
Kezia Afshen
Kenapa dia harus hadir di saat kami berdua di ambang perceraian. Aku mengandung anaknya, buah cinta kami berdua. Lebih tepatnya hanya aku yang mencintainya. Entah ini kabar membahagiakan atau kabar duka. Haruskah aku memberi tahu Rama tentang kehamilanku. Jika aku memberitahunya, Rama pasti menggagalkan perceraian kami. Aku tidak ingin mengurungnya lagi dalam setatus pernikahan. Dia berhak bahagia bersama kak Vania.
"Sayang, bisakah kita hidup berdua saja tanpa papa, nak?" ucapku membelai perutku yang masih rata.
"Haruskah kita pergi dari negara ini, sayang?"
Apa seharusnya aku pergi saja dari negara ini. Aku yakin bisa merawat anaku sendirian. Menjadi single mom tidak terlalu buruk. Daripada aku harus tersakiti di negara ini. Cukup melihat suamiku terpaksa menikahiku, begitu menyakitkan. Apa lagi jika melihat suamiku mempertahankan pernikahan ini demi anak yang aku kandung.
Besok adalah sidang mediasi, aku sebenarnya menolaknya. Namun Rama memintanya, entah apa maunya sebenarnya. Tidak mungkin aku hadir dalam kondisiku yang seperti saat ini. Hampir setiap detik perutku bergejolak memuntahkan cairan. Tubuhku yang lemas tidak memungkinkan diriku untuk hadir. Akhirnya aku hanya mengandalkan kuasa hukumku yang datang.
Selain itu, aku memang sedang menghindari Rama. Hatiku masih sakit ketika melihat wajahnya.Wajah yang selalu melekat di hati dan fikiranku. Wajah dari ayah bayi yang aku kandung saat ini.
"Kezia."
Aku tersentak dari lamunanku, ternyata papaku yang membuka pintu kamarku. Aku tersenyum menyapa lelaki terkuat di hidupku. Jika papaku bisa membesarkan tiga anak sekaligus tanpa mamaku. Mungkin aku bisa membesarkan anaku sendirian.
"Kenapa kamu hanya mengurung diri di kamar, nak? keluarlah sayang, udara di luar lebih bagus untuk ibu hamil."
"Aku masih lemas pa, bahkan anaku tidak membiarkan ibunya duduk sebentar saja. Setiap detik, aku merasa mual dan muntah-muntah."
"Mungkin bayi yang kau kandung ingin berdekatan dengan ayahnya, nak."
Aku tersentak dengan ucapan papaku, apakah benar bayiku ingin berdekatan dengan ayahnya. Apakah aku berdosa memisahkan anak dan ayahnya. Apakah aku harus mempertahankan pernikahanku demi bayi yang ku kandung. Fikiranku saling beradu, entah mana keputusan yang terbaik. Kepalaku menjadi tambah pusing, ingin ku raih segelas air putih di nakas. Namun tiba-tiba penglihatanku mendadak kabur.
"Kezia, kamu kenapa nak? bangun, nak."
"Ya ampun, badanmu panas sekali," Pekik tuan Afshen.
__ADS_1
Tuan afshen membaringkan putrinya di ranjang. Bergegas beliau menyambar handphone milik Kezia. Beliau segera menghubungi putra sulungnya.
"Hallo, ada apa zia?"
"Adrian ini papa, cepat pulang, adikmu pingsan."
Mendengar Kezia pingsan, Adrian langsung berputar arah. Hari ini dia urungkan menemui Vania, karena Kezia lebih penting. Di kemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Adrian tidak ingin hal buruk terjadi pada Kezia. Tak butuh waktu lama, mobil Adrian sudah memasuki halaman rumah. Ia langsung berlari menuju kamar sang adik."
Tanpa bertanya, Adrian langsung menggendong Kezia menuju mobil. Di susul papanya di belakngnya.Mereka menuju ke rumah sakit bersama. Keduanya sangat panik, untung saja mereka tiba ke rumah sakit dengan selamat. Adrian langsung menggendong adiknya sambil berteriak meminta pertolongan.
"Tolong adik saya secepatnya."
Teriakan Adrian mengundang banyak pasang mata mengarah padanya. Orang-orang yang mengenal Keziapun segera mendekat. Bahkan ada juga yang mengambi foto Kezia saat tidak sadarkan diri. Ada juga yang mengunggah di sosial medianya. Sehingga beritanya menjadi gempar, memberitakan Kezia sedang di rawat di rumah sakit.
Digo yang tidak sengaja mensecroll sosial medianyapun, tidak sengaja membaca berita tentang Kezia. Ia bergegas keluar dari apartemenya menuju apartemen Rama. Di pencetnya bell apartemen Rama berkali-kali, hingga sang empunya membukakan pintu.
"Kezia masuk rumah sakit, Ram," Ucap digo sukses membuat Rama menegang. Rama segera menyambar jaket dan dompetnya.
"Antar aku ke rumah sakit sekarang, Dig!" pedintah Rama.
Sedangkan di lain tenpat, Vania yang melihat berita adiknya masuk rumah sakit, tertawa terbahak-bahak.
"Ia di rawat di rumah sakit? Baguslah, biar mampus sekalian," Gumam Vania.
Rama berjalan dengan langkah lebar, ketika dirinya sudah sampai di rumah sakit tempat istrinya di rawat. Dia menelusuri koridor rumah sakit, mencari kamar tempat Kezia di rawat. Hingga tibalah di kamar yang ia cari. Rama segera membuka ruangan itu, di lihatnya Kezia sedang tertidur dengan wajah pucatnya. Di sampingnya ada Adrian dan papanya yang sedang duduk menemaninya.
"Rama," Ucap tuan Afsen dan Adrian bersama'an
"Pa,,,Adrian, bagaimana kondisi Kezia?"
__ADS_1
Adrian dan papanya saling pandang, seolah memiliki fikiran yang sama. Haruskah mereka jujur tentang kondisi Kezia saat ini. Namun mereka terlanjur berjanji kepada Kezia untuk merahasiakan kehamilanya pada Rama.
"Dia hanya pingsan," Ucap Adrian akhirnya.
Rama mendekati ranjang tempat Kezia berbaring lemah. Adrian dan Papanya keluar dari ruangan, memberi ruang pada Rama untuk menemani istrinya.
Rama mengelus pipi mulus Kezia, dengan wajahnya yang terlihat pucat. Entah kenapa hatinya merasa perih ketika melihat wanita yang masih bersetatus sebagai istrinya kini terbaring lemah.
Di ciumnya punggung tangan Kezia yang sangat lemas. Sedikit rasa rindunya telah terobati ketika memandang istrinya. Rana memeluk tubuh Kezia, menyalurkan kehangatan pada istrinya. Ia merasakan rasa sesak yang menyiksanya selama berhari-hati terasa berkurang. Rasa sesak yang selalu ia tahan ketika ingin bertemu dengan istrinya.
"Zia, bangunlah sayang! Jangan menyiksaku dengan melihatmu seperti ini.Bukankah kamu wanita yang kuat selama ini?"
Kezia mulai sadar, ketika ia mulai membuka matanya. Samar-samar Kezia melihat suaminya berada di sampingnya. Sdangkan Rama belum menyadarinya.
"Rama."
Panggilan yang terdengar sangat lembut, sejetika membuat Rama tersadar. Ia segera menatap istrinya yang telah sadar.
"Zia, kamu sudah sadar? Katakan apakah ada yang terasa sakit?"tanya Rama kawatir
"Aku hanya sedikit pusing, kamu kenapa di sini? dan sejak kapan kamu di sini?
"Pertanya'an apa itu? Kau sakit, sudah seharusnya aku menjagamu. Jangan melarangku untuk menjagamu, zia."
"Kau tidak tahu Ram, aku akan bertambah sakit jika melihat wajahmu."Batin kezia
Mereka saling menatap, Rama membelai lembut rambut Kezia. Mereka sedang dalam fikiran masing-masing. Kezia memikirkan Rama, begitupun Rama yang memikirkan Kezia. Sehingga mereka tidak menyadari. Ada tiga orang pria yang mengamati mereka berdua dari tadi. Tiga pria itu adalah Adrian, Digo dan tuan Afsen.
"Digo, ikut aku," Perintah Adrian beranjak pergi. Digoa hanya menurut meskipun di fikiranya sedang penuh tanya. Tuan Afsen membiarkan putranya pergi.Beliau sudah bisa menebak, apa yang akan mereka bicarakan. Sebagai orang paling tua, beliau hanya berdoa yang terbaik untuk anak-anaknya.
__ADS_1