Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Mencoba menerima


__ADS_3

Ruangan rawat tempat Dewi di rawat terasa hening karena dua pasang suami istri itu saling diam. Dewi menangis dalam diamnya, membayangkan entah sampai kapan dia akan terjebak di dalam permainan suaminya. Sedangkan Erik tidak tahu mengapa, ia sedang gundah gulana.


Sepertinya memang benar, Erik mulai merasakan getaran cinta di hatinya untuk Dewi. Lalu apakah Erik sudah bisa move on dari Kezia? jikapun sudah move on dari Kezia, apakah perasaanya akan di balas oleh Dewi, atau bernasip sama seperti yang pernah Erik alami dengan Kezia.


Saking heningnya, suara langkah perawat dan dokter yang hendak memasuki ruang rawat Dewi pun terdengar. Dokter dan perawat itu memeriksa kondisi Dewi terkini. Erik bangkit dari duduknya, ia tidak ingin ketinggalan info perkembangan kondisi istrinya.


"Istri saya bagaiamana keada'anya, dok?" tanya Erik.


Dewi langsung memandang ke arah suaminya, karena pasalnya ini kali pertama Erik mengakuinya sebagai istri.


"Kondisinya sudah mulai membaik, pak! tetapi alangkah lebih baik jangan terlalu banyak bergerak. Karena luka bekas jahitan di perut pasien belum cukup mengering."


"Lalu istri saya kapan boleh di bawa pulang, dok?" tanya Erik.


"Besok pasien sudah boleh di bawa pulang, tetapi saran saya jangan sampai lepas pengawasan, karena tubuhnya sangat lemah."


Erik mengangguk, tak lama datanglah seorang perawat satu lagi, sembari membawa semangkok bubur, se gelas susu dan beberapa potong buah untuk pasien.


"Waktunya makan siang, istrinya, pak!"


"Oh ya! terimakasih, sus," responya sembari tanganya mengbil alih semangkok bubur yang berada di mampan.


"Kalau begitu kami semua keluar, nanti empat jam kemudian kami akan ke sini lagi,"


Setelah dokter dan semua perawat pergi, Erik mendekati Dewi dan hendak menyuapi Dewi. Dewi menolak, dengan alasan bisa makan sendiri. Namun Erik tetap tidak mau kalah, dia tetap ngotot ingin menyuapi Dewi.


Mau tidak mau dengan sangat terpaksa akhirnya Dewi menerima suapan dari Erik. Erik dengan sangat telaten menyuapi Dewi bahkan mengelap sudut bibir Dewi menggunakan tanganya.


Dewi bingung dengan perubahan sikap suaminya ini. Erik berubah secara dadakan, membuat Dewi curiga jika suaminya mempunyai niatan terselubung.


Erik meletakan mangkok kosong di meja, dia tersenyum karena berhasil memakan semangkuk bubur yang rasanya sangat hambar di lidahnya.


Erik mulai menggenggam tangan Dewi, menimbulkan getaran dahyar pada diri ke duanya.

__ADS_1


"Wi, maafkan aku, ya! kamu bole kok hukum aku, asal kita tidak bercerai."


"Apa kamu bilang?"tanya Dewi sekali lagi.


"Kita jangan sampai bercerai, aku sudah belajar menerima kamu di hidupku."


"Manerimaku? aku tidak percaya, karena di hati anda cuma ada mbak Kezia. Jadi tolong lepaskan aku tuan Erik, ku mohon, aku tidak sanggup lagi hidup seperti boneka Anda."


"Wi, please! beri aku waktu dan bantu aku untuk melupakan Kezia," pinta Erik.


Dewi dilema, di lain sisi ada Adrian yang masih menunggunya dan di lain sisi ada Erik suaminya yang tidak mau menceraikanya.


Meskipun Adrian belum menyatakan cintanya pada Dewi. Namun Dewi faham, ada cinta pada diri Adrian untuknya, bukan berarti Dewi hanya overconfident.


Dewi menoleh menatap netra suaminya, sepertinya kali ini ada ketulusan di mata Erik. Tetapi Dewi juga masih melihat cinta yang masih begitu besar untuk Kezia di mata suaminya.


Dewi sendiri juga tidak tahu tentang perasa'anya, siapakah yang dia cintai antara Adrian atau Erik suaminya. Yang Dewi tahu, Adrian jauh lebih baik dari Erik, meskipun orangnya sedikit dingin.


"Please! jangan minta cera, oke? aku akan belajar menerima dan mencintaimu," ucap Erik.


"Akan aku usahakan! tetapi aku membutuhkanmu, bantu aku dan ingatkan aku di saat aku salah," pinta Erik.


Dewi mengangguk, sepertinya bukan hanya Erik yang harus berusaha menerimanya, Dewi pun juga akan berusaha menerima suaminya. Toh Adrian belum mengungkapkan cintanya pada Dewi, jadi secara tidak langsung Dewi tidak menyakiti siapapun.


Erik tersenyum lalu memeluk istrinya, tubuh mereka saling menempel Erat. Ada getaran yang terasa pada diri keduanya. Aliran darah mereka berdua seolah berhenti mengalir. Jantung seakan berhenti berdetak saat itu juga. Entah rasa apa itu, kenapa keduanya merasakan rasa yang sama.


Dewi langsung melepas pelukan Erik, keduanya sama-sama memalingkan muka karena malu. Sikap mereka berdua sangatlah lucu jika di abadikan dalam bentuk photo.


Erik seolah lupa pada dirinya yang penah jahat, pria itu seperti singa yang berubah menjadi kucing dan mungkin Dewi adalah pawangnya.


"Em, aku mau ke toilet sebentar," ucap Erik menghindar dari kecanggungan.


"Oh, silahkan," jawab Dewi.

__ADS_1


Setelah memastikan Erik telah masuk ke dalam toilet yang terletak di ruang rawat, Dewi menghembuskan nafas lega. Jantungnya terasa berdetak kembali setelah beberapa saat lalu seolah seperti berhenti berdetak.


Erik keluar dari toilet, Dewi segera menyalakan televisi yang berada di ruang rawatnya untuk mengusir kecanggungan. Erik tidak lagi duduk di sebelah Dewi. Jantungnya belum berdetak normal seperti senelumnya. Oleh karena itu Erik memilih duduk di sofa yang jaraknya lemayan jauh dari ranjang yang di tempati Dewi.


Erik mengeluarkan ponselnya, sekilas ia teringat kejadian tempo hari yang membanting ponsel dewi hingga hancur.


"Wi, aku keluar sebentar! nanti aku akan kembali," ucap Erik melangkah pergi.


Ingin rasanya sekedar mengecup kening istrinya, namun Erik masih canggung. Pria itu akhirnya melangkah ke luar dengan perasaan lega.


"Hampir saja aku mati karena sesak nafas," gumamnya.


Rencananya Erik akan ke pusat perbelanja'an untuk membelikan Dewi ponsel baru. Karena ponsel Dewi yang lama telah hancur di banting Erik.


Erik akan membelihan ponsel baru sekaligus mengganti nomer ponsel Dewi. Erik tidak ingin Dewi terlalu akrab dengan Adrian, karena dia adalah istrinya meskipun belum ada cinta pada keduanya.


Sekitar dua jam kemudian, Erik kembali lagi ke ruang rawat Dewi, dengan menenteng tas kecil berisi ponsel baru untuk Dewi. Dewi hendak turun dari ranjang dan ingin ke toilet, bertepatan saat Erik membuka pintu.


"Dewi, kamu mau kemana?" ucap Erik mempercepat langkahnya menghampiri Dewi.


"Oh, anda sudah kembali, tuan! aku hanya ingin ke toilet," ucap Dewi.


Tangan kiri Erik, memapah Dewi, membantunya menuju ke toilet. Sedangkan tangan kananya memegang cairan infus. Dewi hanya menurut saja, karena sebenarnya bekas jahitan di perutnya masih terasa nyeri.


"Sudah! sampai di sini saja, tuan," pinta Dewi.


"Memangnya kenapa? yang meganging infus kamu, siapa? sudah biar aku temani kamu," timpal Erik.


"Enggak usah, aku bisa, kok."


"Kamu malu aku temani? kita ini suami istri dan aku sudah hafal bagian-bagian dari tubuhm_


Dewi membungkam mulut Erik, perkata'an suaminya sangat fulgar sehingga membuat Dewi merasa malu. Erik melepaskan tangan Dewi yang membungkam mulutnya. Erik tetap ngotot ingin menemani Dewi ke dalam toilet. Alhasil dengan sangat terpaksa, Dewi pun pasrah. Toh suaminya sudah pernah melihat semua bagian tubuhnya.

__ADS_1


Erik tersenyum penuh kemenangan, bukan berarti ada niat terselubung, tetapi Erik merasa senang karena memiliki istri penurut seperti Dewi. Semua itu juga baru saja Erik sadari.


__ADS_2