
Kezia bermesra'an berdua dengan Rama di kamarnya. Mereka saling memuji bakat acting satu sama lain yang terlihat sangat natural. Sesekali tertawa ketika mengingat-ingat kembali acting-acting mereka tadi.
Bagaimana bisa Rama berakting dengan kata-kata yang terdengar begitu nyata. Mungkin jika Kezia tidak mengetahui rencananya, sudah pasti Kezia akan menangisinya atau mungkin mendadak pingsan.
"Perasa'an kamu dulu terkenal karena menjadi brand ambassador cosmetic, bukan menjadi artis yang ikutan main film. Tetapi kenapa kamu bisa acting semulus tadi, sayang?" tanya Rama.
"Itu karena kamu, sayang! karena kamu juga berakting sangat mukus. Aku hanya mengimbangi actingmu saja," jawab Kezia.
"Kau ingat yang di ucapkan Erik tadi? dia mengataiku laki-laki pengecut. Rasanya aku ingin menertawainya saat itu juga. Bukankah julukan laki-laki pengecut lebih pantas untuknya?"
Kezia ikut terkekeh mengingat ucapan Erik tadi, saat mengatai Rama sebagai laki-laki pengecut.
"Tapi tidak masalah! sebentar lagi dia akan melihat cerminan dirinya sendiri sebagai laki-laki pengecut. Mungkin saat ini dia tidak akan mengakui perbuatanya karena dia pengecut. Jenis laki-laki tidak bertanggung jawab seperti Erik, dari awal sudah bisa kebaca dari sikap pengecutnya terhadap Dewi " ucap Rama tersenyum.
"Tapi yang tadi beneran berkas palsu, kan? takutnya jika itu adalah berkas asli perceraian kita dulu."
"Jangan kawatir! yang asli masih ku simpan dengan sangat baik dan di tempat yang sangat aman," timpal Rama.
Kezia mengangguk, tiba-tiba Kezia teringat putra sulungnya, Ethan. Kezia sangat merindukan putranya, dia ingin bertemu dengan putranya, namun bagaimana caranya.
"Aku ingin bertemu Ethan, putra kita! tetapi bagaimana caranya?" tanya Kezia.
"Tenanglah, besok aku akan menyuruh bagas atau meminta tolong Vania, agar mengantarkanya kemari."
"Aku harus pergi, sayang! sebentar lagi Ethan pulang sekolah, aku harus menjemputnya. Baik-baik di sini, titip dirimu dan calon bayi kita," pesan Rama mencium perut Kezia yang sedikit membuncit sebelum dia keluar melewati jendela kamar Kezia.
Memandang ketika Rama melompati jendela kamarnya. Membuat Kezia tiba-tiba membayangkan tokoh ninja di Jepang yang sama persis dengan tingkah Rama barusan.
Sedangkan di tempat lain yaitu di rumah sakit, Vania menyuruh Dewi agar duduk di kursi roda. Bahkan Vania menyuruh Dewi untuk memakai cadar. Hal ini Vania lakukan untuk melindungi Dewi dari orang-orang suruhan Erik yang akan membahayakan Dewi.
Vania mendorong kursi roda yang diduduki Dewi dengan kecepatan sedang. Sesekali matanya melirik kanan kiri hanya untuk memastikan saat ini adalah waktu yang aman bagi keduanya.
Hingga sampaialah di lobby rumah sakit, di sana Bagas baru saja tiba. Bagas langsung mengambil alih kursi roda dan membantu Dewi masuk ke dalam mobil. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat mereka dari kejauhan.
"Tolong antar dia kembali ke apartemenya, aku tidak bisa ikut dengan kalian, aku harus pulang," ucap Vania.
"Terimakasih atas bantuanya mbak Vania dan maaf jika aku selalu merepotkan mbak Vania akhir-akhir ini," ucap Dewi tulus.
"Sudahlah! yang penting kamu baik-baik saja dan jang lupa segera kabari aku, Rama, ataupun Bagas jika terjadi sesuatu padamu."
Dewi mengangguk, tak lama mobil pun telah melaju menuju apartemen Dewi. Meskipun terasa sangat jenuh dan sepi. Tidak ada pilihan lain karena di sanalah tempat teraman baginya dan juga bayi di dalam kandunganya.
Tes DNA pun telah ia lakukan, hampir semua perintah Rama telah ia lakukan. Tinggal selangkah lagi yang harus Dewi lakukan. Yaitu menggagalkan pernikahan Erik dan Kezia dan menggantinya menjadi dirinya yang akan menikah dengan Erik.
Bahkan Vania tadi sewaktu di kamar rawat inap, berkata kepada Dewi. Bahwa Vania akan mengajari Kezia untuk menggantikan berkas pernikahanya menjadi berkas milik Dewi. Menggantikan nama Kezia menjadi nama Dewi. Seperti halnya yang pernah dulu ia lakukan kepada Kezia. Menggantikan namanya menjadi nama Kezia di daftar pernikahanya.
Kini sebentar lagi, cerita penggantin pengganti akan di alami juga oleh Dewi. Jika dulu Kezia menggantikan posisi Vania karena masih mencintai Rama dan juga jebakan dari Vania. Berbed dengan Dewi, wanita itu terpaksa melakukanya demi masa depan bayinya. Terpaksa menikah karena accident malam laknat yang telah menghancurkan hidup dan masa depanya.
Meskipun Dewi belum siap, dia tetap berusahamenyiapkan hati dan dirinya. Selain itu ini semua ia lakukan demi membantu Kezia terlepas dari jeratan Erik. Juga demi bersatunya kembali Rama dan Kezia. Dua orang baik yang selalu melindungi dan menolongnya.
Meskipun Dewi sudah bisa menebak hal yang akan terjadi setelah menikah dengan Erik nanti. Jangankan bermimpi mendapatkan kebahagiaan jika menikah dengan pria yang membuatnya hamil. Masih mampu bernafas pun Dewi sudah sangat bersyukur.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, Bagas tidak masuk ke dalam, dia langsung pergi meninggalkan Dewi sendiri di dalam apartemen. Wanita itu berjalan dan berhenti di depan cermin besar lalu melihat pantulan dirinya di cermin.
Perutnya yang telah membuncit akan semakin membesar dari hari ke hari hingga waktu persalinan itu tiba.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan selalu dekat dengan papamu. Semoga papamu bisa menerima keberada'an kita. Jikapun papamu tidak mau menerima kita, masih ada mama yang akan selalu melindungimu. Kita sama-sama saling menguatkan, mama pun akan berusaha tetap kuat demi kamu," ucap Dewi kepada si calon bayi di dalam perutnya.
Sudut bibirnya tersenyum, seolah dia merasakan jika bayinya sedang meresponya. Meskipun hanya halusinasi Dewi saja, namun mampu membuatnya terlihat bahagia.
Ini bukan soal cintanya yang membara kepada Erik. Malahan di hati Dewi sama sekali tiada cinta untuk Erik. Begitupun dengan Erik, yang hanya menencintai Kezia. Sudah bisa di tebak pernikahanya dengan Erik akan seperti apa nantinya jika memang terjadi.
Belum lagi kedua orang tua Dewi masih belum mengetahui fakta tentangnya. Entah sampai kapan Dewi akan menutupi aibnya kepada keluarganya. Tidak mungkin juga Dewi pulang ke kampung halamanya dengan kondisi sedang berbadan dua.
Karena Dewi tidak ingin membuat keluarganya menanggung malu atas perbuatanya. Keluarganya akan menjadi gunjingan para warga di sekitarnya hanya karena dirinya yang hamil di luar nikah. Karena kehidupan di kampung sangat berbeda dengan kehidupan di kota. Di kampung halaman Dewi, setiap ada kejadian pasti akan di jadikan bahan ghibah warga. Berbeda dengan kehidupan di kota yang mayoritas orangnya sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Kecuali orang-orang terdekat saja yang akan peduli dengan nasip kita.
Berbicara kehidupan di kampung dan di kota, Dewi juga belum tahu kehidupan di luar negeri. Karena pada dasarnya ayah dari bayinya berasal dari Singapura. Negara yang sama sekali belum pernah Dewi datangi dan tidak tahu bagaimana kehidupan orang-orang di sana pada umumnya.
~\`•\`~\`•\`~\`•\`~\`•\`~\`•\`~
Vania sempat mampir di kediaman Afsen, hanya untuk melihat kondisi Kezia sekaligus memata-matai gerak gerik Erik. Baru juga turun dari mobilnya dan berjalan beberapa langkah. Wanita cantik itu langsung di hadang Adrian kakaknya.
Ternyata orang yang sempat memergoki Vania di rumah sakit tadi adalah Adrian. Entah apa yang sedang Adrian lakukan di rumah sakit. Yang jelas laki-laki tertampan di kediaman Afsen itu menaruh banyak pertanya'an dan kecuriga'an ke pada adiknya Vania. Hal itu karena Adrian juga sempat melihat sosok wanita familiar yang naik kursi roda. Karena wajahnya tertutupi masker dan kerudung hitam, membuat Adrian tidak bisa mengenalinya. Namun di lubuk hatinya paling dalam, wanita itu sangat familiar baginya.
"Ada apa, sih? minggir gak?"
"Dari mana kamu, Vania?"
Adrian mencekal pergelangan tangan adiknya, dia tidak akan melepaskanya sebelum Vania menjawab pertanya'anya.
"Jawab pertanya'anku, Vania? dari mana kamu?"
"Dari apartemenku lah, memangnya dari mana lagi?"
"Bohong! aku melihatmu di rumah sakit bersama seorang wanita dan kaki tangan Rama. Siapa wanita itu? kenapa rasanya tidak asing bagiku?"
Adrian tetap mengintrogasi Vania, hingga adiknya itu benar-benar mau terbuka denganya. Meskipun sulit karena Vania sangat berbeda dengan Kezia. Vania lebih keras dan tidak pernah takut dengan ancaman dari siapapun.
Vania langsung bungkam setelah mendengar ucapan kakaknya. Fikiranya langsung mencari-cari alasan yang tepat agar bisa membuat Adrian percaya padanya. Namun yang membuat Adrian curiga adalah keberada'an Bagas yang Adrian tahu adalah orang kepercaya'an Rama.
"Dia_
"Dia siapa, Vania?"
"Dia pacarnya si Bagas! kemarin aku tidak sengaja menabraknya hingga harus di larikan ke rumah sakit. Aku juga tidak tahu ternyata wanita yang ku tambrak itu adalah pacarnya Bagas," jawab Vania sembari menyembunyikan kegugupanya karena berbohong.
"Jadi begitu? kenapa dia sangat familiar bagiku?
"Ya mana aku tahu, mungkin teman sekolahmu atau kebetulan kalian pernah ketemu kali. Lepasin, aku kesini ingin bertemu Kezia, bukan untuk kamu introgasi, Adrian."
Adrian akhirnya melepas cekalan tangannya di pergelangan tangan Vania. Percuma menghadapi adiknya yang satu itu. Vania memang tidak suka di paksa ataupun di sakiti oleh orang di sekitarnya. Karena dia pasti memberontak atau kalau tidak pasti dia akan membalas.
Bisa terlepas dari cekalan tangan Adrian, membuat Vania bernafas lega. Dia langsung melangkah menuju kamar adiknya, karena Vania yakin Kezia pasti berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Zia, apa kamu di dalam, dek? ini aku, Vania."
Tak menunggu lama, Kezia langsung membuka pintu kamarnya. Betapa senangnya Kezia melihat Vania datang menemuinya. Vania datang menemuinya pasti membawa kabar terbaru tentang rencana mereka.
Vania langsung memeluk tubuh adiknya yang sedikit lebih berisi karena faktor kehamilanya. Kezia mengajak kakaknya masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintunya.
"Zia, apa si pengecut belum kelar ngurus data-data pernikahan kalian?"
"Maksud kakak, Erik?"
"Ya, siapa lagi laki-laki pengecut selain dia, Zia."
"Sepertinya sudah kelar, kak! tadi dia sempat memberiku kabar. Memangnya kenapa, kak? ada masalah lagi?"
"Enggak, sih! cuma tadi kakak kita yang bodoh itu memergokiku saat menjemput Dewi di rumah sakit. Dan parahnya lagi, si bodoh Adrian melihat Bagas juga."
"Apa? terus kalian ketahuan?"
"Tenang! semua aman, untung saja tadi aku menyuruh Dewi menutupi kepalanya dengan selendang hitam dan wajahnya tertutup masker. Jadi ketika si bodoh Adrian ngintrogasi aku_
"Apa? kak Adrian ngintrogasi kak Vania gimana?"
"Makanya kamu diem dulu, jangan selalu motong ceritaku. Jadi untung saja aku tidak kehabisan akal. Aku bilang saja kalau wanita itu adalah pacar Bagas yang tidak sengajaku tabrak dan harus di rawat di rumah sakit.
"Huff, untung saja, kak! hampir lepas jantungku tadi. Bisa berantakan jika sampai kak Adrian tahu bahwa wanita itu adalah Dewi."
"Haha, tenang, si bodoh Adrian akan tetap percaya dengan ucapanku. Karena kakak kita itu memang bodoh dan semakin mudah di bodohi."
Vania tertawa renyah setelah mengatai Adrian bodoh. Memang bagi Vania, kakaknya yang satu itu memang bodoh. Di manfaatkan Erik dia percaya begitu saja. Di bohongi Vania, Adrian juga percaya begitu saja. Vania memang tidak salah menjuluki kakaknya adalah pria bodoh.
Kezia juga ikut tertawa, ternyata dua adik perempuan Adrian kompak meng gibahinya. Meskipun awalnya Kezia tidak ingin mengatai Adrian bodoh. Karena Adrian lebih percaya pada Erik, membuat Kezia tidak tanggung-tanggung juga mengatai Adrian bodoh.
"Tapi kak, apa rencana kita tidak akan membahayakan Dewi dan bayinya nanti?"
"Memangnya kenapa? Dewi nya saja setuju."
"Masalahnya jika sampai Dewi jadi menggantikanku menikah dengan Erik, bagaimana nasipnya setelahnya? aku takut Erik akan menyakitinya, kak."
"Lalu gimana? jadi kamu ingin melanjutkan menikah dengan si pengecut itu? kuta cukup membantu dasar-dasarnya saja, tidak untuk mengurusi kedepanya. Yakin saja, Dewi akan baik-baik saja. Dia pasti mengabari kita, jikalau Erik menyakitinya. Jadi kamu tenang saja, jalani prosesnya dan nikmati hasilnya nanti."
"Semoga saja, kak! semoga lambat laun Erik dan keluarganya bisa menerima kehadiran Dewi. Lalu bagaimana dengan keluarga Dewi? apa kalian sudah mengabari mereka?"
"Menurut info dari Bagas, Dewi hanya memiliki ibu dan satu orang kakak perempuan. Jadi dia tidak mempunyai wali nikah dan bisa di ganti dengan wali hakim. Untuk soal mengabari atau tidak mengabari ibu dan kakaknya, biarlah Dewi sendiri yang memutuskanya."
"Kak Vania benar! lalu apakah hasil tes DNA nya sudah keluar?"
"Sudah! dan hasilnya positive, bayi yang di kandung Dewi seratus persen cocok dengan Erik. Yang berarti bayi itu benar-benar benih dari di pengecut itu."
Kezia mendengus kesal, bukan kesal karena kecewa. Lebih pada sikap pengecut Erik, yang membuang Dewi begitu saja setelah menghancurkanya. Ibarat lebah yang baru saja menghisap sarinya dan kemudian di biarkan begitu saja.
Kezia hanya berharap, semoga Dewi mendapatkan keadilan dan pertanggung jawaban dari Erik. Semoga rencananya bersama Rama dan Vania bisa berhasil. Terlepas dari itu semua, sejujurnya Kezia masih penasaran dan deg-degan dengan hasil dari rencana mereka.
__ADS_1
Di lain hal, keluarga Eduardo Erik termasuk keluaga terpandang yang menomer satujan pendidikan dan karir di keluarganya. Kezia juga kawatir jika orang tua Erik tidak bisa menerima Dewi yang notabenya hanya bekerja sebagai pengasuh anak atau lebih tepatnya baby sister.