
Rama mencengkeram stik mobilnya dengan sangat kuat. Kemaraham, luka dan kekecewaan kini terpancar sangat jelas di matanya. Bagaimana bisa Kezia sama sekali tidak mempercayainya. Sebrengsek itu kach Rama, sehingga wanita yang ia cintai sulit mempercayainya.
Di tambah lagi kini Rama menjadi incaran para awak media yang membutuhkan penjelasan darinya. Seperti halnya setelah keluar dari rumah keluarga Afsen. Beberapa wartawan sudah berdiri memutari mobilnya yang dia parkirkan di pinggir jalan. Rama tidak bisa kembali baik di kantor maupun rumahnya. Bahkan ingin ke rumah orang tuanya pun Rama tidak bisa. Di manapun tempat yang sering Rama datangi, di situ pula selalu ada awak media yang menunggu kemunculanya.
Rama segera melajukan mobilnya, setelah membayangkan betapa dia sangat kesulitan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Setelah merasakan terbebas dari wartawan, Rama bisa sedikit bernafas lega.
Entah dia harus pergi ke mana, untung saja Ethan putranya akhir-akhir ini tinggal di tempat orang tuanya. Setidaknya meskipun Rama harus pergi untuk beberapa saat, putranya berada di tempat yang aman.
Tempat teraman yang bisa Rama tempati saat ini adalah apartemen yang sebelumnya di tempati oleh Dewi. Karena Rama tidak mungkin pergi ke apartemen pribadinya, pasti di sana sudah ada segerombolan wartawan yang juga menunggunya.
Bukanya dia pengecut, terlebih Rama tidak mungkin gegabah dalam menyelesaikan masalah. Sengaja dia berdiam diri, menyendiri untuk menetralkan kembali emosinya. Sembari mengumpulkan bukti-bukti yang akurat, untuk membalas perbuatan Erik dan juga Angela.
Untung saja Rama masih memiliki orang kepercaya'an seperti bagas. Meskipun Rama saat ini hanya bisa menyembunyikan diri dari public, Bagas siap meng handle semua pekerja'anya bersama Digo sahabatnya.
Sementara Rama hanya bisa menunggu kabar baik dari orang-orang suruhanya. Sementara pula Rama hanya bisa membaca dan menyaksikan berita lewat sosial media samaranya. Rama juga menonactivkan semua sosial media yang ia punya, seperti halnya facebook, instagram, tweeter dan lainya. Karena Rama butuh ketenangan saat ini dan beberapa hari ke depan.
Ethan putranya juga merengek ingin bertemu denganya, untung saja ibunya Rama mampu membujuk sang cucu bahwa papanya sedang berada di luar negeri.
Rama sebenarnya tidak tega melihat putranya tanpa di dampingi sosok kedua orang tuanya di sisinya. Namun bukan berarti Rama tidak memperjuangnkanya, Rama memperjuangkan keluarga yang utuh untuk anaknya. Namun cobaan selalu saja membuat usahanya selalu tertunda.
__ADS_1
Rama yakin, di balik semua ujian ini pasti akan menemui titik terang. Ini hanya soal durasi waktu, dan ketika dia berhasil melewati durasi hidupnya, maka tujuanya akan tercapai.
Di rogohnya ponsel di saku celananya, sambil bersandar di kursi, Rama melakukan panggilan vidio call dengan Ethan putranya.
Tak perlu menunggu waktu lama, seseorang di sebrang sana tersenyum sangat lebar dan terlihat manis. Siapa lagi kalau bukan jagoan kecil Rama, yang terlihat senang karena papanya menelponya.
"Papa, papa kapan pulang? kata grandma papa saat ini berada di luar negeri, apa benar? lalu kapan papa pulang ke Indonesia?" tanyanya antusias.
"Sayang, jagoan papa! kenapa, apa kamu sudah rindu dengan papa? kan papa cari uang buat kamu, nak," ucap Rama tersenyum, menyembunyikan semua masalah dan beban hidupnya.
"Kangen, pa! Ethan kesepian, kapan papa dan mama akan bersama? kenapa kalian terus mengulur-ulur waktu, pa?"
Biarlah anaknya berfikir lain, asal anaknya tidak bersedih jika melihat masalah kedua orang tuanya yang sebenarnya terjadi saat ini. Anak mana yang tidak akan takut, apa lagi kedua orang tuanya yang sulit sekali di persatukan.
"Kenapa kamu tidak pergi ke rumah mama, nak? di sana ada mama dan kamu tidak akan kesepian," tanya Rama.
Ethan menggeleng, selain dia marah kepada tuan Afsen karena hanya memberi harapan palsu padanya. Ethan juga tidak mau pergi jika tanpa papanya yang menemaninya.
Rama sangat merasa bersalah pada putranya, harapan sekecil itu saja Rama belum
__ADS_1
berhasil menurutinya. Masalah satu belum kelar sudah datang masalah baru. Begitulah roda kehidupan tidak akan sama seperti yang kita harapkan.
"Sabar ya, nak! setelah pekerjaan papa kelar, kita akan bersama kembali, mama, pada, Ethan dan juga adik-adik Ethan," ucap Rama menahan keharuanya.
Untung saja Ethan anak baik dan pintar, dengan begitu mudahnya anak kecil itu faham dengan ucapan orang-orang dewasa.
Ethan tersenyum dan mengangguk penuh semangat. Mungkin dia harus lebih bersabar lagi, di usianya yang masih kecil, Ethan sudah menguasai arti kesabaran.
Tak hanya Ethan saja, bahkan Kezia juga sangat merindukan Ethan. Namun Kezia sudah hafal bahwa putranya itu lebih cenderung pada Rama di banding dirinya. Di mana ada Rama di situlah Ethan juga menginginkan Kezia. Jikapun tidak ada Kezia di sisinya, bersama Rama saja dia sudah cukup, meskipun yang Ethan harapkan adalah bersama orang tua yang utuh yang selalu berada di sisinya.
Entah sudah berapa lama putranya itu tidak berkunjung ke rumah keluarga Afsen. Mungkin setelah tahu eyang kakungnya atau tuan Afsen hanya memberinya harapan palsu. Padahal Ethan sudah memohon dengan berbagai cara agar eyang kakungnya mau mempersatukan kembali papa dan mamanya. Nyatanya tuan Afsen tidak benar-benar mengabulkan harapanya, membuat bocah kecil itu merasa di kecewakan. Hingga dia memilih tinggal bersama ibu dan ayah Rama, yaitu grandma dan grandpanya Ethan, selama di tinggal pergi papanya saat bekerja.
Untung saja Ethan belum melihat kabar tentang papanya yang sedang viral saat ini. Sengaja ayah dan ibu Rama mematikan televisi dan tidak membiarkan cucunya memegang handphone atau menemaninya saat bermain komputer sekalipun. Hal itu agar cucunya tidak melihat berita tentang Rama yang akan membuatnya jadi sedih.
Kendati demikian, Rama tetap berherak meski tak terlihat. Lebih tepatnya anak buahnya lah yang bergerak, Rama cukup memerimtahkan mereka saja. Rama membutuhkan banyak bukti, karena segala sesuatu tidak bisa di selesaikan secara gegabah. Persetan di luar sana banyak orang-orang yang membuly, membenci, mencacinya, karena mereka belum tahu faktanya. Setelah bukti-bukti telah Rama kumpulkan, maka Rama akan menskakmat lawan.
Pembalasan harus berjalan secantik mungkin, seperti para musuh yang memainkan peranya begitu sangat cantik dan tanpa jejak.
Di depan televisi di temani segelas minuman segar, Rama menyaksikan berita yang beredar tentngnya. Erik begitu liciknya, sehingga dalam sekejap mampu menghancurkan nama baik Rama.
__ADS_1
"Tertawalah, sebelum pembalasanku membuatmu lupa bagaimana caranya tertawa," ucap Rama, menggenggam kuat gelas di tanganya. Serta tatapan mata elangnya membayangkan misi-misinya setelah ini.