
Rama Asher
Malam telah datang, kini aku sudah berada di sofa ruang tamu menyambut kepulanga Kezia.Pintu terbuka menampilkan istriku dengan mata sembab. Kenapa matanya sembab, apa dia baru saja menangis. Ku hampiri dan ingin kuraih tubuhnya dalam pelukanku. Namun ia menahanku, malah dia memberiku selembar kertas yang aku sendiri belum membaca isinya. Setelah memberikan kertas itu, Kezia berlalu memasuki kamarnya.
Mataku langsung membelalak lebar kala membaca isi pada kertas tersebut. Surat perceraianlah yang berada di tanganku saat ini. Jangan bertanya tentang hatiku saat ini. Rasanya seperti di tusuk ribuan pisau hingga aku tak sanggup hidup lagi. Kenapa ini semua harus terjadi begitu cepat. Kenapa di saat hatiku mulai terukir namanya, dia malah ingin terlepas dariku. Kenapa begitu berat dan tak rela.
Aku belum menandatangani surat itu, meskipun Kezia sudah menandatanganinya. Jangankan menandatanganinya, tanganku seakan melemah seketika. Apakah tidak lagi ada kesmpatan, apakah aku benar-benar sudah terlambat.
Hari-hari kami lalui tanpa bertegur sapa. Bahkan Kezia hanya diam saja meskipun tanganya masih menyiapkan keperluanku. Sebenarnya aku tidak sanggup bertemu denganya. Karena hanya penyesalan yang aku rasakan ketika melihat wajahnya.
"Apakah sudah kamu tanda tangani surat perceraian kita, mas?"
Aku hanya menggeleng saat Kezia menanyakanya. Aku tidak punya tenaga lebih untuk menandatanganinya. Biarkan kertas itu tetap seperti itu. Aku tidak ingin menceraikanya, aku tidak ingin berpisah denganya.
"Segera tandatanganilah, mulai hari ini aku akan pulang ke rumah ayahku."
"Kenapa? kenapa kau harus pindah, Kezia?"
__ADS_1
"Karena sebentar lagi setatus kita akan berubah. Berbahagialah mas, kamu akan jauh lebih baik tanpa aku. Kamu tidak akan lagi berpura-pura mencintaiku."
Tidak Kezia, aku tidak berpura-pura mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, namun kenapa mulutku susah mengatakanya. Andai kau tahu aku mencintaimu, mungkin kamu tidak akan percaya. Mengingat semua perlakuanku kepadamu selama ini.
Ku lihat Kezia sudah mengemasi baju-bajunya dan tersusun rabi di dalam kopernya. Aku hanya bisa mematung dan merutuki diriku yang tidak sanggup berbuat sesuatu. Kenapa dengan diriku? Kenapa aku tidak mencegahnya. Sampai akhirnya Kezia menyeret kopernya keluar dari kamarnya. Aku tetap mematung di tempat yang sama. Seharusnya aku membawa kembali kopernya masuk ke dalam kamarnya. Namun tubuhku tidak bisa bergerak untuk menahanya.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik, mas."
Arrrrkk, Keziaku pergi meninggalkanku sendirian di sini. Aku hanya bisa diam mematung tanpa berucap sepatah katapun. Aku masih syok dengan semua yang terjadi. Aku seperti pria pecundang saat ini, yang hanya bisa diam tanpa mengambil tindakan. Apakah dengan berpisah akan membuat Kezia bahagia. Namun bagaiaman dengan hatiku, apakah aku akan benar-benar kehilanganya.
Bahkan, malam ini akan menjadi malam awal kesepianku tanpa Kezia. Bahkan aku mengurung diriku beberapa hari tanpa ke kantor. Digo sahabatku kelabakan mengurus pekerjaanmu seorang diri. Aku butuh sendiri, aku belum siap melihat dunia luar. Apa lagi besok adah sidang perceraian kami. Aku tidak sanggup Tuhan, apakah ini karma untuku. Kenapa begitu berat melepaskanya Tuhan.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, nak? kenapa kalian harus berpisah jika akhirnya saling menyakiti."
"Ini sudah menjadi keputusan Kezia, bu.Rama tidak ingin membuatnya menderita di sisi Rama. Ada kalanya,kita harus melepaskan merpati yang kita cintai demi membebaskanya menggapai kebahagiaanya."
"Tapi kalian saling mencintai, kenapa kamu tidak jujur saja padanya, nak?"
__ADS_1
Aku menggeleng, karena melihat kezia sama saja melihat penyesalanku. Biarkan aku yang tersiksa kehilanganya. Asalkan dia bisa terbebas menggapai kebahagiaanya. Cinta tidak harus memiliki, aku pasrahkan biar takdir yang mengambil kendali. Jika memang kami adalah jodoh, jodoh pasti bertemu. Jika aku memang bukan jalanya, biarlah dia mencari jalan terbaik baginya.
Ke esokan harinya, aku bersiap-siap menghadiri sidang pertama perceraian kami. Aku mencumur kumis tipis yang mulai tumbuh. Bagaimanapun, aku tidak ingin Kezia melihat wajah rapuhku. Sebisa mungkin aku akan tersenyum kepadanya di persidangan nanti. Begitupun aku, ingin melihat Kezia tersenyum manis kepadaku di persidangan nanti. Biarlah kami berpisah dengan cara baik-baik. Meskipun pada awal pernikahan kami tidak begitu baik. Aku harus tegar, semua ini demi kebahagiaanya.
Aku melihat Kezia yang baru tiba di persidangan. Seperti yang ku inginkan tadi, dia tersenyum manis kepadaku. Senyum yang sebenarnya tak ingin ku lepaskan. Sebentar lagi, mungkin senyum itu akan menghilang jauh dariku. Kenapa begitu perih dan sesak di hati ini. Sekuat tenaga aku membalas senyumnya tak kalah manis. Aku ingin memberitahunya secara tidak langsung, aku baik-baik saja Kezia. Meski sebalinya, aku sangat rapuh saat ini.
Setelah persidangan pertama selesai, ku langkahkan kakiku mendekati Kezia yang wajahnya terlihat pucat. Entah apa hanya perasa'anku saja atau penglihatanku yang kurang jelas. Tapi wajah Kezia memang terlihat pucat. Apa dia sakit? Atau apa mungkin karena dia tidak menggunakan make up.
"Apakah kamu bahagia dengan perceraian ini, Kezia?" tanyaku padanya.
"Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, mas."
"Jika aku katakan kebahagiaanku adalah di sisimu, apakah kamu akan percaya?"
Ku lihat Kezia tersenyum, seolah kata-kataku hanya omong kosong. Andai dia tahu perasaanku saat ini, namun sayangnya aku hanyalah pengecut yang tak mampu jujur.
Setelah percakapan kami terhenti, Kezia pamit pulang kepadaku. Setidaknya aku tidak akan terlalu kawatir, melihatnya pulang bersama Adrian. Entah kenapa aku melihat hal yang menjanggal pada diri Kezia. Aku masih penasaran, apakah dia sedang sakit. Apa ada yang dia tutupi dariku, sebisa mungkin aku membuang fikiranku barusan. Namun tetap saja, aku merasa hal mengganjal pada diri Kezia.
__ADS_1
Jika boleh memilih, aku ingin selalu berada di dekatnya. Sedangkan soal Vania, beberapa hari ini aku tidak pernah lagi menemuinya. Dia juga tidak memberiku kabar. Seharusnya dia senang dan menemuiku, ketika mendengar perceraianku. Aku merasa hal yang aneh pada Vania. Apa aku harus menyelidikinya. Menyuruh orang-orangku untuk mencari tahu apapun yang ia lakukan.
Selama ini aku selalu percaya kepada wanita yang masih bersetatus sebagai kekasihku. Namun, semenjak orang-orangku memberi tahu tentangnya yang mencelakai Kezia, aku jadi meragukanya. Apa selama ini aku salah menilainya. Aku harus mencari tahu sebelum, ini belum terlambat untuk menyelidikinya.