Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Tentang Dewi


__ADS_3

...Hai Readers, aku akan menceritakan sedikit tentang Dewi. Sebelum kembali menceritakan perjalanan cinta Kezia dan Rama....


××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Dewi Sekar


Aku Dewi Sekar, biasa di panggil Dewi, aku adalah pengasuh Ethan Asher, putra dari Kezia Afshen dan Rama Asher. Aku sangat menyayangi Ethan, seperti anaku sendiri. Kami tidak pernah terpisahkan, aku merawatnya semenjak dia bayi, hingga berumur empa tahun, menginjak usia lima tahun.


Aku meninggalkan anak asuhku dan juga pekerja'anku, setelah malam yang begitu mengerikan itu terjadi padaku. Tanpa berpamitan dan tanpa kata, aku pergi menjauh dari kota yang merenggut kehormatanku.


Memang sangat berat rasanya, meninggalkan Ethan, di saat dia sedang sakit. Dia pasti mencariku, namun aku harus pergi. Aku tersiksa dengan kepingan kenangan buruk yang menimpaku di kota itu.


Bahkan sosok pria yang merenggut kehormatanku, pergi begitu saja, setelah mengantarkanku ke rumah sakit. Pria itu adalah Eduardo Erik, tunangan Kezia Afsen, ibu dari anak yang aku asuh selama ini.


Bukan permintaan maaf yang ku dapatkan setelah dia sadar, karena baru saja merenggut kehormatanku. Namun yang ku dapatkan hanya ucapanya, yang seolah aku sengaja menjebaknya agar dia tidur denganku.


Kenapa harus pria itu, yang merenggut mahkota paling berharga bagiku. Kenapa bukan orang lain, kenapa harus tunangan majikanku.


Aku sangat menyesal telah menolongnya, yang berimbas pada diriku sendiri. Air mataku menetes, ketika melangkahkan kakiku jauh dari jangkauan orang-orang yang mengenalku. Sengaja aku memilih tinggal di tempat terpencil. Menjauh dari semua, terutama keluargaku yang berada di Jawa timur.


Keluargaku tidak tahu, masalah besar yang telah aku alami. Yang mereka tahu, aku masih bekerja menjadi pengasuh putra dari Kezia Afshen.


Sudah satu bulan diriku tinggal di gubuk kecil di pinggir pantai. Selain harga sewanya murah, tempat ini tidak akan di ketahui oleh orang-orang yang sedang mencariku.


Aku tidak ingin orang-orang menemukanku, apa lagi dalam kondisiku yang hamil di luar nikah. Ya, aku sedang mengandung benih dari Eduardo Erik. Kandunganku saat ini menginjak usia dua minggu. Malam mengerika itu, telah menitipkan benih yang tidak berdosa di rahimku.

__ADS_1


Masa depanku telah hancur, tetapi tidak untuk bayi yang ku kandung saat ini. Aku tidak akan menghancurkanya, aku akan tetap mempertahankanya. Meskipun tanpa sosok suami untuku dan ayah untuknya.


Lebih baik aku seperti ini, daripada harus melukai mbak Kezia, yang selama ini begitu baik padaku. Tak terasa, air mataku menetes kembali, ketika mengingat lagi dan lagi, tentang malam itu. Luka ini masih basah, meskipun tidak nampak di depan mata. Namun rasanya begitu perih, apa lagi mengingat begitu ganasnya, pria itu merenggut keperawananku.


Aku mencoba menghirup nafas dalam-dalam perlahan menghembuskanya. Berharap rasa sesak di dadaku akan segera hilang. Namun nyatanya salah, luka itu bukan hanya menyerang hatiku, namun juga fikiranku.


Ku coba untuk bangkit dari keterpurukan, dan mengubur dalam-dalam lukaku. Karena orang bilang, ibu hamil tidak boleh sampai setres. Aku tidak ingin seperti mbak Kezia ketika menhandung Ethan. Perpisahanya dengan Tuan Rama, sangat berpengaruh besar pada fikiranya. Meskipun nasip kami berbeda, aku tetap tidak ingin melukai diriku sendiri maupun calon bayiku.


Di sini suasananya sangat hening, hanya ada beberapa nelayan yang berlalu lalang untuk mencari rejeki dari hasil laut. Sesekali aku keluar hanya sekedar membeli bahan makanan.


Untuk saat ini, orang di sekitarku sangat ramah kepadaku. Entahlah, jika perutku mulai membesar nanti. Pasti mereka akan berfikiran negative tentangku. Siapa ayah dari bayiku dan siapa suamiku. Apakah aku harus berbohong, seolah suamiku telah meninggal dunia. Agar orang-orang tidak memandangku negative.


"Pagi mbak Dewi," sapa mas Arga, tetanggaku yang ramah sedari aku mulai ngontrak di rumah sebelah rumahnya.


Mas Arga mengangguk, kamipun berjalan ke warung bersama. Dia sesekali mencuri pandang ke arahku. Namun aku pura-pura tidak tahu, sepertinya dia juga menyukaiku, terlihat dari sikapnya kepadaku.


Aku tidak menginginkan, jika mas Arga sampai menyukaiku. Aku hanyalah wanita kotor, yang hamil di luar nikah. Bahkan semenjak kejadian mengerikan itu. Kini aku tidak begitu percaya dengan lelaki, meskipun mas Arga terlihat sangat baik.


Erik pergi meninggalkan luka yang begitu menganga pada diriku. Luka yang sangat dalam dan juga benih hasil darinya yang merenggut kehormatanku. Sejak itulah, aku tidak menginginkan pria lebih dari sekedar teman.


Aku akan hidup untuk diriku sendiri dan juga anaku. Mencoba bertahan dengan sisa uang dari gajiku yang ku tabung selama ini. Sepertinya aku harus membuka usaha kecil-kecilan, demi menyambung hidupku dan juga bayi di dalam rahimku.


Seperti apa, usaha yang bisa ku dirikan di tempat terpencil seperti ini. Sepertinya, aku baru bisa bekerja setelah bayiku lahir.


"Mbak Dewi, kok tinggal sendiri di rumah itu? Apa tidak takut? Apa mbak Dewi belum punya suami ataupun calon?" tanya penjual, di warung yang saat ini ku datangi.

__ADS_1


"Maaf buk, suami saya sudah meninggal dan saat ini saya sedang mengandung," ucapku, berusaha untuk memberitahu kehamilanku sejak awal, agar tidak menimbulkan fitnah di belakangan hari.


"Malang sekali nasipmu, mbak! saya kira, mbak dewi masih lajang. Sepertinya si Arga tertarik dengan mbak Dewi," ucap bu Peni, penjaga warung.


Aku hanya tersenyum, kemudian berusaha menjelaskan, bahwa diriku masih mencintai almarhum suamiku.


Aku sengaja berkata seperti itu, karena aku tidak ingin berurusan dengan lelaki. Traumaku pada lelaki yang merenggut kehormatanku, membuatku menutup diri dari semua lelaki.


Ucapanku kepada bu Peni barusan, membuat mas Arga tersentak. Terlihat jelas garis kekecewa'an pada wajahnya. Tentu saja dia kecewa, ibarat bunga, harapanya adalah bunga yang sedang kuncup, berharap bunga itu mekar dengan indahnya. Namun, sebelum sempat bunga itu mekar, aku telah memangkas batangnya, hingga batang bunga itu patah.


"Maafkan aku mas Arga! sepertinya kamu pria yang baik dan tidak sepantasnya menyukai wanita sekotor diriku," gumamku membatin.


Meskipun terlihat kekecewaan pada diri mas Arga. Lelaki itu tetap tersenyum kepadaku, entah menutupi kekecewaanya, atau bahkan memang sosok mas Arga memang berhati besar.


Setelanya aku pamit untuk pulang lebih dulu. Mas Arga masih berniat mengantarku. Aku hanya diam saja, tidak bisa menolak. Karena rumah kami memang hanya bersebelahan.


Meskipun kata-kataku barusan sudah final, mewakili isi hati dan fikiranku. Tetapi sikap mas Arga tetap baik dan ramah kepadaku. Entah apa maunya pria ini, atau memang dia belum menyerah untuk mendapatkanku. Atau memang pria ini terlalu baik dan berhati besar. Sehingga ucapanku barusan, tidak membawa pengaruh pada hati dan fikiranya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


...Apakah Dewi akan tetap aman di tempat persembunyianya? Saat ini orang suruhan Rama, Erik dan Adrian, sedang mencarinya...


Mampir juga di novel temanku, ya 😘


__ADS_1


__ADS_2