Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Conferensi pers


__ADS_3

Akhirnya yang di inginkan Rama pun terjadi, hari ini adalah hari konferensi pers yang di gelar di sebuah gedung besar yang telah Rama siapkan dari kemarin. Tepatnya pukul dua sore acara konferensi pers itu di mulai.


Rama sengaja menyiapkan gedung yang sangat luas agar media masa datang dan meliput dengan harapan berita akan disiarkan seluas-luasnya. Publikasi informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan khalayak sasaran atas berita kebohongan yang di sebarkan Erik dan juga Angela.


Angela sudah ketar ketir melihat banyaknya grombolan awak media yang berada di hadapanya. Sedangkan Rama tetap bersikap santai meskipun sejatinya ia merasa risik berada di tengah-tengah lautan manusia yang berfokus ke arahnya.


Rama mulai berdiri dan memegang microphonenya, semua orang bersiap-siap untuk mengambil photo serta vidio yang akan di liput di berbagai media.


"Ehmm! selamat siang semua yang berada di sini tanpa terkecuali. Saya Rama Asher akan menjawab perihal tersebarnya vidio serta photo yang di duga adalah saya dan juga wanita di samping saya ini. Dengan jelas saya sampaikan bahwa photo dan vidio yang tersebar adalah sebuah jebakan dari saingan bisnis saya," ucap Rama, sengaja tidak menyebutkan nama Erik.


Suasanya menjadi lebih gaduh setelah mendengar pernyata'an dari Rama. Bahkan para wartawan sudah bersiap-siap ingin melontarkan berbagai pertanya'an kepada Rama.


"Ada waktunya sesi tanya jawab, saya harap semua tenang dan tolong simak penjelasan dari wanita di samping saya ini," pinta Rama.


Angela mengambil microphone dengan jemari tanganya yang bergetar. Hari ini akan menjadi hari bersejarah baginya. Karena hari ini Angela akan di hujat dan di permalukan di seluruh dunia.


"Selamat siang, nama saya Angela, di sini saya ingin mengakui kesalahan saya yang telah menjebak Rama Asher. Ada seseorang yang menyuruh saya untuk menjebak Rama Asher. Jadi photo dan vidio yang beredar hanyalah rekayasa belaka," beber Angela, membuat wartawan makin gencar ingin bertanya.


Angela langsung meneguk sebotol minuman di depanya hingga tandas saking gugupnya. Ini sudah pilihan dari masalah yang telah ia ciptakan. Hidup terkurung menjadi tawanan Rama atau hidup penuh cacian atas ulahnya sendiri.


Semua wartawan berebut ingin melontarkan berbagai pertanyaan masing-masing. Namun mereka harus bergantian bertanya. Sampai akhirnya Bagas meminta para wartawa mengumpulkan berbagai pertanya'an mereka di selembar kertas yang akan Bagas bacakan. Sehingga tanpa menciptakan kegaduhan, para wartawan bisa gokus merekam vidio dari konferensi pers itu.


"Nona Angela, atas dasar apa anda menjebak Rama Asher?"


Pertanya'an pertama dari salah satu wartawan yang di bacakan oleh Bagas. Angela menarik nafas dalam-dalam lalu menceritakan semua kebenaranya. Hingga semua pertanya'an terjawab dan akhirnya Rama menutup konferensi pers tersebut.

__ADS_1


Sebelum Rama menutup conferensi persnya tadi, Rama sempat mengancam Erik di depan publik. Jika Erik tetap berulah dan mengganggu kehidupan pribadinya, Rama tidak segan-segan akan meretnya ke ranah hukum.


Rama meninggalkan lokasi lebih dulu dengan perasa'an lega. Sedangkan Angela sudah di urus oleh para anak buah Rama.


Rama tersenyum, berharap Kezia menyaksikan siaran langsung di televisi dan mau memafkan dan menerima kembali.


Sedangkan Erik murka, menyaksikan live konferensi pers antara Rama dan Angela di negeri sebrang. Hingga tanpa sadar dia menggebrak meja di ruang tempat Dewi di rawat di rumah sakit. Untung saja sampai saat ini Dewi belum sadarkan diri paska accident bunuh dirinya kemarin.


"Wanita sialan! sudah ku bayar mahal-maha, berani beraninya dia membongkar semuanya di depan public."


"Aku gak akan menyerah! ini belum berakhir, Rama."


Terdengar suara dari sisi kanan Erik yang ternyata Dewi baru saja sadarkan diri. Dewi memegangi kepalanya yang terasa pusing. Mungkin karena terlalu lama tidur atau mungkin effek obat yang di suntikan dokter ke dalam tubuhnya.


Erik melangkah cepat menuju ke brangkar tempat Dewi berbaring. Dewi tersentak ketika ada tangan yang memegang tanganya. Seketika Dewi membuka matanya dan melihat suaminya berada tepat di sampingnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan padaku?" reflek Dewi ketakutan sangking kagetnya.


"Dewi, kamu sudah sadar? di mana yang sakit? apakah perutmu masih sakit?" tanya Erik nampak menghawatirkan Dewi.


Dewi teringat aksi bunuh dirinya kemarin, hal bodoh yang dia lakukan seumur hidupnya. Tetapi Dewi menyesali, tindakan bodohnya tidak membuahkan hasil. Nyatanya dia masih hidup dan masih berada di samping Erik, lelaki yang tak ingin ia lihat saat ini.


"Kenapa kamu bawa aku ke rumah sakit? kenapa kamu tidak mbiarkan aku mati saja, tuan?"


"Husss! jangan berkata ngawur kamu, kamu tidak boleh mati," ucap Erik menimbulkan satu pertanya'an pada diri Dewi.

__ADS_1


"Kenapa? kenapa aku tidak boleh mati saja? belum puas kamu mengurungku di dalam neraka yang kamh ciptakan ini?" protes Dewi sembari menangis.


"Husss! kamu tenang dulu, ya? kamu baru saja sadar, jangan marah-marah, ya?" pinta Erik mencoba menenangkan Dewi.


"Aku ingin mati! hidupku tidak berguna, aku lelah, aku ingin mati saja."


Erik langsung membawa Dewi dalam dekapanya, membuat Dewi yang belum siap pun di buat kaget. Dewi meronta rota minta untuk segera di lepaskan. Entah angin apa yang membuat Erik memeluk Dewi dan itu terasa sangat aneh. Karena ini kali pertama Erik memeluk Dewi. Apakah Erik hanya merasa bersalah atau karena ada hal lain.


"Lepaskan, aku," pinta Dewi.


Akhirnya Erik melepaskan pelukanya, karena tidak ingin membuat Dewi merasa ketakutan. Sedangkan Erik sebenarnya merasa tidak rela melepaskan tubuh Dewi dalam pelukanya.


Entah kenapa Erik merasakan getaran di dadanya yang cukup hebat. Erik sendiri tidak bisa mengartikanya, yang dia rasakan hanya rasa yang tiba-tiba nyaman dan enggan melepaskan.


"Dewi kamu tenang, ya! kamu baru sembuh, jangan banyak bergerak atau berfikir macam-macam," Pinta Erik.


Dewi sempat tercengang melihat sikap Erik yang mendadak berubah. Entah apa yang salah pada diri Erik. Yang jelas Di antara keduanya tidak ada yang bisa mengartikan.


"Jangan bilang kamu sedang menyusun rencana baru untuk menyiksaku. Aku lelah, tuan Erik, aku ingin bebas, ku mohon lepaskan aku."


Erik menggeleng, dia sendiri tidak sadar sedang menggeleng dan memandang Dewi. Intinya memang Erik tidak ingin melepaskan Dewi. Namun Erik masih berambisi ingin mendapatkan Kezia. Hal itu membuat Erik menjadi serakah demi kepentinganya sendiri.


"Sampai kapan kamu akan mengurungku, tuan Erik? buka mata kamu, dan lihatlah mbak Kezia tidak mengharapkanmu. Jadi apa yang ingin kamu pertahankan?"


Erik mendadak pusing, dia bingung dengan yang dia rasakan untuk Dewi. Tetapi dia tidak ingin kehilangan Dewi. Apakah cinta mulai bersemi antara Erik untuk Dewi? atau sekedar mbutuhkanya saja.

__ADS_1


__ADS_2