
"Om ganteng kok ada di sini?"
Rama langsung mati kutu ketika Ethan memanggilnya dengan sebutan om ganteng. Sedangkan gurunya menatap penuh tanya kepada Rama. Akhirnya mau tidak mau, Ramapun mencari alasan.
"Maaf bu, Ethan memang selalu begini kalau manggil papanya. Maklum, saya jarang di rumah, keseringan pergi keluar kota untuk bisnis."
"Duh, tidak baik lo pak, jangan di biasakan Ethan memanggil papanya dengan sebutan om," nasehat dari guru itu, Ramapun hanya mengangguk dan berpamit pergi sambil menggandeng tangan mungil putranya. Namun Ethan membuat langkah Rama berhenti. Rama berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan putranya.
"Om mau bawa Ethan kemana?"
"Kita makan ice cream mau? Atau Ethan pengen beli apa? Om akan turutin semua mau Ethan."
"Tapi, kalau kak Dewi nyari'in Ethan, gaimana?"
Rama sudah mengatur semuanya, soal Dewi, Rama sudah menyuruh anak buahnya untuk mengatasinya. Rama juga berkata kepada Ethan, bahwa ia sudah meminta izin kepada Dewi. Ethanpun percaya, kini Rama bisa leluasa pergi bersama putranya
Kini ayah dan anak itu, sedang menikmati ice cream bersama. Rama tersenyum memperhatikan mulut putranya yang belepotan. Sesekali ia mengelap mulut Ethan menggunakan sapu tanganya.
"Emmmm yummy, ice creamnya enak! Makacih ya om, sudah ajak Ethan makan ice cream,"
Lagi-lagi Rama tersenyum mendengar celoteh putra kecilnya. Sesekali ia juga mengusap sudut matanya karena terharu. Bagaimanapun dia sangat menyayangkan waktu yang terbuang. Ia tidak tahu saat Kezia melewati sembilan bulan masa kehamilanya. Ia tidak pernah merasakan, menuruti saat Kezia ngidam. Ia tidak tahu saat hari kelahiran putranya. Melewatkan rasanya menggendong bayi mungil buah hatinya. Ia berjanji akan menebus semua waktu yang terbuang pada putranya.
"Ehmmm, Ethan! Apa Ethan tahu, papa dan mana Ethan kemana?"tanya Rama hati-hati
"Kata kak Dewi dan uncle, saat ini mama sedang sakit. Mama sedang berobat ke luar negeri. Kalu papa Ethan, kata kak Dewi, papa Ethan sedang di laut nangkapin ikan nimo."
"Hah, sejak kapan aku menjadi nelayan?" gumam Rama dalam hati sambil mengusap wajahnya, kemudian Rama mencoba bertanya kembali.
"Lalu, apa Ethan sudah melihat photo mama dan papa Ethan?"
"Di kamar Ethan, ada photo mama besar sekali.Tapi Ethan belum pernah melihat photo papa Ethan, om."
Benar dugaan Rama, mereka semua sengaja memisahkanya dengan putranya. Buktinya hanya sekedar potret dirinya saja, mereka tidak mau memberi tahu. Padahal dia berhak atas anaknya, dia adalah ayah kandungnya.
__ADS_1
"Brengsek kalian semua," gumamnya dalam hati sambil menggepalkan tanganya.
"Om, muka om bikin Ethan takut."
Rama langsung tersentak, saking emosinya ia sampai melupakan keberada'an putranya di depanya. Rama langsung merubah ekspresinya seimut mungkin, agar putranya tidak takut lagi melihatnya. Andai saja semua karyawanya melihatnya, pasti mereka akan kaget. Rama yang biasanya bersikap dan berwajah datar, bisa berubah imut di depan putranya.
"Emm, jika seandainya om adalah papa Ethan, apakah Ethan percaya?" tanya Rama hati-hati.
Walaupun terbilang gegabah, ia harus tetap memperkenalkan dirinya sebagai orang tua Ethan. Karena jika bukan dirinya sendiri yang memberitahu, maka selamanya Ethan tidak akan tahu bahwa Rama adalah papanya.
"Ethan tidak tahu om, tapi Ethan senang jika om ganteng adalah papa Ethan," jawab Ethan dengan bibir yang penuh ice cream.
Rama sendiri tidak menyangka dengan jawaban putranya.Tentang perasaanya saat ini, tentu saja dia merasa senang. Sampai-sampai ia tidak bisa lagi berkata-kata saking senangnya.
"Kalau begitu, mulai sekarang, maukah Ethan mengganti panggilan om menjadi papa, nak?"
"Tentu saja, papa," ucap Ethan dengan entengnya.
"Kok om nangis? apa Ethan nakal?" tanya Ethan dengan kepolosanya.
Rama menggeleng, dia belum mampu menjawab pertanyaan putranya. Yang dia bisa hanya menggeleng, mengangguk dan memeluk putranya. Seolah mereka sudah lama tidak bertemu. Walau kenyataanya memang mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Ethan, papa senang karena Ethan memanggil papa," ucap Rama memandang lekat wajah putranya. Yang di pandang menampilkan wajah imut dan polosnya. Pelan-pelan, Rama akan mengambil hati putranya. Kalau bisa, ia kan berusaha mengambil alih putranya. Rama lebih berhak atas putranya daripada Adrian.
Sedangkan di lain tempat, Dewi yang tadinya hendak menjemput Ethan, langsung di hadang dua orang berjas hitam. Dewi yang kagetpun merasa ketakutan. Di tambah lagi, dua orang di depanya bertubuh besar semua. Ketika Dewi akan berteriak minta tolong, salah satu di antara mereka memintanya diam.
"Tolong anda diam, kami tidak akan menyakiti anda."
"Si, siapa kalian berdua dan mau apa kalian menghadang saya?" tanya Dewi ketakutan.
"Kami hanya menjalankan perintah, mohon anda menunggu beberapa saat lagi," ucap mereka berdua.
"Tapi saya harus menjemput adik saya."
__ADS_1
Salah satu orang suruhan Rama, menjelaskan bahwa anak yang akan di jemput Dewi, sedang bersama Rama. Dewi langsung melebarkan bola matanya. Sebenarnya Dewi tahu bahwa Rama adalah papanya Ethan. Sejak pertama kali bertemu di pantai kuta, Dewi sudah menebaknya. Di lihat dari kemiripan wajah mereka berdua, siapapun akan tahu jika Rama adalah papanya Ethan. Tetapi Dewi pura-pura bersikap biasa saja, seolah ia tidak tahu apapun.
Saat ini Dewi di landa ketakutan dan kecemasan. Takut dan cemas jika Rama membawa Ethan pergi darinya. Takut dan cemas jika sampai Adrian mengetahui kejadian ini. Takut jika Rama tidak mengembalikan Ethan padanya. Lalu apa yang ia katakan kepada Adrian. Kepalanya serasa ingin pecah. Ia ingin sekali mencari keberadaan Rama dan Ethan. Namun ia tidak bisa lepas dari awasan dua orang suruhan Rama. Kecemasanya dan ketakutanya mereda ketika matanya melihat Ethan yang baru turun dari mobil. Anak itu melangkah sambil memegang erat tangan Rama. Dewi bisa bernafas lega ketika melihat keriangan pada putra majikanya.
"Kak Dewi," teriak Ethan memanggil Dewi
Dewi langsung berlari menghampiri Ethan lalu memeluk tubuh mungil anak majikanya. Rama melepaskan genggaman tanganya pada tangan mungil putranya. Rama menatap datar interaksi antara Dewi dan putranya. Di dalam fikiranya bertanya-tanya "siapa wanita ini? Dan kenapa selalu ada dia setiap kali Rama bertemu putranya.
"Ehmmm, maaf jika saya sudah diam-diam mengajak Ethan pergi," ucap Rama, Dewi langsung mendongak dan berdiri.
"Jika anda ingin menemui Ethan silahkan! Tetapi tolong kabari saya terlebih dahulu. Meskipun anda lebih berhak atas diri Ethan. Namun saya adalah pengasuhnya yang di amanati untuk menjaganya," ucap Dewi panjang lebar, Ramapun mengangguk. Kini tanpa bertanya, telah tahu siapa wanita di depanya.
"Di mana kalian tinggal, saya akan mengantar kalian," tawar Rama.
"Jangan pak, saya takut jika sampai pak Adrian tahu, dia akan marah pada saya," ucap Dewi melarang Rama.
"Jadi selama ini kau di bawah kendari Adrian?"
Rama berdecak kesal karena lagi-lagi Adrian yang menguasai putra dan pengasuhnya. Bagaimanapun caranya, Rama akan mengambil putranya. Dia sudah di pisahkan selama empat tahun atau bisa di bilang lima tahun semenjak di dalam perut Kezia. Rama tidak akan mau jika di pisahkan lagi dengan putranya. Cukup ia selama ini menderita karena kehilangan Kezia. Ia tidak akan membiarkan sampai Adrian memisahkanya dengan putranya.
"Kau tidak perlu takut dengan Adrian, kau tahu bahwa saya lebih berhak atas putra saya daripada Adrian. Jika Adrian menyakitimu, kabari saya secepatnya. Mulai hari ini, kamu harus patuh dengan perintah saya. Itupun jika kamu masih ingin hidup dengan tenang," ucap Rama memberi paksaan serta ancaman pada Dewi.
"Dan satu lagi, jangan beritahu tentang saya pada Adrian," ancam Rama sekali lagi. Dewi yang aslinya penakut hanya menganggukan kepalanya.
"Ethan, kamu pulang kerumah bersama kak Dewi, ya? Papa akan berusaha agar kita bisa bertemu lagi," pesan Rama pada putranya, sebelum ia memasuki mobilnya meninggalkan putranya dan pengasuhnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Yuhuuuuu!
Kira-kira apa yang akan di perbut Rama kedepanya?
Ada perang dunia ke sembilan, kayaknya 🤭
__ADS_1