
Sudah satu bulan lamanya, Rama beserta orang-orang suruhanya berpencar mencari Dewi. Namun belum satupun di antara mereka yang menemukan wanita itu. Begitupun dengan Adrian dan orang-orang suruhanya, tidak ada satupun juga yang menemukan jejak Dewi. Bahkan orang-orang suruhanya Erikpun, gagal mencari tahu keberada'an Dewi.
Rama juga menggunakan kekuasaanya, untuk menyuap orang dalam, untuk mempersulit berkas-berkas pernikahan Erik dan Kezia. Rama tidak akan menyerah, dan tidak akan membiarkan Kezia, jatuh di pelukan Erik. Apa lagi kabar yang baru saja Rama dengar dari Kezia, tadi pagi. Membuat pria itu, langsung menghentikan pencarian Dewi dan menyerahkan semuanya kepada Bagas.
Hal yang tidak akan Rama sia-siakan untuk yang ke dua kalinya. Pria itu berhasil membuat Kezia hamil, kabar itulah yang Rama dengar dari Kezia. Adrian yang juga mendengar adiknya hamil, segera pulang ke rumah orang tuanya.
Bertepatan dengan Erik yang juga kembali ke indonesia, karena masalah berkas pernikahanya yang tidak kelar-kelar. Tiga pria berbeda lokasi, kini sedang dalam perjalanan menemui Kezia.
Sedangkan Kezia yang berada di kediaman Afsen. Kini wanita itu sedang di introgasi oleh tuan Afsen, mengenai ayah dari bayi yang putrinya kandung. Kezia hanya diam, sembari memeluk putranya Ethan yang merasa ketakutan melihat eyang kakungnya memarahi mamanya.
"Katakan Kezia, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?"
Dalam kondisi emosi, sampai-sampai tuan Afsen tidak sadar telah membuat cucunya takut. Beruntung Vania dan Digo baru saja datang, dan menghentikan kemarahan papanya.
"Ada apa ini? kenapa papa memarahi Kezia?" tanya Vania, menengahi.
"Tanyakan saja pada adikmu, kenapa bisa membuat papa marah," jawab Tuan Afsen.
Vania lalu menghampiri adiknya, duduk tepat di sebelah Kezia. Kezia masih terisak, lalu Vania meminta kekasihnya untuk mengajak bermain Ethan, sementara dirinya akan meluruskan permasalahan antara adik dan papanya.
"Ethan ikut om Digo beli ice cream, ya? tante akan jagain mamanya Ethan," bujuk Vania.
"Tidak mau! nanti mama Ethan di marahi eyang kakung. Ethan mau di sini menemani mama, kasihan mama nangis."
Karena Ethan sulit di bujuk, Vaniapun membiarkan keponakanya tetap memeluk Kezia. Sementara Vania masih bisa bertanya pelan-pelan dan hati-hati.
Vania telah berubah menjadi sosok kakak yang sangat baik untuk Kezia. Berbeda dengan dirinya yang dulu, kini Vania adalah kakak perempuan yang selama ini Kezia inginkan.
__ADS_1
"Katakan Zia! kenapa papa bisa semarah itu padamu?" tanya Vania pelan.
"Aku hamil, kak!" jawab Kezia lirih.
Vania langsung membungkam mumutnya sendiri karena kaget. Jika setatus Kezia bersuami, mungkin kabar kehamilanya adalah sebuah kabar baik. Masalahnya, Kezia adalah seorang janda satu anak, dan belum menikah lagi.
Vania mencoba meredakan kekagetanya, kemudian menanyakan perihal, siapa ayah bayi yang di kandung adiknya.
"Lalu, siapa ayahnya? apakah tunanganmu, Erik?" tanya Vania.
Kezia menggeleng, lalu menyebutkan bahwa ayah dari bayi yang ia kandung adalah Rama. Bagai di tembak dengan ribuan peluru. Tuan Afsen mendadak terkena serangan jantung. Semuanya mendadak Panik, terutama Kezia dan Vania.
Digo segera menelpon ambulan agar segera kesini. Sementara dirinya akan menenangkan dua wanita kakak beradik yang sedang kalut karena papanya terkena serangan jantung.
Tak lama mobil ambulanpun tiba, bersama'an dengan mobil Adrian. Adrian segera turun karena penasaran, kenapa ada mobil ambulan di rumah orang tuanya.
"Apa yang terjadi dengan papa?" tanya Adrian.
"Ini salahku kak, ini karenaku papa jadi terkena serangan jantung," jawab Kezia, di tengah tangisanya.
"Apa maksudmu?"
"Sudah! Ini bukan waktunya bertanya maupun menyalahkan. Lebih baik kita segera menyusul mobil ambulan yang membawa om Afsen," ucap Digo menengahi.
Mereka semua, kini mengikuti saran dari Digo untuk mengikuti mobil ambulan yang membawa tuan Afsen. Kezia satu mobil dengan Adrian dan Ethan. Sedangkan Digo satu mobil dengan kekasihnya Vania.
Hingga mobil mereka tiba di halaman rumah sakit. Kezia dan Vania turun lebih dulu. Kezia sempat akan berlari, namun di cegah oleh Vania.
__ADS_1
"Zia, jangan lari! Ingat, kau sedang hamil," teriak Vania, membuat niatan Kezia ia urungkan.
Keduanya sama-sama panik, namun Kezia yang paling terpukul. Gara-gara dirinya, papanya terkena serangan jantung. Vania membimbing adiknya untuk berjalan agak pelan. Meskipun Vania juga sama-sama panik. Namun setidaknya Vania bisa memposisikan dirinya sebagai kakak yang juga harus melindungi adiknya yang sedang hamil.
Petugas rumah sakit yang membawa tuan Afsen, bergerak cukup Cepat. Kini tuan Afsen sudah di masukan ke ruang UGD, untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Berkat Adrian yang mengenal dokter yang menangani papanya. Membuat penanganan tuan Afsen segera di percepat.
Vania menyuruh Kezia untuk duduk, begitupun dirinya juga duduk di sampingnya. Sedangkan Digo entah kemana saat ini. Lelaki itu mencoba mengalihkan perhatian Ethan dari Kezia. Karena Kezia masih kalut dengan kesedihanya.
Di depan ruang UGD, tiga kakak beradik itupun, sama-sama menungguk dokter yang menangani papanya, keluar. Tak lupa mereka juga memanjatkan doa, demi kesembuhan papanya.
Kezia masih menangis, menyalahkan dirinya terus menerus. Hal itu mengundang Adrian penasaran dengan ucapan Kezia tadi. Kezia mengatakan padanya, bahwa Kezialah penyebab papanya terkena serangan jantung.
Tidak ingin berdiam diri dengan sesuatu yang membuat dirinya penasaran. Adrian beranjak dari duduknya, berpindah duduk di samping Kezia.
"Katakan Kezia! hal apa yang kau lakukan, sehingga papa terkena serangan jantung?" tanya Adrian.
Vania meminta Adrian untuk tidak bertanya saat ini. Karena situasinya sangat tidak pas untuk bertanya pada Kezia. Bahkan Kezia masih sangat terpukul dan masih menyalahkan dirinya sendiri.
Lain halnya dengan Kezia, jika Vania melarang Adrian untuk bertanya, Kezia malah menjawabnya. Adrian memang harus tahu dengan kondisi Kezia saat ini.
Mendengar adiknya hamil di luar nikah, Adrian langsung membelalakan kedua bola matanya, menatap Kezia. Adrian bertanya kepada Kezia, siapa ayah dari bayi yang di kandung Kezia. Kezia masih bungkam, enggan menjawab pertanya'an Adrian. Karena Kezia takut, kakaknya akan melukai Rama, jika ia jujur.
Terlebih kakaknya masih belum bisa akur dengan pria yang ia cintai. Masalah ini akan membuat kakaknya makin membenci Rama. Oleh karena itu, bibir Kezia masih bungkam, tidak ingin menjawab pertanya'an dari Adrian.
Adrian yang penasaran dengan kebungkaman bibir adiknya, lelaki itupun menebak Erik sebagai ayah yang adiknya kandung. Namun, melihat gelengan kepala adiknya, membuat Adrian mendadak memelototkan kedua matanya kembali. Jika bukan Erik, pasti Ramalah yang menghamili adiknya. Fikiran Adrian langsung tertuju pada mantan suami adiknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Wapada Rama, kau dalam bahaya🤭