Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Rasa Bersalah Rama


__ADS_3

Rama asher


Entah kenapa kebencianku kepada Kezia semakin bertambah. Selalu kecurigaan yang terlintas di kepalaku ketika melihatnya. Aku benci saat dia memperlakukanku selayaknya suami. Bukan dia yang ku inginkan. Aku hanya menginginkan Vania, satu-satunya wanita yang ku cintai. Wanita yang ku banggakan karena sikap lembutnya.


Setiap kali aku melihat wajah Kezia selalu mengingatkanku kepada Vania. Wajahnya hampir mirip karena mereka adalah kakak beradik. Meskipun Kezia lebih terlihat lebih cantik dari Vania. Namun, mengingat vania yang selalu menangis karena perbuatan Kezia membuatku tak menyukai wanita yang saat ini bersetatus menjadi istriku.


Ngomong-ngomong soal istri, baru beberapa hari kami menikah dia sudah berani bertemu dengan pria lain. Sehari setelah kami menikah dia terlihat makan bersama Alex. Kemudian tadi pagi ia terlihat satu mobil dengan sahabatku Digo. Bagaimana aku tidak mengecap dia sebagai wanita murahan. Sebagai suami aku merasa tidak di hargai.


Hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi kerja karena amarahku kepada Kezia. Ku sampaikan pesan kepada sekertarisku untuk membatalkan semua meeting hari ini. Sengaja aku pulang lebih cepat untuk melihat reaksi Kezia.


Ternyata tak lama setelah kepulanganku dia juga pulang. Dia hendak meraih tanganku untuk di ciumnya. Aku benar-benar tidak sudi di sentuh olehnya. Aku benar-benar benci dan jijik jika berdekatan denganya. Ku tampik tanganya membuat ia berlalu begitu saja memasuki kamar.


Belum lama ia masuk, ia sudah keluar lagi menuju dapur. Entah apa yang ingin dia masak, padahal tidak ada bahan-bahan yang bisa di masak. Tak lama kemudian tercium aroma harum masakanya yang memanjakan indra penciumku. Ia meletakan nasi goreng di meja depan tempatku duduk. Dahiku mengernyit ketika ku lihat selembar kertas kecil yang tertempel di piring. Hal itu mengingatkanku lagi pada lukanya akibat piring yang ku banting dan pecahanya mengenai betisnya.


Setelah meletakan nasi goreng, ia hendak masuk lagi ke kamarnya. Belum sempat ia masuk, tanganku sudah mendorongnya hingga tubuhnya menempel di dinding. Kutarik dia menuju ke ranjang kemudian ku ikat kedua tanganya. Amarah ini membuat akal sehatku terganggu. Saking emosinya aku ingin membuatnya jera.


"Ternyata kau memang wanita murahan yang gampangan," ucapku.


Aku ingin memastikan secara langsung seberapa murahan dia. Niat awal hanya ingin menakutinya, tetapi malah aku yang tergoda.


"Aku memang murahan, sayang!" ucapnya


Seolah tertantang dengan ucapanya, aku langsung melancarkan aksiku. Ku tatap manik matanya dalam-dalam dan ku tempelkan hidungku ke hidungnya. Matanya hazelnya sangat indah,sehingga mampu menghipnotisku. Aku sangat senang membuatnya gugup dan ketakutan. Ku buka kancing kemejanya satu persatu.


"Mari kita lihat, seberapa murahanya dirimu saat merespon sentuhanku."


Ku lihat jelas kegugupanya yang membuat ia meronta-ronta ingin di lepaskan tali yang mengikat kedua tanganya.

__ADS_1


Sayang, kenapa kau harus mengikatku, ini hakmu ambilah. Tetapi lepaskan ikatan di tanganku, aku merasa tidak nyaman," ucapnya


"Kau fikir aku akan melakukanya? aku hanya ingin bermain-main sebentar denganmu," ucapku


Kancing bajunya kini sudah terlepas semua, memperlihatkan bra hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sepertinya aku mulai terpancing dengan lekuk tubuh indahnya. Ku akui tubuhnya sangat indah dan mulus.


Mari kita mulai permainanya," ucapku menyeringai licik.


Sialnya dia mendesah saat tangan dan bibirku mempermainkan tubuhnya. Ku buka celananya dan kini memperlihatkan bra dan ****** ******** saja.


Tubuhnya seperti model, sangat indah dan ideal. Ku memulai aksiku dan sialnya dia merespon. Terlihat raut wajahnya yang memendam kekesalan kepadaku.


"Bagaimana rasanya? apakah nikmat?" ucapapku mengejek.


Nafasnya mulai terengah-enggah dan ia masih berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tanganya.


"Ternyata tubuh sangat merespon sentuhanku."


perawan," umpatku lirih


Aku akui aku sangat menyesal melecehkanya siang itu. Meskipun tubuhnya dan semua yang ada pada dirinya itu adalah miliku. Tapi caraku yang kasar yang membuatku menyakitinya.


Aku sempat di buatnya kaget ketika fakta yang ku dapati ternyata dia masih prawan. Awalnya aku hanya ingin menyiksanya . Mempermainkan bagian tubuhnya yang sensitive dan meninggalkanya sebelum pelepasan. Namun sebelum itu,aku di buatnya kaget dan mendapati dirinya yang masih perawan. Melihat kenyata'an itu membuatku tidak tega untuk menyakitinya. Aku langsung pergi meninggalkanya dan lupa belum membuka ikatan tanganya.


Kepalaku merasa pusing dan harus menuntaskan sesuatu yang sudah bangun dari tadi. Aku tidak mampu untuk meneruskanya ataupun merampas kesucianya secara paksa. Bagaimanapun aku masih punya hati untuk tidak melakukanya secara kasar.


Entahlah apa yang terjadi selanjutnya, yang ada di fikiranku saat ini hanya mengguyur tubuhku dengan air dingin.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Kezia tidak lagi keluar dari kamarnya hingga malam hari. Aku bingung kenapa aku memikirkanya. Padahal aku sangat membencinya. Aku juga bingung, kenapa dia masih prawan. Padahal kata Vania, kezia menyukai *** bebas di ingris. Semua ini membuatku bingung dan semakin pusing.


Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur karena kepikiran Kezia. Ku matikan lampu ruang tamu dan ku baringkan tubuhku di atas sofa. Ku dengar pintu kamar Kezia terbuka.Menampakan Kezia yang keluar dari kamar dengan memakai baju tidur di atas lutut dengan rambut panjangnya yang tergerai.


Dia mengambil nasi goreng tadi siang yang tidak sedikitpun ku makan. Tanpa ia tahu keberada'anku yang diam-diam melihatnya di kegelapan.


Kezia melangkahkan kakinya ke dapur untuk memanasi nasi goreng buatanya. Setelahnya dia duduk di meja makan dan memakanya. Terdengar isakan yang begitu memilukan terdengar di telingaku.


Entah kenapa mendengar Kezia menangis membuat hatiku sakit. Apakah aku begitu bejat dan kejam terhadapnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis begitu menyayat hati.


Biasanya mata hazelnya selalu menatapku penuh keberanian dan menantang. Dan mulutnya selalu berucap sesuatu yang membuatku kesal. Tapi saat ini mata hazel itu menangis. Dan mulutnya mengeluarkan suara yang memilukan.


Ingin ku hampiri dia untuk meminta maaf namun egoku lagi-lagi melarangnya. Hanya satu suapan dia sudah tidak lagi melanjutkan makanya. Di buangnya ke tong sampah nasi yang sebenarnya membuatku juga menginginkanya.


Ku lihat ia melangkahkan kakinya kembali memasuki kamarnya. Dengan pelan ia menutup kembali pintu kamarnya. Di dalam kamarpun ia masih melanjutkan tangisnya. Aku tahu karena suaranya sampai terdengar dari luar.


Aku mencoba menyingkirkan egoku untuk menemuinya. Tetapi lagi-lagi egoku lebih kuat sehingga aku mengurungkan niatku.


Hingga ke esokan harinya pintu kamar Kezia masih saja tertutup. Padahal jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Ingin ku ketuk pintu kamarnya untuk membangunkanya. Lagi-lagi ku urungkan hanya karena Egoku lagi-lagi melarang. Tidak ada lagi kopi hangat yang ia buatkan untuku. Tidak ada lagi sarapan yang ia buatkan untuk ku makan. Yang ada hanya kesunyian seolah di dalam apartemen ini tak berpenghuni.


Ku langkahkan kakiku keluar dari apartemenku menuju kantor. Ku hanya berharap sepulang kerja nanti aku bisa bertemu dengan Kezia.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Kapokmu kapan, Rama🤭


Masih mau lanjut?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen, Subsribe


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2