
Rama Asher
Setelah membersihkan diri di kamar mandi.Ku ambil handphoneku yang tergeletak di ranjang. Segera ku hubungi orang-orangku yang bertugas memata-matai Kezia. Beberapa menit kemudian mereka mengirim beberapa foto dan vidio kepadaku. Bahkan mereka juga merekan setiap percakapan Kezia yang ternanyata menemui kakek dan cucunya yang ia temui semalam. Mendadak hatiku bergetar mendengar dan melihat vidio yang orang-orangku kirimkan ke padaku.
"Horeeee akhirnya kalian punya tempat tinggal. Jadi kalian tidak akan kepanasan dan kehujanan lagi. Kalian boleh mengajak teman-teman kalian tinggal di rumah ini."
"Terimakasih nak,nak Kezia sungguh sangat baik. Kakek tidak bisa membalas semua kebaikan nak Kezia. Kakek hanya bisa mendoakan semoga kebahagiaan selalu menyertai nak Kezia."
"Aamiin, kek! Ayo kalian harus masuk dan melihat seisi rumah. Tidak perlu sungkan karena rumah ini sekarang milik kalian. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan keperluan kalian seminggu sekali."
"Kakak Kezia begitu baik dan sangat cantik,aku merasa bertemu dengan seorang bidadari yang turun dari langit."
"Hei, kau juga sangat cantik dan baik, Tari! Ayo kita masuk dan melihat-lihat di dalam."
Begitulah isi percakapan Kezia dengan kakek dan cucunya di dalam Vidio. Entah kenapa aku kagum dan bangga memiliki istri sebaik dia. Kenapa aku menjadi ragu denganya.Jika dia hanya berpura-pura baik. Lalu apa gunanya dan untuk apa dia berpura-pura baik. Namun terlihat sangat jelas dia melakukan semua itu dengan sangat tulus.
Terdengar suara pintu apartemen terbuka,segera ku tutup vidio yang sedang ku lihat. Aku keluar dan mendapati Kezia yang baru pulang dengan binar bahagia. Dia meliriku sambil tersenyum, entah kenapa aku juga membalas senyumnya.
"Maaf aku baru pulang! Apa kau sudah makan malam, Mas?"
"Belum! buatkan aku makanan, aku lapar," ucapku yang sepontan saja terucap. Sebenarnya aku sudah makan di apartemen Vania tadi. Tetapi tiba-tiba aku merindukan masakan Kezia.
__ADS_1
Meski terlihat sangat lelah, dia tetap saja memasakan makanan untuku. Aku duduk di meja makan sambil memperhatikanya. Bahkan aku terganggu ketika Kezia mengikat rambutnya asal. Sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Segera ku hilangkan fikiran liarku dan berfokus melihat sosial media di handphoneku. Tidak butuh waktu lama kini makanan kesukaanku sudah terhidang di depanku.
"Kenapa hanya satu piring?"
"Apakah ini kurang untukmu?''
"Bukan, maksudku apa kamu tidak makan?"
"Oh, aku sudah makan di luar tadi! apa ada hal lain yang kau butuhkan? kalau tidak ada, aku akan mandi. Taruh saja piring kotornya di sini, setelah selesai mandi aku akan mencucinya."
Aku hanya mengangguk dan memperhatikan langkahnya hingga ia menutup pintu kamarnya. Tak berapa lama dia keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat segar. Aku langsung mengumpat karena lagi-lagi dia memakai pakaian seperti kemarin. Dress selutut tanpa lengan yang memancing sesuatu pada diriku.
Dengan percaya diri dia melangkah menghampiriku untuk mengambil piring kotor di depanku. Lagi-lagi aku mengumpat saat tanpa sengaja melihat sesuatu yang menonjol di dadanya. Sepertinya semua ini tidak bisa di tuntaskan hanya dengan mandi air dingin.
"Kenapa? apa ada yang kau inginkan?" tanyanya.
"Aku menginginkan haku sekarang juga."
Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku. Ku lihat Kezia sangat terkejut. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Sebagai seorang laki-laki aku terpancing dengan tubuh indahnya. Apa lagi dia halal untuku dan itu adalah haku sebagai suaminya.
Langsung saja ku ambil piring kotor yang dia pegang dan ku taruh di meja makan. Ku gendong tubuhnya ala bridal style dan ku bawa masuk ke dalam kamarku. Dia hanya menurut dan tersenyum malu kepadaku. Aku sangat menyukai senyum manisnya apa lagi wajahnya yang tersenyum malu.
__ADS_1
Ku baringkan tubuhnya di atas ranjang kamarku. Ku tatap manik mata hazelnya yang indah. Ku dekatkan wajahku hingga bibir kami saling menyatu. Tidak ada pergerakan dari bibirnya dan aku yakin dia tidak pernah berciuman selain denganku. Ku gigir bibinya sehingga ia mengaduh lalu membuka mulutnya. Ku masukan lidahku untuk menyapu seisi mulutnya.
"Bolehkah aku meminta haku malam ini?"
Dia hanya mangangguk karena telah terbuai denganku. Dan malam ini menjadi saksi penyatuan kami berdua. Meskipun tanpa cinta di hatiku, memang terdekar sangat kejam. Lebih kejamnya lagi di saat pelepasan pertama. Aku bukanya menyebut namanya, melainkan nama Vania.
Ku lihat matanya yang berkaca-kaca, dengan menyeret kedua kakinya dia melangkah keluar dari kamarku. Aku yakin dia marah dan kecewa kepadaku. Aku mangacak rambutku frustasi karena merasa diriku begitu bajingan. Setelah mendapatkan keperawananya lalu aku menyakitinya.
"Bajingan kau Rama," aku mengutuk diriku sendiri yang begitu tega dengan Kezia.
Ku lihat bercak darah di seprei dan ku yakini itu adalah darah perawanya. Sial kenapa aku sebajingan ini. Padahal dia adalah istriku, kenapa aku malah menyebut nama Vania pada kegiatan panas kami.
Segera kukenakan kembali celana dan kaos rumahanku yang tergeletak di lantai. Di sana juga masih tetinggal baju kezia dan baju dalam miliknya. Karena saat Kezia keluar dari kamar tadi, dia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut.
Aku keluar dan bergegas menuju kamar Kezia. Pintu kamarnya di kunci dari dalam dan terdengan isakan tangisnya yang memilikan. Sial, aku sangat keterlaluan kali ini menyakitinya. Ku ketuk pintu berkali-kali namun tak ada jawaban dari Kezia.
Akhirnya aku memasuki kamarku kembali untuk mencari kunci cadangan kamar Kezia. Aku semakin frustasi saat tidak mendapati kunci cadangan kamar Kezia. Ingin mendobrak rasanya tidak mungkin ku lakukan. Dia akan bertambah marah kepadaku jika aku mendobrak pintu kamarnya. Tidak ada pilihan lagi selain menunggu besok pagi saat dia membuka kamarnya.
Ke esokan harinya aku bangun kesiangan. Tanpa mencuci muka, aku segera bergegas menuju kamar Kezia. Berharap dia sudah bangun dan membuka pintunya. Aku bernafas lega saat mendapati pintu hamarnya yang terbuka. Langsung saja aku masuk dan menghampiri dirinya. Setelah aku masuk ke dalam kamarnya. Aku hanya mendapati selembar kertas yang tertulis pesan untuku.
"Untuk beberapa hari aku akan ke luar negeri. Kamu sendiri yang menolak tiket honeymoon dari kak Adrian. Maka aku akan pergi sendiri, terimakasih dan maaf tidak sempat berpamitan kepadamu."
__ADS_1
"Sial, aku tidak tahu dia sekarang pergi kemana."
Segera ku ambil handphoneku yang ternyata masih berada di meja makan dari semalam. Segera ku hubungi orang-orangku untuk mencari keberada'an Kezia. Aku berharap mereka menemukan keberadaan Kezia. Aku akan menyusulnya di manapun dia berada saat ini.