Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Menghindar


__ADS_3

Kezia Afshen


Saat ini aku berada di paris,tepatnya di jembatan Pont Alexandre. Jembatan yang dianggap sebagai jembatan paling indah dan mewah di sini. Banyak orang yang berlalu lalang melewatiku. Seolah mereka hidup dalam dunia mereka sendiri. Tidak akan peduli dengan orang lain di sekitarnya seperti aku.


Di jembatan ini aku bebas berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan emosiku yang telah lewat dari batasanya. Ku remas dadaku yang sakit namun tidak terlihat ada lukanya. Terasa perih dan berdarah, namun tiada bentuknya.


Aku tidak akan lagi memaksakan hati yang memang bukan untuku. Dari awal pernikahan ini adalah kesalahan. Bodohnya aku yang terlalu mencintainya. Sehingga pada akhirnya tetaplah aku yang terluka. Aku bisa menerima di saat suamiku mencintai wanita lain. Aku bisa terima saat suamiku bersikap acuh kepadaku. Namun kenapa begitu sakit ku rasakan. Ketika saat kami bercinta, dia menganggapku sebagai kak Vania. Saat dia mengambil mahkotaku, yang difikiranya hanyalah kak Vania.


Hancur sehancur hancurnya hatiku saat ini.Jika orang lain bisa melihat bentuk hatiku. Hatiku sama persis seperti cermin yang pecah berserakan dan tak berbentuk. Entah apakah bisa cermin yang hancur itu kembali utuh lagi.


Di atas jembatan ini, ingin rasanya ku akhiri hidupku. Aku sudah tidak kuat lagi untuk berpura-pura menjadi Kezia yang kuat. Air di bawah jembatan ini sangat jernih. Mungkin jika aku mati di sini,mayatku akan kelihatan sangat cantik. Fikiranku sungguh buntu hanya karena cinta. Bahkan mataku sembab, karena tak henti-hentinya menangis. Siapa yang peduli dengan tangisanku di tempat ini. Bahkan orang-orang hanya melirik tanpa simpati.


Saat ini posisiku sedang berdiri di pagar jembatan. Bakan semua mata yang melihat berfokus padaku. Namun saat tubuhku hendak terjun ke bawah. Handphoneku berdering dan terlihat panggilan dari kak Adrian. Langsung saja ku urungkan niatku untuk bunuh diri. Aku segera turun untuk membuka handphoneku. Ku jawab telphone dan ternyata suara Ramalah yang ku dapati. Segera saja tanpa berfikir panjang ku matikan obrolan yang sedang berlangsung. Aku belum siap berbicara kepada suamiku. Jangankan berbicara lewat telphone, bertatap mukapun aku tak sanggup. Tak hanya mematikan obrolan, bahkan handphoneku ku matikan setelahnya. Karena saat ini hanya ketenanganlah yang ku inginkan.

__ADS_1


Sambil memijit kepalaku yang mendadak pusing. Aku berfikir jika tadi adalah suara Rama. Berarti saat ini Rama bersama kak Adrian. Berarti Rama sudah mengetahui keberadaanku di paris. Segera saja ku kembali ke hotel untuk mengemasi barang-barangku. Aku akan melakukan penerbangan dadakan ke negara lain. Aku benar-benar belum siap bertemu dengan suamiku.


Butuh waktu sepuluh jam lebih empat puluh tujuh menit. Kini aku sudah berada di negri sakura jepang. Sebisa mungkin saat ini aku hanya ingin menghindari Rama. Mungkin saja di sini aku akan jauh lebih merasa tenang. Mungkin saja saat ini suamiku sedang dalam perjalanan menuju ke paris. Atau mungkin dia tidak ingin mencariku sama sekali. Sungguh sangat miris jika memang itu benar terjadi.


Saat ini aku berada di dalam salah satu hotel di tokyo. Tubuhku sangat lelah setelah menempuh perjalanan begitu panjang. Aku seperti wanita bodoh yang mempersulit diriku sendiri. Hanya untuk menghindar dari Rama.


Saking lelahnya, ku baringkan tubuhku terlentang di atas ranjang. Saat mataku mulai terpejam, tiba-tiba bayangan malam itu muncul kembali. Mataku kembali terbuka, merasa terganggu. Kenapa di saat telah jauh darinya, tetap saja bayanganya selalu ada. Karena tidak bisa memejamkan mataku, akhirnya handphoneku yang ku matikan ku nyalakan kembali. Begitu banyak panggilan dan puluhan pesan masuk dari Rama dan kak Adrian.


"Zia kamu di mana?" begitulah isi pesan dari Rama dan Kak Adrian. Semua pesan dari mereka hanya ku buka tanpa ku balas. Aku lelah dan mataku sangat mengantuk. Ku baringkan tubuhku terlentang di atas ranjang. Tanpa sadar mataku lama-lama terpejam.


Ketika aku bangun, aku tersadar hari sudah pagi kembali. Itu berarti, sudah tiga hari aku meninggalkan suamiku. Aku ingin menikmati waktu sendiriku. Rencananya, lusa aku akan pulang ke indonesia. Aku sudah memikirkan baik-baik tentang rumah tanggaku. Lebih baik aku mundur meskipun sakit. Daripada terus maju mendapatkan hatinya tetapi selalu tersakiti.


Tuhan menciptakan manusia saling berpasangan. Mungkin saja Rama memang bukan jodoh dari Tuhan untuku. Cinta memang tidak bisa di paksakan mencintai yang bukan pilihanya. Seperti diriku yang memaksa Rama untuk mencintaiku. Nyatanya hati Rama hanya di miliki oleh kakaku Vania.

__ADS_1


Akan ku lepaskan kamu sayang,kembalilah pada pemilik hatimu. Biarkan aku hanya memiliki kenangan-kenangan tentangmu. Aku akan menjadi egois jika menyakiti orang yang ku cintai. Cinta seharusnya memang tidak harus memiliki. Cukup aku yang tahu,aku yang mencintaimu dari dulu hingga saat ini. Tuhan, kuatkan diriku untuk langkah kedepanku. Sebelumnya aku bisa tanpanya, seterusnya aku pasti bisa tanpanya.


Ku dengar pesan masuk di handphoneku dari nomer tidak di kenal. Ku buka pean itu, seketika membuatku tersenyum getir. Kak Vania lah yang mengirim pesan kepadaku.


"Bagaimana rasanya di sakiti oleh suami tercintamu, adiku sayang."


Aku hanya membuka pesan tanpa ingin membalasnya. Begitu bahagianya kakaku melihatku hancur. Kebencianya kepadaku tidak pernah ada ujungnya. Awal Kak Vania membenciku adalah ketika aku terlahir di dunia ini. Baginya akulah yang membunuh mama. Baginya akulah yang mengambil perhatian kak Adrian dan juga Papaku. Tanpa kak Vania tahu, akupun tak ingin lahir jika mama kami harus meninggal. Jikapun aku bisa memilih, aku ingin menggantikan posisi almarhumah mama.


Tanpa dia tahu, dia lebih beruntuk dari pada diriku. Setidaknya dia pernah merasakan pelukan dari mama. Setidaknya dia pernah memandang wajah mama. Sedangkan aku terlahir bersamaan dengan kematian mama. Jangankan merasakan pelukanya, memandang wajahnyapun aku tak pernah.


Sedangkan soal perhatian kak Adrian dan Papa. Itu semua karena ulah kak Vania sendiri. Dia yang selalu menyakitiku,berbuat semaunya sendiri. Semenjak kepergian mama, kak Vania menjadi sulit di atur. Itulah yang membuat kak Adrian dan Papa selalu di buat marah olehnya. Tetapi bukanya sadar akan kesalahan, dia malah melampiaskanya padaku. Dia yang selalu menyakitiku, dia pula yang selalu berteriak akulah yang menyakitinya. Karena ikatan darah pada kami, aku tidak pernah membalas kak Vania.


Ingin rasanya aku memeluk kak Vania sebagai saudara walaupun sekali saja. Meskipun dia sangat membenciku, aku tetap menyayanginya. Aku berharap suatu saat kak Vania akan sadar.

__ADS_1


__ADS_2