Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kecurigaan Rama


__ADS_3

Dewi tidak bisa keluar dari kamar hotel, karena pakaianya sudah hancur di robek paksa oleh Erik. Dewi hanya mengenakan badroble untuk menutupi tubuhnya yang sudah tak berbentuk. Karena banyaknya tanda merah, hasil perbuatan Erik semalam.


Dewi terus menangis, merasakan dirinya yang telah hancur. Dari semalam, Dewi hanya berdiam diri dan menangis di dalam kamar mandi. Dia tidak memiliki keberanian ataupun tenaga, untuk keluar dari kamar mandi.


Tangisan memilukan, yang menyayata hati, bagi siapapun yang mendengarnya. Tak ada hentinya, Dewi menangisi dan menyesali, sesuatu yang telah terjadi pada dirinya.


"Mbak Zia! Maafin aku, mbak," ucap Dewi, lirih.


Di sisi lain,Erik yang mulai sadarkan diri, pengaruh alkohol membuat kepalanya terasa pusing. Ketika Erik membuka matanya, pandanganya menelusuri ruangan yang sangat asing baginya. Kepalanya pusing, mencoba mengingat, sesuatu yang terjadi padanya.


Dia menggeliat, membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ketika Erik membuka selimutnya, bola matanya langsung melebar, mendapati dirinya yang tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya.


Erik membuka semua selimutnya, dan melihat noda darah di seprei ranjang tidurnya. Erik semakin kaget, siapa gadis yang telah tidur denganya. Siapa gadis, yang ia ambil keperawananya.


Tak lama, Erik mendengar suara tangisan seorang wanita, dari dalam kamar mandi. Erik segera mengenakan pakaianya asal. Terdengar suara tangis yang sangat menyayat hati. Karena penasaran, Erik langsung membuka kamar mandi, dan mendapati Dewi, menangis di pojokan kamar mandi.


Erik menggeleng, merasa terkejut mendapati pengasuh putra tunanganya, berada di dalam kamar hotel yang sama denganya.


"Bukankah, kau adalah pengasuh, Ethan? Bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Erik.


"Jangan mendekat! Kumohon jangan mendekat, tuan," pinta Dewi, ketakutan.


"Jelaskan kepadaku! Apa yang terjadi semalam? Apa kau sengaja menjebakku?" tanya Erik, dengan tatapan penuh kemarahan.


"Tidak, tuan! Saya bersumpah, tidak punya niatan untuk menjebak, tuan Erik," jawab Dewi, gemetaran.


"Lalu, bagaimana kau dan aku, sekamar di hotel ini?" tanya Erik lagi dan lagi, mendesak Dewi untuk menjawab.


Sedangkan Dewi, masih merasa trauma dan ketakutan. Saking ketakutanya dan di tambah, semalaman, dia berdiam diri di kamar mandi. Dewipun akhirnya pingsan tidak sadarkan diri, karena rasa takutnya yang berlebihan.


Erik mengira Dewi hanya bersandiwara, nyatanya Dewi benar-benar pingsan.

__ADS_1


"Hei, bangun! Tidak usah bersandiwara," ucapnya.


Erik mencoba membangunkan Dewi, namun Dewi tidak juga bangun. Akhirnya, Erik menggendong tubuh dewi ke atas Ranjang.


Tubuh Dewi sangat dingin dan pucat, itu akibat semalaman, ia terlalu lama, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, di bawah shower. Untung saja, Erik adalah seorang dokter. Erik menganggap dirinya, bisa mengatasi Dewi, tanpa harus membawanya ke rumah sakit.


"Sial! Apa yang ku perbuat padanya," desis Erik, ketika melihat tanda merah, hasil karyanya, di leher jenjang milik Dewi.


Ternyata dugaanya salah, Dewi harus segera di bawa ke rumah sakit. Entah apa yang Erik perbuat semalam. Sehingga membuat Dewi seperti ini, bahkan Erik tidak bisa mengingatnya sama sekali.


"Ach, sial! Dia harus segera mendapat penanganan di rumah sakit."


Erik keluar dari kamar hotel, mencari orang yang bisa, ia mintai tolong. Erik meminta orang lain untuk membawa Dewi ke rumah sakit. Dia tidak ingin ada orang yang tahu, termasuk keluarga Afsen. Hal ini akan menjadi ancaman besar, untuk hubunganya dengan Kezia.


Sedangkan di rumah sakit saat ini, Rama dan Kezia, mencoba menghubungi Dewi. Dari semalam, pengasuh putra mereka, tidak ada kabar sama sekali. Nomernya, juga sulit di hubungi, membuat Rama dan Kezia merasa khawatir. Terutama Rama, takut jika Dewi tersesat. Karena baru pertama kali ini, Dewi tinggal di jakarta.


"Bagaiamana?masih belum ada kabar dari Dewi?" tanya Kezia.


"Ma, Pa! Dimana kak Dewi? Ethan belum melihat kak Dewi, sama sekali," tanya Ethan, yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Rama dan Kezia, langsung menghampiri putra mereka. Bahkan, Rama dan Kezia, sedang memikirkan alasan yang tepat, untuk menjawab pertanyaan putra mereka.


"Mungkin kak Dewi sedang sibuk, Sayang. Nanti, kalau kak Dewi tidak sibuk, pasti kak Dewi akan kesini, menemanimu," ucap Rama.


"Ethan, mamam dulu, Nak! Mama suapin Ethan, mau?" tawar Kezia.


"Mau, Ma," jawab Ethan, antusias.


"Tapi janji, kalau Mama yang nyuapin, mamamnya harus habis," pinta Kezia, sembaru mengacungkan jari kelingking dan di balas oleh putranya.


Melihat sang putra yang sangat bahagia, membuat Rama dan Kezia, juga ikut merasakan bahagia. Tak lama Adrian datang, menanyakan perihal keberadaan Dewi.

__ADS_1


"Kalian berdua, tahu dimana Dewi?" tanya Adrian.


Rama dan Kezia, segera memberi kode, agar Adrian tidak menanyakanya di depan Ethan. Tak ingin putranya curiga, Rama mengajak Adrian, keluar dari ruang inap, Ethan.


"Sayang! Papa dan Uncle, mau beli kopi di kantin. Ethan di sini, di temani Mama, habiskan makanmu, jagoan Papa," ucap Rama, beralasan.


Ethan mengajungkan jari jempolnya, pertanda mengizinkan. Rama tersenyum, mencium kening putranya, sebelum keluar ruangan. Moment sekecil itu, di saksikan Kezia dan juga Adrian.


Rama mengajak Adrian keluar dari ruangan inap, Ethan. Rama ingin membahas soal Dewi dan Erik yang juga tidak muncul dari kemarin siang.


"Aku sudah meminta orangku untuk mencari Dewi. Namun apakah kau tahu di mana, Erik saat ini?" tanya Rama.


Adrian baru tersadar, calon adik iparnya tidak pulang ke rumah, dari kemarin. Anehnya, hal ini bersama'an dengan menghilangnya Dewi. Tanpa Rama dan Adrian tahu, Erik saat ini berada di sebuah ruang inap, memastikan kondisi Dewi.


Untuk mencegah kecuriga'an, Erik mendatangi Kezia, di ruang inap Ethan. Rama dan Adrian, melihat orang yang baru saja mereka bicarakan, sedang berjalan menghampiri mereka.


"Dari mana saja, kau dari kemarin?" ucap Adrian, mengintrogasi Erik.


"Maaf! Aku menginap di hotel," jawab Erik, jujur, meskipun tak semuanya, ia katakan dengan jujur.


Adrian langsung percaya, lain halnya dengan Rama, yang memicingkan matanya, karena curiga. Entah kenapa, Rama merasa ada yang di tutupi Erik. Semua bisa Rama lihat, dari sikap dan nada bicaranya, yang kelihatan gugup. Tidak sesantai seperti biasanya, kali ini Erik terlihat aneh di mata Rama.


Karena kecuriga'anya, Rama meminta anak buahnya untuk menyelidiki tentang Erik. Rama tidak ingin terlewat dari semua berita tentang Erik. Saat ini, Erik menjadi targetnya, untuk di mata-matai.


Rama sengaja, mengorek informasi tentang Erik, untuk mencari hal buruk pada diri Erik. Semua Rama lakukan, demi menggagalkan pernikahan Erik dengan Kezia. Apapun akan Rama lakukan, demi bersatu kembali dengan Kezia. Karena bersatu dengan Kezia, adalah harapan terbesar putranya. Tentu saja, sekuat tenaga, Rama akan mengabulkan harapan putranya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


...Waduh, bahaya juga, si Rama...


Mampir di novelku yang ini juga, ya👇

__ADS_1



__ADS_2