
Rama Asher
Hatiku bagai di hempas secara paksa, ketika ku dengar Kezia meminta bercerai denganku. Aku akui aku keterlaluan membentaknya kemarin. Dia sedang sakit, aku malah bermesra'an deng Vania. Aku tidak punya pilihan lain waktu itu, Vania datang ke apartemenku tanpa aku memintanya.
Semenjak Kezia meminta bercerai, kami hanya diam tanpa menyapa.Tinggal di satu atap namun tak saling bicara. Tinggal satu atap namun tak saling sentuh. Ingin rasanya aku memeluknya, sakit rasanya ketika tak bisa menggapainya. Rasanya telah berbeda, ketika aku memeluk Vania dan Kezia. Getaran yang pernah ku rasakan pada Vania tak lagi sama. Getaran itu lebih terasa kuat, saat aku memeluk Kezia. Ku akui hatiku saat ini sudah berpindah pada istriku.
Entah kenapa aku merasa nyaman di dekat Kezia. Aku sudah tidak mencintai Vania lagi, karena hatiku sepenuhnya telah di miliki Kezia. Beberapa bulan ini, aku tidak mendapati hal-hal buruk pada diri Kezia. Semua yang di ucapkan Vania tentang Kezia sepertinya tidak benar.
Aku sudah terbiasa hidup bersama Kezia selama beberapa bulan ini. Mulai dari memakan masakanya setiap hari. Memeluknya saat tidur, menciumi aroma tubuhnya yang membuatku candu. Kezia, gadis tomboy yang mencintaiku telah berhasil merebut hatiku. Cinta itu mengalir apa adanya tanpa unsur keterpaksaan. Namun hanya waktunya saja yang terlambat.
Di saat hatiku sudah berpindah kepada Kezia.Dia malah meminta bercerai kepadaku. Aku tahu alasanya agar aku bisa bersatu dengan Vania. Dia tidak tahu jika aku mencintainya. Aku terlalu gengsi untuk jujur kepadanya. Di lain sisi, aku sedang mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri hubunganku dengan Vania. Kenapa kau tidak mau menungguku sebentar lagi,Kezia. Apakah hidup di sisiku sangat membuatmu menderita.
Aku mendengar semua yang Kezia ucapkan kepadaku saat aku tidur. Sebenarnya aku sudah bangun waktu itu. Aku sengaja pura-pura tidur, saat mendapati pergerakan dari tubuh Kezia. Aku bisa mendengarkan semua ucapanya yang melukai hatiku.
__ADS_1
"Apakah kau sangat menderita ketika berada di sisiku? Apakah kamu ingin terbebas dari pernikahan ini? Aku tahu, bahwa sedikitpun aku tidak ada di dalam hatimu. Di hatimu, hanya terukir nama kakakku. Aku tahu, kakakku lah yang seharusnya berada di pelukanmu saat ini.
Rama, maafkanlah aku, jika sekembalinya aku ke Indonesia hanya membuatmu menderita. Aku sadar, cinta tidak dapat dipaksakan untuk berpindah ke lain hati. Jika aku menjadi dirimu, tentu saja aku akan tetap setia kepada kekasihku. Aku memang hanyalah benalu di dalam hubungan kalian berdua. Sudah sepantasnya, benalu itu menyingkirkan dirinya agar kalian dapat bersatu. Terima kasih telah menjadi suamiku untuk beberapa bulan ini. Aku sudah cukup bahagia pernah menjadi istrimu. Meskipun berat, mari kita percepat proses perceraian kita."
Aku tidak menginginkan perpisahan itu, Kezia. Bersabarlah hingga aku bisa melepaskan Vania tanpa melukai hatinya. Meski aku bisa menebak, Vania pasti akan terluka. Namun Kezia tetap kukuh pada pendirianya untuk bercerai denganku. Kepalaku pusing, hingga aku melakukan kebiasaan lamaku merokok. Aku fikir dengan merokok akan menghilangkan pusingku. Ternyata aku salah, bukan itu yang ku butuhkan.
Aku keluar kamar setelah mandi, ternyata Kezia sudah tidak berada di rumah. Ku dapati selembar kertas yang tertempel di pintu kamarku. Ternyata pesan-pesan dari istriku agar aku tidak lupa memakan sarapanku. Aku tersenyum, setidaknya Kezia masih mempedulikanku.
Mobilku telah sampai di gedung tinggi, tepatnya kantor milik keluarga Afshen. Ku langkahkan kakiku masuk menuju tempat tujuanku. Saat aku sudah berada di depan ruang Ceo, bertepatan Adrian keluar dari ruanganya.
"Ada hal apa, sehingga kau datang ke kantorku?" Tanyanya.
"Apakah istriku ada di sini?"
__ADS_1
"Kau menanyakan istrimu kepadaku, sedangkan kau adalah suaminya. Bagaimana bisa seorang suami tidak mengetahui keberada'an istrinya. Apa karena terlalu sibuk berselingkuh dengan kekasihnya?"
"Aku kemari mencari Kezia, bukan untuk mendengarkan introgasimu," Ucapku kesal, ku langkahkan kakiku begitu saja pergi dari kantor Adrian. Bukanya menemukan Kezia, malah introgasi dari Adrian yang ku dapatkan. Kemana istriku saat ini berada. Apakah dia ada jadwal pemotretan. Setelah ku fikir, ucapa Adrian memang benar. Sebagai seorang suami, seharusnya aku mengetahui di mana istriku berada.
Sial, aku merutuki kebodohanku selama ini. Bahkan selama ini aku tidak pernah peduli kemanapun Kezia pergi. Membiarkan dia bebas pergi kemanapun sesuka hatinya. Sedangkan aku hanya fokus pada pekerjaan dan Vania. Bahkan aku tidak pernah tahu hal apa saja yang di sukai istriku. Suami seperti apa aku ini, di saat suami-suami lainya memanjakan istrinya. Aku malah memberi luka pada istriku.
Apa aku harus mengabulkan permintaan Kezia, agar ia bahagia. Benarkah dia akan bahagia jika terlepas dariku. Bukankah selama ini dia sudah berusaha melupakanku. Namun nyatanya, cintanya kepadaku tidak pernah hilang. Apa saat ini dia sudah tidak lagi mencintaiku.
"Arrrkkk, kepalaku rasanya ingin pecah memikirkan semua ini. Jika memang benar Kezia sudah tidak lagi mencintaiku. Lalu hal apa yang membuatnya berhasil menghapus perasaanya kepadaku. Apakah Alex yang menghapus rasa cintanya kepadaku. Bahkan aku sering melihat mereka makan bersama. Aku tidak ingin hati Kezia berpindah pada pria lain. Kezia hanya miliku, tidak akan ku biarkan pria lain memilikinya selain aku. Aku tidak akan pernah membiarkan miliku di rebut orang lain.
Apakah aku begitu bodoh, atau takdir yang sedang mempermainkanku. Bahkan tempo hari, aku menerima kabar dari orang suruhanku. Ternyata Vanialah yang menyuruh orang untuk mencelakai Kezia. Aku sempat tidak percaya dengan ucapan orang suruhanku. Aku belum bisa percaya sebelum aku membuktikanya sendiri. Bukankah selama ini Vania bersikap lembut kepada adiknya. Bukankah selama ini Kezialah yang selalu menyakiti Vania. Atau malah sebaliknya, kenapa semua ini membuatku pusing. Siapakah yang benar, kenapa aku merasa di permainkan oleh dua wanita sekaligus.
Hari ini ku lewati begitu lama, aku tak sabar untuk bertemu dengan istriku saat pulang. Persetan siapa yang benar di antara Kezia dan Vania. Yang aku butuhkan saat ini hanya bertemu dengan istriku. Memeluknya erat, mencium aroma tubuhnya yang membuatku candu. Menatap mata hazelnya yang indah. Aku ingin berkata bahwa aku sangat mencintainga. Aku juga akan berkata jika aku tidak ingin bercerai denganya. Kezia,aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu nanti.
__ADS_1