Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kejadian pahit


__ADS_3

Kezia afshen


Sudah beberapa hari aku telah menjadi istri dari Rama asher. Tiada moment-moment indah selayaknya pengantin baru. Tiada kata-kata manis yang terucap langsung dari bibirnya. Yang terdengar hanya kata-kata pedasnya yang selalu menusuk ke dalam hatiku. Jangankan kata-kata manis, sapa'an selamat pagipun tak pernah terucap dari bibirnya.


Di dalam apartemen sebesar ini rasanya sangatlah sunyi bagiku. Rama selalu mengabaikanku seolah aku tidak ada. Sempat beberapa kali aku bersikap manis layaknya seorang istri yang baik. Ia tetap bersikap dingin tanpa menghiraukanku sama sekali.


Aku sudah mencoba untuk menerima sikap dinginya kepadaku. Aku berfikir selagi ia tidak bermain kasar, semua akan baik-baik saja. Nyatanya fikiranku salah, malam itu malam pertama ia melukai fisiku. Membuat pecahan piring yang ia banting mengenai betisku.


Aku tahu dia melihat lukaku, jangankan mengobatiku. Dia malah mengabaikan seakan ia tak tahu. Dan yang lebih aneh lagi, kenapa ia menyelamatkanku di saat diriku menenggelamkan tubuhku ke kolam. Apa mungkin dia takut aku mati? apa dengan aku mati dia merasa bersalah. Tidak mungkin ia membiarkan aku mati secepat itu. Bisa jadi ia hanya ingin menyiksaku secara perlahan.


Aku mencintainya, namun kenapa hanya luka yang selalu ku terima. Andaikan dia tahu kebusukan kakaku selama ini. Baginya kakaku vania adalah seorang dewi. Sedangkan aku adalah seorang penyihir jahat yang selalu melukai kakaku. Tanpa ia tahu, akulah yang selalu terluka.


Bisakah aku berharap adanya keajaiban yang membuat Rama mencintaiku. Pagi itu untuk menghilangkan kejenuhan, aku pergi ke kantor milik keluargaku. Aku sebenarnya tahu suamiku tadi mengikutiku. Aku sengaja menerima tawaran Digo sanjaya yang akan mengantarkanku ke kantor. Aku ingin melihat bagaimana respon suamiku nanti saat aku pulang.


Suara heels beradu nyaring dengan lantai granit di sebuah gedung perkantoran milik keluargaku. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan kakaku yang teramat sepi. Di mana kakaku saat ini berada, kenapa sekertarisnyapun tidak ada di tempat.


Terdengar suara ramai di suatu ruangan yang membuatku penasaran. Ku buka sedikit pintu, ku intip dari luar. Tiba-tiba pintu terbuka lebar membuat orang-orang yang berada di dalam berfokus memandangku semua.


"Selamat datang adiku tersayang."


Aku tidak sadar begitu banyaknya wartawan di dalam sana. Sehingga mereka semua berebut mengambil foto dan vidioku. Ini benar-benar membuatku kalangkabut. Kejutan dari kakaku Adrian sangat membuatku risih. Namun bagaimanapun aku tetap harus tersenyum manis pada semuanya.


Tangan kokoh kakaku menarik tangan mungilku dan membawaku ke depan. Kak Adrian memperkenalkan diriku pada publik. Semua orang memandangku seolah terpesona dengan kecantikanku.


Satu jam lamanya diriku yang harus menanggapi pertanya'an dari wartawan. Banyak sekali pertanya'an tentangku yang harus ku jawab. Hari ini sungguh melelahkan. Niat hati menghibur diri malah membuatku lelah.


Kakaku menyuruhku beristirahat dulu di ruanganya. Niat hati ingin masuk tetapi ku urungkan karena aku harus pulang. Sebagai seorang istri aku harus menyambut suamiku pulang. Memasakan beberapa macam masakan untuk suamiku. Menyiapkan baju ganti dan air hangat. Semua tugas istri tetap aku kerjakan meskipun Rama melarangku.


Setibanya di depan apartemen ku dengar suara Rama yang sepertinya sudah pulang. Padahal hari masih siang, apakah Rama sengaja ingin pulang dan makan siang. Daripada terus menduga, langsung saja ku buka pintu apartemen. Ku lihat Rama sedang duduk santai sambil merokok. Aku sangat membenci bau asap rokok.

__ADS_1


"Mas, kau sudah pulang rupanya."


Ku ulurkan tanganku untuk mencium punggung tanganya. Lagi-lagi hanya di abaikan olehnya dan membuatku mengibaskan tanganku ke udara. Ku langkahkan kakiku menuju kamar. Ku biarkan saja dia seperti itu.


Sebenarnya aku sangat lelah,namun aku harus segera masak. Pasti Rama belum makan dan pasti dia sangat lapar. Kini tersajilah sepiring nasi goreng yang baru saja ku buat. Hanya itu yang bisa ku buat karena aku lupa belum berbelanja bahan-bahan dapur. Ku ambil selembar kertas kecil dan ku beri tulisan "Jangan di banting", karena aku takut terjadian semalam terjadi lagi.


Setelah kuletakan nasi goreng di depan Rama. Aku langsung saja masuk ke dalam kamar. Tetapi baru juga pintu akan terbuka. Tangan Rama lebih dulu menariku dan menyudutkan tubuhku ke dinding.


"Ternyata kau memang wanita murahan yang gampangan."


Perkata'anya barusan membuatku hatiku sakit. Aku tak akan kalah dengan perkata'anya.


"Aku memang murahan, sayang!"


Rama semakin mendekatkan wajahnya sehingga hidung kami saat ini telah menempel. Sialnya jantungku mendadak berdetak cukup kencang.


Rama menyeretku masuk ke dalam kamarku.Di tariknya kedua tanganku dan tak lama ia mengikatnya. Mataku mendadak melebar, apa yang akan di perbuat Rama Kepadaku. Aku sangat panik sa'at tanganya mulai membuka kancing kemejaku. Sekuat tenaga aku mulai mencoba membuka tali yang mengikat tanganku. Percuma saja karena ikatanya cukup kencang sehingga sulit ku lepaskan.


Aku merasa panik, apa yang akan dia lakukan kepadaku. Jika dia ingin meminta haknya, kenapa harus dengan cara seperti ini.


"Sayang, kenapa kau harus mengikatku, ini hakmu ambilah. Tetapi lepaskan ikatan di tanganku, aku merasa tidak nyaman."


"Kau fikir aku akan melakukanya? aku hanya ingin bermain-main sebentar denganmu."


Tanganya membelai wajahku semakin turun hingga tepat di kancing kemejaku paling atas. Dia mulai membuka kancing kemejaku satu persatu. Hingga memperlihatkan bra berwarna hitam yang kontras dengan kuliku.


Aku hanya pasrah apapun yang akan dia lakukan. Setelah di lepasnya kemejaku, dia juga melepaskan celanaku. Sehingga saat ini aku hanya mengenakan bra dan ****** ***** yang berwarna senada.


"Mari kita mulai permainanya," ucapnya memperlihatkan seringai licik di wajahnya

__ADS_1


Dia mempermainkan seluruh tubuhku hingga ******* kecil keluar dari mulutku.


"Apakah seperti ini para pria mencumbumu? berapa banyak lelaki yang sudah menikmati tubuhmu?"


Perkata'anya sungguh sangat menyakiti hatiku. Seolah aku adalah seorang pelacur yang dengan mudahnya menjual tubuhku. Ini pengalaman pertama bagiku asal kau tahu Rama. Namun percuma saja jika aku berucap dia tidak akan percaya. Biarkan dia membuktikan sendiri aku masih perawan atau sudah tidak lagi.


Dia melanjutkan lagi mempermainkan tubuh bagian atasku. Hingga kini hanya tersisa cd hitam yang menutup tubuhku. Puas mempermainkan tubuh bagian atasku. Kini dia mulai menelusupkan tanganya memasuki celana dalamku.


Cara dia mempermainkan tubuh bagian bawahku sungguh membuatku semakin gila. Hingga tubuhku merespon hebat setiap sentuhanya.


"Bagaimana rasanya? apakah nikmat?" ucapanya seolah sedang mengejeku


Nafasku terengah enggah ketika merasakan setiap sentuhan yang ia berikan. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku tanpa bisa melawanya. Sial tanganku sakit sekali, mungkin saat ini sudah membiru karena ikatanya.


"Ternyata tubuh jalangmu sangat merespon sentuhanku."


Dia melanjutkanya dan kali ini semakin menyiksaku. Namun lagi-lagi aku di buat kecewa saat dia tiba-tiba berhenti. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berhenti.


Dia mengumpat kemudian meninggalkanku dalam keada'an tangan yang masih terikat. Ku dengar suara pintu kamarnya tertutup sangat keras. Aku terlonjak gaket setelah mendengarnya.


Beribu pertanya'an telah masuk ke dalam fikiranku. Ku coba melepaskan ikatan tanganku meski terasa sakit. Hingga satu ikatan terlepas dan membuatku merasa lega. Kini semua ikatan di tanganku sudah kulepaskan.


Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Lelehan air mata tidak mampu lagi ku tahan. Air mataku mengalir dengan sendirinya menandakan betapa sakit hatiku saat ini.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


😢 Kasihan banget kamu Kezia!


Lanjut atau tidak?

__ADS_1


Jangan lupa like, koment dan subsribe👌


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2