingin rasanya menangis, tetapi Kezia teringat pesan Rama. Bahwa dirinya tidak boleh sedih dengan keadaan. Fikirkan bayi yang sedang ia kandung dan Biarkan Rama yang memperjuangkanya.
Kezia:
Datanglah malam ini, aku ingin bercerita.
Begitulah isi pesan whatsapp yang Kezia kirim ke pada Rama. Di tambah emoticon sedih yang menggambarkan perasaanya sekarang.
Di sebuh ruangan khusus, seorang pria tampan yang baru bangun dari tidurnya, membuka pesan masuk di handphonenya. Rama yang sedari tadi tidur di kamar khusu di ruang kerjanya, menatap penuh tanya pada pesan whatsapp dari Kezia. Pasalnya ada emoticon sedih pada pesan Kezia.
Rama:
Baiklah, sayang! tunggu kedatanganku nanti malam.
Rama:
Kenapa emoticonmu sedih? apa dan siapa yang membuatmu sedih?
Rama:
Ceritakan semuanya kepadaku, Kezia
Pesan yang Rama kirim hingga tiga kali, berharap Kezia akan menceritakan, hal apa yang membuat wanita yang ia cintai begitu terlihat sedih.
Kezia:
__ADS_1
Nanti saja, aku akan menceritakan semuanya, lanjutkan pekerja'anmu agar cepat kelar dan kamu bisa segera datang menemuiku.
Tanpa Kezia mintapun, sudah pasti Rama telah mengelarkan semua pekerja'anya. Oleh karena itu dia bisa bersantai sambil tiduran di kamar khusus miliknya di kantornya.
Rama sengaja tidur lebih awal, agar nanti malam bisa begadang mendengarkan semua curahan hati wanitanya. Meskipun saat ini Rama sudah di hinggapi rasa penuh penasaran. Ingin rasanya cepat-cepat menemui Kezia dan mendengarkan curahan hati Kezia.
Hingga malam pun tiba, kini Rama telah berada di balik jendela kamar Kezia. Rama mengurungkan niat untuk membuka jendela kamar Kezia, di karenakan terdengar suara Kezia sedang berdebat dengan seorang pria yang di yakininya adalah suara Adrian.
"Apa istimewanya Rama, Kezia? sehingga kau lebih mencintainya di bandingkan menerima Erik yang jauh lebih baik dari Rama."
"Keistimewa'an Rama hanya aku yang tahu, kau tidak akan pernah tahu apa yang sedang ku rasakan, karena kau tidak pernah jatuh cinta dengan seorang wanita, kak."
Salah jika Kezia beranggapan Adrian tidak pernah jatuh cinta. Laki-laki itu pernah merasakan jatuh cinta pada seorang gadis sederhanya yang kini hilang entah kemana. Sampai sekarang Adrian belum menemukanya maupun jejaknya.
"Kau salah! aku masih normal dan saat ini masih mencintai wanita yang sama. Jangan mengalihkan topik pembahasan, siapkanlah dirimu untuk menikah siri dengan Erik. Sebelum perutmu makin membuncit dan mempermalukan keluarga kita."
"Kau egois kak! ini bayiku dengan Rama, kenapa harus Erik yang menikahiku? kenapa tidak dengan Rama saja aku menikah?"
"Cukup Kezia! harus berapa kali aku katakan, kau ingin menderita lagi? jika rujuk dengan pria itu?"
Kezia semakin lelah berdebat dengan Adrian, tidak ingin menanggapi lagi lalu Kezia meminta kakaknya agar keluar dari kamarnya.
Di rasa kondisi sudah aman dan Adrian sudah meninggalkan kamar Kezia. Rama membuka pelan jendela kamar Kezia. Kezia langsung menoleh dan hendak menghampiri Rama. Sudah terlalu lama Kezia menahan diri untuk segera memeluk Rama. Mungkin dengan mendapat pelukan dari Rama, suasana hatinya akan membaik.
"Apa kau sudah lama berada di luar sana, sayang?" tanya Kezia cemas.
"Tidak begitu lama! cukup untuk mendengarkan perdebatanmu dengan Adrian," jawab Rama.
"Jadi kau mendengar semua?"
"Tidak semua! hanya bagian kau dan Erik akan menikah siri."
"Aku tidak ingin menikah denganya, bawa saja aku kabur denganmu," pinta Kezia memohon.
"Tenang sayang! semua itu tidak akan pernah terjadi. Percayalah kepadaku, kamu cukup tenangkan dirimu. Ingat nasehatku kemarin, fikirkan bayi kita," ucap Rama menyakinkan Kezia, meskipun Rama juga takut jika rencananya tidak bisa berjalan dengan lancar.
"Aku boleh minta tolong sama kamu? tolong ambil beberapa helai rambut Erik," pinta Rama, membuat Kezia menatap bingung.
"Untuk apa?" tanya Kezia.
"Lakukan saja, sayang! nanti kamu juga akan tahu sendiri."
"Aku tidak akan melakukanya tanpa kamu jelaskan untuk apa kamu meminta rambut Erik. Aku butuh penjelasan, sayang."
Rama mencoba mengerti, mungkin Kezia bingung dengan maksud perminta'anya yang terkesan aneh. Tapi untuk saat ini Rama belum bisa menceritakan kondisi Dewi pada Kezia. Rencananya Rama akan membuat test DNA bayi yang di kandung Dewi dengan Erik, itupun membutuhkan beberapa helai rambut Erik.
"Tidak untuk saat ini, sayang! lakukan saja apa yang aku minta tadi. Setelah keluar hasilnya, aku janji akan menceritakan semua kepadamu. Apakah kamu mau? ini juga demi menggagalkan pernikahanmu dengan Erik."
Kezia hanya mendesah pelan namun tidak lagi membantah ucapan Rama. Yang harus ia lakukan saat ini adalah mencari cara agar bisa mendapatkan beberapa helai rambut Erik. Seperti yang Rama katakan padanya barusan.
"Baiklah, akan aku coba! tapi kamu janji akan menceritakanya kepadaku."
Rama mengangguk dan berjanji, di daratkanya ciuman hangat di kening Kezia, dalam posisi tubuh Rama memeluk tubuh Kezia. Aroma bunga lili tercium sangat harum di hidung Rama. Begitupun Kezia, mengendus-endus tubuh Rama yang aromanya sangat ia sukai semenjak hamil anak keduanya.
"Sayang, kamu kok wangi banget sih?" tanya Kezia yang masih dalam posisi mengendus tubuh Rama.
Rama mengernyikan dahi, mencerna ucapan Kezia bahwa tubuhnya beraroma wangi. Padahal Rama belum sempat mandi sepulang dari kantornya.
"Aku belum mandi padahal," ucap Rama masih merasa bingung.
"Justru karena kamu belum mandi, aku sangat suka aromamu."
__ADS_1
Rama terkekeh, semenjak hamil Kezia semakin bersikap aneh. Apa seperti ini sikap wanita jika sedang mengandung. Karena memang ini adalah pengalaman pertama Rama, melihat tingkah wanita hamil.
"Apakah tadi Erik menemuimu di kantor?"
"Ya, dan aku mengusirnya! karena dia datang tanpa membuat janji dan menuduhku tanpa bukti. Meskipun memang akulah yang mempersulit data pernikahan kalian."
"Tapi Erik tetap ingin menikahiku dengan cara nikah siri."
"Tidak akan bisa terjadi, Sayang! pernikahan siri tidak akan sah karena tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). Di tambah lagi kamu masih bersetatus janda. Apakah kamu sadar, bahwa surat perceraian kita masih berada di tanganku? tanpa surat itu kamu tidak akan bisa menikah dengan laki-laki lain termasuk Erik."
Kezia masih bingung dengan ucapan Rama, jujur saja Kezia tidak faham jika menyangkut nikah siri. Sekali lagi Rama mencoba menjelaskan kebingungan yang sedang Kezia rasakan.
"Sayang, pernikahan siri akan dinyatakan sah apabila mempelai perempuan bisa menunjukan surat cerai yang di dapatkan dari pengadilan agama setempat. Sedangkan surat cerai kita masih berada di tanganku. Dalam arti lain, kamu tidak bisa menunjukan surat cerai pada pengadilan agama dan baik kamu maupun Erik tidak akan bisa menikah. Untung saja surat perceraian kita masih aku simpan."
"Kok kamu tahu banyak, sayang?" ucap Kezia menatap kagum pada Rama.
"Karena aku pintar! untuk melumpuhkan musuh, kita harus mempelajari segalanya."
Rama mengajak Kezia untuk naik ke atas Ranjang. Menyandarkan kepalanya di bahu miliknya, memberi kesan nyaman pada Kezia. Rama siap mendengarkan semua cerita dan keluh kesah Kezia.
"Jadi, apakah tentang pernikahan sirimu dengan Erik, yang ingin kamu katakan tadi?"
"Berpura-puralah menerima tawaran Erik, dan berpura-puralah bahwa kamu sudah melupakanku. Hal ini bertujuan untuk melancarkan rencana kita ke depanya."
"Bagaimana mungkin aku bisa?" keluh Kezia.
"Kau pasti bisa! bukankah kamu dulu adalah wanita yang kuat? tunjukan bahwa kamu memang bisa. Aku akan memberi sedikit pelajaran pada pria pengecut seperti Erik.
"Kenapa kamu menyebutnya pengecut? memang apa yang dia lakukan dan yang kamu ketahui tentang dia?" tanya Kezia mendesak, hingga Ramapun keceplosan.
"Karena pria pengecut itu telam mengham_
Ucapan Rama mendadak terhenti ketika dirinya tersadar hampir saja keceplosan. Kezia tetap tidak mau tahu, Rama harus menceritakan padanya.
"Pulang sana! jika kamu tidak mau membagi ceritamu padaku."
"Sayang! kok aku di usir sih? aku baru datang padahal. Jangan marah, aku bingung bagaimana harus menceritakanya padamu. Aku takut kamu akan kaget setelah mendengarnya."
Tentu saja Rama takut menceritakanya pada Kezia, tentang kehamilan Dewi. Apa lagi Eriklah ayah dari bayi yang di kandung Dewi. Rama merutuki kebodohanya sendiri. Kenapa dia bisa keceplosan dan terpaksa harus menceritakan semua tentang Dewi pada Kezia.
Rama masih terdiam, bingung harus bahaimana cara menjelaskanya pada Kezia. Di tambah lagi Kezia masih terus mengancamnya agar pergi, jika tidak mau berbagi cerita padanya.
"Bagaimana, apa masih tidak mau bercerita padaku? atau kamu memang ingin pulang sekarang?"
"Oke! aku akan menceritakanya padamu tetapi kamu harus berjanji tidak akan kaget ataupun syok setelah mendengarnya.
Melihat Kezia mengangguk dengan yakin, membuat Rama mendesah pelan. Ternyata Kezia memang tidak main-main dengan ucapanya. Sekuat hati, Rama akan mencoba menceritakanya pada Kezia. Ingin menghindar pun sudah tidak bisa, karena Kezia sudah sangat menunggunya bicara.
"Akulah yang menyembunyikan Dewi selama ini, karena wanita itu kini dalam kondisi berbadan dua." ucapa Rama menceritakan.
Kedua mata Kezia langsung membola, setelah mendengarkan ucapan Rama. Kezia juga heran kenapa Rama harus menyembunyikan Dewi darinya dan semua.
"Apa dia sudah menikah? dengan siapa? kenapa dia tidak mengatakan alasan dirinya pergi. Jika alasanya untuk menikah, pasti aku akan mengizinkanya pergi."
"Tidak, Sayang! dia belum menikah dan ayah dari bayi yang Dewi kandung tidak mau mengakuinya."
"Apa? siapa laki-laki pengecut yang telah tega lari dari tanggung jawabnya?"
"Pria itu tak lain adalah Eduardo Erik, tunanganmu," ucap Rama, membuat Kezia semakin kaget dan tidak menyangka, lelaki seperti Erik ternyata tidak lain adalah seorang pengecut.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Akhirnya Kezia tahu ,,