Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Karena Sebuah Janji


__ADS_3

Kezia Afshen


Ingin Rasanya aku menangis saat ini juga, terjebak oleh janjiku sendiri, yang membuatku terpaksa harus meninggalkan dua lelaki yang teramat ku sayangi. Erik membawaku pergi, di saat bersama'an putraku Ethan berteriak memanggil-manggilku.


"Mama jangan pergi, ma."


Sesak sekali dadaku rasanya, ketika suara tangisan putraku semakin menghilang seiring diriku yang semakin menjauh. Ku lirik wajah lelaki yang kini menjadi tunanganku, terlihat penuh kekecewa'an padaku.


Ya, itu semua memang salahku, aku yang melanggar amanahnya. Genggaman erat tanganya telah terlepas, setelah kami sudah memasuki mobil.


Aku masih terisak mengingat tangisan putraku yang tak ingin aku pergi. Sengaja aku memalingkan muka, aku masih kecewa dengan perlakuan Erik barusan.


Erik memang lelaki yang baik, dialah yang selalu ada untuku selama ini. Tidak ada yang kurang dari sosok Erik. Selain profesinya yang seorang dokter bedah. Erik juga memiliki wajah yang tampan. Meskipun ketampananya tak setampan Rama.


Namun, kalau boleh jujur, tidak ada getaran apapun yang ku rasakan saat bersamanya. Rama masih menempati posisi memenuhi hatiku. Hanya karena berhutang budi, aku terpaksa menerima lamaran dari Erik.


Aku terjebak dengan janjiku yang akan menikah denganya. Aku fikir, dulu aku dan Rama tidak akan ketemu kembali. Aku pikir, dengan menikah dengan Erik, maka posisi Rama di hatiku akan tergeser. Aku pikir, putraku bisa menerima Erik sebagai papanya. Namun aku salah, duga'anku meleset, kini aku menyesal, benar-benar menyesal.


Mendadak Erik menepikan mobilnya, bersama'an lamunanku menghilang. Aku sadar dan langsung menoleh menghadap Erik. Wajahnya masih saja seperti tadi, penuh kekecewa'an.


"Kenapa kau membohongiku, Kezia?" tanyanya tanpa menatap wajahku.


"Maaf," hanya kata-kata maaf, yang bisa keluar dari bibirku.


Erik menoleh, melihatku yang sedang menangis pilu. Aku masih terngiang-ngiang tangisan anaku, sungguh aku tidak sanggup melihatnya menangis.


"Siapa yang kau tangisi? Ethan atau Rama," tanya Erik dengan nada di tekankan.


Aku tidak menjawab, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu, setelah membawaku pergi meninggalkan putraku. Bahkan kami masih saling diam, hingga mobil Erik memasuki rumah papaku.


Aku langsung masuk ke dalam kamar, tanpa menghiraukan Erik dan tatapan papaku yang penuh tanya. Aku merutuki nasipku, kenapa hidupku selalu saja seperti ini. Tanpa ku tahu, Erik membicarakan rencana pernikahan kami akan dipercepat kepada papaku.


Aku tidak sanggup lagi, jika bisa ku putar roda perkata'anku, maka aku akan menarik kembali kata-kataku yang berjanji akan menikah dengan Erik.


Handphoneku berbunyi, ku lihat notifikasi dari Rama. Aku segera membukanya, berharap Rama tidak marah kepadaku.


Kezia :


Kau di mana? Apa dia menyakitimu?"Aku sudah sampai di rumah papaku! Aku baik-baik saja, tolong sampaikan maafku pada Ethan, Ram.

__ADS_1


Rama :


Tenanglah, dia baik-baik saja bersamaku! Jangan bersedih, aku akan berusaha merebutmu dari pria itu.


Aku :


Jangan berbuat macam-macam, Ram! Aku tidak ingin kamu terluka.


Rama :


Aku tidak macam-macam! Aku hanya ingin memperjuangkan ibu dari putraku. Kamu tidak akan menjadi milik siapapun kecuali miliku. Garis takdir kita telah terukir dan tidak akan bisa terhapus oleh apapun. Pada akhirnya, kita akan kembali, karena takdirlah yang mempertemukan kita kembali. Kamu jodohku Kezia, aku tidak akan membiarkan putraku kehilangan mamanya.


Aku tidak mampu lagi membalas chat dari Rama. Jika situasi tidak serumit ini, maka aku akan merasa bahagia mendengar ungkapan Rama barusan. Terlebih lagi, dia juga pernah jujur akan perasa'anya kemapadaku.


Rama :


Berjuanglah bersamaku, aku tidak sanggup kehilangan kamu lagi. Kita berjuang demi putra kita yang masih membutuhkan kita berdua di sisinya.


Rama :


Please Kezia, sudah cukup perpisahan kita dulu. Berjuanglah bersamaku, aku mencintaimu Kezia.


Aku :


Rama :


Jangan berandai-andai, cukup tunggulah aku, maka aku akan menjemputmu dan merebutmu kembali dari Erik.


Masalalu memang tidak bisa ku ubah, namun aku mempunyai sebuah harapan untuk memperbaikinya. Apa lagi kami berdua saling cinta dan ada Ethan di antara kami yang harus kami perjuangkan.


Terimakasih Rama, terimakasih telah membalas perasaanku selama ini. Meskipun kita harus melaluinya dengan berbagai macam coba'an. Aku juga sangat mencintaimu, hati ini tetap milikmu.


Rama :


Zia, apa kamu sudah tidur?


Aku :


Belum, Ram! Aku masih memikirkan putra kita.

__ADS_1


Rama :


Tenanglah! Dia sudah tertidur nyenyak.


Berjanjilah untuk tetap menungguku, kita akan menebus kesalahan di masalalu bersama. Kita akan melewati semua rintangan ini bersama.


Aku benar-benar tidak tahan lagi untuk terus menangi. Di tambah lagi, membaca semua isi chat dari Rama. Semoga kamu berhasil memperjuangkanku Rama. Akupun ingin bersatu kembali denganmu dan Ethan. Benar katamu, kita harus memperbaiki kesalahan di masalalu bersama.


Tak lama, Rama mengirim foto putra kami yang sedang tertidur nyeyak di pelukanya. Ku usap air mataku di sudut mataku. Mereka berdua benar-benar membuatku iri. Akupun ingin tidur bersama mereka berdua lagi.


"Tok, tok! Kezia, apa kau tidur, nak?"


Suara papaku memanggilku, aku sengaja diam, aku sudah tahu apa yang akan papaku katakan kepadaku. Sudah pasti ini berhubungan dengan pernikahanku dan Erik yang akan di percepat.


Bolehkan aku kabur saat ini juga? Menghindar dari mereka semua. Akupun berharap, Rama benar-benar bisa membebaskanku dari ikatan ini. Aku tidak mencintai Erik, aku melakukanya hanya karena balas budi.


Erik :


Aku tahu kau tidak sedang tidur, KeziaApa kau menghindariku? Kau tidak lupa dengan janjimu, bukan?


Erik :


Jangan mengingkari janjimu, KeziaAku sangat mencintaimu, bahkan mungkin cintaku lebih besar dari cintamu pada Rama


Erik :


Aku akan membahagiakanmu dan tidak akanmenyakitimu seperti yang Rama lakukan padamu


Entah berapa banyak chat masuk dari Erik, aku tidak berani membukanya. Erik semakin over protektiv karena ketakutanya jika Rama merebutku darinya.


Maafkan aku Erik, aku mungkin akan membuatmu kecewa. Kamu adalah lelaki yang baik, dan sepantasnya bersama wanita yang lebih baik dariku. Bahkan aku bukan wanita suci, jika aku bisa jujur padamu. Aku melakukan hubungan badan dengan Rama, di saat kita bersetatus tunangan.


Entah berapa kali kami melakukanya pada pagi itu. Yang jelas, Rama tidak menggunakan pengaman sama sekali. Aku yakin, saat ini benihnya sudah membuai rahimku. Tidak mungkin aku menikah denganmu jika aku hamil anak Rama, Erik.


Bahkan tanganku mengelus lembut perutku yang rata. Aku yakin, sebentar lagi akan ada benih Rama yang berkembang di rahimku.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Astaga! Nyicil anak ke dua, Rama dan Kezia 🤭

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2