
Kezia afshen
Ke esokan harinya, aku terbangun dengan tubuhku yang terasa remuk semua. Entah berapa kali, semalam kami bercinta. Ku buka mataku, kulihat dengan jelas wajah tampan suamiku. Ini adalah kali pertama aku melihatnya tertidur dalam satu ranjang. Kenapa dia semakin tampan, meskipun matanya terpejam.
Kedua mataku masih menatap wajah tampan suamiku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan sedekat ini denganya. Bahkan aku sangat senang, karena dia tidak meneriaki nama kakaku lagi. Namun semuanya buyar, saat aku mengingat kontrak pernikahan kami yang hanya lima bulan.
"Maafkan aku jika aku terlalu mencintaimu. Aku tahu, kamu sangat tersiksa bersamaku. Aku akan mengembalikan kamu pada kakaku. Terimakasih, kamu semalam tidak menyebut nama kakaku saat kita bercinta. Setidaknya, aku memiliki kenangan indah saat kita berpisah nanti. Aku akan mendoakan semoga kamu dan kak Vania bahagia. Terimakasih Rama, kamu sudah mengizinkanku untuk mencintaimu."
Terlihat pergerakan Rama, aku segera bangkit mengambil pakaianku yang berserakan. Namun tiba-tiba ada tangan kokoh yang menariku kembali masuk ke dalam pelukanya.
"Mau kemana?"
"Aku mau cici muka, lalu buatin sarapan untuk kita."
Rama langsung melepaskan kembali tubuhku, kupunguti pakaianku yang berserakan di lantai. Setelah memakai pakaianku dan membersihkan diri. Aku memutuskan untuk keluar dari kamar Rama, menuju dapur. Mataku sangat ngantuk, mungkin aku hanya tidur tiga jaman. Ternyata kurang tidur sangat membuat kepalaku pusing. Hingga tanpa sadar, aku mengaduk kopi sambil memejamkan mata.
"Menyingkirlah, biar aku saja yang menyiapkan sarapan," ucap Rama yang tiba-tiba mengambil alih semuanya dariku.
"Hoammm," tanpa sadar aku menguap saking ngantuknya. Mataku yang terpejam langsung melebar seketika mendengar Rama tertawa.
"Ternyata kau sangat lucu jika sedang mengantuk."
"Kenapa kau ada di sini? katamu buata sarapan,mana?"
__ADS_1
Bukanya membuat sarapan, Rama malah memperhatikan wajahku. Menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupi wajahku. Aku sangat menikmati sentuhanya akhir-akhir ini. Aku tidak peduli apakah ini nyata atau hanya sandiwaranya saja. Yang terpenting, aku menikmati saat-saat kebersamaan kami sebelum perceraian itu tiba.
"Kau membuatku lapar, biar aku saja yang buat sarapanya," ucapku dengan mulut cemberut membuat Rama mengecup singkat bibirku.
"Jangan menggodaku lagi, kau tahu, bibirmu ini sangat manis."
Apakah dia memujiku? bolehkah aku merasa senang akan pujianya. Jika bibirku terasa manis baginya. Maka aku akan menciumnya sepanjang hari.
"Benarkah? maka aku akan menciumu setiap hari. Supaya kau selalu tergoda ketika melihat dan merasakanya."
"Dengan senang hati," ucap Rama tersenyum kepadaku. Aku sangat bahagia Tuhan, melihatnya tersenyum kepadaku. Ku peluk tubuhnya erat, ku ucapkan terima kasih karena telah membuatku merasa bahagia.
"Apa kau akan terus memeluku? bukankah kau akan membuatkan sarapan. Atau kau sengaja membuatku kelaparan dan memakanmu lagi?
''Mau ku temani?"
"Tidak usah, aku takut kekasihmu akan melihat kita nantinya."
"Dia sedang di luar kota, aku akan menemanimu hari ini."
Aku bersorak dalam hati, akhirnya aku bisa berbelanja bersama suamiku. Kenapa menjadi terbalik seperti ini. Kenapa aku yang istri sahnya, jarang keluar bersama suamiku. Seolah aku dan Rama seperti pasangan selingkuh yang sembunyi-sembunyi dari kekasihnya.
Saat ini aku sedang memandang pantulan tubuhku di cermin. Hari ini aku memakai dress tanpa lengan, yang panjangnya sepanjang mata kaki. Dengan Rambut yang ku kuncir kuda, sehingga bahuku sedikit terekpos. Aku keluar dari kamarku, ternyata Rama sudah siap, menungguku di atas sofa. Matanya menelisik penampilanku dari atas ke bawah. Dia langsung beranjak dari duduknya, menghampiriku.
__ADS_1
"Apa kau punya blazer mini atau jaket?" tanyanya.
Aku mengerutkan alis karena bingung maksud pertanya'anya. Tiba-tiba ia melepas ikatan rambutku, sehingga membuat rambutku tergerai. Kemudian Rama memasuki kamarku, tak lama ia keluar membawa blazer mini punyanku. Dia menyuruhku memakainya, dengan alasan melindungiku dari tatapan pria mata keranjang. Oh my god, kenapa dia menjadi posesif begini. Namun aku sangat menyukainya.
Akhirnya hari ini kami keluar bersama, tanpa kami tahu ternyata banyak wartawan yang berada di mall. Semuanya berlarian menghampiriku dan Rama. Aku melihat tatapan ketidak nyamanan pada Rama. Akhirnya aku menarik tanganya untuk menghindari krumunan wartawan. Tapi percuma saja, seolah mall ini sudah di penuhi wartawan. Ingin lari kemanapun, kami tidak bisa. Apa lagi kami hanya berdua, tidak ada yang bisa mencegah para wartawan itu. Akhirnya mau tidak mau, kami berdua menjawab setiap pertanya'an dari mereka.
Setelah cukup, kami memohon undur diri. Merasa tempat ini kurang nyaman. Akhirnya kami berdua hanya berbelanja di supermarket dekat apartemen. Itupun, kami harus memakai masker dan topi. Seolah kami berdua adalah actor dan actrees terkenal. Padahal aku hanya sebagai brand ambasador biasa. Kecuali Rama adalah pengusaha muda yang lumayan terkenal.
Saat kami baru saja keluar dari suermarket. Tanpa kami duga, kak Vania sedang berdiri menunggu di pintu utama. Dia terlihat sangat marah, aku sudah bisa menebaknya. Bisa jadi, dia baru saja melihat berita kami di televisi.
"Vania," panggil Rama langsung melepaskan genggaman tanganya dariku.
Aku sudah terbiasa di perlakukan seperti ini. Jika kemarin dan tadi pagi begitu manis. Maka rasanya akan berubah hambar ketika suamiku bertemu kekasihnya.
"Seperti pada kesepakatan kita, kalian bisa bertemu, asal jangan di tempat umum," ucapku begitu saja meninggalkan mereka berdua, sambil mengangkat sendiri belanja'anku.
Tanpa meminta bantuan siapapun. Meskipun badanku terasa sakit, aku tetap membawa belanja'anku menuju aparteman.
Rama tidak peduli denganku, matanya sudah buta jika melihat kak Vania. Akhirnya aku sampai juga ke apartemen. Ku tata semua barang belanja'anku, setelahnya aku masuk ke kamar. Capek hati, capek fikiran dan capek badan bercampur menjadi satu. Aku tidak ingin menangis kali ini, aku lelah,aku akan tidur untuk melupakan kejadian barusan.
Aku terbangun, tanpa ada orang yang membangunkanku. Lampu di apartemen belum kunyalakan. Aku meraba di kegelapan malam mencari saklar lampu. Setelah lampu menyala,ku lihat jam menunjukan pukul tuju malam. Suamiku dari tadi siang belum juga kembali. Apakah aku harus mencemaskanya. Tapi untuk apa, bisa jadi saat ini dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya.
Ku putuskan hanya membuat mie instan untuk mengganjal perutku yang lapar. Karena dari tadi siang, aku belum sempat makan sesuatu. Aku memakan semangkok mieku dengan diam. Tak lama pintu apartemen terbuka, suamiku telah kembali. Aku hanya diam saja tanpa menyambutnya. Aku tetap melanjutkan menikmati mie instan yang tersisa setengahnya saja.
__ADS_1
Aku mendengar derap langkah mendekat menghampiriku. Kurasakan tangan kokoh memeluku dari belakang. Rama mengecup keningku singkat, lalu mengucapkan maaf. Aku hanya tersenyum kepadanya, tanpa berucap sepatah katapun. Aku sudah terbiasa, aku tidak akan kaget dengan semua ini.