Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
First kiss


__ADS_3

Rama asher


Aku merasa kehilangan sesuatu saat satu bulan tidak melihat Kezia. Biasanya gadis itu selalu membuatkanku kopi dan makanan. Jangankan melihat kopi dan makanan buatanya. Melihat wajahnya saja seolah tidak di izinkan.


Pagi itu setelah satu bulan lamanya aku tidak melihat Kezia. Ku dengar suara kezia yang bersin-bersin cukup keras. Akupun segera membuka pintu kamarnya tanpa berfikir panjang. Itu adalah moment pertama kami saling tatap muka setelah menghindar selama satu bulan.


Aku dekati dia yang sedang terduduk sambil memegangi kepalanya. Ku sentuh keningnya yang teramat panas. Saking paniknya aku keluar dari kamarnya dan tak lama kembali lagi dengan membawa handuk dan seember air. Ku kompres keningnya agar demamnya segera turun.


Ku ambil butiran bulat kecil berwarna putih. Kemudian ku raih segelas air putih dan menyuruhnya untuk meminumnya.


"Minumlah obat ini dulu, zia."


Aku begitu sangat mencemaskan kondisinya. Aku naik ke atas ranjangnya. Hendak meraih tubuhnya untuk ku peluk. Terlihat ia begitu ketakutan melihatku saat diriku berbaring di sampingnya.


"Aku tidak akan menyakitimu, tidurlah."


Aku tersenyum memandang wajahnya yang lama tidak ku lihat. Dia begitu patuh dengan ucapanku lalu memejamkan matanya dan tertidur. Ku usap lembut kepalanya dan ku peluk tubuhnya.


Ku coba membuatkanya semangkuk bubur meskipun aku tidak bisa membuatnya. Ku lihat tutorial di you tube ternyata tak sesulit dugaanku. Setelah sukses membuat bubur untuk Kezia. Ku langkahkan kakiku kembali masuk ke kamarnya. Ternyata dia sudah bangun, akupun segera duduk di sisi ranjang di sampingnya.


Sebelumnya ku tempelkan terlebih dulu tanganku ke keningnya. Aku tersenyum menatapnya dan ku suruh ia membuka mulutnya.


"Zia, buka mulutmu dan makan bubur ini. Kau harus minum obat agar tubuhmu segera pulih."


Dengan telaten ku suapkan bubur dan ia memakanya. Lagi-lagi aku tersenyum melihatnya makan cukup lahap. Ternyata bubur buatanku tak seburuk dugaanku.


"Terimakasih," ucap Kezia.


Aku hanya mengangguk kemudian menyuapinya kembali.


"Aku bisa sendiri, kau tidak ke kantor?"

__ADS_1


"Aku akan ke kantor jika keada'anmu sudah sehat kembali."


"Kau harus segera pulih, karena lusa adalah hari resepsi pernikahan kita."


"Minumlah obatnya dan tidurlah kembali."


Dia hendak mengambil obat di nampan sisi bubur. Namun ku lebih dulu mengambilkanya untuknya. Segera ku masukan ke dalam mulutnya. Ku elus kembali rambutnya agar dia cepat tidur. Tak lama setelah itu diapun tertidur kembali.


Sore harinya ku masuk kembali ke kamar Kezia. Terdengar suara gemercik air, itu artinya Kezia masih mandi. Kezia keluar hanya mengenakan jubah mandi dan penutup kepala. Tanpa ia tahu saat itu aku sedang duduk di sofa kamarnya.


Di bukanya penutup kepala dan menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Segera ku ambil alih hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Sontak hal itu membuatnya kaget.


"Biar ku bantu."


"Kenapa kamu masih di kamarku?"


Aku tidak merespon ucapanya dan kembali fokus pada rambutnya yang ia keringkan. Ku sibak rambut panjangnya memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Wajahku semakin mendekat dan tak bisa mengontrol untuk tidak menciumnya. Namun nafsuku lebih besar daripada fikiranku.


"Cup."


"Stop, Rama."


"Keluarlah dari kamarku, please."


Akupun segera keluar dari kamarnya agar dia bisa lebih tenang dari rasa ketakutanya padaku. Ku ketuk pintu kamarnya saat hari sudah hampir sore. Karena aku tahu Kezia belum sempat makan siang.


"Apa kau baik-baik saja? kau melewatkan makan siang dan malam. Apa kau menginginkan sesuatu untuk kau makan?"


Namun tiada jawaban dan tiada pintu yang dia buka. Hingga haripun berganti malam aku masih menunggunya di dekat pintu kamarnya. Sehingga membuatku tanpa sadar tertidur.


Aku terlonjak kaget saat merasakan ada yang mengelus pipiku. Ternyata itu adalah tangan kezia yang berjongkok tepat di depan tubuhku. Ku tarik tubuhnya dan segera ku peluk.

__ADS_1


Ku lihat lagi-lagi Kezia seperti orang ketakutan. Dia menggeleng dan segera berlalu menuju dapur.


Ku duduk di kursi meja makan sambil memperhatikanya yang sangat cekatan saat memasak. Aku sangat lapar dan ingin segera mencicipi masakanya. Masakan Kezia sangat lezat, dan bodohnya aku yang selalu menolaknya. Namun saat ini aku menginginkan masakanya karena tercium aroma harum masakanya di indra penciumanku.


Mataku berbinar saat kezia memasakan makanan kesuka'anku. Segera ku terima sepiring nasi yang di berikan kezia kepadaku. Aku tak sabar segera memakan makanan di hadapanmu. Ku lirik Kezia yang sedikit tersenyum ketika memperhatikanku makan. Syukurlah aku merasa lega melihatnya tersenyum kembali.


"Mulai besok aku ingin sarapan di rumah dan makan di rumah."


"Tapi aku siang harus kerja, bagaimana jika sarapan dan makan malam saja?" ucapnya.


Akupun mengiyakan karena tidak mungkin aku melarangnya untuk tidak bekerja. Aku tahu dia begitu kesepian di apartemen ini. Oleh karena itu aku membiarkanya bekerja.


Kini makanan di depanku sudah tandas tak tersisa. Saat Kezia ingin mencuci dan membersihkan dapur. Aku segera melarangnya dan menyurunya beristirahat. Aku yang akan mengambil alih untuk mencuci piring dan membersihkan dapur.


Dia sempat menolak tapi aku berhasil menyakinkan ini semua karena dia yang baru saja pulih. Aku tidak ingin dia kelelahan dan jatuh sakit kembali. Karena melihatnya sakit ada secuil hati pada diriku yang juga ikut merasakan sakitnya.


Kini dia duduk di kursi meja makan sambil memperhatikanku mencuci piring. Walau ini kali ke dua aku mencuci piring. Pertama tadi pagi dan kedua saat ini. Tapi aku senang bisa melakukanya meski belum pernah sebelumnya.


Aku meliriknya kemudian tersenyum kepadanya. Dan aku senang ketika Kezia membalas senyumku. Bolehkah aku berharap dia sudah memaafkanku. Semoga dia memaafkanku dan kembali menjadi kezia yang pemberani.


Meskipun matanya sering menatapku dengan penuh tantangan. Dan mulutnya yang selalu bisa menjawab semua ucapanku. Jujur aku lebih suka Kezia yang seperti itu daripada Kezia yang lemah dan menangis.


Selesai membereskan dapur, aku mengajak Kezia untuk menonton tv bersama. Dia menurut dan kamipun duduk berdekatan di sofa ruang tv.


Entah aku salah memencet remote atau acaranya yang salah. Tubuh kami berdua mendadak menegang saat terpampang jelas di layar tv adegan ciuman sepasang kekasih.


Aku menoleh ke arah Kezia, begitupun Kezia juga menoleh ke arahku. Kami terhanyut pada adegan film yang kami tonton sehingga.


"Cup."


Bibir kami menempel sesaat kemudian Kezia melepaskanya. Aku tidak terima saat dia melepaskanya. Ku tarik tengkuknya karena bibirnya sangat manis. Ku cium dan ku sesap sehingga kamipun terhanyut pada ciuman yang memabukanku.

__ADS_1


Apa dia sebelumnya tidak pernah berciuman. Tubuhnya sangat kaku bahkan dia tidak menggerakan bibirnya saat ku cium. Malahan aku yang sekuat tenaga membuatnya membuka bibirnya dengan gigitan kecil di ujung bibirnya. Jikapun ini adalah ciuman pertamanya, maka aku akan menjadi peria pertama yang beruntung.


Setelah ciuman itu selesai, ku pandang pipinya yang bersemu merah. Dia langsung menutup wajahnya dan berlari masuk ke dalam kamarnya karena malu. Kenapa dia menjadi sangat menggemaskan di mataku.


__ADS_2