
Berkali-kali Erik menteror Rama, dengan terus menerus menelpon nomer handphonenya. Rama yang tertidur pulas setelah meminum obat tidurnya pun tidak tahu Erik menelponya terus menerus. Melihat tidak ada respon sama sekali dari Rama, membuat Erik berasumsi bahwa Rama sengaja menantangnya.
Erik baru tiba di rumah orang tuanya setelah seharian lelah menangani para pasien yang membutuhkan pertolonganya. Gurat kelelahan tercetak jelas di wajah tampanya. Juga perpaduan antara ekspresi kesal karena Rama diam-diam menabuh genderang perang untuknya.
Erik membuka pintu kamar dan mendapati Dewi tertidur di sofa kamarnya. Erik melangkah mendekat, memperhatikan istrinya yang tertidur dengan gelisah. Erik mengernyitkan dahi, menatap heran pada gaya tidur istrinya.
Berkali-kali Dewi mengubah posisi tidurnya dengan mata yang masih tertutup. Mungkin dia merasa kurang nyaman tidur di sofa. Namun Dewi sendirilah yang menolak tidur seranjang dengan Erik.
Erik mencoba pelan-pelan hendak memindahkan tubuh Dewi menuju ranjangnya. Namun Dewi tersadar lebih dulu, ketika sebuah tangan meraba tubuhnya. Dewi membuka mata, hendak berteriak saat wajahnya sangan dekat dengan wajah Erik. Namun Erik dengan sigap membekap bibir Dewi.
"Kamu ingin membangunkan orang rumah dengan jeritanmu?" ucap Erik menatap wajah Dewi, membuat Dewi memalingkan muka.
"Apa yang ingin kamu lakukan terhadapku?" tanya Dewi semakin berani.
"Bangun! aku hanya ingin membangunkanmu, cepat bangun dan siapkan air untuku mandi," perintah Erik.
"Tuan bisa sendiri, kan? aku sangat lelah," ucap Dewi.
"Kurang ajar, wanita ini kenapa semakin berani melawanku?" guman Erik.
"Tidak bisa, kamu istriku dan sudah seharusnya kamu melayani semua yang aku inginkan."
"Istri? bukanya aku adalah alat untuk anda mendapatkan mbak Kezia, bukan?"
"Sudah, jangan banyak bicara! siapkan air hangat untuku mandi sekarang juga," bentak Erik.
Dengan sangat terpaksa, Dewi mencoba bangun meskipun tubuhnya sangat lemas. Erik memperhatikan wajah lelah istrinya yang cukup jelas. Dewi turun dari sofa melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Tak peduli tubuhnya terasa remuk redam, Dewi tetap menjalankan perintah dari suaminya. Setelah melakukan semua perintah Erik, Dewi keluar dari kamar mandi menuju sofa untuk melanjutkan tidurnya.
"Pindah tidur di ranjang," perintah Erik.
"Tidak mau! aku lebih nyaman tidur sendiri," timpal Dewi.
"Kau ingin melawanku, lagi?" tanya Erik yang siap marah.
__ADS_1
Lagi-lagi Dewi di buatnya merasa sangat kesal, sampai kapan Dewi akan terus seperti ini. Sampai kapan Erik akan terus menjadikanya seorang tawanan.
Dewi berjalan lalu naik ke atas ranjang king size milik Erik. Di lihatnya suaminya memasuki kamar mandi dan membuatmya bernafas lega. Tak lama Erik keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
Dewi memalingkan muka, mencoba fokus untuk tidak melihat Erik. Entah di sengaja maupun tidak, yang jelas melihat body suaminya membuat Dewi bergidik ngeri.
Erik mengenakan celana pendek dan kaos singlet rumahanya. Dewi melirik sedikit untuk sekedar memastikan apakah suaminya telah selesai.
Erik berjalan kemudian langsung membaringkan tubuhnya di samping Dewi. Melihat Dewi masih terjaga, Erik membuka obrolan sekedar menanyakan kegiatan Dewi seharian ini.
"Apa kau betah tinggal di sini? apa mummyku memperlakukanmu dengan baik? dan apa yang kau lakukan seharian di rumah?"
Dewi menoleh menatap suaminya, ingin rasanya Dewi mengadukan perbuatan mertuanya kepada Erik. Namun Dewi ragu, apakah Erik akan percaya dengan ucapanya. Padahal sudah jelas Erik tidak menganggapnya istri. Mana mungkin Erik lebih mempercayainya jika landasan pernikahan saja mereka berdua tidak menerapkanya.
"Pertanyaan mana yang harus ku jawab duluan?" tanya Dewi.
"Terserah," jawab Erik.
"Meskipun Negara ini memiliki berbagai bangunan yang sangat bagus, tetaplah tanah airku tempatku ternyaman," ucap Dewi, membuat Erik diam.
"Kau ingin pulang ke Indonesia?" tanya Erik, Dewi mengangguk mengiyakan.
Dewi menatap wajah suaminya dengan penuh rasa heran. Dewi tidak habis fikir, dan Dewi sempat berfikir, bahwa cinta yang di miliki Erik untuk Kezia hanyalah sebatas obsesi.
Jika cinta seharusnya merelakan orang yang dia cintai untuk mengejar sumber kebahagiaan. Berbeda dengan cinta yang di miliki Erik untuk Kezia hanyalah obsesi. Karena demi mendapatkan Kezia, Erik menghalalkan segala cara. Entah perbuatanya melukai orang lain atau tidak, hal itu sama sekali tidak terlintas di fikiran Erik.
"Sampai kapan kita akan berada si Negara ini?" tanya Dewi.
"Sampai aku mendapatkan yang aku inginkan," jawab Erik.
Dewi langsung bungkam, ia memiringkan tubuhnya membelakangi Erik. Lebih baik dia tidur daripada teru-terusan menanggapi Erik. Yang terpenting sekarang, Dewi bukanlah wanita penakut seperti dulu.
"Hey, siapa yang menyuruhmu tidur ?" tegur Erik.
"Sudahlah! aku sangat lelah hari ini." jawabnya memejamkan matanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian handphonya Erik berdering, ternyata Rama lah yang menelphonenya.
"Ada perlu apa kau menelphonku se malam ini?"
"Seharusnya aku yang bertanya, tumben kamu menelponku," ucap Rama balik bertanya.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk menjauhi Kezia, jika kau tidak ingin photo-photomu tersebar di sosiL media," ancamnya.
Samar-sama Dewi mendengar ucapn Erik, apa lagi ucapanya seperti mengancam seseorang. Saking penasaran, Dewi semakin menajamkan oendengaranya.
"Brengsek! lelaki gila, kamu fikir dengan menghancurkanku, kamu bisa bersama Kezia? jangan harap, Erik," ucap Rama di balik telpon.
Erik mengertakan giginya, jemari tangan kirinya sudah menggepal. Sedangkan tangan kananya masih memegangi ponselnya.
"Baiklah jika itu maumu, maka jangan kaget jika besok kamu akan di cibir seluruh dunia."
Erik tertawa lepas tanpa sadar Dewi menahan kekesalanya setelah mendengar ucapan suaminya yang seolah menteror seseorang.
"Siapa sebenarnya orang yang kena teror dia?" batin Dewi penasaraan.
Erik menoleh memperhatikan Dewi, Dewi pura-pura tidur demi menggali informasi atas apa yang dia dengar.
Tak lama Erik beranjak dari duduknya melangkah menuju balkon kamarnya. Erik memerintahkan anak buahnya agar menyebar photo-photo Rama.
"Sebar photo-photo Rama ke semua sosial media sekarang juga," Erik memerintah.
Dewi yang menguping di balik dinding kamarnya, seketika membungkam bibirnya. Karena Dewi kini sudah mengetahui seseorang yang telah mendapat ancaman dari Efik.
Dewi langsung kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan masih berpura-pura tidur. Di dalam fikiranya masih terngiang-ngiang ucapan Erik tadi. Hatinya mendadak tidak tenang, bahkan Dewi sempat merekap ucapan Erik tadi. Berharap rekamanya suatu saat bisa untuk membantu seseorang yang akan Erik hancurkan hidupnya.
Dewi tidak menyangka suaminya akan bertindak seperti itu. Padahal Erik adalah seorang dokter yang telah menyelamatkan banyak nyawa. Bagaimana bisa seorang dokter bisa sepicik itu pemikiranya.
Dewi yakin, orang yang di bahas Erik dengan seseorang tadi adalah Rama. Siapa lagi rivalnya selain Rama Asher. Hanya Ramalah satu-satunya saingan terberat baginya untuk mendapatkan Kezia kembali di sisinya. Karena Dewi tahu, dia pun juga salah satu korbanya, demi mendapatkan Kezia.
Diam bukan berarti tidak tahu apa-apa, terkurung bukan berarti tidak bisa menyelidiki. Diam-duam Dewi mengumpulkan poin-poin bukti untuk membuatnya terlepas dari jeratan Erik dan juga membantu Rama.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Tenang, ada mata-mata 🤭