Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Ke Club Malam


__ADS_3

Rama Asher


Sebelumnya aku sempat merasa bersalah atas perbuatanku kepada Kezia. Bahkan dia tak seburuk yang selama ini aku bayangkan. Aku sendiri tidak bisa merasakan arti perasaanku ini. Tapi melihat cara dia memperlakukanku selayaknya seorang suami, aku suka.


Beberapa hari sebelum hari resepsi, hubungan kami berdua semakin membaik. Hingga hari itu tiba, hari di mana Kezia sangat cantik menuruni anak tangga dengan balutan gaun pilihanku. Aku memang mengakui dia sangat cantik dan sempurna.


Ku hampiri dia dan ku bantu dia menuruni anak tangga. Ku genggam tanganya saat berada di atas pelaminan. Sangat nyaman, itulah yang ku rasakan saat itu. Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang yang ku cintai selama ini mengucapkan kata selamat. Dia adalah Vania, wanita yang seharusnya berada di pelaminan bersamaku. Seketika kulepaskan genggaman tanganku dari tangan Kezia. Ku raih tangan Vania dan diapun membalasnya.


Ku lihat dari manik matanya yang berkaca-kaca seolah dia sedang merasakan kesedihan. Ku tarik tanganya untuk menjauh dari pandangan publik. Kami berdua memang butuh ruang private untuk berbicara. Tanpa ku sadari telah ku tinggalkan Kezia sendiri di pelaminan.


Sesampainya di sebuah ruangan yang cukup private. Vania tiba-tiba berhambur kedalam pelukanku sambil menumpahkan air matanya di bahuku. Entah kenapa hatiku seakan teriris mendengar isakanya. Dan satu fakta yang membuat emosiku meluap-luap waktu itu adalah perkata'anya. Dia berkata bahwa Kezialah yang memaksanya untuk mengganti namanya menjadi nama Kezia.


Ternyata duga'anku beberapa hari ini salah. Sekali wanita penyihir tetap saja menjadi penyihir. Betapa teganya Kezia melakukan semua ini pada kakak kandungnya sendiri. Dia terlalu teropsesi untuk memilikiku dari dulu hingga saat ini.


Ku kecup dahi Vania dan berkata aku masih mencintainya. Hati ini miliknya dan sebentar lagi aku akan menceraikan Kezia dan menikahinya.Dia menggeleng, tidak ingin aku menceraikan adiknya. Dia berkata dia sangat menyayangi adiknya meskipun adiknya berbuat jahat kepadanya. Kenapa hati Vania masih begitu baik setelah di sakiti adiknya.


Dari dulu Kezia tidak pernah berubah,tetap saja menjadi wanita licik yang menghalalkan segala cara untuk menyakiti Vania. Seperti yang dia lakukan saat ini. Memaksa Vania untuk mendapatkanku. Aku pastikan semua ini akan cepat berakhir.


Terdengar pintu ruangan terbuka menampakan Adrian dan di susul Kezia di belakangnya. Ku lihat tatapan penuh amarah terpancar dari manik mata Adrian pada Vania. Segera ku sembunyikan Vania di belakang tubuhku untuk melindunginya. Tanpa ku sangka ternyata Adrian lebih dulu menarik pergelangan tangan Vania. Sedangkan Kezia berlari menghampiri Adrian. Segera ku lepaskan cekalan tangan Adrian dengan tatapan kemarahanku.

__ADS_1


"Jangan membuat kekacauan Vania!" sudah cukup kau ber_


"Rama tolong aku!" dia gadis licik dan lihatlah kak Adrian lebih membelanya," ucap kak Vania yang wajahnya sudah di penuhi air mata.


Ku alihkan tatapanku ke arah Kezia dengan penuh emosi. Dia juga menatapku menantang seperti Kezia sebelumnya.


"Apapun yang di katakan kak Vania memang benar. Aku sangat senang akhirnya aku mendapatkanmu suamiku."


"Dasar wanita licik, sekali penyihir akan tetap menjadi penyihir. Tunggu sebentar lagi aku akan melayangkan gugatan cerai padamu dan menikahi Vania."


Wanita itu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapanku. Dia menghampiriku dan juga vania. Dia menatap wajahku kemudian beralih menatap vania.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kezia langsung menarik tangan Adrian keluar dari ruangan. Kepeluk tubuh Vania yang masih saja terisak.


"Tunggulah di sini, jangan kemana-mana. Aku akan menyelesaikan acara ini agar para tamu tidak curiga."


Vania mengangguk patuh, setelahnya aku keluar dari ruangan meninggalkanya sendiri di dalam. Aku memulai memerankan peranku di hadapan publik sebagai suami yang sangat mencintai istrinya. Ternyata Kezia juga sangat pandai beracting. Sehingga kami berdua terlihat seperti pengantin yang bahagia di atas pelaminan.


Selesai acara, aku langsung mengajak Kezia kembali ke apartemen. Sebelumnya aku sudah berjanji kepada Vania akan menemuinya.

__ADS_1


Sesampainya di apartemenku, aku masih meredam kemarahan pada Kezia. Seperti biasanya dia tetap menyiapkan baju ganti untuku. Menyiapkan air hangat untuku mandi. Seolah dia sedang memerankan sebagai istri yang baik.


"Sudah cukup sandiwaramu!" dan jangan lagi menyiapkan sesuatu kepadaku. Aku sudah tidak sudi lagi menerima pelayanan dari wanita licik sepertimu."


Ku ucapkan kata-kata itu dan setelahnya ku sambar dompet, kunci mobil dan juga jaketku. Aku berniat mendatangi apartemen Vania dan melewatkan waktu yang telah hilang bersamanya. Peduli setan dengan Kezia, aku sudah tidak peduli lagi denganya. Yang terpenting bagiku saat ini bagaimana caranya agar aku bisa segera lepas dari wanita licik itu. Kemudian aku bisa menikahi Vania, calon istriku yang sebenarnya.


Sebelum aku sampai di apartemen Vania. Gadis itu sudah mengirimi pesan bahwa dia ingin sendiri malam ini. Aku sempat memohon untuk menemaninya, namun ia menolak. Mungkin saja dia butuh waktu untuk sendiri.


Ku putar kemudi menuju sebuah club malam. Bayang-bayang wajah Vania yang menangis dan wajah Kezia yang tertawa memenuhi memori otaku. Entah sudah berapa gelas minuman haram itu ku teguk. Tetap saja wajah dua wanita itu tidak bisa hilang dari fikiranku.


"Bagaimana wanita licik itu berkata cinta padaku, ketika dia telah menghancurkan kebahagiaanku?"


Setelah begitu banyak minuman yang ku minum. Sehingga diriku hampir mabuk, ku raba benda pipih di saku celanaku. Ku cari nama Digo dan ku pinta dia untuk membawaku ke apartemenya. Meskipun apartemen kami bersebelahan. Aku lebih baik menginap di apartemen Digo. Daripada harus mendapat ribuan pertanyaan dari mulut busuk Kezia.


Tak berselang lama sahabatku datang membawaku keluar dari club. Ku tinggalkan begitu saja mobilku di sana. Sehingga saat ini aku berada di dalam mobil Digo. Kesadaranku masih ada jika hanya untuk menjawab pertanya'an dari sahabatku. Tentu saja pertanya'anya tak jauh tentang Kezia. Ku jawab saja jika Vania sudah kembali dan kezia akan segera ku ceraikan. Terlihat raut wajah yang nampak biasa dari sahabatku. Tidak ada keterkejutan ataupun pertanya'an lain setelahnya. Entah apa dia mendengar atau tidak ucapanku barusan.


Mobil melaju membelah sepinya jalan kota. Karena waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari. Dan aku menjadi teman paling brengsek yang mengganggu istirahat sahabatku demi menjemputku.


Setelah kami sudah sampai di loby apartemen hendak naik ke dalam lift. Petugas keamanan menyampaikan sesuatu yang aku sendiri malas mendengarnya. Dia mengatakan bahwa Kezia berkali-kali turun ke loby untuk menanyakan apa aku sudah pulang. Jika dia tidak berulah dan jika kami saling mencintai selayaknya suami istri, tentu saja aku akan senang. Tapi nyatanya tidak, aku malah risih jika dia terus-terusan mencariku. Aku ingin dia hilang lagi seperti dulu.

__ADS_1


__ADS_2