
Rama asher
Aku benar-benar sangat menyesali perbuatanku kepada Kezia. Aku telah melukainya,sehingga dia pergi meninggalkanku. Sudah ku kerahkan semua anak buahku untuk mencari Kezia. Namun tiada satupun yang mendapati jejaknya. Akhirnya aku nekat mengunjungi kantor Adrian. Aku yakin Adrian pasti tahu keberadaan Kezia saat ini. Karena Adrianlah yang membelikan tiket honeymoon pada kami.
Semua tak semulus duga'anku, bahkan aku harus mendapati beberapa pertanya'an dari Adrian. Aku juga mendapatkan berkali-kali pukulan dari Adrian. Bagaimana bisa, dia membelikan tiket Honeymoon yang seharusnya kami berdua yang pergi. Namun kenyata'anya hanya Kezialah yang pergi.
Aku hanya pasrah di pukulinya asalkan dia memberi tahu keberada'an Kezia. Setelah puas memukuliku hingga wajahku babak belur. Tak lama setelah itu dia memberitahuku keberada'an Kezia. Bahkan dia melakukan panggilan kepada Kezia untuku. Tak lama setelah telphone tersambung. Kezia langsung mematikan panggilan setelah mendengar suaraku.
Aku yakin dia sangat marah dan kecewa kepadaku. Tanpa berfikir panjang, segera ku cari tiket penerbangan ke paris hari itu juga. Aku berharap,setibanya aku di paris. Kami berdua bisa baikan kembali. Aku berharap Kezia mau mema'afkanku.
Setelah menempuh jarak waktu yang sangat panjang. Kini diriku telah tiba di hotel yang di tempati Kezia. Binar kebahagiaan pada diriku mendadak redup. Orang yang ku cari sudah pergi meninggalkan hotel beberapa jam yang lalu. Kini diriku frustasi, harus kemana lagi mencari Kezia.
Sedangkan Vania terus-menerus menelphoneku untuk pulang. Akhirnya aku menghentikan pencarianku pada Kezia. Aku putuskan untuk menunggunya kembali ke indonesia. Berharap sepulangnya nanti, dia sudi untuk memaafkanku.
Tanpa mengistirahatkan tubuhku yang sebenarnya sangat lelah. Segera ku beli tiket penerbangan ke indonesia hari itu juga. Setibanya di bandara, Vania sudah menjemputku. Segera ku tutupi wajah sedihku dengan senyuman menghampirinya.
"Sayang, kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku? kau dari mana?"
"Maaf, ada meeting dadakan di luar negeri, sayang," bohongku.
Setelah ku pastikan Vania percaya dengan ucapanku. Segera ku genggam tanganya menuju mobilnya. Dia ingin mengantarku ke apartemenku tanpa mampir dulu ke apartemenya. Saat kami baru tiba dan berhenti. Terdengar ketukan pintu dari luar yang ternyata adalah ibuku. Segera saja aku turun dari mobil dan menyuruh Vania pergi.
Ibuku terlihat sangat marah dan tatapan tidak sukanya kepada Vania. Ku ajak ibuku masuk ke dalam apartemenku. Karena tidak ingin kemarahanya di dengar banyak orang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Rama?" jelaskan pada ibu!" tanya ibu menatap tajam padaku.
"Rama akan jelaskan, tapi ibu duduk dulu, ya."
__ADS_1
"Di mana istrimu? bagaimana bisa kamu pulang bersama Vania?"
Aku bingung harus menjawab bagaimana. Apakah aku harus jujur dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tidak, aku tidak ingin orang tuaku ikut campur di dalam rumah tanggaku.
"Kezia ada jadwal pemotretan, bu."
Untung saja ibuku percaya dengan jawabanku. Setidaknya aku bisa bernafas lega meskipun hanya sebentar. Karena setelahnya ibuku mengomeliku karena masih jalan dengan Vania.
"Kamu sudah menikah dengan Kezia, Ram. Tidak seharusnya kamu masih berhubungan dengan Vania."
"Tapi Rama masih cinta pada Vania, bu."
"Cinta? Apa kau sangat bodoh masih mencintai wanita yang menggantikan namanya dengan nama adiknya di daftar pernikahan kalian?"
"Tapi Vania terpaksa melakukanya, bu."
Aku menggeleng, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Vania. Aku mencintai Vania, tidak mungkin aku menyakiti Vania. Karena kecewa dengan ucapanku, ibukupun keluar dari apartemenku sambil menutup pintu keras.
Belum juga masalah satu terselesaikan, sudah muncul masalah baru. Kini fikiranku di penuhi dengan Kezia,Vania dan juga Ibuku. Rasanya kepalaku ingin pecah saat ini juga.
Ku langkahkan kakiku masuk kedalam kamar Kezia. Ku hirup dalam-dalam aroma Kezia yang tertinggal. Entah kenapa aku sangat merindukanya. Andai saja kemarin aku tidak menyebut nama Vania saat kami bercinta. Mungkin saat ini aku masih bisa memeluk tubuhnya. Entah kenapa,Kezia membuatku candu. Ingin sekali aku memeluknya saat ini.
Ku lihat kembali selembar kertas yang ia tinggalkan sebelum Kezia pergi. Kata-katanya memang benar, dan aku merutuki ucapanku. Aku sendiri yang menolah tiket honeymoon darinya. Kini aku sendiri yang di buatnya kebingungan mencarinya. Kau sungguh hebat Kezia, kau mampu memporak porandakan fikiranku.
Pulanglah kembali Kezia, lebih baik kau menghukumku saja. Aku tidak sanggup di hantui kesalahan dan penyesalan. Apa lagi, kau tidak memberi kesempatan padaku untuk meminta maaf. Walaupun aku tahu, kata-kata maaf saja tidak akan cukup.
Ku baringkan tubuhku menghirup dalam-dalam selimut yang biasa ia pakai untuk menutupi tubuhnya saat tidur. Tanpa terasa lama-lama mataku pun terpejam.
__ADS_1
Aku terbangun dari tidurku saat mata hari baru saja terbit. Saat akan keluar dari kamar Kezia hendak ke kamarku. Ku dengar pintu apartemenku terbuka, langsung saja ku buka pintu kamar Kezia.
"Kezia, kau sudah pulang."
Ternyata Kezia sudah pulang, segera kulangkahkan kakiku untuk segera memeluknya. Aku sangat senang akhirnya aku bisa memeluknya kembali.
"Lepaskan, kau terlalu erat memeluku, membuatku sesak nafas."
"Kezia, kau dari mana saja? apa kau tahu aku menyusulmu ke paris?"
"Untuk apa? siapa juga yang menyuruhmu menyusulku. Bukankah kamu sendiri yang bilang tidak akan pergi."
"Kezia, maafkan aku atas_
"Sudah lupakan saja, aku lelah ingin istirahat."
Aku sebenarnya kecewa dengan ucapan Kezia. Dia mendadak berubah tidak seperti biasanya. Bahkan kata-katanya sangat dingin kepadaku. Apakah dia masih marah kepadaku. Bagaimana cara agar dia mau memaafkanku.
Ku masuki kamarku dengan raut kekecewaan. Ku guyur tubuhku di bawah air shower yang mengalir membasahi tubuhku. Setelah selesai, aku keluar hanya melilitkan handuk sebatas pinggang. Tidak ku sangka ternyata kezia duduk di sofa menungguku.
Aku mengernyitkan dahiku saat ku dapati selembar kertas yang ia berikan kepadaku. Aku menggeleng setelah membaca keseluruhan yang tertulis pada kertas tersebut.
"Apa maksudnya, Kezia?"
"Aku sadar, cinta tidak bisa di paksakan. Meskipun kita sudah menikah. Meskipun aku adalah istri sahmu. Tetapi fikiran dan hatimu hanya ada kak Vania. Mari kita bercerai setelah pernikahan kita genap lima bulan. Setelah itu kau akan bebas, kau bisa bersatu dengan orang yang kau cintai. Tetapi sebelum itu terjadi, izinkan aku memerankan diriku sebagai istrimu. Berpura-puralah mencintaiku, agar aku memiliki kenangan indah saat kita berpisah," ucap Kezia.
Aku tidak menyangka kezia bertindak sampai sejauh ini. Jika awalnya aku yang berniat menceraikanya. Kini keadaan menjadi terbalik, dia sendirilah yang meminta perceraian kepadaku. Kenapa mendadak hatiku merasa tak rela.
__ADS_1