Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Penjaga'an penuh


__ADS_3

Kini Dewi telah tinggal di sebuah partemen yang di siapkan khusus oleh Rama, untuknya. Empat pria ber jas hitam, yang dua di antaranya sudah pernah Dewi lihat. Membuat Dewi, tidak merasa takut, karena tahu bahwa ke empat pria itu adalah orang- orang suruhan Rama. Dewi hanya menurut, ketika empat pria itu membawa dirinya pindah dari rumah kontrakanya di kampung nelayan menuju apartemen yang di tempatinya saat ini.


Meskipun Dewi harus mendapati tatapan penuh tanya dari warga-warga yang melihatnya, ketika ke empat pria itu membawanya pergi dari rumah kontrakanya. Terutama Arga, lelaki itu sempat menghadang ke empat pria suruhan Rama. Mengira bahwa ke empat lelaki itu adalah segerombolan penjahat yang ingin mencelakai Dewi. Namun tidak berlangsung lama, kesalah fahaman Arga pun terhenti. Berkat penjelasan dari Dewi, Argapun membiarkan Dewi pergi. Meskipun di lubuk hati Arga yang terdalam, sangat kehilangan Dewi. Namun apa yang bisa lelaki itu perbuat, ia tidak mampu menahan Dewi untuk tetap tinggal.


"Jika kamu memerlukan sesuatu, kamu tinggal menghubungiku. Tuan Rama akan melindungi dan mencukupi kebutuhanmu. Aku harap, kamu tidak akan keluar dari apartemen, tanpa sepengetahuanku. Erik sedang mengincarmu, demi keselamatanmu dan bayimu, tolong patuhlah," ucap Bagas.


"Baiklah, terimakasih! tolong sampaikan ucapan terimakaaihku kepada tuan Rama," jawab Dewi.


Bagas hanya mengangguk, lalu keluar dari apartemen yang di tempati Dewi. Masih banyak tugas dari Rama, yang harus ia selesaikan. Terutama mencari tahu rencana Erik selanjutnya dan memerintahkan anggotanya untuk melindungi Kezia dan Ethan.


Entahlah, Dewi harus merasa bersyukur karena perlindungan Rama, atau malah takut karena berhutang budi. Dewi sebenarnya merasa bosan, terkurung di dalam apartemen. Meskipun ini semua demi keselamatanya dan bayinya. Dewi akan berusaha membiasakan diri.


Dewi langsung tersadar, mengingat ucapan Bagas barusan. Bahwa Erik sedang mengincarnya, sama halnya, Erik tidak mengharapkanya dan juga bayi yang sedang ia kandung.


"Jangan terlalu naif, Dewi! Tentu saja lelaki itu tidak menginginkanmu dan bayi yang kamu kandung," gumamnya.


Kurang apa lagi, perlindungan dan kebutuhanya telah di cukupi oleh Rama. Setidaknya untuk sementara waktu. Karena Dewi, tidak akan selalu bergantung pada Rama. Setelah bayinya lahir, Dewi akan mencari pekerja'an. Menjadi single mom tidak terlalu buruk baginya. Karena dirinya sudah berpengalaman mengasuh Ethan, semenjak dia bayi.


Ketika jam makan siang telah tiba, Erik baru tiba di sebuah cafe yang ia datangi seperti hari-hari sebelumnya. Rencananya ia akan menunggu tak jauh dari apartemen, tempat Kezia dan Ethan saat ini berada. Namun sebelumnya Erik akan menemui orang-orang suruhanya dulu.


Pandanganya langsung tertuju pada beberapa pria yang di yakini Erik, adalah orang- orang suruhanya. Erik langsung melangkahkan kakinya cepat, menghampiri mereka. Tepat di depan orang-orang suruhanya yang menunggunya sedari tadi. Erik menggebrak meja, meluapkan kekesalanya karena keteledoran orang-orang suruhanya.


"Untuk apa kalian memintaku kemari? ku harap apa yang kalian bahas adalah sesuatu yang penting. Melihat kinerja kalian, yang tidak becus menjaga satu perempuan, membuatku emosi saja," ucapnya dengan nada angkuh.

__ADS_1


"Ini tentang kemarin, Bos," jawab salah satu di antara mereka.


"Apa lagi? bukankah kalian katakan, kalian telah kehilangan jejak perempuan itu?" tanyanya masih dengan nada angkuhnya.


"Lain, Bos! setelah bertanya kepada warga sekitar. Ternyata perempuan itu, di bawa pergi oleh empat pria berjas hitam, apa pak Erik tahu? atau mungkin kenal?"


Erik mengangkat sebelah alisnya, berfikir siapa empat pria yang mereka maksud. Erik tidak merasa memiliki musuh si Indonesia. Berbeda jika di negaranya sendiri. Itupun hanya saingan sesama dokter saja. Sedangkan di Indonesia, sainganya hanyalah Rama. Erik berfikir, tidak mungkin Rama mengetahui rahasianya. Jikapun Rama tahu, maka hubungnya dengan Kezia akan terancam. Karena pusing dengan asumsinya sendiri. Erikpun melampiaskan kembali kemarahanya kepada orang- orang suruhanya.


"Brak!"


Lagi-lagi Erik menggebrak meja, kali ini cukup keras. Sehingga orang-orang di dalam cafe, terlonjak kaget.


"Mana mungkin aku tahu? Itu tugas kalian mencari tahu. Aku membayar mahal kalian untuk mencari info untuku, tidak gratis."


"Tapi, ada cara untuk membuat perempuan itu keluar dari persembunyianya, Bos," ucap salah satu dari orang-orang suruhanya, yang membuat Erik tertarik ingin tahu.


"Mendekati keluarganya, meminta pada keluarganya agar perempuan itu mau pulang dan menemui keluarganya. Ketika perempuan itu muncul, baru kita akan mudah menangkapnya," usul mereka, yang hanya di balas dengan anggukan.


"Lakukan! fikirkan segala cara untuk mendapatkan perempuan itu. Aku tidak mau tahu bagaimana pun cara kalian, asal tidak membawa-bawa namaku, apa kalian mengerti?" ucap Erik.


Erik berdiri kemudian melangkah pergi meninggalkan orang-orang suruhanya. Melihat sikap Erik, lambat laun akan terlihat jelas sifat lelaki itu. Sifatnya ternyata tidak sebaik dan sebijaksana yang orang-orang lihat selama ini. Sifat egois yang menghalalkan segala cara untuk menjadikan sesuatu yang ia suka, menjadi miliknya. Termasuk menyingkirkan rerumputan liar, yang mengganggu kesuburan tanamanya. Dalam artian, menyingkirkan Dewi demi mendapatkan Kezia seutuhnya.


Tanpa dia berfikir, ada benihnya yang sedang tumbuh untuk melihat dunia. Yang difikirkanya hanyalah, dapat menikahi Kezia, tanpa ada sesuatu yang menghalanginya. Jika di fikir, yang di rasakan Erik bukan cinta, namun obsesi belaka.

__ADS_1


Apa lagi, Kezia tidak pernah membalas cintanya dan tidak pernah mau ia sentuh. Jikapun Kezia pernah bertunangan dengan Erik. Itupun karena terpaksa, demi janji dan hutang budinya pada Erik. Demi mencoba melupakan Rama, yang sebenarnya tidak mudah di gantikan oleh Erik.


Ingin rasanya Erik menyingkirkan Rama juga. Karena Rama adalah ancaman terbesar untuknya bersatu dengan Kezia.


Ngomong-ngomong tentang Kezia, apapun caranya, Erik akan tetap menikahinya. Itupun butuh bantuan dari Adrian dan tuan Afsen.


Setelah pergi dari area cafe, Erik langsung menuju ke apartemen yang di tempati Kezia. Pria itu hanya mengawasi dari bawah. Erik menatap bangunan elite di depanya, kemudian mengirimkan pesan whatsapp kepada Kezia.


Pria itu meminta Kezia agar turun, dengan alasan ada sesuatu yang ingin dia katakan. Namun sialnya, Kezia tidak mengaktivkan handphonya. Membuat Erik emosi dan hendak membanting handphonya.


Sedangkan tanpa Erik tahu, Rama sedari tadi memperhatikanya dari balik kaca. Rama menyeringai setelah melihat kekesalan di wajah Erik. Untung saja Rama sudah menonactivkan handphone milik Kezia.


Karena Rama bisa menebak, Erik tidak akan ada lelahnya, menghalalkan segala cara untuk bertemu dengan Kezia.


Kezia menghampiri Rama, yang sedari tadi menatap ke arah luar jendela kaca apartement. Karena rasa ingin tahunya, Kezia menanyakan hal apa yang membuat Rama begitu serius melihat ke arah luar jendela. Rama membalikan badanya, ketika Kezia sudah berdiri tepat di sampingnya.


"Apa yang menarik di luar sana? Sehingga membuatmu terlalu fokus?" tanya Kezia.


"Tunanganmu sedang berada di bawah sana! sepertinya dia kesal karena tidak dapat menghubungi nomer handphonemu," jawab Rama, pandangan Kezia langsung terfokus pada sosok pria yang sedang berdiri mondar-mandir di depan gerbang apartemen.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Kok ada, ya! Pak dodok yang sifatnya seperti Erik🤭

__ADS_1


Mampir di novel temanku, ya😊👇



__ADS_2