Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Meninggalkanya


__ADS_3

Kezia Afsen


Maaf, aku tetap kukuh ingin bercerai dengan Rama.Aku tidak ingin menjadi cadangan seumur hidupku. Semenjak pertemuanku denganya di rumah sakit tempo hari. Aku sadar, hatiku menolak untuk melupakanya. Oleh karena itu, aku memutuskan menjauh darinya. Semua sudah ku fikirkan matang-matang sebelum aku meninggalkan negara ini lagi. Sedangkan soal kehamilanku, aku merahasiakanya dari Rama. Aku tidak ingin, anaku menghambatnya bersatu kembali dengan kakaku. Biarlah semua ini menjadi rahasiaku dan keluargaku.


Hari ini adalah sidang ke dua kami, aku sengaja tidak hadir. Sebenarnya masih banyak persidangan lain yang harus ku hadiri. Aku juga menolak saat Rama mengajukan mediasi. Sengaja, aku hanya mengandalkan kuasa hukumku untuk mempercepat perceraian kami berdua. Aku tidak akan sanggup mendengarkan keputusan hakim tentang perceraian kami. Aku tidak akan sanggup saat hakim mengesahkan perceraian kami.


Saat ini, di tempat inilah akan ku tata kehidupanku kembali. Tanpa berpamitan kepada Rama, aku sudah pergi jauh meninggalkanya. Meninggalkan beberapa kenangan pernikahan kami yang masih seumur jagung. Berharap dia akan bahagia dengan wanita yang ia cintai. Aku akan menjaga anak kami, sampai dia terlahir ke dunia.


Bali adalah tempat pilihanku, walau sebelumnya aku ingin kembali ke ingris. Karena kehamilanku, papa dan kak Adrian melarangku berjauhan dari mereka. Asalkan demi anaku, aku akan menuruti kemauan mereka. Setidaknya aku tidak akan bertemu dengan Rama lagi.


Ku usap perutku yang di dalamnya telah tumbuh buah hatiku. Tiba-tiba air mataku menetes begitu saja tanpa bisa ku cegah. Seberapa kuat hatiku untuk mengiklaskan semua hal menyedihkan yang terus saja ku alami.


"Menangislah Zia, tidak perlu kau tahan lagi! Kakak akan selalu di sisimu, dek," Ucap Adrian.


"Aku lelah, kak."Jawab Kezia


Kak Adrian langsung merengkuh tubuhku. Membawanya ke dalam pelukanya, seakan di dadanyalah aku akan merasa nyaman.

__ADS_1


"Jangan kau tahan! Menangislah, sebelum kakak memintamu jangan menangis lagi. Kakak tidak suka melihatmu menangis, kali ini kakak akan mengizinkanmu menangis sepuasnya."


Tangisku semakin pecah dan pelukanku semakin erat melingkari tubuh kak Adrian. Suara tangisku begitu memilukan, terdengar langsung di telinga kak Adrian. Kakak mana yang akan sanggup melihat adik kesayanganya menangis. Kecuali kak Vania, kakak paling kejam di dunia ini.


"Apa salahku kak? Apa aku tidak pantas merasakan ketenangan dalam hidupku? kenapa aku harus di lahirkan, kak? kenapa takdir begitu kejam."


"Husssst, jangan menyalahkan takdir, kezia.Kau hanya di uji, kau adalah wanita kuat yang bisa melalui ujian terberat sekalipun. Dengarkan kata-kata kakak, akan ada pelangi setelah hujan."


Aku mengangguk, setelah mendengarkan penuturan kak Adrian. Aku sangat bersyukur memiliki kakak laki-laki seperti Adrian. Langsung ku hamburkan kembali tubuhku di pelukan kak Adrian.


"Terimakasih kak, kau selalu ada untuku, kau adalah kakak terbaik yang ku miliki. Kau bagaikan malaikat pelindung yang selalu melindungiku."


Aku terharu mendengar semua ucapan kakaku. Dia adalah pria yang baik, siapapun yang menjadi istrinya kelak, pasti akan menjadi wanita paling bahagia. Aku berharap, kak Adrian akan secepatnya bertemu dengan jodohnya. Setidaknya aku selalu mendoakan kebaikan pada orang-orang yang ku sayangi. Meskipun aku sendiri tidak pernah merasakan kebahagiaan yang abadi.


"Tidurlah zia, kau harus perbanyak istirahat demi kandunganmu. Maafkan kakak jika kakak akan jarang menemuimu. Tapi kakak akan mengirimkan asisten pribadi untuk menemanimu."


Aku hanya mengangguk, karena aku faham, kakaku adalah orang yang sibuk. Dia adalah pekerja keras, ia tidak akan meninggalkan kantor peninggalan keluarga kami dari turun temurun.

__ADS_1


"Kembalilah ke jakarta, kak! Aku baik-baik saja di sini."


Kak Adrian mengangguk, ia akan pergi setelah memastikan asistenku datang ke rumah ini. Rumah kecil yang begitu asri dan alami. Aku sangat menyukai tempat ini. Tempat yang jauh dari keramaian, sehingga bisa membuatku berfikir tenang.


"Tidurlah Zia, begadang tidak bagus untuk ibu hamil," Ucap kak Adrian sekali lagi, sambil membenarkan selimutku lalu mematikan lampu kamarku. Ia pergi keluar, menempati kamar sebelah yang kosong. Besok pagi, baru ia akan kembali lagi ke jakarta. Besok pagi pula, asisten rumah tangga yang di janjikan kakaku akan datang.


Aku kira, menjauh dari Rama bisa membuatku sedikit move on darinya. Ternyata aku salah dan aku terlalu bodoh berfikir senaif itu. Dua kali aku menjauhinya hanya karena ingin melupakanya. Ternyata Tuhan memberikanku hati, cukup untuk ia tempati. Tidak mengizinkan ruang lain untuk orang lain singgahi. Aku akui cintaku padanya masih utuh dan tidak berkurang sama sekali.


Cintaku tulus kepadanya meskipun ia tidak bisa membalasnya. Nyatanya dia terlalu setia kepada kak Vania. Sangat berdosa jika aku memaksanya untuk mencintaiku. Sebaliknya akupun tidak ingin memaksakan diri untuk mencintai pria lain.


"Yang kuat sayang, bunda akan selalu menjagamu hingga kamu bisa melihat dunia yang indah. Maafkan bunda telah memisahkanmu dari ayahmu. Kelak, jika kau sudah terlahir ke dunia, bunda akan mengenalkanmu pada ayahmu. Biarkan ayah bahagia dengan pilihanya. Kita bisa hidup berdua saja, bukan?"


Ku belai perutku yang masih rata, ternyata seperti ini rasanya menjadi ibu. Setidaknya ada rasa damai di hatiku. Aku tidak sabar menantikanya terlahir ke dunia. Membayangkan wajahnya mirip aku atau Rama. Menebak jenis kelaminya perempuan atau laki-laki. Aku hanya berharap dia selalu sehat, dan aku selalu kuat dalam menjalani kehamilanku ini.


Rasanya malam ini mataku sulit di pejamkan. Bukan karena ranjangku yang kurang empuk atau kurang luas. Bukan karena aku tidak terbiasa di tempat ini. Tapi karena, setiap ku coba memejamkan mataku. Bayangan Rama selalu melintas di fikiranku. Bayangan saat dia memeluk tubuhku. Bayangan sa'at dia mencium bibirku dan keningku. Bayangan saat kami bertengkar bahkan tertawa bersama. Bayangan saat dia menyuapiku dan merawatku, kala aku sakit.


Ku kira kenangan itu akan membuatku sedikit bahagia saat berpisah denganya. Lagi-lagi aku salah dan aku terlalu bodoh. Kenangan itu seolah memakanku hidup-hidup karena menahan sakitnya kerinduan. Rama, kumohon hilanglah dari hati dan fikiranku. Tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk melupakanmu. Aku juga ingin hidup tanpa bayang-bayangmu yang selalu memutari fikiranku.

__ADS_1


Ku biarkan saja fikiranku terus menerus terbayang wajahnya. Entah sampai kapan aku bisa memejamkan mataku. Entah sampai kapan wajahnya terus melintasi fikiranku. Ku biarkan saja hingga diriku terlelap. Hingga pada akhirnya aku menyerah. Pada rasa kantuk yang membuat kelopak mataku semakin lama semakin terpejam. Mengarungi alam mimpi yang indah dan membuatku bahagia.Hingga mimpi itu akan menjadi nyata di suatu hari.


__ADS_2