Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Penyusup Kamar Kezia


__ADS_3

Setelah puas bermain bersama putranya, Rama meminta Ethan agar ikut bersama Kezia. Setidaknya dengan adanya putranya bersama Kezia, Rama akan memiliki alasan untuk bertemu dengan keduanya.


Sementara Ethan telah di serahkan pada Mamanya, Rama pergi dan akan menemui Dewi untuk membahas rencananya. Meskipun Rama bisa menebak, Dewi tidak akan mau tahu dengan pria yang telah menghamilinya. Rama tetap akan mendesak Dewi, agar Dewi mau mengakui kehamilanya dan meminta Erik untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya.


Selama mengemudikan mobilnya, di sepanjang jalan Rama terus memikirkan keseluruhan rencananya. Pandanganya tetap fokus ke depan, namun fikiranya masih berputar pada deretan rencana yang telah ia siapkan. Tanpa sadar, saking fokusnya memikirkan rencananya, Rama telah sampai di parkiran apartemen yang di tempati Dewi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rama segera melangkah memasuki lobby apartemen dan memencet lift untuk membawanya ke lantai empat tempat Dewi berada.


Tak butuh waktu lama, kini Rama telah tiba tepat di depan pintu apartemen miliknya. Meskipun Rama memiliki kunci cadangan, karena apartemen ini memang dialah yang membelinya. Namun karena akan terlihat kurang sopan, terlebih penghuninya adalah seorang perempuan. Bahkan tanpa Rama tahu ataupun tidak, Dewi pasti memiliki privasinya tersendiri. Alangkah lebih baik jika Rama menekan bel apartemen agar Dewi membukan pintu untuknya.


Di dalam sana, setelah mendengar bel apartemen berbunyi. Dewi merasa takut dan enggan membuka pintu. Teringat ucapan Bagar, melarangnya untuk tidak keluar dari apartemen. Karena Erik beserta orang-orang suruhanya, sedang mengincarnya. Dewi terbayang-bayang wajah Erik, takut-takut jika yang memencet bel adalah Erik. Karena Dewi tahu, tidak mungkin jika Bagas ataupun Rama yang datang. Di fikiran Dewi, tidak mungkin Bagas atau pun Rama yang memencet bel, padahal mereka pasti memiliki kunci cadanganya.


Pelan-pelan Dewi melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu. Di intipnya dari lubang pintu, siapakah orang yang sebenarnya yang berada di depan pintu apartemen yang di tempatinya.


Reflek tangan Dewi segera membukakan pintu, setelah melihat Ramalah yang datang. Dewi tersenyum menyambut Rama dan mempersilahkan Rama masuk.


"Maaf pak Rama! saya kira orang asing yang datang, oleh karena itu tadinya saya enggan membuka pintu," ucap Dewi menjelaskan.


"Tidak masalah," jawab Rama singkat.


Melihat Rama telah duduk di sofa, Dewi berinisiativ untuk menawari Rama, minuman. Meskipun di dapur hanya tersedia air mineral saja. Karena tidak mungkin Rama menyediakan kopi untuk wanita Hamil. Karena sudah jelas, wanita hamil di larang minum kopi karena mengandung kafein.


"Pak Rama mau minum apa? biar saya buatkan," tawar Dewi.


"Duduklah! kau sedang mengandung, jangan terlalu banyak beraktivitas berat. Aku kesini ingin memberitahumu sesuatu hal dan aku harap kamu akan menyetujuinya."


Dewi menuruti perintah Rama, wanita itu langsung duduk di sofa berhadapan dengan Rama, pastinya dengan adanya meja sebagai pembatas antara mereka berdua. Dahi Dewi mengerut, penasaran dengan apa yang akan Rama katakan kepadanya.


"Langsung ke intinya saja! kau pasti tahu bahwa Kezia akan menikah dengan Erik?"


Wajah Dewi langsung berubah setelah Rama menyebut nama pria yang menghamilinya. Melihat perubahan di wajah Dewi, tidak membuat Rama berhenti berkata.


"Aku tidak akan membiarkan Kezia menikah dengan Erik. Terlebih Kezia sedang mengandung darah dagingku_


Dewi langsung tersentak kaget, mendengar penuturan Rama, bahwa mantan majikanya mengandung kembali putra Rama Asher, pria yang kini duduk di depanya.


"Sedangkan Dirimu juga sedang mengandung benih dari pria sialan itu. Maka kau harus meminta pertanggung jawabanya. Jangan biarkan si pengecut itu bebas dari tanggung jawab yang kau pikut sendiri."


"Tidak pak! saya mampu merawat anak saya sendiri," ucap Dewi.


"Jangan bodoh! apa dengan melihat Ethan putraku, tidak cukup memberikanmu contoh? bayimu memerlukan setatus dan pengakuan dari ayahnya. Terserah kau mau bercerai setelahnya atau pun tidak. Tetapi jangan biarkan bayimu terlahir tanpa seorang ayah."


"Lalu saya harus bagaimana pak Rama?" tanya Dewi bingung sekaligus mengusap butiran air mata yang telah mengalir di pipinya.


"Jangan kawatir! aku akan mengurus semua dan tugasmu hanya datang di pernikahan mereka, untuk membongkar perbuatan pria pengeclut itu," perintah Rama.


Dewi hanya mengangguk pasrah, meskipun dia sedang membayangkan betapa malunya dia. Jika semua tamu undangan mengetahuinya hamil di luar nikah. Terlebih yang menghamilinya adalah calon mempelai pria. Mungkin saja Dewi akan di cap sebagai wanita murahan, wanita nakal, pelakor dan lain sebagainya. Membayangkanya saja, sudah membuat Dewi merasa cemas. Rama yang menyedari kecemasan Dewi pun, sedikit bisa menebaknya.


"Tidak usah takut! aku beserta orang-orangku akan melindungimu. Jangan menjadi wanita bodoh dan lemah, Dewi."

__ADS_1


Lagi-lagi Dewi hanya bisa mengangguk, karena hanya itu yang bisa Dewi lakukan. Karena hidupnya sekarang bergantung pada pria di depanya.


"Pesanku, jangan terkecoh dengan berita di luaran sana, sebelum menanyakan kebenaranya padaku maupun Bagas. Ganti nomermu, takutnya orang-orang Erik, akan menterormu," perintah Rama, dan hanya di angguki Dewi.


Di lain tempat, kini Kezia terpaksa kembali ke rumah papanya. Vania gagal membawa adiknya pergi ke partemenya. Kezia sangat terlihat sedih, akan sulit baginya untuk bertemu dengan Rama, jika posisinya berada di rumah papanya.


Terlebih lagi, penjaga'anya semakin di perketat oleh Erik dan papanya. Takut-takut Kezia akan pergi lagi ke apartemen Vania dan sulit di temui.


Kezia memasuki kamarnya, dan meluapkan kesedihanya dengan menangis. Ethan memasuki kamar mamanya dan melihat mamanya menangis.


Ethan menghampiri Kezia, matanya berkaca-kaca karena ikut merasakan kesedihan mamanya. Meskipun masih kecil, Ethan mampu memahami pembicara'an orang dewasa. Bahkan dengan jelas eyang kakungnya tadi, menyuruh mamanya agar menikah dengan Erik.


Andai Ethan bukan anak-anak , pasti Ethan akan berteriak dan melarang eyang kakunya agar tidak memaksa mamanya. Karena yang Ethan harapkan, mamanya hanya akan bersatu dengan papanya.


"Mama jangan sedih! Ethan jadi ikut sedih," ucap Ethan yang sudah terisak.


"Sayang, kenapa kamu menangis, nak? maafkan mama telah membuatmu bersedih," ucap Kezia.


"Ethan sedih, jika melihat mama menangis dan sedih," jawab Ethan, sesegukan.


Kezia segera membawa putranya ke dalam pelukanya. Entah kenapa, ucapan putranya seolah memberikan rasa nyaman di hati Kezia. Anak sekecil Ethan, mampu memahami perasa'an mamanya. Sedangkan orang-orang dewasa seperti Papanya dan Adrian, sama sekali tidak memahaminya. Mereka sudah berubah, tidak seperti yang dulu. Semua berawal semenjak hadirnya Erik, di tengah-tengah mereka.


"Mama sudah tidak menangis lagi, sayang! Ethan jangan menangis lagi, ya?" pinta Kezia, berusaha kuat di hadapan putranya.


Melihat mamanya berhenti dari tangisanya, membuat Ethan juga berhenti dari tangisnya. Kemudian, Kezia meminta putranya kembali ke kamarnya sendiri. Sementara Kezia masih melanjutkan tangisnya, setelah melihat putranya pergi keluar dari kamarnya.


Lelah menangis, hingga tanpa sadar mata Kezia ltertutup. Dalam posisi meringkuk seperti bayi di atas ranjang. Saking lelahnya, Kezia tidak mendengar ada suara jendela kamarnya terbuka dari luar.


Seorang pria memanjat dari pagar kediaman Afsen, hingga tembus ke dalam kamar yang Kezia tempati saat ini. Pria itu masuk, melompat pelan-pelan dan mendapati wanita puja'anya telah tertidur meringkuk tanpa menyelimuti tubuhnya.


Kezia merasa ada yang aneh di ranjang sebelah tempat ia berbaring. Seperti ada seseorang yang menyusup dan memeluk tubuhnya dari belakang. Pelan-pelan Kezia mulai membuka matanya dan mendapati tangan kekar seseorang di tas perutnya.


Kezia langsung terpekik ketakutan dan akan menjerit minta tolong. Dengan gerakan cepat, tangan kekar yang tadinya berada di atas perutnya, kini telah berpinjah ke mulutnya dan membekap mulut Kezia.


Awalnya Kezia meronta, namun setelah hidungnya menghirup dalam-dalam aroma yang familiar dari kulit tangan pria itu. Aroma yang selalu membuatnya mabuk kepayang dari dulu hingga saat ini.


Kezia memutar tubuhnya, dan perlahan bekapan tangan si pria misterius itu pun mengendur. Bibir Kezia menyunggingkan senyum dan langsung memeluk erat tubuh laki-laki yang sangat ia cintai. Laki-laki itu adalah Rama Asher, yang senganja diam-diam masuk ke kamar Kezia, tanpa ada orang yang mengetahuinya.


Kezia terus memeluk erat tubuh Rama, melampiaskan semua rasa rindunya yang di tahanya beberapa hari ini. Rama melepaskan pelukan Kezia, karena wanitanya begitu erat memeluknya. Takut-takut malah menyakiti bayinya yang ada di kandung mantan istrinya.


"Kenapa di lepas? aku kangen banget, tahu? Protes Kezia bersikap manja.


Rama terkekeh dengan sikap manja Kezia, tetapi Rama sangat menyukai sikap manja Kezia. Di daratkanya kecupan di kening Kezia, karena Rama sangat gemas melihat tingkah manja Kezia.


"Sayang, bukanya ku tidak ingin kau peluk, tetapi meluknya jangan erat-erat. Ingat ada bayi kita di dalam sini yang harus kamu jaga," ujar Rama, mengelus lembut perut rata Kezia, yang tertutup dress.


Kezia tersenyum, ia lupa saat ini sedang berbadan dua. Di pandangnya dan di rabanya wajah tampan Rama, yang di tumbuhi bulu-bulu halus dan terkesan sangat sexy di mata Kezia.


"Kenapa kamu semakin ganteng! mana mampu aku jauh dari kamu, jika kamu semakin ganteng. Aku takut ada wanita lain yang mendekatimu, sayang," rengek Kezia.

__ADS_1


Mendengar panggilan sayang di bibir Kezia, membuat Rama tersenyum. Saking gemasnya dengan mulut manis Kezia, Rama langsung mendaratkan kecupan lembut di bibir Kezia yang terasa manis dan membuatnya candu.


"Mana mungkin ada wanita lain yang bisa menandingi kamu, sayang?"


"Gombal! By the way, kok kamu bisa masuk ke kamarku?" tanya Kezia penasaran.


Rama pun menceritakan saat dirinya mencoba memanjat pagar dan akhirnya bisa masuk ke dalam kamar Kezia. Di tambah lagi, Kezia yang lupa menutup jendela kamarnya. Mempermudah Rama masuk ke dalam kamar Kezia.


Kezia tertawa lebar setelah mendengarkan cerita Rama. Segera ia menutup mulutnya dengan kedua tanganya.


"Kenapa berhenti tertawa, sayang? padahal aku sangat suka," ucap Rama melihat tawa lepas Kezia, wanita yang saat ini ia perjuangkan.


Karena Kezia hanya diam saja, sedangkan tanganya masih setia membekap mulutnya. Rama melepaskan tangan Kezia dari mulutnya. Rama menggantikanya dengan bibirnya yang saat ini sedang mencium bibir Kezia yang berwarna pink.


Masih di posisi bibir keduanya yang saling menyatu. Rama tidak bergeming bahkan tanpa jeda, Rama semakin memperdalam ciumanya. Keduanya merasakan kehangatan yang akan selalu di rindukan mereka berdua.


"Siapapun tidak akan ku biarkan merebutmu dariku, Kezia. Kamu hanya miliku, milik Rama Asher, ingat itu baik-baik, sayang," ucap Rama menatap lekat manik hazel mata Kezia yang masih terlihat indah.


"Ya, miliki aku dan perjuangkan aku, sayang," ucap Kezia menimpali.


"Meskipun tidak mudah menghadapi papa dan kakakmu, aku tidak akan menyerah. Akan aku nikmati prosesnya, kita sama-sama berjuang. Doakan aku kuat menghadapi mereka, kamu jangan terlalu banyak berfikir tentang pernikahanmu dengan Erik. Ku pastika pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Fikirkan kesehatanmu dan bayi kita, jaga dia selama aku tidak berada di sampingmu."


Kezia mengangguk, menyimak baik-baik penuturan Rama padanya. Kezia yakin dan percaya pada Rama, Rama akan menjadikan kisah cinta mereka dan perjuanganya menjadi happy ending. Pastinya dengan do'a-do'anya, berharap Tuhan akan mengabulkan do'anya.


"Yakinlah, kita akan bersatu kembali, aku kamu dan anak-anak kita."


Ucapan Rama, benar-benar membuatnya terharu dan berasa ingin menangis. Inikah sosok laki-laki yang selama ini ia cintai. Sosok lelaki yang dulunya angkuh telah berubah menjadi sehangat dan selembut ini.


Jika sikap angkuh Rama yang dulu, mampu membuat Kezia jatuh cinta. Apa lagi sikap Rama yang sekarang, sungguh membuat Kezia merasakan sakitnya di saat jauh dengan Rama.


"Sayang, aku akan pergi! jaga baik-baik bayi kita. Jangan bersedih, ingatlah aku masih memperjuangkanmu dan tidak akan kalah dengan keada'an."


"Kenapa buru-buru? aku masih kangen," rengeknya manja.


Lagi-lagi sikap Kezia membuat Rama merasa gemas. Sehingga berat untuk meninggalkan Kezia sendiri. Di tambah lagi udara yang sangat dingin, sangat cocok dengan lampu kamar yang padam. Hanya di soroti oleh sinar rembulan yang menembus jendela kaca kamar Kezia.


"Baiklah, aku akan menemanimu tidur malam ini. Tetapi bangunkan aku besok subuh, aku tidak ingin keluargamu memergoki kita. Karena saat ini, hanya lewat jendela kamarmulah aku bisa menemuimu."


Lagi-lagi Kezia di buat terharu mendengar kata-kata Rama. Kezia merasa sangat di cintai dan merasa Rama sangat memperjuangkanya.


"I love you, sayang," bisik Kezia.


"I love you more, my dear," jawab Rama.


Rama memeluk tubuh Kezia dari belakang, karena ia takut jika pergerakanya saat tidur, bisa menyakiti bayinya di dalam perut Kezia. Ini adalah pengalaman pertama Rama, oleh karena itu Rama begitu menjaga Kezia dan bayi yang Kezia Kandung.


Tak lama terdengar dengkuran halus dan nafas teratur, yang menandakan Rama telah terlelap duluan. Kezia tersenyum, merasakan kehangatan pelukan Rama dan membawanya ikut bergabung bersama Rama ke alam mimpi. Berharap mentari esok akan secerah hatinya. Menghapus kepingan luka di hatinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2