Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Papa dan Putranya


__ADS_3

Dewi dan Ethan pulang ke rumah naik ojek langganan mereka. Untuk sementara, ia harus berhati-hati kepada Adrian. Mungkin dengan berbicara baik-baik pada Rama, setidaknya Rama akan memberitahunya jika ingin bertemu Ethan. Dewi tidak ingin kejadian seperti tadi terulang. Untung saja Rama langsung mengembalikan, Ethan. Jika sampai Ethan tidak kembali, maka nyawanya sama saja berakhir saat itu juga. Menghadapi Adrian, sangat sulit baginya.


Tanpa mereka tahu, mobil yang di tumpangi Rama, mengikuti mereka dari tadi. Di lihatnya rumah kecil yang sangat asri.


"Jadi selama ini putraku tumbuh di rumah sekecil itu? Apakah Adrian tidak mampu membelikan mereka rumah yang lebih besar," gumam Rama sambil menggepalkan jemari tanganya.


Rama sudah bertekat akan mengambil anaknya secepatnya. Kalau bisa, ia akan mengambil jalur hukum, jika Adrian mempersulitnya. Uang bisa membeli segalanya, meski hukum sekalipun.Rama berencana akan mengajak Ethan, ke rumah kedua orang tuanya. Setelah memastikan putranya sudah masuk ke dalam rumah. Rama meninggalkan lokasi tempat putranya tinggal. Dia akan kembali menemui putranya, sepulang sekolah. Seperti kesepakatanya dengan Dewi, bahwa Rama boleh menemui putranya, kapanpun ia mau. Asalkan tidak sampai di ketahui Adrian.


Soal di mana Kezia saat ini, Rama akan menyuruh orang-orangnya untuk mengikuti kemanapun Adrian pergi. Karena hanya dengan cara itu, Rama akan mengetahui keberadaan ibu dari putranya. Tidak masalah jika Kezia di pisahkan denganya. Namun dengan putranya? Anak itu juga butuh mengenal siapa ibunya. Tak terbayangkan bagaima tumbuh tanpa kedua orang tua di sisi Ethan. Rama berjanji, bagaimanapun caranya, putranya harus tumbuh dengan kedua orang tua yang lengkap.


Rama membeli sebuah bagunan mewah di pulau dewata. Tidak mungkin, dia terus-terusan tinggal di hotel. Meskipun akan jarang di tempati, setidaknya ia punya tempat tinggal saat mengunjungi putranya.


Besok siangnya, Rama sudah berdiri di depan sekolah putranya. Ia sengaja melarang Dewi, agar tidak menjemput Ethan. Rama menyuruh Dewi, pergi kemanapun asal tidak membuat Adrian curiga. Rama berencana hari ini akan mengajak putranya, main kerumah barunya.


Tiba ketika Ethan keluar dengan wajah cerianya bersama segerombol teman-temanya. Rama langsung berjongkok, meminta putranya untuk memeluk dirinya. Dia sangat terlihat seperti seorang ayah yang sangat menyayangi putranya. Meskipun ia sempat gagal menjadi seorang suami. Setidaknya, ia tidak ingin gagal menjadi seorang ayah.


"Papa," panggil Ethan, riang


"Anak papa, sudah pulang! Sini sayang, peluk papa," pinta Rama. Interaksi mereka berdua tak luput dari penglihatan gurunya Ethan.


"Ethan sudah mau panggil papa, sekarang! Anak pintar. Ethan harus menjadi anak yang pintar, nurut kata orang tua, oke."

__ADS_1


"Baik bu guru," timpal Ethan


"Kita mau kemana, papa?" tanya Ethan, mendongakan kepalanya sambil menarik tangan Papanya.


"Papa akan mengajakmu pergi melihat rumah baru."


"Beneran? Apakah kak Dewi juga ikut?"


"Enggak, kak Dewi gak ikut," jawab Rama, menggandeng tangan putranya, menuju mobilnya."


Rama mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Hari ini, dia sengaja mengendarai mobilnya sendiri. Di sepanjang jalan, Ethan selalu berceloteh, membuat Rama tersenyum. Hingga tanpa sadar, mobil yang ia kendarai sudah berhenti di perkarangan rumah yang sangat besar dan megah. Ethan menatap kagum pada bangunan besar di depanya. Ia mengira, saat ini, papanya membawanya ke sebuah istana di negeri dongeng. Rama hanya tersenyum, karena memaklumi imajinasi anak seusia putranya, tidak jauh dari cerita dongeng.


Rama menggendong putranya keluar dari mobil. Ketika mereka hendak memasuki rumah yang di sebut istana oleh putranya. Para pelayan dan penjaga, sudah menyambut kedatangan majikanya. Entah kapan, Rama mempekerjakan mereka.


"Papa, apa di sini ada banyak mainan?"tanyanya tersenyum jenaka.


"Tentu, kau ingin melihat mainanmu, boy?" tanya Rama, berjongkok mensejajarkan tinggi badanya dengan putranya.


"Tentu, papa!"


"Ayo ikut papa, akan papa tunjukan kamarmu yang seperti istana mainan, boy."

__ADS_1


Ethan bersorak gembira di dalam genggaman tangan papanya. Mereka menuju di sebuah kamar yang terletak di lantai bawah. Kamar yang sudah di hias khas kamar anak laki-laki, seumuran Ethan. Ethan sudah berlari memasuki kamarnya, berhambur melihat-lihat satu persatu mainanya. Berbagai mainan, berjejer rapi di lemari dan kotak khusus yang telah Rama sediakan. Melihat putranya tertawa riang, membuat lubuk hati Rama yang paling dalam, merasa ikut senang.


Bahkan saking senangnya, Ethan tidak mendengar ketika Rama menyuruhnya makan. Alhasil, Rama dengan telaten menyuapi putranya yang sedang bermain. Bahkan Ethan menolak, ketika Rama hendak mengantarnya pulang. Sepertinya bocah kecil itu sangat betah di rumah papanya.


Rama tidak bosan-bosanya memandang keceriaan putranya dengan semua mainanya. Matanya sampai berkaca-kaca, ada perasaan haru yang menyelimuti hatinya. Selama ini, dia tidak bisa menemani tumbuh kembang putranya. Semua mainan yang ia belikan tidak ada apa-apanya di bandingkan waktu yang telah terbuang. Rama menghampiri putranya, ikut duduk, bermain bersama putranya.


Hingga jam lima sore, Ethan belum juga di antar pulang oleh Rama. Anak itu masih betah bermain di rumah papanya. Rama juga sama sekali belum mengabari pengasuh Ethan. Hal itu benar-benar membuat Dewi kepikiran.


Jam tujuh malam, Rama baru mengantar pulang putranya. Itupun harus menidurkan putranya terlebih dahulu. Jika putranya tidak tidur, sudah pasti dia menolak di ajak pulang. Ethan tidur di dalam dekapan papanya. Rama sengaja meminta salah satu penjaga rumahnya untuk mengantarnya.


Sedangkan Dewi sudah cukup lama menunggu kedatangan mereka di tempat yang Rama katakan. Untuk saat ini, Rama belum bisa langsung mengantar mereka ke rumah mereka. Hal itu untuk menghindari kemarahan Adrian pada pengasuh putranya. Bukan karena Rama takut dengan Adrian, lebih tepatnya menunggu waktu yang tepat, sebelum ia bisa mengambil alih hak asuh putranya.


Sinar lampu mobil menyorot tepat di penglihatan Dewi. Saat ini, wanita itu sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Mobil berhenti, menampakan Rama yang dengan hati-hati keluar dari mobilnya. Dewi melangkahkan kakinya menghampiri mereka berdua. Pelan-pelan, Rama memindahkan tubuh putranya ke dalam gendongan pengasuhnya. Berharap putranya tidak terbangun dan jikapun ia terbangun besok, ia tidak akan marah kepadanya.


"Titip putra saya! Maaf jika terlalu merepotkanmu," ucap Rama pada Dewi, Dewipun mengangguk mengiyakan.


Rama memesankan Taxi, ia meminta driver taxi itu, untuk mengantarkan putra dan pengasuhnya ke alamat yang di tuju. Sedangkan Rama mengikuti taxi itu, sampai sang driver mengantarkan putra dan pengasuhnya sampai ke rumah. Memastikan mereka berdua sudah memasuki rumah, baru Rama pergi kembali ke rumahnya sendiri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Mau lanjut?

__ADS_1


Siapa yang penasaran di mana Kezia saat ini berada?


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2