
Di dalam sebuah apartemen seorang wanita sedang mondar mandir dengan kecemasanya terhadap seseorang. Vania begitu mencemaskan Dewi, hingga otak cantiknya tidak bisa berfikir apapun keculi meminta tolong bagas agar menghubungi Rama. Vania juga meminta bagas menghubungi Digo kekasihnya. Dia sangat butuh ketenangan dan ketenanganya ada pada Digo kekasihnya.
Saat ini Rama sedang fokus dengan pekerjaanya di kantor. Tumpukan dokument yang harus ia tanda tangani membuat kepala duda tampan itu berasa pecah saking pusingnya. Apa lagi terdengar panggilan telpon dari bagas yang membuat Rama mau tidak mau tetap mengangkatnya. Karena Bagas adalah kaki tanganya yang selalu memberinya kabar penting.
"Hallo! ada apa?"
"Pak Rama, nona Dewi hilang."
"Apa? bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang, pak! intinya ada seseorang yang membawanya pergi."
"Apa? bagaimana bisa ini terjadi, hah? apa kamu sudah memeriksa cctv?"
Bagas merasa dirinya begitu bodoh, bagimana bisa dia tidak kepikiran untuk mengecek cctv apartemen. Setelah menelpon Rama lah dia baru akan memeriksa rekaman ulang cctv.
Rama sampai menggeleng tidak percaya dengan keteledoran anak buahnya. Meskipun Rama belum tahu cerita yang sebenarnya. Rama segera menyelesaikan pekerja'anya dan selang setengah jam kemudian duda tampan itu keluar meninggalkan ruangan kantornya menuju apartemen Dewi.
Di apartemen Dewi sudah ada Digo yang sedang menenangkan kecemasan pada diri Vania. Sedangkan Bagaa masih mencari rekaman cctv mulai dari lobby apartemen hingga cctv di apartemen Dewi. Hingga bagas menemukan pelaku yang membawa pergi Dewi yang tidak lain adalah Erik.
Ketika Bagas hendak pergi untuk menemui Rama, ternyata bertepatan dengan Rama yang baru saja tiba di apartement Dewi. Terlihat wajah penuh kelelahan dan sedikit kekesalan di wajah Rama pada Bagas.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi, Gas?" tanya Rama dengan nada tingginya.
"Ram, ini salahku bukan salah bagas," sahut Vania.
"Apa maksudmu?" tanya Rama.
Bagas mendekat dan langsung memperlihatkan rekaman cctv dua tiga jam yang lalu. Di lihatnya Erik menarik Dewi secara paksa dan membawanya pergi. Rama mengumpat karena merasa kecolongan. Marah pun percuma, saat ini yang lebih tepat adalah mencari keberadaan Erik dan Dewi.
"Perintah orang-orang untuk berpencar mencari mereka. Dewi dalam bahaya, pria gila itu bisa saja menyakitinya dan juga bayi yang sedang Dewi kantung," perintah Rama.
Rama juga meminta pada Vania dan Digo agar tidak memberi tahu hal ini kepada Kezia. Rama tidak ingin kabar hilangnya Dewi mampu membuat Kezia kepikiran dan berimbas pada kesehatanya dan kandunganya.
"Sumpah aku nyesel banget! bodohnya aku tang kurang waspada," ucap Vania merasa bersalah.
"Sudah, sayang! jangan menyalahkan dirimu terus. Semua telah terjadi, kita berdoa dan berusaha mencari Dewi sampai ketemu, ya?" ucap Digo.
"Apa sebenarnya maunya laki-laki itu, jika ingin bertanggung jawab kenapa tidak langsung di nikahi saja Dewi. Kenapa harus membawa pergi dengan cara seperti ini," ucap Digo lagi.
"Sudah jelas dia berniat menyiksa Dewi, aku yakin itu," timpal Rama menggepalkan tanganya.
Rama harus lebih waspada, jika hari ini Dewi yang di bawa Erik pergi. Bisa jadi besok atau lusa, Erik akan membawa Kezia pergi.
Tak ingin semua yang ada di dalam fikiranya terjadi, Rama pun menyuruh Vania sementara ini menginap di kediaman Afsen dan menemani Kezia. Tentunya menunggu kondisi Vania membaik dari rasa bersalahnya pada Dewi.
Tentu saja Vania merasa bersalah, dia kurang waspada hingga Erik berhasil membiusnya lalu mengambil kartu aksesnya untuk masuk ke dalam apartemen Dewi.
"Aku mau pulang! aku akan menemani Kezia, tidak akan ku biarkan Erik menculik Kezia juga," ucap Vania.
__ADS_1
"Itu lebih baik dari pada kau terus-terusan seperti ini," ucap Rama.
Mereka bertiga keluar meninggalkan apartemen Dewi dan berpencar setelah sampai dilobby apartement. Vania akan langsung pergi ke kediaman Afsen menjaga adiknya. Digo dan Rama akan mencari cara untuk menemukan Dewi secara Cepat.
Hal yang paling berat bagi Vania saat ini adalah mencoba menutupi semua yang terjadi pada Dewi kepada Kezia. Entah Vania sanggup atau tidak menyembunyikan semua ini pada Kezia.
Di hirupnya udara dalam-dalam sebelum menemui Kezia. Setelanya Vania tersenyum manis untuk mencoba menutupi wajah cemasnya karena memikirkan Dewi.
Sebelum menuju ke kediaman Afsen, Vania menyempatkan diri untuk menjemput keponakanya . Vania tiba di sekolahan Ethan, bertepatan jam pulang sekolah telah tiba. Terlihat banyak anak-anak se uisia Ethan sedang di jemput orang tua mereka masing-masing. Entah kenapa melihat senyum keponakanya mampu membuat Vania sedikit lebih membaik. Sehingga Vania tidak perlu susah-susah untuk mengontrol dirinya ketika bertemu Kezia nanti.
"Tente Vania," teriak Ethan.
"Sayangnya tante sudah pulang, nak," ucap Vania memeluk Ethan.
"Kenapa tante Vania yang jemput? papa kemana?"
"Papa sedang kerja, sayang! tadi papa minta tante jemput kamu dan langsung ke rumah mamamu, apa kamu mau?"
"Yey, mau tante, Ethan kangen sama mama, te," jawabnya antusias.
Setelah melihat keantusiasan di wajah Ethan, Vania langsung mengajak keponakanya memasuki mobilnya. Vania tidak akan membuang-buang waktu karena dia harus menemani Kezia. Vania tidak ingin kecolongan lagi seperti yang barusan dia alami.
Mobil Vania memasuki kediaman Afsen, di lihatnya Kezia sedang membaca majalah di teras depan. Belum juga turun dari mobil, teriakan Ethan memanggil mamanya terdengar sangat nyaring di telinga Kezia.
Kezia langsung menutup majalahnya, dengan senyum yang sangat lebar ibu yang sedang hamil muda itu menyambut putra yang sangat ia rindukan. Ternyata Rama telah mengabulkan keinginanya untuk bertemu dengan putranya. Meskipun bukan Rama sendiri yang mengantarnya.
"Anak mama, sayang! kangen banget mama sama kamu, nak," ucap Kezia memeluk penuh sayang pada putra sulungnya.
"Mama, Ethan kangen banget sama mama, kenapa sih mama dan papa tidak tinggal serumah saja? kalau pisah gini, kan Ethan susah jadinya."
Mendengar ucapan dari keponakanya, tiba-tiba muncul ide di dalam otak cantik Vania.
"Ethan, kamu mau mama dan papa tinggal bareng, sayang?" tanya Vania.
"Mau, tan! Ethan mau banget," jawabnya antusias.
Kezia menatap penuh tanya pada kakaknya, apa rencana yang akan Vania katakan pada sepupunya. Kezia hanya menyimak sekaligus penasaran dengan kakaknya.
"Sini tante bisikin, biar tidak ada yang mendengar," ucap Vania.
"Memangnya kenapa kalau ada yang mendengar, tante?" tanya Ethan polos.
"Gak boleh ada yang tahu, karena ini rahasia supaya berhasil."
Ethan serius memperhatikan Vania, seolah rahasia yang tantenya katakan itu sangatlah penting. Sehingga membuat Ethan penasaran.
"Bilang sama eyang kakung, kalau kamu pinging mama dan papamu tinggal bersama. Tapi kamu bilangnya sambil nangis supaya di kabulkan oleh eyang kakung."
Kezia tidak menyangka kalau Vania bisa-bisanya mengajari hal yang di luar fikiranya. Dan lebih parahnya lagi, putranya dengan senang hati menyanggupinya. Asalkan mama dan papanya bisa bersatu, Ethan akan melakukanya.
__ADS_1
Dan benar saja, anak itu langsung berlari ke dalam rumah memanggil manggil eyang kakungnya. Vania menggeleng sambil tersenyum memandang keponakanya. Kezia memanggil Vania, bertanya apakah mungkin usaha putranya akan berhasil.
"Sudah tenang saja! si tua itu akan luluh dengan cucunya," ucap Vania.
"Huff, semoga saja, kak! menghadapu papa sangatlah sulit," sahutnya.
Kezia dan Vania ikut masuk ke dalam rumah, mereka akan diam-diam menguping pembahasan Ethan dengan eyang kakungnya.
"Eyang sedang apa?"
"Eh cucu eyang kesini siapa yang nganter?"
"Bareng tante Vania, tadi tante Vania yang jemput, Ethan."
Tuan Afsen meraih cucunya lalu memangkunya sambil memberi makan ikan pelihara'anya.
"Sini, biar Ethan yang kasih makan ikanya."
Tuan Afsen memberikan pakan ikanya kepada cucunya. Ethan mulai melakukan apa yang tantenya ajarkan tadi padanya.
"Eyang, Ethan sedih banget deh! kenapa ikan-ikan ini bisa bersama-sama mama dan papanya. Kenapa Ethan tidak bersma-sama mama dan papa, Ethan? Ethan sedih banget, eyang."
Niatnya hanya untuk memancing eyangnya, malah Ethan yang kebawa perasa'an oleh ucapanya sendiri. Anak itu menangis sesegukan membayangkan mama dan papanya tidak bisa bersama. Hingga tanpa sadar semua pakan ikan di tanganya tumpah semua ke dalam kolam.
Entah kenapa di sudut hati tuan Afsen terasa nyeri setelah mendengar ungkapan hati cucunya. Di usapnya air mata cucunya yang mengalir di pipi. Terlihat cucunya terlihat sangat sedih, sehingga membuat tuan Afsen merasa bersalah.
"Kenapa teman-teman Ethan, selalu di jemput mama dan papanya sepulang sekolah. Kenapa Ethan tidak bisa seperti mereka, Eyang?"
"Kapan Ethan bisa seperti teman-teman, Eyang?"
Tak bisa di pungkiri tuan Afsen pun mendadak di landa kebingungan. Apakah sikapnya salah? sehingga melukai cucunya. Padahal tuan Afsen hanya ingin menguji keseriusan Rama.
Sedangkan di balik pintu, Vania melihat Kezia menangis. Entah kenapa sudut hati Kezia juga terasa nyeri ketika menguping pembicaraan putranya dengan eyang kakungnya.
"Eyang, bantuin Ethan supaya mama dan papa bisa bersatu."
Vania mengulum senyum mendengar sepupunya yang sangat cerdas. Padahal yang dia ajarkan ke Ethan tadi bukan seperti yang dia dengar barusan. Bahkan ucapan Ethan terdengar di telinga Vania seperti dari lubuh hatinya yang terdalam.
"Sabar, nak! semua tergantung papamu, jika papamu mencintai mamamu dan ingin bersatu. Tentunya papamu harus memperjuangkan mamamu."
"Papa cinta dan sayang sama mama, kok! buktinya papa kalau tidur selalu meluk photo mama," ucapnya polos.
"Papamu memeluk photo mamamu saat tidur?" tanya tuan Afsen memastikan bahwa pendengaranya tidak salah.
"Iya, Eyang! bahkan papa selalu mengatakan pada Ethan, bahwa papa sangat cinta dan sayang sama mama."
Tuan Afsen tidak bisa berkutik jika menghadapi cucunya. Berbeda jika yang di hadapi saat ini adalah anaknya sendiri. Di mana-mana seorang kakeh selalu mengistimewakan cucunya di banding anaknya sendiri.
Seolah merasa bingung, tuan Afsen tidak bisa menjawap pertanyaan dari cucunya. Ethan tetap mendesak tuan Afsen untuk membantunya. Hingga mau tak mau tuan Afsen pun menyanggupinya. Tetapi setelah melihat perjuangan dari Rama untuk Kezia.
__ADS_1