Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Mengusirnya


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan kerja Rama masih nampak tegang, namun tidak setegang sebelumnya. Digo menyuruh Angela pergi, wanita itu sempat menolak. Namun setelah mendapati tatapan tajam dari mata elang Digo, Angela pun terpaksa pergi.


"Hei, kamu! Pergi dari sini," perintah Digo.


"Tidak! aku tidak mau pergi sebelum Rama bersedia menikahiku," timpalnya.


Anggela belum menyerah dan pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Rama lah sosok lelaki yang dia inginkan, selain tampan, body perfeck, dompet tebal, harta yang tidak akan habis sampai tujuh turunan. Wanita bodoh mana yang tidak menginginkan pendamping hidup seperti Rama. Meskipun cara mendapatkanya dengan merebut milik orang lain. Karena yang namanya pelakor akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya.


Angela masih berdiri dan enggan beranjak pergi. Membuat Digo menatap tajam pada Anggela dengan mata elangnya.


"Keluar sekarang juga atau aku akan memanggilkan satpam untuk mengusirmu?" bentak Digo, membuat Anggela kaget lalu menghantakan kakinya kesal.


Kemudian wanita itu mengambil tasnya yang dia letakan di atas sofa sembari berkata "Ingat Rama, kamu harus menikahiku sebelum photo-photo kita di sebar luaskan ke media sosial dan aku tidak akan menyerah semudah itu," teriak Angela melangkah pergi meninggalkan ruangan Rama.


Rama berjongkok bertumpu pada kedua lututnya, kepalanya sangat pusing. Digo mendekati sahabatnya lalu dia mengulurkan tanganya meminta agar Rama berdiri. Bukanya menerima uluran tangan sahabatnya, Rama malah mengibaskan tanganya ke udara.


"Bangun, Rama! lihatlah ruangan kerjamu sangat berantakan, berkas-berkas berserakan. Lihatlah, sudah persis seperti kandang ayam," ucap Digo.


"Brengsek, kenapa kamu suruh pergi wanita itu? bagaimana jika ucapanya serius dan photo-photokh bersamanya di sebarkan ke seluruh media? bisa hancur semuanya, Digo," teriak Rama, protes.


"Jangan bodoh! bukankah kamu sudah memiliki senjata?"


"Maksudmu apa?" tanya Rama bingung.


Jari telunjuk Digo menunjuk lurus cctv dan alat rekam tersembunyi di pojok ruangan. Bodohnya Angela yang mudah terpancing tanpa memastikan omonganya.


"Maksudmu apa? sumpah aku tidak faham," ujarnya.

__ADS_1


Ternyata hanya karena masalah ini bisa membuat Rama mendadak bodoh. Bagaimana Rama tidak sadar jika di ruangan kerjanya ada cctv. Mungkin karena sangking pusingnya pada masalahnya, membuat otak pintar Rama terganggu.


"Jangan bodoh! lihat di pojokan sana ada cctv, di sebelah sana ada alat perekam. Bahkan semua benda-benda itu, kamu sendiri yang memasangnya. Bagaimana bisa kamu lupa pada dengan alat-alat secanggih itu padahal kamu sendiri yang memasangnya."


Rama menghela nafas, sembari memukuli tembok di depanya. Otaknya saat ini tidak bisa berfungsi, sehingga Rama ingin pulang dan beristirahat kembali. Berharap setelah istirahat, fikiranya akan kembali normal.


Rama berdiri menyambar jas kerjanya, lalu keluar dari ruanganya meninggalkan Digo yang hanya memandang heran sahabatnya. Ingin rasanya Digo mencaci maki sahabatnya itu. Namun dia urungkan mengingat sahabatnya tidak sedang baik-baik saja.


Saat di luar ruangan, langkah Rama berhenti di depan meja sekertarisnya. Ranti sudah merasakan filing yang tidak enak. Ternyata filingnya sangat benar dan seperti yang dia tebak barusan.


"Ranti! tolong rapikan kembali ruangan saya, saya akan pulang karena kurang enak badan. Oh ya, tolong cetak ulang semua berkas-berkas yang kotor dan rusak," perintah Rama sebelum beranjak pergi. Rama masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusaha'an.


Lift terbuka, Rama keluar dari lift menuju mobilnya yang berada di basement. Rama langsung memasuki mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju kediamanya.


Ranti mengomel tidak jelas, karena harus membuat ulang berkas-berkas yang susah payah dia kerjakan, tadi. Dengan sangat terpaksa, tanpa menunda dan membuang-buang waktu, Ranti segera memasuki ruang kerja Rama. Ranti berpapasan dengan Digo yang baru saja keluar dari ruangan Rama.


"Ya pak, saya memakluminya," ucap Ranti tersenyum, padahal di dalam hati Ranti sedang mengomel tidak jelas karena sangking kesalnya.


Berkas-berkas yang tadinya tersusun rapi di atas meja kerja Rama, kini berserakan di lantai. Bahkan ada sebagian yang robek dan kotor. Ranti sekretaris Rama, mendengus kesal karena harus mengerjakan ulang berkas-berkas yang telah di rusakan atasanya.


Setelah kepergian Digo, Ranti memunguti satu per satu berkas yang berserakan di lantai. Kepalanya menggeleng, bibirnya berdecak kesal karena hampir 70% berkas di hadapanya telah rusak. Dengan sangat terpaksa Ranti segera membersihkanya.


Setelah memastikan ruangan kerja atasanya telah rapi kembali, Ranti beranjak keluar untuk mengerjakan ulang berkas-berkas yang telah rusak dan kotor. Karena lusa berkas-berkas itu akan sangat penting untuk bahan meetingnya.


Ranti terpaksa harus lembur malam ini, karena jika tidak, maka pekerja'anya akan semakin menumpuk besok. Kebetulan ada Adrian yang datang ke kantor Rama. Sayangnya yang Adrian cari orangnya sudah pulang.


"Ehm, apa Rama ada di dalam?" tanya Adrian memandang Ranti yang terlalu fokus pada pekerja'anya sehingga tidak sadar ada orang berdiri di depanya.

__ADS_1


"Eh, pak Adrian! selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ranti sopan.


"Apa Rama ada di ruanganya?" tanyanya sekali lagi.


"Pak Rama sudah pukang dari tadi, pak," jawabnya.


Adrian mengangguk kemudian merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Ia hendak menghubungi Rama, namun matanya melirik kembali sekretaris Rama yang kembali fokus pada pekerja'anya.


"Lantas kenapa kamu masih kerja jam segini? Ini sudah sore dan kamu masih bekerja?" tanya Adrian.


"Saya harus mengerjakan ulang berkas-berkas yang telah di rusak pak Rama karena tadi pak Rama ngamuk-ngamuk tidak jelas, pak," ucap Ranti tanpa memandang Adrian. Matanya lurus meluhat ke arah monitor yang masih menyala dengan file-file yang hampir saja selesai.


"Ngamuk? ngamuk kenapa?" tanya Adrian heran dan fikiranya di penuhi tanda tanya.


"Tadi ada wanita cantik dan seksi, menemui pak Rama. Karena wanita itulah, pak Rama kumat ngamuk-ngamuk dan saya yang kena imbasnya," jawab Ranti sambil ngomel-ngomel membuat Adrian menahan tawa bercampur penasaran pada sosok wanita cantik seperti yang di ucapkan Ranti barusan.


"Siapa wanita itu, Ran?" tanyanya penasaran.


Ranti menggelengkan kepala tanda dia tidak tahu, karena baru pertama kali wanita itu datang ke kantor Rama. Melihat Ranti menggeleng,membuat Adrian semakin penasaran.


"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu, jangan pulang malam-malam karena di pojokan lift ada penunggunya," ucap Adrian menakut-nakuti.


"Percuma anda menakut-nakuti saya, pak! karena saya tidak takut dengan setan. Menghadapi manusia setengah setan saja saya sanggup, apa lagi setan sungguhan," ucap Ranti yang matanya masih fokus melihat layar laptopnya.


Adrian tertawa mendengar ucapan Ranti, ternyata sia-sia dia menakut-nakuti sekretaris Rama. Adrian memutuskan untuk pergi, meninggalkan Ranti yang sibuk dan tidak bisa di ganggu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Sabar, ya! ujianya masih panjang


__ADS_2